Hunter System

Hunter System
Bab 184 - Alvin Vs Beelzebub (2)


__ADS_3

Sama seperti yang terjadi pada Beelzebub, Alvin juga ikut terpental setelah ia meninju wajah Beelzebub dengan sangat keras.


Beelzebub terlontar jauh masuk ke dalam gerbang kristal merah, sementara Alvin sudah mengerem tubuhnya yang melayang di udara dengan menggunakan airbender.


“The Art Of Killing, part 6… Gates of the Death!"


Beelzebub yang masih syok dengan kemunculan Alvin sebelum meninju kepalanya, tiba-tiba terhisap ke dalam gerbang sihir yang muncul di hadapannya.


"Brengsek!"


Makhluk yang kini bertubuh tambun itu menatap ngeri pada Alvin yang sedang menyeringai lebar tepat di depan wajahnya sebelum meninjunya lagi dengan keras, mengakibatkan ia terpental kembali ke dalam gerbang dan tehisap lagi setelahnya.


Alvin melakukan serangan serupa berulang kali.


Walaupun ia juga ikut terpental karena lontaran keras dari tubuh Beelzebub yang lentur seperti karet, namun ia sangat menyukai kegiatan menyiksa itu.


Alvin baru menghentikan penyiksaan itu beberapa menit kemudian, setelah merasa tindakannya itu cukup untuk membuat Beelzebub marah.


......................


Sesuai keinginan Alvin, Beelzebub dengan cepat menyebarkan energi sihir ke seluruh tubuhnya setelah mendapatkan kesempatan.


Selesai merapalkan mantra sihir, tubuh tambun Beelzebub mengempes dan menghitam setelahnya.


Kulit-kulit kenyalnya mengeras dan cangkang hitam menyembul menggantikan kulit lentur tersebut.


Kedua matanya melebar dan membesar, menutupi sebagian besar wajahnya yang kini telah dipenuhi cangkang hitam mengkilap yang serupa dengan cangkang yang muncul di tubuhnya.


Sepasang sayap Beelzebub yang sebelumnya menyerupai sayap burung juga telah terlepas, digantikan dengan sayap besar mirip plastik transparan yang berdesis nyaring saat Beelzebub mengepakkannya.


Ia telah berubah ke wujud ketiganya, lalat raksasa yang sangat bau dan dipenuhi gas sihir beracun mematikan yang beredar mengitari tubuhnya.


Bukti racun mematikan itu nampak jelas saat gas beracun itu secara kebetulan mengenai puluhan monster merah yang melintas di dekatnya.


'Entah kenapa, ku rasa skill makhluk ini agak bodoh. Lihat, racun-racun itu malah membunuh kawannya sendiri.'


["Otaknya juga bodoh. Dia cuma kuat tanpa memiliki otak yang benar. Kalau tidak, dia tidak mungkin mengkhianati dewi Lyn dan jadi malaikat jatuh."]


'...Kau benar.'


.........

__ADS_1


Sebenarnya, Beelzebub tahu resiko dari menggunakan wujud lalat akan merugikan pihaknya.


Selain itu, Beelzebub sebenarnya tidak ingin meninggalkan wujud keduanya yang memiliki pertahanan jauh lebih baik dibandingkan wujudnya yang lain.


Biasanya ia akan menghabisi musuh secara perlahan dalam wujud tambunnya yang tahan dari serangan apa pun.


Namun, saat ia dipermainkan lawan seperti tadi, Beelzebub merubah strategi dan ingin segera menghabisi lawan dengan wujud lalat yang memiliki daya serang mematikan dan tidak ingin memusingkan mengenai hal yang akan merugikan pihaknya.


......................


Beelzebub menyembulkan asap hitam dari sekujur tubuhnya. Asap hitam yang merupakan racun yang lebih mematikan dibandingkan gas alami yang muncul sejak perubahan wujudnya tadi itu disebarkannya di seluruh area pertempuran.


Asap hitam beracun itu pada akhirnya mulai menghabisi puluhan ribu monster merah yang berada di dalam jangkauan asap. Monster-monster itu langsung meleleh dan tewas seketika.


“Kau akan menyesal karena telah membuatku berubah ke wujud ini, manusia!”


Alvin menyeringai.


“Sudah sepantasnya kau tidak menjadi salah satu malaikat mulia lagi. Malaikat bodoh sepertimu memang tidak layak mengawasi manusia,” sahut Alvin dengan tatapan menghina.


“Bedebah ini…!”


