Hunter System

Hunter System
Bab 196 - Kembali Ke Planet Monster


__ADS_3

Alvin tidak langsung pergi memasuki gerbang yang baru saja terbuka tepat beberapa menit setelah ia kembali ke tempat di mana Rimi menunggu.


Ia masih terfokus pada getaran kuat yang berasal dari energi sihir pada pertarungan lain yang berada jauh di seberang pulau.


"Sepertinya Anna sudah bertemu mereka. Apa dia akan baik-baik saja?"


["Tidak perlu mengkhawatirkannya. Pikirkan misi mu sendiri."]


"Aku cuma sedikit khawatir. Getaran energi sihirnya saja bisa sampai ke sini. Mereka berada di Beijing, kan?"


["Kau malah terdengar seperti sedang mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri."]


Alvin menelan ludahnya, membasahi tenggorokannya yang kering akibat rasa gugup, tepat seperti apa yang Mina katakan.


"Jangan memperjelasnya seperti itu."


Alvin akhirnya berpaling, menatap gerbang yang hanya seukuran sebuah pintu yang sudah dibukakan seseorang yang berasal dari planet monster.


.........


Tidak seperti biasa, Alvin jauh lebih gugup kali ini. Biasanya, dia selalu memaksakan diri walaupun tahu jika dirinya mungkin akan mati dalam pertarungan.


Kali ini, entah kenapa, rasa khawatir benar-benar melanda dirinya dengan sangat berlebihan.


"Apa ini perasaan takut?"


Mina tersenyum. Hal yang sama juga dilakukan Rimi, yang sudah menyatu kembali di tubuh Alvin dan menyimpan avatar hunternya di dalam inventory.


["Kadang rasa takut dibutuhkan. Kau akan lebih berhati-hati karena memiliki rasa takut itu."]


Alvin mendengus pelan.


"Maksudku..., kali ini ada hal berbeda yang membuatku gentar."


["Biasanya kau memiliki aku sebagai jaminan untuk lolos dari kematian."]


Alvin menghela nafas.


"Kau benar."


Biasanya, Alvin tidak takut mati karena masih memiliki kesempatan untuk menggunakan skill tersembunyi Sistem. Mina akan menggantikannya saat ia sekarat.


Setelah tahu jika Mina akan lenyap saat menggunakan kesempatan terakhir dari skill tersembunyi itu. Alvin tidak pernah berharap lagi untuk menggunakan kesempatan terakhir itu.


Dia tidak ingin Mina lenyap.


.........


Entitas asing yang dilawannya belakangan ini tidak memberinya rasa takut akan kematian. Ia selalu yakin bisa menghadapi mereka tanpa ancaman yang bisa membuatnya kalah sampai akhirnya sekarat.


Ia sudah sangat percaya diri pada kekuatan dan skillnya sendiri.


Tapi, kali ini berbeda. Ia sudah tahu lawan seperti apa yang akan dihadapinya.


"Terkadang, tidak tahu seberapa kuat lawan yang akan dihadapi sebenarnya jauh lebih baik. Pengetahuan tentang hal itu kadang bisa memengaruhi mental."


Mina tertawa terpingkal, sementara Rimi yang sudah terhubung kembali dengan perasaan tuannya, merasakan kekhawatiran yang sama.


.........

__ADS_1


Alvin teringat pada informasi yang Anna berikan mengenai sistem tingkatan para makhluk ciptaan yang berada dalam ikatan hukum Absolut.


Di antara semua makhluk ciptaan Absolut, ada Serafim dan dewan pengawas agung, makhluk mulia yang berada pada tingkatan tertinggi dari semua makhluk ciptaan.


Mereka adalah para peninjau kehidupan dewan pengawas, juga pengadil yang akan menghakimi makhluk ciptaan, para dewan pengawas, yang berada di tingkatan kedua itu.


Pada tingkatan kedua ada dewan pengawas para dewa. Mereka adalah makhluk ciptaan yang bertanggung jawab untuk mengadili para makhluk ciptaan pada tingkat ketiga.


Di tingkatan ketiga, ada dewa yang tinggal di dunia para dewa. Mereka adalah makhluk ciptaan yang kini bertugas sebagai penjaga galaksi di alam semesta.


Dewi Lyn, Dewi Ann, dan dewa Zei adalah sedikit dari banyaknya makhluk ciptaan Absoulut yang berada pada tingkatan itu.


Pada tingkatan keempat ada malaikat kasta kedua yang bertugas untuk melayani keluarga para dewa.


Tingkat kelima sampai kedelapan, dibagi oleh para malaikat dengan kasta tertinggi sampai terendah.


Sedangkan makhluk ciptaan yang tinggal dalam sebuah planet, ada di tingkatan kesembilan. Mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh para dewan pengawas para dewa yang berada di tingkat ketiga dari sistem tingkatan makhluk ciptaan.


Yang membuat Alvin merasa sangat gugup saat menghadapi gerbang dihadapannya adalah karena dia diberikan misi untuk menghabisi dewan pengawas para dewa yang kini sedang berada di planet monster.


