
"Apa kau memang ingin memelukku?"
"Tadi... Kau terlihat ingin memelukku saat aku baru datang."
Bukkk...
"Aduh..."
"Ada armor tak terlihat yang melekat di tubuhku," bisik Alvin pada Cyntia yang sedang mengusap-usap sikunya yang terasa sakit setelah berbenturan dengan pelindung yang aktif secara otomatis tiap kali mendeteksi serangan.
Cyntia menatap kesal padanya sebelum mengalihkan pandangannya ke kerumunan orang yang sedang berkumpul di dekat api unggun.
Keduanya kemudian memerhatikan orang-orang yang sedang merayakan kemenangan di sekitar bunker dan mereka yang sedang asik menyantap semua cadangan ransum yang telah dikeluarkan dari gudang bunker.
Rasa khawatir akan adanya bencana telah menghilang dari pikiran semua orang setelah mengetahui jika Alvin dan hunter-hunter yang berada di setengah lokasi Bumi yang terbagi oleh gerbang cincin telah berhasil menghabisi semua makhluk yang datang menginvasi umat manusia.
Berita kemenangan para hunter juga sudah menyebar dengan cepat ke seluruh dunia.
Semua masyarakat dunia merayakan kemenangan mereka dengan melakukan karnaval di jalan-jalan selama satu minggu penuh.
.........
"Kalian tidak bergabung bersama mereka?" tanya Robert yang baru saja menyelesaikan tugasnya untuk membagikan botol-botol minuman beralkohol pada semua orang yang duduk mengelilingi api unggun.
"Aku... agak lelah...," sahut Alvin. Dengan cepat ia melepaskan tangan Cyntia dari genggamannya.
Robert tersenyum. Ia melirik Cyntia yang menatapnya dengan kesal. "Maaf mengganggu."
Robert kemudian tertawa nyaring dan kembali ke kumpulan orang yang berada di dekat api unggun.
Tak lama berselang, giliran Vina datang menghampiri Alvin dan Cyntia.
Ia menatap Alvin dalam diam beberapa saat. Alvin bisa merasakan keharuan dari sorot mata kakaknya.
"Terima kasih...," ucap Vina dengan suara bergetar.
"Tidak perlu mengatakannya."
Sebuah senyuman pahit terukir di bibir wanita itu saat kenangan dari kehidupan sulit yang sudah Alvin lalui selama ini melintas dalam ingatannya.
Tentang bagaimana kesulitan adiknya menghadapi rundungan tanpa henti dari Brondy Lewis dan para pengikutnya selama 5 tahun yang akhirnya membuat Alvin kehilangan banyak teman di Akademi Hunter yang harusnya ia miliki.
Bagaimana ia juga bisa merasakan rasa sakit hati saat sahabat baik adiknya ternyata hanya memanfaatkan statusnya sebagai orang yang dijauhi semua orang.
Juga saat Alvin berhasil mewujudkan impiannya menjadi seorang pengusaha dengan membuatkan perusahaan yang pada akhirnya membantu semua hunter di Kota T dan Kota S untuk memiliki set tempur yang sangat layak sampai bisa bertahan dalam menghadapi pertempuran berbulan-bulan melawan pasukan lich.
Selain itu, banyak hal yang sudah mereka lalui bersama semenjak usia belasan tahun setelah meninggalkan kehidupan nyaman penuh perlindungan dari keluarga Maxwell.
Sampai akhirnya, Alvin menjadi salah satu penentu kemenangan umat manusia melawan entitas asing yang membuat gerbang-gerbang Dungeon bermunculan.
"Yah..., walaupun dia agak tidak waras sih. Apa karena dia dulu sering di rundung?" pikir Vina, mengingat bagaimana adiknya sering melamun dan terkadang berbicara sendiri.
Ia sering mendengar Alvin berbicara seorang diri di dalam kamarnya dan terkadang kehilangan konsentrasi saat sedang diajak berbicara.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Alvin, merasa tidak enak dengan raut wajah dan tatapan kakaknya yang tampak mengasihaninya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa...," Vina berjinjit sembari memegangi perutnya yang besar, lalu berbisik di dekat telinga Alvin, "Kalau kau ada waktu, pergilah ke psikiater."
"Hah?"
Walaupun Vina berbicara dengan suara berbisik, Cyntia tentu bisa mendengarnya. Sebagai seorang hunter, terutama karena job Assassinnya, Cyntia memiliki pendengaran yang jauh melebihi manusia normal.
Cyntia berusaha menahan tawanya saat tahu jika Vina ternyata menganggap Alvin memiliki gangguan mental.
Vina belum tahu jika Alvin memiliki Sistem dan 'hantu gentayangan' yang berdiam di dalam tubuhnya seperti yang sudah Cyntia ketahui.
.........
"Bagaimana pun, tetap saja aku harus berterima kasih padamu," ucap Vina pelan.
Suaranya hampir tidak terdengar, tertutup oleh keramaian orang-orang yang bernyanyi riang, juga karena emosi haru yang meluap-luap di hatinya.
