Hunter System

Hunter System
Bab 150 - Kekhawatiran Rimi


__ADS_3

Alcamtar berjongkok, mengoyak armor yang Alvin kenakan untuk memeriksa inti Mana yang ada di dadanya. Tapi, ia sedikit bingung dengan keadaan tubuh itu yang tidak memiliki inti Mana sama sekali.


"Di mana inti Mananya? Tidak mungkin dia cuma manusia biasa, kan?"


Namun, saat Alcamtar melihatnya lagi dengan lebih teliti, ia akhirnya menyadari ada hal yang salah dengan tubuh itu.


Tubuhnya sedikit basah, agak pucat, dengan kulit yang mengeriput seperti baru saja terendam di dalam air dalam waktu lama.


Merasa curiga, Alcamtar pun mengambil kepala yang sedang dalam posisi telungkup di sebelah tubuh itu lalu menatap wajahnya.


"Ini... Apa wajahnya tadi seperti ini?"


Ia kemudian berdiri dan mencari sesuatu yang ia curigai.


Dugaannya benar. Alcamtar menemukan sebuah tabung yang telah dilubangi dengan sangat rapi dengan air yang merembes keluar dari dalamnya. Ia juga tidak dapat melihat adanya makhluk kloning di dalam tabung itu.


"Kapan dia menukar tubuhnya dengan makhluk kloning itu?"


Alcamtar akhirnya menoleh ke arah gerbang buatan Scamra yang sudah mengecil dan menghilang sebelum ia sempat melebarkannya krmbali.


"Sial. Pergi kemana dia?"


......................


Setelah melewati gerbang buatannya, Scamra tiba di sebuah padang gurun luas yang sangat gersang dengan lingkungan yang memiliki penerangan remang dari cahaya bulan.


Makhluk itu kemudian mengembangkan sepasang sayap hitamnya dan terbang menuju salah satu bukit dari banyaknya bukit pasir yang berada di padang tandus itu.


Sesampainya di bukit tersebut, Scamra mendarat di bibir gua dan hendak masuk ke dalamnya saat seseorang tiba-tiba menangkap tengkuknya.


.........


Alvin menonaktifkan ghost skillnya. Ia menatap Scamra yang melotot terkejut dengan kemunculannya.


"Kau tertangkap lagi, brengsek!" umpat Alvin sembari menangkap tangan Scamra yang baru saja hendak meninju wajahnya.


Alvin menarik tangan itu dengan sangat kuat dan memutuskannya.


Ia melepaskan cengkraman dari leher Scamra, lalu menghantamnya dengan sangat keras, menggunakan putusan tangan makhluk itu.


Buakkkk...!!!


Scamra terpental jauh ke arah padang pasir dan baru berhasil menguasai tubuhnya setelah beberapa kali bergulingan di pasir kasar tersebut.


Scamra mengembangkan sayapnya, lalu terbang tinggi untuk menghindari serangan yang mungkin akan datang lagi, namun tubuhnya di tahan oleh sebuah kekuatan tak terlihat yang kemudian menariknya kembali ke arah bibir gua.


Scamra mencabut pedang yang tersarung di pinggangnya. Ia mengarahkan pedang itu pada Alvin yang sedang menantikan kedatangannya, lalu menembakkan sihir kuat dari ujung pedang tersebut.

__ADS_1


Wusssshhhhh...


Cahaya hitam metalik melesat menembus udara dingin, menyambar ke arah Alvin yang tiba-tiba saja lenyap dari tempat itu sebelum cahaya kehitaman itu berhasil menyentuhnya.


Scamra yang sebelumnya di tarik ke arah gua, tiba-tiba saja terhenti di udara saat Alvin, yang tiba-tiba muncul di belakangnya, menangkap tengkuknya lagi dan mencabut kedua sayap Scamra dengan tangannya.


Crakkkk...!


"Huaaaaaahhhhh...!!!"


Scamra yang selama ini hampir tidak pernah kalah bertarung dan merasakan sakit akibat cidera, berteriak nyaring saat merasakan sakit pada kedua pangkal sayapnya yang telah putus.


Dengan sangat marah, ia berputar dan menebaskan pedangnya pada Alvin dengan menggunakan lebih dari setengah energi sihir yang ia miliki.


Bammm... Bammm... Bammm...!!!


Kilatan dari energi sihir itu terbang jauh dan menghancurkan beberapa bukit yang dilaluinya.


Tapi, Scamra tahu bahwa tempat yang meledak itu bukan arah yang seharusnya dilalui serangannya.


"Kenapa arah seranganku..."


"Karena tanganmu telah putus sebelum kau bisa mengarahkan seranganmu dengan benar," sahut Alvin yang kemudian tersenyum jahat padanya.


