Hunter System

Hunter System
Bab 30 - Tutorial Boss


__ADS_3

Alvin akhirnya bergerak lagi ke lokasi berikutnya yang merupakan lokasi terakhir dari Dungeon ini.


Setibanya di lokasi bos itu, ia langsung melihat ada puluhan monster belalang berukuran sebuah mobil sedan yang langsung menatapnya secara bersamaan seperti memang menanti kedatangannya.


Kali ini Alvin mencoba skill barunya dengan memanggil ratusan nyamuk dari portal sihir.


Ada hal menarik yang ia ketahui saat seluruh nyamuk mulai bertarung melawan puluhan belalang raksasa.


Setiap kali nyamuk-nyamuk itu menyuntikkan belalainya di tubuh monster belalang, Alvin dapat merasakan nyamuk-nyamuk itu menghisap energi Mana para monster dan mengirimkan energi Mana itu padanya, hingga mana point nya meningkat kembali setelah tadi digunakannya untuk membuka portal ke 'sarang para nyamuk'.


"Ini seperti recovery point, nyamuk-nyamuk ini sangat berguna!"


Suara-suara dari kepakan sayap nyamuk yang berisik juga dapat menyihir belalang-belalang itu yang tampak sangat jelas langsung terlihat linglung dan menyerang tanpa arah.


Dengan bantuan sihir nyamuk-nyamuknya, Alvin akhirnya dapat dengan mudah menghabisi belalang-belalang yang linglung itu dengan tombaknya.


Namun demikian, Alvin juga melihat ada beberapa nyamuk yang kalah bertarung mulai berjatuhan dan mati.


“Sistem. Bagaimana dengan nyamuk-nyamuk yang mati itu? Apakah aku bisa menghidupkannya lagi?”


[“Kau bisa menghidupkan mereka kembali tapi kau hanya memiliki tiga kali kesempatan. Setelah mereka mati lagi sampai tiga kali, mereka akan hangus terbakar dan menghilang.”]


“Kalau begitu akan sayang menggunakan mereka jika harus menghadapi lawan yang lebih kuat.”


[“Level mereka akan meningkat seiring meningkatnya level job Mage mu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”]


“Begitu…”


.........


Saat semua belalang itu tewas, Alvin akhirnya menghidupkan 20 diantaranya untuk menggantikan 20 nyamuk yang mati alih-alih menghidupkan kembali nyamuk-nyamuk itu.


Alvin berpikir, jika mereka hidup pun, mereka hanya memiliki 3 kesempatan lagi untuk dibangkitkan. Alvin menginginkan pasukan yang benar-benar baru dan memiliki kesempatan dihidupkan yang lebih banyak.


......................


Hanya beberapa menit setelah Alvin selesai memasukkan sisa mayat belalang yang tidak dihidupkannya ke dalam inventory, tempat itu tiba-tiba menjadi gelap.


Beberapa saat kemudian, Rimi memberitahukan bahwa tutorial ujian untuk mengambil job barunya akan segera dimulai.


"Tutorial?"


Ada pemberitahuan lain yang membuat Alvin agak gugup. Itu adalah saat Rimi mengatakan bahwa semua skill yang berhubungan dengan serangan magic akan dinonaktifkan. Alhasil, Alvin kini hanya menggunakan job Warrior dan Tank saja untuk bertarung.


.........


Walaupun langit siang hari di dalam Dungeon itu menggelap, Alvin tetap dapat melihat kehadiran sosok monster yang muncul entah dari mana di atas langit sana.


Awalnya, ia hanya melihat sebuah titik hitam di kejauhan. Semakin lama, titik hitam itu terlihat semakin besar sebelum akhirnya mendarat di hadapannya


"Belalang sembah..."


Saat masih memerhatikan lawannya, monster belalang sembah yang memiliki ukuran tubuh sama besar dengan tubuhnya itu tiba-tiba maju menyerang.


Belalang itu menyerang langsung ke arah leher Alvin dengan salah satu tangannya yang menyerupai sabit.


Wussshhh…


Walupun dapat menghindarinya, Alvin masih bisa merasakan kekuatan sihir dari serangan itu menyerempet lehernya yang terlindung armor. Ia merasakan lehernya terasa sedikit sakit dan panas hanya karena terserempet energi sihir itu.


"Ini berbahaya, jika terserempet saja sesakit ini, aku tidak boleh terkena serangannya sama sekali."


Belalang itu terus menyerang Alvin dengan kedua tangannya yang menyerupai sabit. Serangan-serangannya sangat cepat hingga Alvin tidak memiliki kesempatan untuk balas menyerangnya.


Tapi, Alvin menggunakan kesempatan itu juga untuk memerhatikan dan mempelajari cara belalang bergerak.

