Hunter System

Hunter System
Bab 109 - Surat Ancaman


__ADS_3

Norman dan Duncan Lewis sedang berada di rumah sakit khusus hunter untuk menjenguk Brondy yang masih tidak ada kemajuan sama sekali dalam terapi pemulihan kelumpuhannya, saat asisten pribadi Norman masuk dengan wajah pucat sambil membawa tablet di tangannya yang gemetar.


"Ada apa denganmu?" tanya Norman, menatap pria itu dengan tidak senang.


Pria itu terlihat jelas sangat ragu untuk menyampaikan berita yang baru diterimanya dari sekretaris Asosiasi. Ia melirik pada dokter dan perawat yang berdiri di sisi lain tempat tidur Brondy sebelum akhirnya menatap Norman lagi.


Melihat gelagat asistennya, Norman menebak jika ia sedang membawa berita yang mungkin sangat rahasia.


Pria paruh baya itu mengangkat dagunya, memberi kode pada asistennya tersebut untuk keluar dari ruangan terlebih dahulu.


Norman kemudian berbalik, menatap Brondy yang juga sedang menatapnya dengan kedua mata berkaca-kaca, lalu menepuk-nepuk pipi pria lumpuh itu dengan kasar.


Setelah itu barulah ia keluar dari ruangan tanpa berbicara apa pun pada Brondy, juga pada dokter dan perawat khusus yang sudah menangani anaknya dengan sangat baik dan telaten.


.........


"Ada berita apa?" tanya Norman dengan tidak sabar saat ia sudah berada di luar ruangan.


Sudah selama dua hari ini Norman gusar pada salah satu kepala tim di Asosiasi yang telah berani menentang perintahnya dan melepaskan video citra satelit pada salah satu stasiun televisi lokal secara gratis.


Ia juga merasa tidak senang saat tahu keluarga Maxwell telah selamat dari Dungeon Break. Selain itu, ada pasukan robot aneh yang ia curigai sebagai hunter penyusup dari kota lain atau malah negara lain yang ingin mengambil keuntungan dari Dungeon di kotanya.


Jadi kali ini ia berharap asistennya tidak membawa berita buruk lagi.


"I-ini... video ini baru saya terima dari sekretaris, tuan," ucap pria berusia awal 40an itu pada Norman sembari menyerahkan tablet pada bosnya itu.


Norman merampas tablet itu dengan kasar, menekan tombol play di tengah layar dan terkejut beberapa saat setelahnya.


Dalam video itu terlihat bagaimana Alvin menyiksa salah satu anggota keluarga Maxwell dengan sadis.


"Ada apa ayah?" tanya Duncan setelah ia menutup pintu ruangan tempat Brondy dirawat.


Duncan sedikit heran melihat tangan Norman, yang sedang memegang tablet, gemetar. Bukan hanya itu saja. Ia juga melihat wajah Norman tampak memerah, marah. Duncan tahu, Norman sedang berusaha menahan murka.


"Apa maksudnya ini?! Dari mana sekretaris mendapatkannya?!" tanya Norman dengan menggeram.


Ia tahu bahwa itu adalah video kejahatan yang tidak mungkin dibocorkan dengan sangat mudah.


Jika mereka bisa mendapatkan video itu, hanya ada dua kemungkinan yang terjadi. Rekan si penjahat membocorkannya, atau si penjahat itu sendiri yang mengirimkannya untuk menakut-nakuti Asosiasi.


"V-video itu diantarkan langsung oleh nona Maxwell ke Asosiasi, tuan."


"Apa?!"


"Dan ada pesan juga..."


"Jangan bertele-tele! Katakan saja langsung!" Umpat Norman. Hampir saja ia memukul wajah asistennya itu jika dokter dan perawat yang mengurus Brondy tidak secara kebetulan keluar dari ruangan di saat yang tepat.


Asisten itu menunggu sampai dokter dan perawat pergi menjauh, barulah ia menyampaikan pesan yang Cyntia tinggalkan pada seorang security di Asosiasi.


