
Saking cantiknya wanita berpakaian modis itu, para hunter lelaki sampai tidak melirik Alvin sama sekali, padahal mereka sejak tadi sudah sangat menantikan kedatangan Alvin.
Hunter-hunter itu malah saling berbisik membicarakan Cyntia. Bukan hanya karena kecantikannya, tapi karena mereka juga tahu Cyntia adalah hunter wanita yang telah bertarung melawan ribuan lich seorang diri beberapa waktu lalu.
Ia menjadi bahan pembicaraan seluruh hunter di Kota S, Kota T, Kota V, Kota W dan Kota U yang wilayahnya berada dalam satu pulau, hanya karena video pertarungannya heroiknya telah menyebar di 5 kota tersebut.
Mereka menebak Cyntia adalah hunter yang setidaknya berada di peringkat SS yang peringkatnya pasti dirahasiakan oleh keluarganya.
"Ternyata dia secantik ini...," hunter-hunter itu saling berbisik.
"Apakah dia bidadari yang datang untuk menjemput kita?" ucap salah satu hunter.
Kalimat itu berhasil membuat perhatian hunter lain teralihkan padanya.
"Aku tahu kita mungkin akan mati. Tapi tolong jangan katakan dengan jelas," ucap salah satu hunter sembari melotot padanya. Walaupun ia tahu hunter itu sedang bercanda, namun baginya candaan yang hambar itu benar-benar tidak lucu.
.........
“Tuan Rufino dan... Anda Cyntia Maxwell?" sapa Lex Brown.
"Ya, tuan Brown. Senang berjumpa Anda," sahut Cyntia sembari tersenyum lembut pada pria paruh baya itu. Tapi senyumnya langsung menghilang saat melihat Ivory tersenyum pada Alvin.
"Jadi gerbang Dungeon peringkat S sebesar ini...," ucap Alvin pelan sambil memerhatikan gerbang Dungeon di hadapan mereka.
Gerbang itu memiliki tinggi yang hampir menyamai tinggi sebuah bangunan dengan 4 lantai sementara lebarnya lebih dari setengah ukuran tingginya.
"Saya juga baru kali ini melihatnya secara langsung," sahut Lex.
Alvin menoleh pada Cyntia.
"Aku juga baru pertama kali ini melihatnya," ucap Cyntia, mengerti arti tatapan Alvin.
"Bagaimana dengan monster-monsternya?" tanya Alvin pada Cyntia.
"Levelnya? Tidak bisa dipastikan."
"Ya?"
"Yah, kau tahu sendiri kalau informasi monster Dungeon peringkat S tidak banyak karena tidak ada yang bisa memastikan kekuatannya. Bisa saja mereka berada di peringkat S atau di atasnya. Yang pasti, jumlah mereka yang akan keluar dari gerbang akan mencapai puluhan ribu," sahut Cyntia, memberikan informasi yang ia tahu.
"Kalau begitu jangan sampai mereka menyeberang ke sini," ucap Alvin.
"Ya?"
"Lebih baik kita masuk ke dalam lebih dulu sebelum sihir pengunci gerbang terbuka, kan?"
Glup...
“Kau yakin bisa mengatasinya?” tanya Cyntia pada Alvin dengan menyertakan tatapan serius.
Alvin tidak langsung menanggapinya. Ia kembali menatap gerbang Dungeon itu.
Dalam perjalanan ke tempat ini, Alvin sudah berdiskusi dengan Mina, dan Mina juga belum bisa memastikan apakah Alvin bisa mengatasinya sendiri.
Jika Mina saja tidak bisa memastikannya sebelum melihat sendiri monster itu, maka dia juga tidak bisa menebaknya.
“Sejujurnya aku tidak tahu.”
Cyntia menatapnya agak lama sebelum bertanya lagi, "Tapi kau tetap ingin masuk?"
"Ya."
"Kalau begitu aku akan ikut."
Alvin menatap pakaian Cyntia, "Apa kau membawa set armor dan senjatamu?"
Cyntia menggelengkan kepalanya. Ia kemudian menoleh dan berbicara pada Lex Brown.
“Tuan Brown, apakah ada set armor bagus yang bisa saya pinjam? Juga sepasang belati.”
__ADS_1
"Tunggu dulu, tuan Rufino, nona Maxwell," ucap Lex pelan. "Bukannya saya meremehkan kemampuan Anda berdua. Tapi..., ini Dungeon peringkat S. Akan lebih bijak jika kita menunggu monsternya keluar dulu dan melawannya di sini."
"Sebenarnya lebih baik melawan mereka di dalam. Wilayahnya tidak terlalu luas. Akan susah mengejar mereka jika mereka berada di sini," sahut Alvin.
Lex kehabisan kata-kata. Apa yang Alvin katakan memang benar, tapi resikonya jauh lebih besar.
"Kalau begitu, bisakah saya meminjam set armor dan sepasang belati, tuan Brown?" pinta Cyntia sekali lagi.
Lex mengangguk pelan.
"Tunggu, tuan Brown," ucap Alvin saat Lex hendak pergi mencarikan apa yang Cyntia minta. Alvin menatap Cyntia lagi, "Sebenarnya aku punya set armor untukmu," ucap Alvin.
"Ya?"
Alvin melihat ke sekeliling untuk mencari bus yang biasanya disediakan untuk ruang ganti.
“Ayo ikut aku,” ajak Alvin.
Alvin dan Cyntia kemudian pergi ke salah satu dari 3 bus yang ada lalu masuk kedalamnya.
