Hunter System

Hunter System
Bab 92 - Gerombolan Bertopeng (3)


__ADS_3

Alvin merasakan perih di matanya saat Mina memberikan night vison pada kedua matanya.


Tapi, ia langsung bisa membiasakan diri karena indra pengelihatannya yang sudah lebih baik bisa langsung menormalkan cahaya silau dari lampu-lampu aula dengan sangat cepat dan ia juga langsung dapat melihat puluhan cahaya berwarna ungu buram, yang merupakan bola api dan bilah es, datang ke arah mereka.


Walaupun tidak bisa melihat bentuk bola api dan bilah es dengan sempurna, night vision itu membantunya untuk dapat melihat cahaya samar yang berasal dari sihir api dan es tersebut.


......................


Belasan hunter bertopeng tipe Mage sudah menyerang dari jarak jauh dengan bola-bola api dan bilah es.


Target mereka adalah membunuh semua keluarga Maxwell yang ada dan hanya menyisakan Cyntia. Karena itulah mereka tidak ragu untuk langsung menyerang dengan kekuatan penuh yang mereka miliki.


Tapi serangan mereka tidak pernah menemui target.


Dengan tangan kirinya, Alvin menjerat semua bilah es tak terlihat itu lalu melemparkannya kembali pada semua hunter bertopeng secara acak, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memukul balik semua bola api tak terlihat dengan airbender yang juga diarahkannya pada para hunter bertopeng, walaupun beberapa juga mengenai ketiga pengawal Cyntia.


Bammm... Bammm... Bammm...!


Untungnya, gerombolan itu tidak memiliki hunter bertipe Tank dan Healer. Dengan begitu, tidak ada yang bisa menahan serangan yang Alvin kembalikan itu dan tidak ada yang bisa menyembuhkan luka-luka mereka.


Setelah mengembalikan serangan lawan, Alvin maju mendekati hunter-hunter itu, menjerat mereka dengan spider webs menjadi satu, lalu meremukkan tubuh puluhan hunter itu sekaligus.


Ketiga pengawal Cyntia yang tidak bisa melihat keberadaan musuh sama sekali itu terkejut saat mereka mendengar suara tulang-tulang patah dan remuk yang dibarengi dengan teriakan pilu dari orang-orang yang sedang Alvin remukkan.


.........


["Aku akan meminjam kedua tanganmu. Dekati tumpukan mayatnya."]


'Apa yang akan kau lakukan?'


["Dengan jarak sedekat ini aku tahu mana hunter yang memiliki stealth."]


Mina tadi memuji stealth skill Mage lawan yang selain bisa menghilangkan aura keberadaan dan menghilangkan tubuh, juga bisa menghilangkan wujud skill serangan mereka hingga Alvin sampai harus menggunakan night vision untuk melihatnya.


Selain itu, menurut Mina, stealth lawan juga bisa membuat party nya tak terlihat, namun mereka sepertinya bisa melihat di antara mereka. Hal itu terbukti dari tidak pernah bertabrakannya mereka walaupun mereka sedang berkerumun.


Saat sudah sampai di tujuannya, Alvin diminta untuk berjongkok dan Mina mengarahkan medua tangan Alvin untuk mencari mayat Mage yang sudah menggumpal menjadi satu dengan mayat kawan-kawannya.


Saat Mina sudah menemukan tubuh lawan, sebuah layar transparan muncul di hadapan Alvin.


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...


...Skill Name : Ghost...


...Do you want to copy skills?...


...▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎...


'Salin skill.'



Suara Rimi terdengar saat Alvin ingin menyalinnya. Alvin akhirnya ingat bahwa slot imitator skill nya sudah penuh.


'Ganti stealth saja.'



'Yosh.'



'Oh, kau sekarang bertanya dulu?'

__ADS_1


<...>


'Tentu saja.'





.........


Setelah Alvin menyalin skill itu, tubuh pemimpin rombongan hunter bertopeng langsung nampak kembali.


Cyntia yang sejak tadi menyerang hanya dengan mengandalkan indra dan feeling nya saja, agak terkejut saat lawannya tiba-tiba kembali terlihat.


Senyuman jahat tersungging di bibir wanita cantik itu. Senyuman jahat yang membuat lawannya terkejut, apalagi saat Cyntia menatap langsung pada kedua matanya.


"Dia bisa melihatku?"


Pria bertopeng hitam itu sempat sedikit lengah, namun ia dengan cepat menggunakan skill pamungkasnya untuk menyerang.


Saat pria bertopeng itu menggunakan seluruh energi Mana untuk serangan pamungkas, gedung itu mulai bergoncang dengan sangat hebat.


Ia dan Cyntia sejak tadi hanya bertarung dengan tidak menggunakan banyak energi Mana.


Cyntia khawatir jika gedung itu akan runtuh dan mencelakai banyak tamunya jika ia terlalu banyak menggunakan energi Mana, sementara pria bertopeng takut jika ia akan membunuh Cyntia sedangkan perintah dari bos nya hanyalah untuk menangkapnya saja.


Menyadari tubuhnya kini sudah terlihat, menahan kekuatan adalah pilihan yang sangat bodoh dalam menghadapi lawan yang pria bertopeng tahu lebih kuat darinya. Jadi, ia tidak memikirkan lagi apabila dirinya akan di hajar habis-habisan oleh bos nya.


Tapi, Cyntia jauh lebih cepat dalam mengambil tindakan.


Hanya dengan menggunakan energi Mana untuk melipat gandakan kecepatan dan daya serangnya, Cyntia kemudian menyerang lawan dengan sangat cepat dan menebas lehernya.