Alvin muncul di hadapan Scamra setelah sebelumnya menyingkir dari arah serangan.


Ia mengangkat salah satu tangannya untuk menunjukkan tangan Scamra yang menggenggam pedang, yang telah berada di genggamannya.


"Kau tidak menyadarinya? Apa aku terlalu cepat?"


"Kau breng... Wuaaahhhh...!"


Alvin melepaskan cengkraman airbendernya dari pundak Scamra, membiarkannya jatuh dari ketinggian ke pasir tandus di bawah sana.


Scamra memutar-mutar tubuhnya di udara, memposisikan kedua kakinya ke tanah lalu mendarat dengan ringan di atasnya.


Ia mendongak, membuka mulutnya lebar, lalu menghebuskan api hitam yang berkobar dengan sangat besar dari mulutnya pada Alvin yang sedang melayang turun ke arahnya.


Wuuuuuuussshhhhhh...


Tapi, sebuah gerbang biru metalik tiba-tiba saja muncul tepat di depan wajah Scamra lalu menelan api tersebut.


Scamra yang terkejut dengan kemunculan gerbang itu tersedak dan terbatuk-batuk saking kagetnya.


Saat makhluk hitam legam itu masih terbatuk-batuk, api yang tadi tertelan oleh gerbang, terlontar kembali dari dalam gerbang dan membakar habis tubuh Scamra yang langsung meleleh karena panas dan kekuatan sihir api yang sangat dahsyat.


"Khuuuaaaaaaaaaaaa...!"

__ADS_1


Api hitam yang sangat panas membara itu mulai membakar habis seluruh daging di tubuh Scamra.


Api itu sangat panas membara, jauh lebih panas dibandingkan semburan api milik Ziz, sampai Alvin yang terlindungi oleh berlapis-lapis skill pertahanan juga bisa sedikit merasakan panasnya api di kulitnya.


Andai Scamra tidak kehilangan kedua tangan dan pedangnya, ia pasti sudah menggunakan sihir itu dengan lebih mengerikan lagi.


.........


Alvin menatap tubuh Scamra yang kini sudah hanya tinggal tulang belulang. Makhluk yang baru beberapa waktu lalu membuatnya merasakan takut itu ternyata sangat mudah dikalahkannya setelah ia mendapatkan kekuatan dari Main Jobs.


"Kau benar. Ternyata kecepatan di atas segalanya."


["Sudah ku bilang, kan? Kuat saja tidak cukup. Membunuh lawan sebelum dia sempat melakukan apa pun adalah seni bertarung yang baik dan benar."]


"Tapi..., kurasa aku masih belum menyiksanya dengan benar."



"Aku tahu. Aku juga merasakan energi sihir mereka," sahut Alvin, sembari menatap ke kejauhan, "Aku tinggal membunuh mereka semua."


Alvin menyadari jika ada banyak monster yang sedang bergerak ke tempatnya berada.


["Bukan itu yang Rimi maksud. Kau mungkin tidak menyadarinya. Udara disini sangat beracun."]


"Ya?"


Alvin memang tidak menyadarinya karena sistem healing dan defencenya sudah berada di level yang sangat tinggi. Ia sampai harus menajamkan indranya untuk bisa merasakan udara beracun di tempat itu.


Untuk pertama kalinya, Alvin yang sudah tidak pernah merasa ngeri lagi dengan keadaan di sekitarnya, akhirnya memerhatikan keadaan tempat di mana ia berada.


Tempat itu lumayan gelap karena hanya disinari oleh cahaya rembulan yang tidak bisa memantulkan sinar 'Mataharinya' dengan baik walaupun ada dua buah Bulan di langit gelap dengan sedikit bintang itu.



["Ya?"]



["Huh?!"]


"Apa maksudmu, Rimi?"


["Sebaiknya kita kembali sekarang."]


"Ya? Ada apa sebenarnya?"


Walaupun ia tidak mengerti dengan kekhawatiran kedua Sistem, Alvin tetap menuruti mereka dan langsung kembali ke tempat dimana gerbang berada. Kali ini ia tidak menggunakan airbender untuk terbang di langit malam seperti saat ia sedang mengejar Scamra tadi.

__ADS_1


Ia bisa menebak, ada hal yang tidak wajar yang Mina dan Rimi sadari dari Dungeon ini hingga memutuskan untuk berlari secepat mungkin menuju gerbang Dungeon karena kecepatannya sangat jauh menurun saat ia bepergian menggunakan airbender.


Alvin bahkan sudah tiba di lokasi gerbang harusnya berada kurang dari 2 detik hanya dengan berlari. Tapi, gerbangnya sudah menghilang.


__ADS_2