Hunter System

Hunter System
Bab 189 - Dewa Zei


__ADS_3

Pemilik dari bayangan yang memenuhi daratan akhirnya mendarat di tanah.


Mereka adalah monster yang baru saja keluar dari sekeliling gerbang cincin hitam, yang langsung dipindahkan dewa Zei pada satu tempat, pulau Borneo.


Pada saat yang bersamaan, Alvin terbang meninggalkan daratan yang sudah dipenuhi lautan monster yang berasal dari pusaran coklat itu, menghindari amukan para monster yang tampak sangat bersemangat ingin menyerangnya.


Karena bertumpuknya monster-monster tersebut, Alvin sampai tidak bisa melihat lagi adanya daratan di bawah sana.


Kerumunan monster itu telah menggantikan wujud daratan dengan lautan tubuh mereka yang berdesak-desakan sembari meraung-raung marah menatap padanya.


"Aku tidak berencana hidup serumit ini."


["Serumit inilah hidupku dulu."]


"..."


......................


"Jika kau tidak memiliki kemampuan untuk melawan kami, bagaimana jika kau menjadi budakku saja?" ucap dewa Zei yang baru saja muncul di dekat Alvin.


Setelah memberikan penawaran itu, dewa Zei melemparkan sebuah benda yang langsung di tangkap Alvin.


Alvin membuka genggamannya, menatap sosok bayi monster mini yang berada di telapak tangannya dengan jijik.


"Kau tinggal memakan pil itu dan kau akan terhubung dengan..."


Crakkk...!


Alvin menghancurkan pil hidup itu di genggamannya sebelum dewa Zei selesai berbicara.


"Sayang sekali. Padahal kau sangat potensial untuk dijadikan budak tertinggi."


.........


'Dia agak percaya diri, kan?'


["Hati-hati. Dari cara bicara yang percaya diri... Mungkin dia entitas seperti dewi Ann."]


'Maksudmu... Dia ini dewa?'


["Kemungkinan besar."]


'...Yang benar saja.'


.........


Dewa Zei mengangkat satu tangannya, menudingkan telunjuknya pada Alvin.


"Musnahkan dia!" seru dewa Zei.


Bersamaan dengan perintah itu, entah ada berapa banyak monster yang berada di darat, mereka semua menyerang Alvin secara bersamaan.

__ADS_1


"Return Gate!"


Alvin sudah mengantisipasi serangan tersebut.


Ia tidak mengkhawatirkan seberbahaya apa serangan yang terarah padanya itu, juga tidak peduli dengan sebanyak apa sihir yang akan mereka lontarkan padanya.


Selama memiliki return gate, dia tidak perlu repot-repot menghindari atau menangkis segala macam bentuk serangan sihir jarak jauh.


Return gate akan menelan semua serangan, lalu mengembalikan serangan dengan jauh lebih kuat dibandingkan yang pernah para penyerang lontarkan.


Tapi, lawan yang Alvin hadapi kali ini benar-benar lawan yang mungkin tidak akan pernah mau dilawannya lagi. Itu pun jika dia bisa lolos hidup-hidup dari pertempuran ini.


Dengan memiliki sihir serupa, dewa Zei mengibarkan kain hitam besar tepat di depan return gate. Jadi, saat return gate melontarkan kembali serangan para monster, kain lebar itu juga menelannya, sama seperti yang return gate lakukan.


......................


Bayangan gelap kembali muncul di atas kepala Alvin.


Tanpa melihat pun Alvin sudah tahu jika itu adalah bayangan dari kain hitam besar yang akan melontarkan lagi jutaan skill monster yang baru saja kain hitam telan.


"F**k!"


Alvin membuat return gate lagi di atas kepalanya untuk menelan serangan-serangan tersebut dan melontarkannya lagi dari gerbang lain yang ia ciptakan di dekat lautan monster yang berdesakkan di darat.


Hal yang sama terjadi berulang kali. Tiap alvin membuat return gate, kain hitam muncul di hadapan gerbang skill itu. Menelan, lalu melontarkan lagi sihirnya.


.........


Dewa Zei tertawa terpingkal melihat wajah mendongkol Alvin yang akhirnya mendarat di antara pasukan monster dan mengamuk menghabisi mereka dengan serangan jarak dekat.


Setelah serangan sihir dari kain hitam telah habis terlontar, barulah ia menggunakan belati sihir untuk menghabisi monster-monster pengepungnya itu agar ratusan ribu daggernya tidak berbenturan dengan sihir yang terlontar dari kain hitam.