Dilihat dari tingkatan saja, ia tahu jika dirinya berada di tingkatan terbawah, sedangkan lawannya berada di tingkatan ketiga. Perbedaan kekuatan mereka tentu sangat jauh.


Alvin memang bisa mengalahkan salah satu dewa terkuat yang berada ditingkatan keempat. Namun, dari cerita Anna, kekuatan dewan pengawas para dewa berada di luar nalar.


["Tidak ada pilihan untuk mundur."]


"Aku tahu. Aku cuma merasa sedikit gugup."


["Aku bisa merasakan kecemasanmu."]


"Senang ada teman untuk berbagi."


["..."]


"Kenapa kau diam? Kau membuatku bertambah cemas."


["Tsk... Sudahlah. Ayo masuk."]


"Ya."


Alvin memandang sekelilingnya.


Ia memang tidak bisa menemukan bangunan apa pun lagi di tempat itu, yang sebelumnya adalah pusat kota dari Kota T.


Tapi, ia mungkin akan merindukan pemandangan langit senja di Bumi seperti yang saat ini dilihatnya.


Dia tidak tahu apakah akan bisa pulang dengan selamat atau tidak.


Fyuh...


Alvin menghembuskan nafas lalu menghirup udara dalam-dalam, sampai memenuhi paru-parunya.



Cough...


"Ka-kau benar, Rimi...," sahut Alvin sebelum akhirnya mengangkat salah satu kakinya dan melangkah menuju gerbang. "Ayo kita hadapi saja!" seru Alvin sembari melayangkan tinjunya tinggi ke udara.


["Suaramu penuh semangat tapi kakimu gemetar."]

__ADS_1


"Kau f**k!"


...****************...


Setelah berpindah planet, Alvin langsung bertemu dengan dewa Voxa yang berdiri tepat beberapa meter di depan gerbang.


Keduanya saling bertatapan dalam diam selama beberapa saat, sebelum dewa Voxa berbicara terlebih dahulu, dalam bahasa makhluk Bumi.


"Kau makhluk ciptaan yang dewi Ann perintahkan untuk datang?"


Alvin mengangguk pelan sebelum menjawabnya, "Anda benar," sahut Alvin dengan sopan.


Walaupun dewa Voxa nampak jauh lebih muda darinya, namun Alvin tahu jika umurnya pastilah sudah sangat tua jika dibandingkan dengan dirinya, bahkan jika dibandingkan dengan usia Bumi sekalipun.


'Kalau dia memakai seragam sekolah, dia akan cocok sebagai anak SMA.'


Di sisi lain, dewa Voxa terdiam lagi sambil mengamati gerbang yang dibuatnya. Ia mengira akan ada makhluk ciptaan lain yang datang bersama Alvin.


Namun, setelah melihat tak satupun lagi makhluk yang keluar dari gerbang, ia tampak sedikit kecewa.


Dewa Voxa memang bisa merasakan energi Mana yang terdapat dalam tubuh Alvin. Ia tahu jika Alvin lebih kuat darinya. Tapi...


"Sepertinya kekuatannya tidak cukup untuk bisa menghadapi dewan Re. Sial, apa aku ditipu dewi Ann? Tapi, tidak mungkin dewi Ann menipuku, kan? Tidak ada keuntungan yang bisa diambilnya dariku," pikir dewa Voxa.


.........


Alvin memandang sekeliling setelah tadi memfokuskan panca indranya untuk merasakan keberadaan hunter-hunter Kota T yang dipindahkan dewa Zei ke planet monster. Namun ia tidak bisa merasakan aura dari energi Mana siapapun di planet itu.


Ia juga tidak bisa merasakan aura sihir dewa Voxa, sama seperti saat tidak bisa merasakan aura energi Mana dewa lain yang pernah ditemuinya juga.


"Mereka ada di Bulan."


"Ya?"


"Kalau kau sedang mencari keberadaan makhluk dari planetmu, mereka kini berada di Bulan," ucap dewa Voxa sembari memandang pada salah satu dari dua Bulan yang berada di langit malam.


Alvin mengikuti arah tatapan dewa Voxa lalu mengangguk pelan.


"Terima kasih."


'Ku harap energi Mana mereka bisa melindungi diri dari racun udara Bulan planet ini.'



'Kau bisa tahu? Bukankah...'


Alvin baru ingat jika ada gerbang yang dewa Voxa buka, yang menghubungkan planet ini dan Bumi.


Selain itu, ia juga bisa melihat gerbang cincin raksasa yang juga menghubungkan planet monster dan Bumi.



'Ya...'


.........


"Apa kau datang sendiri? Apa tidak ada rekan lain yang akan datang setelahmu?" tanya dewa Voxa penasaran.


Alvin menggeleng pelan.

__ADS_1


Terlihat kekecewaan dari raut wajah dewa Voxa setelah mendapat jawaban atas rasa penasarannya. Ia sebenarnya sangat berharap akan ada makhluk lain yang lebih kuat dibandingkan Alvin.


"Tidak ada harapan," keluh dewa Voxa dalam hatinya.


__ADS_2