Tapi, apa yang Alvin ucapkan terbukti setelahnya. Ia merasa tindakannya barusan adalah tindakan yang sangat bodoh karena asap beracun itu tidak mempan sama sekali pada lawan yang terlihat baik-baik saja. Asap itu justru mengurangi jumlah pasukan monster merahnya.


Beelzebub merapalkan mantra sihirnya. Beberapa saat kemudian, awan kelabu muncul di langit biru. Dari balik awan, keluar lalat-lalat yang memiliki tubuh seukuran anjing kampung yang terus-terusan turun dari awan dan pergi mengerubungi Alvin.


“Kau harusnya sadar jika aku bisa membunuhmu dengan mudah kapanpun aku mau!” seru Alvin dari balik kerumunan ratusan ribu lalat beracun yang mengerubunginya dengan suara sayap yang sangat berisik.


“The Art Of Killing, part 2... Dagger Rain!"


Cahaya kebiruan memendar dari dalam kerumunan lalat. Tak lama kemudian, ratusan ribu belati terbang keluar dari dalam kerumunan, membelah tiap lalat yang dilintasinya.


Sebagian besar dari belati-belati sihir itu terbang menuju awan, menghabisi tiap lalat yang baru saja turun dari dalam awan.


.........


Walaupun sempat terpana dengan skill lawan, namun Beelzebub tentu tidak membiarkan Alvin menghabisi jutaan pasukan lalat yang ia panggil dari dalam awan.


Ia menyembulkan sihir racun lagi dengan menggunakan jauh lebih banyak energi Mana, menenggelamkan Alvin yang sudah terbebas dari kerumunan lalat.


Tapi, konsentrasi Beelzebub sedikit terganggu saat sosok lain muncul di daratan, bersama ratusan serangga berkostum robot yang mulai menyerang pasukan monster merah yang baru saja keluar dari gerbang.

__ADS_1


“Insect Conqueror!”


Seru suara mekanik wanita yang berasal dari sosok berkostum kuning pastel itu.


Beberapa saat setelahnya, Beelzebub melihat mayat pasukan lalatnya yang sudah terbelah oleh belati sihir telah menyatu kembali.


Jutaan lalat itu bahkan telah hidup kembali dan pergi menyerang pasukan monster merah, membantu ratusan serangga berkostum robot.


Lalat-lalat itu juga terbang menyebar ke segala arah untuk memerangi pasukan monster merah yang sedang bergerak ke setengah penjuru Bumi yang dibatasi gerbang raksasa.


.........


Mata lalat Beelzebub berkilat saat baru menyadari kenapa Alvin menunggunya berubah ke wujud ketiga.


Dengan sangat marah, ia menatap Alvin yang baru disadarinya ternyata hanya sedang bermain-main saja dengannya.


“Bedebah busuk!” umpat Beelzebub.


Getaran sihir menjalar di udara saat Beelzebub mengumpatkan sumpah serapah.


“Kau yang berbau busuk,” sahut Alvin, sembari memain-mainkan ratusan ribu belati sihir yang berada di bawah awan kelabu, mengejar dan membelah lalat-lalat yang terus beterbangan keluar dari balik awan.


“Aku serius. Kau bau. Sihir racunmu ini sangat bau!" ejek Alvin lagi.


“Kau f**k!”


“Hah? Darimana dia mempelajari kata-kata itu?”


[“…Dia hidup di Bumi jutaan tahun sebelum kau lahir.”]


“…Benar juga… Apa dia yang menciptakan kata itu?”


[“Lebih masuk akal jika Azazel yang menciptakannya.”]


...…...


Tahu jika dirinya sedang diakali, Beelzebub pun membuyarkan awan kelabu di atas mereka, menghentikan sihir pemangilannya pada pasukan lalat yang berada di planet lain.


Alvin memang mempermainkan Beelzebub agar ia merubuah wujudnya dalam bentuk lalat dan memanggil jutaan pasukan lalat beracun itu.


Sebelumnya, Anna pernah memberitahukan padanya untuk menunggu agar Beelzebub melakukan perubahan wujud ke bentuk lalat dan memanggil pasukan lalatnya karena Anna tahu jika Rimi memiliki skill untuk menguasai serangga yang telah dibangkitkannya.

__ADS_1


Jutaan lalat itulah yang kini Rimi gunakan untuk mengejar dan memerangi miliaran monster merah yang mulai terbang menyebar ke setengah dari penjuru Bumi.


...…...


__ADS_2