Hunter System

Hunter System
Bab 187 - Sang Pembuka Gerbang Hitam


__ADS_3

Alvin mendecakkan lidah, melihat jenis monster yang baru saja keluar dari gerbang hitam.


Mereka adalah monster-monster yang paling tidak diinginkannya untuk datang ke Bumi di antara banyaknya monster yang menghuni planet di luar sana yang selama ini muncul dalam sebuah Dungeon.


'Mereka dari planet monster itu...'


Mina juga berdecak ketika melihat siapa yang datang untuk mengacaukan Bumi.


["Ini benar-benar buruk."]


'Siapa yang mengundang mereka?'


Sambil menghampiri dan menghabisi ular naga terbang dan wyvern yang bisa saja membakar habis pasukan lalat Rimi yang masih lemah, Alvin memerhatikan beragam jenis monster yang bertumpuk di depan gerbang dan menebak-nebak siapa yang mungkin mengundang makhluk-makhluk mengerikan itu untuk datang ke Bumi.


Dari yang diketahuinya, harus ada makhluk, entah itu makhluk ciptaan, malaikat atau dewa dari suatu planet yang mengudang makhluk dari planet lain jika ingin seisi makhluk dari planet tersebut datang ke tempat tinggal mereka.


Sebagai contoh, Beelzebub yang merupakan mantan malaikat dari pusaran putih, bisa mengundang makhluk dari pusaran merah. Karena itulah gerbang cincin merah sebelumnya terbuka di Bumi.


Berarti, harus ada juga seseorang yang bertanggung jawab, entah itu makhluk ciptaan, malaikat atau dewa yang mengundang seluruh monster yang saat ini sedang menginvasi Bumi dari planet monster.


Invasi besar-besaran ini berbeda dengan monster dalam jumlah terbatas yang keluar dari sebuah Dungeon Break.


Dungeon juga hanya membutuhkan satu malaikat untuk menciptakannya tanpa mengundang seisi planet untuk datang.


Monster-monster yang keluar dari gerbang Dungeon Break juga tidak akan sebanyak ini. Hanya segelintir monster dari sebuah wilayah, bukan seluruh monster dari seisi planet yang datang untuk menghancurkan.


["Apa yang Anna katakan benar-benar terbukti. Karena mereka tidak bisa menguasai dan memperbudak manusia lagi, mereka ingin menghancurkan Bumi,"] keluh Mina.


......................


"The Art Of Killing, part 2... Dagger Rain."


Alvin menggunakan mantra sihir, menciptakan ratusan ribu belati sihir untuk mengejar monster-monster yang sudah menyebar dengan sangat cepat dan lolos dari amukan Rimi dan pasukan serangganya yang sudah memulai pertempuran sejak tadi.


Berbeda dengan pertempuran sebelumnya, kali ini, pasukan serangga berkostum robot terlihat sedikit kesulitan hanya untuk menumbangkan satu monster saja.


Monster-monster itu sangat lincah, juga memiliki energi sihir yang sedikit lebih unggul dibandingkan pasukan serangga yang sudah Alvin kembangkan.


Bahkan, jutaan lalat yang baru menjadi pengikut Rimi terlihat tidak sanggup menghadapi monster-monster dari planet monster tersebut. Banyak dari mereka yang sudah mulai berguguran.


"Paling tidak racun dari lalat-lalat itu memiliki sedikit efek," ucap Alvin saat melihat sepasukan monster terlemah yang tampak sempoyongan.


Walaupun monster-monster itu tidak langsung mati karena mereka sudah terbiasa dengan racun, namun mereka mulai limbung karena terlalu banyak menghisap asap beracun berbeda yang pasukan lalat sebarkan tepat di depan gerbang hitam.

__ADS_1


"Apa ini perasaanku saja? Bukankah mereka terlihat lebih cepat dan kuat dibandingkan saat aku menghadapi mereka dulu?"


["Sepertinya karena perbedaan atmosfer antara Bumi dan planet mereka yang mengandung sihir beracun. Mereka bisa bergerak jauh lebih lincah disini. Juga, udara di Bumi jauh lebih baik dibandingkan udara beracun di planet mereka."]


"Ku rasa memang itu jawabannya."


Alvin terbang melesat, mengejar rombongan wyvern yang baru saja keluar dari gerbang dan melesat cepat melewatinya, menuju ke arah selatan.


Ia menghabisi beberapa wyvern dengan pasak besi, lalu mengejar puluhan ular naga yang sudah terbang jauh, juga menuju selatan.


Dalam perjalanannya, Alvin diikuti puluhan wyvern lain yang baru keluar dari gerbang.


Ia menghentikan laju terbang, mengira jika gerombolan wyvern sedang mengejarnya. Namun, mereka terbang melengkung mengitarinya begitu saja, menyusul gerombolan ular naga yang sudah terbang jauh mendahului.


"Bergerak di udara sedikit membatasiku," keluh Alvin.