"Kalau begitu, hiduplah dengan baik mulai sekarang."
"Tentu saja... Terima kasih..."
......................
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Cyntia setelah Vina kembali pada Jack yang sedang larut dalam perayaan kemenangan di dekat api unggun.
Jack bahkan sudah melupakan kematian kakaknya.
"Berburu."
"Berburu?"
"Berburu hewan liar?" Hanya itu yang melintas dalam pikiran Cyntia.
Karena Dungeon dipastikan tidak akan ada lagi, Alvin mungkin akan menggunakan keahliannya sebagai pemburu hewan liar di hutan-hutan pulau Borneo.
Lagian, Cyntia berpikir, sebanyak apa pun tabungan Alvin, dia juga butuh pekerjaan baru.
"Berburu monster."
"Ya?"
Cyntia berpaling, menatap Alvin dengan alis mengernyit.
"Maksudmu? Bukankah semua gerbang tidak akan muncul lagi setelah makhluk-makhluk itu binasa?"
Alvin menggeleng pelan.
Mereka memang sudah berhasil menghabisi akar masalah, namun batang dan buah yang dihasilkan akar tersebut masih ada dan belum dihabisi sepenuhnya.
Itulah yang harus Alvin lakukan dan hal itu juga yang dewi Ann minta padanya untuk diselesaikan.
Alvin belum memberitahukan pada siapa pun tentang masalah tersebut. Ia tidak ingin merusak acara perayaan dadakan yang sedang berlangsung.
"Masih banyak makhluk asing yang harus diburu. Kita masih harus bekerja sedikit lebih lama lagi," ucap Alvin.
Senyuman aneh terukir di bibirnya.
__ADS_1
["Aku tahu kau senang karena tidak jadi pengangguran. Tapi tolong jangan tersenyum seperti itu. Menjijikkan!"]
'Aku tidak tersenyum.'
'Tidak. Itu cuma reaksi syarf yang terhubung dengan perasaanku.'
["Kau f**k!"]
...****************...
Setelah peperangan melawan dewan pengawas para dewa berakhir dan tidak ada lagi gerbang Dungeon yang bermunculan di sembarang tempat, semua negara memulai pembangunan kota-kota mereka yang telah hancur oleh invasi para monster.
Hal yang sama tentu dilakukan Kota S juga.
Sebagai dana pembangunan, para investor berlomba-lomba untuk menginvestasikan uang mereka pada sarana yang akan di bangun Pemerintah dalam menata ulang kota mereka.
Yang diuntungkan tentu saja orang-orang kaya yang bergerak di bidang pengolahan hasil raid dan para hunter kaya yang sebelumnya sudah mengumpulkan pundi-pundi harta melalui bisnis Dungeon. Mereka memiliki modal kuat untuk berinvestasi.
Tapi, sebagai pahlawan dari peperangan, Alvin dengan perusahaan Rufino-nya tentu tidak tinggal diam.
Ia memonopoli investasi di banyak sektor penting.
Dengan hartanya yang sangat melimpah, didukung juga dengan nama besarnya sebagai seorang pahlawan, tidak ada yang berani menentang keinginannya.
["Penjahat tamak baru, sudah lahir."]
"Selamat, kau telah membesarkan seorang penjahat tamak," sahut Alvin yang kemudian tertawa bahagia.
Tawa yang dilakukannnya secara tiba-tiba itu membuat para kolega bisnis yang ada di ruang pertemuan ikut tertawa dengan terpaksa.
Mengira jika Alvin sedang dalam suasana hati yang sangat baik setelah penandatanganan kontrak kerjasama mereka.
.........
Untuk karir, pekerjaan paling diinginkan yang sama seperti sebelumnya masih diimpikan banyak orang sampai saat ini.
Awalnya, semua orang berpikir jika pekerjaan konvensional akan kembali berjaya setelah peperangan berakhir.
Namun, setelah semua orang tahu jika pertempuran belum benar-benar berakhir, impian para anak muda pun tidak berubah.
Menjadi seorang hunter tetaplah menjadi sebuah pekerjaan nomor satu yang paling diimpikan semua orang.
Mereka tahu jika mereka akan menghasilkan banyak uang dan nama besar dari pekerjaan tersebut. Itu jika mereka bisa bertahan hidup.
Berinvestasi dalam pengolahan hasil raid juga masih menjadi prioritas utama orang-orang terkaya dunia.
Dewan pengawas yang membelot memang sudah tewas, namun para dewa dan makhluk-makhluk ciptaan yang tersebar di ribuan planet yang telah mengikat sumpah dukungan pada para dewan pengawas pembelot masih ada. Karena mereka ada, maka bisnis dari sebuah gerbang juga tetap ada.
Merekalah target utama yang masih harus para hunter singkirkan.
Untuk itulah, dewi Ann yang kini telah menjadi dewan pengawas agung meminta Alvin dan hunter-hunter Bumi untuk menghabisi para makhluk pembelot itu.
......................
__ADS_1