"I-ini, tuan...," ucap sang asisten sembari menyerahkan sebuah amplop merah muda pada Norman.


Norman langsung menyambar amplop itu. Ia mengambil isinya lalu membacanya sebentar sebelum mengacak-acak kertasnya dan melemparkan kertas yang sudah menggumpal itu ke wajah sang asisten yang ketakutan.


"Brengsek itu!"


"A-ayah..., apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Duncan pelan, sembari menatap wajah Norman dengan takut-takut.


Norman menyerahkan tablet di tangannya pada Duncan dan langsung pergi setelahnya.


Duncan mengerutkan keningnya menatap kepergian Norman. Ia kemudian memungut kertas yang tadi diacak-acak Norman dan terkejut setelah membaca isinya.


"Mundurlah dari jabatan Anda dalam waktu tujuh hari. Atau saya akan datang ke Asosiasi untuk menggantung Anda di pintu gerbang Asosiasi pada hari kedelapan."

__ADS_1


^^^Cyntia Maxwell^^^


"Sial!"


Duncan mengacak-acak kertas itu kembali dan menyimpan kertas itu di kantong jasnya lalu pergi dari depan ruangan Brondy untuk menyusul ayahnya.


Dalam perjalanan, Duncan membuka layar tablet untuk melihat video apa yang ayahnya saksikan hingga membuatnya marah.


Langkah kaki Duncan terhenti saat ia melihat Alvin berada dalam video itu. Kedua matanya melebar dan menatap ngeri saat Alvin mengiris sudut bibir George dengan belati sambil menatap George dengan tatapan dingin.


Duncan menghentikan tayangan video saat itu juga. Berbeda dengan Norman yang marah saat melihat video tersebut, Duncan gemetar merasa ngeri dengan kesadisan itu.


Glup...


"Dia bisa membuat hunter peringkat A seperti George hanya seperti mainan? Apa selama ini dia menyembunyikan kekuatannya?"


"Jangan-jangan... apa dia benar-benar membunuh Miranda dan 19 anak buahnya sebelum menutup gerbang itu? Jadi itu bukan sebuah kecelakaan?"


Ia tiba-tiba teringat bagaimana perangai Alvin di malam itu saat mereka bertemu. Ia ingat bagaimana tatapan mengancam Alvin yang jelas-jelas tidak takut padanya.


Duncan merinding. Ia baru menyadari kedatangan Cyntia hari itu sebenarnya bukan untuk menyelamatkan nyawa Alvin, melainkan menyelamatkan nyawanya sendiri.


"A-apa The Destroyer juga sebenarnya kalah melawannya hingga misi itu gagal?"


Duncan bergidik.


......................


Alvin berdiri di depan mini market tempat ia bertemu Duncan, juga tempatnya pertama kali bertemu Cyntia setelah belasan tahun lamanya tidak bertemu.


Sesuai janjinya pada Vina, ia akan pergi ke Kota T hari ini untuk mengantarkan set armor padanya.


Tapi, pagi-pagi sekali, saat ia sedang melakukan quest harian, Cyntia menghubungi untuk membuat janji bertemu.


.........


Alvin mendengus kesal saat melihat seorang wanita berlari kecil dari seberang jalan menuju ke arahnya, terutama saat wanita itu sudah tiba dan langsung menyapanya dengan sebuah senyuman yang ia duga sebagai sebuah senyum palsu.


"Hai..."


Alvin tidak menanggapi sapaan itu. Ia hanya menatap Shiva dengan tatapan dingin sebentar sebelum berbalik 45° lalu pergi meninggalkan wanita itu.


Shiva mengejarnya.


"Kau sombong sekali ya?"


Alvin terus berjalan tanpa memerdulikan Shiva sama sekali.


"Alvin!" seru Shiva sambil melangkah cepat lalu berdiri di depan pria itu, mencegatnya. "Ada apa denganmu? Apa kau sudah tidak peduli lagi pada teman masa kecilmu?!"