Kecepatannya menggunakan airbender hanyalah 20% dibandingkan kecepatan jika ia berpergian dengan menapak tanah.


Namun demikian, Alvin tetap melakukan perjalanan udara, menghindari hutan dan sungai yang pasti akan menghalanginya jika berlari di daratan.


"Kemana sih, mereka?" ucap Alvin pelan sambil melihat daratan di bawahnya, berharap bisa mengenali lingkungan yang ia lalui. "Ini arah menuju Kota T, kan?"


["Kau benar. Mereka menuju Kota T,"] sahut Mina setelah bertanya pada Rimi yang membawa semua peta yang selama ini menjadi penunjuk jalan Alvin.


......................


Tapi, setelah ia tiba di sana, barulah ia tahu apa penyebabnya.


Banyak dari hunter Kota T sedang berada di luar bunker.


Mengira Alvin, Rimi dan Cyntia sudah berhasil memusnahkan pencipta Dungeon, semua hunter itu keluar dari bunker untuk merayakan kemenangan.


Alvin memang berhasil menghabisi Beelzebub dan pasukan monster dari pusaran merah.


Namun, tanpa mereka tahu, masih ada penyerang lain yang sebenarnya adalah akar dari seluruh masalah yang terjadi di Bumi, yang merupakan tuan dari Beelzebub dan 30 fallen angel yang hanya mereka gunakan sebagai kaki tangan saja.


......................


Lex Brown, Ivory Cruz, Revi McCoy dan Robbie Cale berjuang bersama ratusan hunter untuk bertahan hidup.


Mereka hanya berjuang untuk hal tersebut.


Monster-monster mengerikan itu tidak berada di level yang bisa mereka atasi dengan menggunakan strategi lagi. Perbandingan kekuatan mereka dan para monster jauh lebih besar dibandingkan jarak antara Bumi dan langit.

__ADS_1


Yang para hunter itu lakukan hanyalah berlarian sambil sesekali menyerang dari jarak jauh untuk mengalihkan perhatian monster dari kawan yang hampir dimangsa.


Sampai akhirnya, saat salah satu ular naga raksasa menyeburkan nafas api, hunter-hunter itu hanya bisa membelalakan mata, menunggu api raksasa menyambar dan melenyapkan tubuh mereka.


"The Art Of Killing, part 1... Return Gate!"


Bersamaan dengan teriakan nyaring yang terdengar dari langit, sebuah gerbang biru besar muncul tepat di antara para hunter, yang sudah pasrah menunggu ajal menjemput, dan api raksasa yang sedang terbang untuk mengantarkan mereka pada kematian.


Gerbang biru menelan seluruh api yang terhembus ke arah para hunter, lalu memuntahkannya lagi dengan kekuatan dan ukuran yang jauh lebih besar dari yang telah ditelannya.


Api yang kembali ke arah monster-monster pun tidak lagi berwarna merah. Api berwarna biru itu membakar semua ular naga dan wyvern yang ada di situ, juga yang sedang melintas untuk mengitari gerbang biru.


Wooooooooooosssshhhh...


.........


Abu dari tubuh monster yang habis terbakar memenuhi udara.


Hunter-hunter yang selamat dari kematian, sebagian besar jatuh terduduk dengan jantung yang berpacu kencang.


Beberapa dari mereka mendongak, menatap sosok pria yang mereka yakin sebagai penyelamat kehidupan mereka, lalu bersorak nyaring dengan rasa syukur, mengelu-elukan nama pria itu.


Di langit, Alvin memerhatikan hunter yang tampak bahagia dan terharu atas apa yang sudah dilakukannya pada mereka.


Tapi, ada satu hunter di antara mereka yang tampak tidak senang dengan kehadirannya.


"Bukankah dia bukan bagian dari hunter?" pikir Alvin.


Alisnya mengernyit, mengingat jika orang itu harusnya tidak mendapat kebangkitan menjadi seorang hunter.


Alvin akhirnya turun dari langit, menghampiri hunter-hunter yang sedang bersorak meneriakkan namanya.


"Tuan Rufino!" seru Lex, sambil berjalan cepat menghampiri Alvin yang masih berada beberapa meter dari tanah.


"Tuan Brown," sahut Alvin.


Tapi, Alvin mengabaikan uluran tangan Lex untuk berjabat tangan dengannya.


Ia menghindari Lex dan hunter-hunter lain yang bergerombol di sekitar Lex, masuk ke dalam kerumunan untuk mendatangi hunter yang langsung melarikan diri ketika sadar bahawa tatapan tajam Alvin padanya pasti karena menaruh curiga.


Hunter itu berlari dengan sangat cepat menuju hutan, tempat di mana ia telah melakukan ritual pemanggilan pada makhluk dari planet monster.


Dialah sekutu dari makhluk pusaran ungu yang telah mengundang monster-monster dari pusaran coklat untuk datang ke Bumi.

__ADS_1


"Pantas saja monster-monster itu terbang ke sini. Ternyata mereka mendatanginya."


.........


__ADS_2