.........




'Agak tidak enak sih mendapatkan experience saat bukan aku yang membunuhnya.'


["Assassin peringkat SS yang benar-benar bodoh."]


'Ya?'


["Dengan jarak sedekat itu untuk apa dia ingin menggunakan skill aneh-aneh? Cukup gunakan energi Mana untuk menambah kecepatan dan daya serang saja. Wanita mu itu memang sangat berpengalaman."]


'...'


Alvin mengabaikan ocehan Mina. Ia membuka jendela status dan melihat levelnya yang kini sudah mencapai 96 setelah mendapat kenaikan dua level lagi dari pemimpin pihak musuh. Tersisa dua level lagi sebelum ia mengambil quest level 91.


......................


Setelah Cyntia berhasil memenggal leher pemimpin gerombolan hunter bertopeng, ia langsung menoleh ke arah Alvin untuk melihat keadaannya.


Namun, saat tatapan mereka bertemu, ia langsung mengalihkan tatapannya lagi, memerhatikan mayat-mayat puluhan hunter bertopeng yang menggumpal menjadi satu di dekat Alvin dan ketiga pengawalnya, juga pada gumpalan kecil mayat hunter bertopeng yang tewas di dekat anggota keluarganya.


Sama seperti Cyntia, anggota keluarga Maxwell juga sedang melihat wujud orang-orang yang tadi Alvin remukkan di dekat mereka.


Tubuh hunter-hunter itu benar-benar remuk dan menggumpal sampai hanya tersisa sebesar sebuah bola basket saja dengan kepala mereka yang terjuntai di antara sela jaring, hingga membuat beberapa tamu yang tidak tahan melihat hal menjijikkan itu langsung muntah-muntah.


Sam akhirnya menatap Alvin dengan rasa tak percaya. Demikian pula dengan anggota keluarga Maxwell lainnya, juga ketiga anggota keluarga Cruz, juga Marco dan Vina Rufino.

__ADS_1


Mereka ssmua menatap Alvin dengan heran.


......................


Cyntia menghampiri ketiga pengawalnya yang banyak mendapatkan luka luar. Walaupun serangan para hunter bertopeng itu tidak berhasil membuat mereka terluka parah, namun mereka mengalami banyak luka tusuk dan sayatan di tubuh akibat serangan sembunyi-sembunyi itu.


Melihat luka-luka ketiga pengawal itu, Erfhina yang juga ada di sana langsung berlari menghampiri ketiga hunter tersebut untuk memulihkan semua luka mereka.


Tapi, saat ia baru saja sampai, ia kaget saat melihat semua luka mereka telah menghilang, bahkan tanpa meninggalkan bekas luka sama sekali.


"A-apa...? Siapa yang...," Erfhina akhirnya terdiam saat ia mengikuti arah tatapan Cyntia dan ketiga pengawalnya yang sedang menatap Alvin dengan tatapan curiga.


Mereka tahu, hanya Healer peringkat S saja yang bisa menyembuhkan luka sampai tak berbekas hanya dalam waktu sepersekian detik seperti itu.


"Kau ini... Peringkat apa kau sebenarnya?"


"Kau ini Healer atau Mage?"


Tanya Brooklyn dan Vernon, yang mereka ucapkan hampir bersamaan.


Alvin tersenyum kaku. Dia biasanya tidak memerdulikan jika orang tahu kekuatannya.


Jika orang-orang itu banyak bertanya, dia biasanya hanya mengabaikan mereka atau menggertaknya. Tapi, saat ada Cyntia juga yang menatapnya dengan tanda tanya di wajah, Alvin akhirnya menjawab mereka seperti cara Mina biasa menjawabnya saat Mina sedang malas menjelaskan sesuatu yang rumit.


"Suatu saat kalian akan tahu."


"Apa?! Padahal kau hanya tinggal menjawabnya saja, kan? Healer atau Mage?"


Saat mereka masih menuntut jawaban Alvin, Cyntia tiba-tiba berbicara pada ketiga pengawalnya itu.


"Lebih baik kalian evakuasi semua orang sekarang," ia kemudian menoleh lagi pada Alvin, "Bukankah kau bilang akan ada Dungeon Break?" tanyanya pada Alvin.


Alvin membuka peta bakal Dungeon, lalu mengangguk. "Ya."


'Dia menyelamatkanku?'


["Haaah...!"]


'...'


Setelah ketiga pengawal itu dan Erfhina juga pergi, Cyntia akhirnya berbicara pada Alvin, walaupun ia kembali mengalihkan tatapannya saat tatapan mereka saling bertemu.


"Dimana gerbang Dungeon Break nya?"


"Saya akan pergi ke gerbangnya. Anda bantu saja mereka untuk mengevakuasi semua orang."


"Kita akan pergi bersama."


"..."


"..."


"Baiklah. Ayo."


Alvin dan Cyntia akhirnya berjalan menuju pintu aula untuk pergi menuju gerbang Dungeon. Namun, langkah kaki mereka mereka terhenti saat mereka sama-sama bisa merasakan aura dari energi sihir yang sangat kuat datang dari luar aula.


Tak lama kemudian, pintu aula yang terkunci rapat itu meledak berkeping-keping.


Sosok pria bertopeng hitam lain muncul dari pintu itu dan langsung berjalan dengan langkah ringan menghampiri mereka, seolah hanya mereka berdualah tujuannya.


Tahu betapa kuatnya hunter yang baru saja datang, Cyntia langsung maju ke depan Alvin untuk melindunginya.


......................

__ADS_1


__ADS_2