Alvin menghela nafas panjang sembari menatapnya dengan tatapan malas.


Ia melihat skor nol di atas kepala Shiva. Tapi, wajahnya terlihat tampak bersedih. Tatapannya juga memelas seakan sangat ingin persahabatan mereka terjalin kembali seperti dulu.


'Apa dia ini memiliki sistem juga di kepalanya?'


["Kenapa kau berpikir seperti itu?"]


'Bagaimana bisa skornya nol tapi wajahnya terlihat seperti sangat berharap agar aku bisa tetap berteman dengannya? Apa dia punya skill untuk menyembunyikan raut wajah asli?'


["Dia hanya berbakat menjadi seorang aktris."]


'...Benar juga. Andai aku tidak bisa melihat skornya, aku tidak akan pernah tahu jika dia membenciku setengah mati.'

__ADS_1


["Hnnn? Lalu apa kau akan memaafkannya jika kau tidak tahu skornya?"]


'Aku sudah memaafkannya. Hanya saja, aku memang tidak ingin berhubungan dengannya lagi.'


.........


"Alvin? Kau melamun?"


"Tidak. Aku sedang berbicara dalam hati."


Shiva tersenyum sembari bertingkah imut, "Kau bisa saja bercanda. Apa kau masih marah padaku gara-gara aku meninggalkanmu di Dungeon itu?"


"Aku sudah tidak pernah mengingat hal itu. Tolong jangan halangi jalanku."


"Lalu kenapa kau sepertinya ingin memutuskan hubungan pertemanan kita?"


Sigh...


"Aku tidak pernah berpikir untuk memutuskan hubungan pertemanan kita. Aku memang kecewa padamu tapi aku bisa memaklumi kenapa kau saat itu meninggalkanku. Kau takut mati. Itu hal yang wajar dan aku bisa memakluminya."


"Iya, kan? Baguslah kalau kau berpikir begitu. Siapa yang tidak takut jika berada dalam situasi itu?"


"Kau benar."


Shiva tersenyum lagi, "Lalu, apa yang membuatmu tampak jual mahal begini?"


"Hah?"


'Dia ini gila atau benar-benar tidak tahu malu?'


["Tsk... Tanyakan saja"]


"Alvin?"


Alvin mendengus kasar.


"Kau tidak sadar atau tidak ingat? Kau sendiri yang sangat berusaha untuk memutuskan hubungan pertemanan kita."


"Ya? Apa maksudmu?"


"Saat kau menjadikan Vina sebagai umpan agar Brondy dan para pesuruhnya itu bisa menghabisiku. Kau anggap kejadian itu tidak ada?"


"Alvin! Dia mengatakan bahwa dia tidak akan menyakiti Vina. Dia cuma mau memberi sedikit pelajaran padamu."


"Astaga. Kau benar-benar sakit jiwa. Kau tidak sadar kalau ada yang tidak beres dengan otakmu? Kau menjebak kakak temanmu dan temanmu sendiri hanya untuk seorang gila seperti Brondy memberi pelajaran? Kau ini waras?!"


"Alvin! Kau tidak percaya pada..."


"Aku sebenarnya sudah tidak ingin berbicara panjang lebar padamu. Hari ini aku berbicara agar kau tidak penasaran lagi kenapa aku tidak ingin menjalin hubungan pertemanan apa pun denganmu."


"Alvin aku..."


"Sudahlah. Aku mau pergi. Permisi."


Karena Shiva berusaha untuk terus menghalangi jalannya, Alvin akhirnya berbalik namun Shiva langsung meraih dan menarik pergelangan tangannya.


"Kau gila? Apa yang kau laku...kan...?"


Alvin tiba-tiba terdiam saat melihat Cyntia kini sedang berjalan ke arah mereka.


'Astaga!'


["Aku mau menempa dulu dan jangan ganggu aku."]

__ADS_1


Alvin tiba-tiba merasa khawatir jika Cyntia mungkin akan membunuh Shiva karena terlalu dekat padanya.


__ADS_2