"Dagger rain!"


.........


["Rimi, Cyntia dan pasukan serangga sedang dalam masalah."]


'Apa lautan monster ini mengantri sampai sejauh itu?!'


["Bukan monster-monster ini. Kau lihat, di sini tidak ada ular naga raksasa dan wyvern, kan?"]


'Mereka menghadapi monster-monster itu?'


["Mereka bahkan sudah terkepung. Semua monster raksasa ada di sana."]


'Minta Rimi untuk membawa Tia sembunyi di inventory. Aku masih sibuk. Lagian, aku tidak yakin bos konveksi itu akan membiarkanku pergi.'


["...Ada 67 hunter di tempat mereka. Ruang hologram tidak akan cukup untuk mereka semua."]


'Hah?'

__ADS_1


["Rimi dan Cyntia sedang menolong orang-orang dari keluarga Maxwell yang sembunyi di hutan. Reno Paul sepertinya memberitahukan tempat persembunyian adiknya pada mereka. Kakakmu juga ada di sana."]


'Bedebah itu...!'


......................


Ziiiiiiiinnnng...!


Kilatan cahaya kebiruan memendar dari tengah-tengah lautan monster saat Alvin dengan terpaksa harus mengaktifkan wujud Hunter Equipment.


Baru saja wujud Hunter Equpmentnya nampak, aura sihir yang berasal dari kostum itu saja sudah cukup untuk membuat monster-monster terpental.


Sebagian besar monster dengan level rendah sudah meledak saat kostum robot itu aktif. Sedangkan monster lain yang jauh lebih kuat, tidak bisa mendekati Alvin lagi karena ada kekuatan sihir berbahaya dalam raidus ratusan meter di sekelilingnya.


Daratan juga longsor ke dalam Bumi sampai kedalaman belasan meter, akibat kekuatan sihir dari kostum yang sudah bertambah kuat semenjak Alvin menyatukan tiga inti Mana.


Karena itulah Alvin sebenarnya tidak ingin sembarang mengaktifkan wujud dari Hunter Equipment jika bisa. Ia tahu, aura sihir dari Hunter Equipmentnya kini bisa saja menghancurkan sebuah pulau secara perlahan jika ia tidak mengontrolnya dengan baik.


......................


"Bagaimana cara makhluk rendahan ini bisa menyimpan energi Mana sebesar ini?!"


Dewa Zei terperanjat saat merasakan energi Mana yang sangat besar tiba-tiba saja muncul dari tubuh Alvin.


Walaupun sejak tadi ia bisa merasakan aura sihir Alvin, namun ia tidak menyangka jika makhluk ciptaan itu bisa menyimpan energi Mana yang jauh lebih besar tanpa diketahuinya.


.........


Di darat, Alvin membentangkan kedua tangannya ke langit. Dengan tidak adanya gangguan dari kerumunan monster yang sudah tidak bisa mendekatinya lagi, Alvin memfokuskan energi Mananya pada kedua tangan.


Tak lama kemudian...


"Dagger Rain...!"


Ziiiiiinnng...!


Suara siulan angin berdesir menulikan telinga.


Debu tebal beterbangan di udara, menggantikan pemandangan lautan monster yang berdesakan memenuhi daratan.


Wush...


Dewa Zei mengebaskan salah satu tangan, menyingkirkan debu tebal yang menutupi daratan saat ia tidak bisa merasakan lagi energi Mana dari pasukan monster.


Dewa Zei, sang dewa terkuat dari pusaran ungu, yang juga dikenal sebagai dewa perang terkuat di era baru dunia para dewa, menelan ludahnya tepat setelah kabut debu lenyap dari udara.


Tidak ada satupun lagi dari monster yang hidup di sana. Semua monster yang dibawanya dari pusaran coklat, masing-masing telah tewas terbelah menjadi dua bagian.


Dewa Zei juga bisa merasakan getaran kuat di udara dan ia melihat gerbang yang menyerupai tembok besar ikut bergetar bersamaan dengan hilangnya nyawa seluruh pasukan monster.


"Ada makhluk ciptaan yang sekuat dia?" gumam dewa Zei, mengagumi sihir yang Alvin miliki.

__ADS_1


Di balik topeng, ujung bibirnya melengkung ke atas.


"Aku harus menjadikannya budakku!"


__ADS_2