“Apa kau membawa set armor?” tanya Cyntia saat sudah berada di dalam bus.
“Ya,” sahut Alvin sembari mengeluarkan sebuah koper dari udara.
“K-kau bisa summon benda juga?”
“Ya...”
Setelah itu Alvin juga mengambil sepasang belati dengan gagang berlapis kulit berwarna dark-pink.
'Kapan kau mewarnai gagangnya? Bukankah warnanya hitam?'
["Diam dulu. Ikuti saja kata-kataku."]
'...Ya.'
Cyntia menatap belati berbilah indah itu dengan tatapan berbinar. Ia sangat menyukai bentuknya, juga warna gagangnya.
Cyntia mengambil belati itu dan langsung terkejut saat merasakan aura sihir yang terdapat pada belati.
Ia bisa merasakan aura sihir pada sepasang belati itu bahkan jauh lebih kuat dibandingkan sepasang belatinya yang mahal.
"Ini sangat bagus!"
“Baguslah jika kau suka."
"Ya?"
"Aku memang ingin memberikannya padamu," ucap Alvin, yang sejak tadi sebenarnya berbicara dengan menirukan kata-kata Mina.
“Apa?!”
“Sebenarnya..., aku ingin memberikannya padamu saat kau... ulang tahun nanti."
'Astaga. Aku lupa!'
["Tidak usah berterima kasih."]
'Terima kasih, Mina.'
["Bukan hal besar."]
“Kau masih ingat tanggal ulang tahunku?”
“Y-ya... itu 3 hari lagi, kan?”
Cyntia tersenyum simpul lalu menundukkan kepalanya, menatap ke arah belati.
“Terima kasih.” Ia mengangkat belati ke depan wajahnya dan menatapnya dengan takjub. “Belati ini bukan cuma bagus bentuknya. Energi sihirnya juga sangat kuat.”
__ADS_1
Alvin merasa senang karena Cyntia sepertinya sangat menyukai belati itu.
"Nah, kau bisa berganti pakaian sekarang. Aku akan menunggumu di luar. Kostumnya ada di dalam koper itu."
“Ya. Hah? Kostum?”
Alvin mengangguk. Namun ia langsung malu saat mengingat model kostum yang sudah Mina tunjukkan padanya kemarin malam.
“Kalau begitu aku keluar dulu.”
Setelah Alvin pergi, Cyntia membuka koper besar itu. Ia ternganga saat melihat kostum berwarna dark-pink bercorak silver yang sangat indah itu.
“Ini sangat bagus... tapi... apa dia sangat ingin melihatku mengenakan kostum ketat?”
Cyntia awalnya merasa aneh dan sedikit malu karena ini adalah pertama kalinya ia mengenakan pakaian super ketat. Tapi, saat ia sudah menarik resleting halus di bagian depan kostum hingga kostum itu melekat dengan sempurna di tubuhnya, ia tiba-tiba merasakan energi sihir aneh dari kostum.
Kostumnya juga terasa sangat ringan di tubuh dan lebut di kulit dan tidak sesak seperti tampilannya sebelum dikenakan. Ia bahkan merasa seperti tidak mengenakan apa-apa di tubuhnya.
"W-wow... I-ini luar biasa!"
......................
Saat Alvin kembali ke depan gerbang, Lex kembali berbicara padanya.
“Tuan Rufino, saya tahu Anda sangat kuat. Tapi, ini Dungeon peringkat S," ucap Lex pelan. Dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan Alvin.
Alvin berusaha untuk tersenyum, walaupun ia sebenarnya merasa tegang juga. Ia hanya berusaha tersenyum untuk membuat Lex tenang.
“Saya tahu, tuan Brown.Terima kasih telah mengkhawatirkan saya.”
Lex menghela nafas panjang, tidak tahu lagi cara mencegah hunter muda itu agar tidak mempertaruhkan nyawa dengan konyol.
"Tapi..., jika Anda lihat monster-monsternya sangat berat, berjanjilah untuk segera melarikan diri," ucap Lex.
"Tentu."
Pembicaraan mereka terhenti saat mendengar suara decak kagum hunter-hunter lelaki yang sedang menatap Cyntia ketika baru saja keluar dari pintu bus.
Tubuh indahnya yang terekpos oleh kostum ketat itu membuat semua mata hunter pria itu tefokus padanya.
'Kau f**k! Kenapa kau membuatkan kostum seperti itu untuknya?!'
["Ada apa denganmu? Lihat, semua orang tampak bahagia."]
Alvin menatap hunter-hunter pria yang sedang menatap Cyntia hampir tak berkedip.
["Kita tidak tahu apa mereka besok masih hidup. Anggap saja cuci mata sebelum mati."]
'Kau benar-benar...'
["Tsk... Padahal kau terlihat sangat senang kemarin malam. Apa kau cuma ingin melihatnya untuk dirimu sendiri?"]
Alvin berlari menghampiri Cyntia lalu menariknya untuk segera pergi ke dalam Dungeon.
"S-sebentar."
"Sihir pengunci gerbang hanya tersisa setengah hari."
Cyntia mengangguk pelan lalu berjalan cepat menghampiri Ivory.
"Bisa tolong kau jaga ini?" pinta Cyntia sembari menyerahkan koper di tangannya pada Ivory.
"Apa ini?"
"Pakaianku."
"Huh?"
"Semua pakaianku ada di situ. Semua. Kau mengerti? Tolong jaga baik-baik."
__ADS_1
"Y-ya."