__ADS_1


["Intuisi mu bertambah bagus. Teruslah fokus untuk mepelajari gerakannya. Monster-monster jenis bos selalu memiliki pola dalam menyerang. Kau tinggal mempelajarinya saja.”]


Semakin lama berkutat dengan monster itu, Alvin menyadari bahawa pola menyerang jarak pendek yang monster itu lakukan adalah untuk tidak memberikannya ruang menyerang balik.


Setiap Alvin ingin membalas serangan dengan pedangnya, belalang sembah sudah memberikan serangan lain hingga Alvin akhirnya membatalkan niatnya menyerang hanya untuk menangkis serangan cepat dari belalang.


Crank... Crank...


“Caranya bertarung seperti seorang hunter tipe Assassin, kan? Dia menggunakan kedua tangan sabitnya untuk menyerang tanpa memberiku jeda membalas sedikitpun.”


[“Kau benar. Hati-hati dan tetap fokus.”]


Alvin memerhatikan kedua kaki belalang yang memiliki langkah panjang. Kedua kakinya juga bisa menambahkan energi pelontar yang membuat serangannya semakin cepat dan terarah.


Hampir tidak ada kelemahan dapat Alvin temukan dari lawannya itu.


‘Ternyata memiliki kemampuan bertarung yang baik memang sangat diperlukan. Bagaimana cara agar aku bisa menyerangnya?’


Setelah mempelajari pola menyerang lawan, Alvin akhirnya mulai memikirkan berbagai cara untuk bisa menyerang balik lawannya itu.


Ia pun mengganti senjatanya dengan tombak panjang.


Setelah Alvin menggunakan senjata itu, kecepatan serangan lawan mulai berkurang.


Dengan batang tombak yang panjang, Alvin bisa menjaga jarak jangkauan belalang sembah yang ahli menyerang pada jarak dekat.


.........


Alvin bahkan sudah bisa mulai melakukan serangan.


Ia memainkan mata tombak di depan belalang dan terus mengarahkan ke arah mana belalang itu ingin pergi.


Tapi, belalang sembah itu juga mencari cara untuk menghindari mata tombak yang selalu mencegahnya untuk mendekat.


Belalang akhirnya terbang mundur, lalu mencoba menyerang Alvin dari udara. Ia berkelit kesana kemari dengan sangat lincah dan menyerang Alvin di saat Alvin terlambat menghadang lajunya dengan tombak.


Akibat cepatnya serangan belalang setelah menyerangnya dari udara, Alvin akhirnya mulai terluka di bagian punggungnya.


Slash… Slash…


Semakin lama belalang sembah menyerang dari udara, Alvin akhirnya kewalahan dan menderita banyak luka.


"Sialan, tombak ternyata susah digunakan untuk menghadang serangan dari udara!" Alvin mengumpat.


"Tunggu dulu…, kalau aku tidak bisa menggunakan skill magic, bukan berarti aku tidak bisa menggunakan serangan fisik dari job Mage kan?"


Menyadari hal itu, Alvin mengubah lagi job nya menjadi Mage. Ia juga mengganti kembali senjatanya dengan pedang.


Lalu, Alvin memberikan belalang sembah peluang untuk kembali mendekat dan bertarung dengan jarak dekat seperti sebelumnya.


Saat monster mulai melakukan serangan jarak dekat, Alvin menggunakan spider webs skill untuk menjerat kedua kaki belalang sembah.


Alvin juga mulai mengarahkan jaringnya pada kedua tangan lawan dan juga kepalanya.


Lalu, dengan satu terjangan dan tebasan pedang yang menggunakan seluruh kekuatan serangan fisiknya, Alvin menebas leher belalang sembah itu.


Slashhhh…!


Itu adalah satu-satunya serangan yang bisa Alvin lakukan selama pertarungan ini. Namun serangan fatal tersebut langsung berhasil membunuh lawannya.




__ADS_1


“Yosh!” Alvin meninju tangannya ke udara saat mendengar notifikasi dari Rimi bahwa ia mendapatkan kenaikan 2 level sekaligus.


“Sekarang aku level 52.”



Alvin mengerutkan keningnya. Baru kali ini Rimi bertanya hal yang tidak berhubungan dengan teknis.


Tapi, ia memang mau mengambil teknik bertarung belalang sembah itu. Ia pun menyentuh tubuh belalang sembah untuk mengambil skill nya, namun Sistem tiba-tiba berbicara.


[“Kau yakin ingin mengambil teknik bertarungnya?”]


“Apa ada masalah?”


[“Kau bisa menghidupkannya dan menjadikannya pengikutmu.”]


“Jika aku mengambil skill nya, apa aku tidak bisa menghidupkannya?”


[“Kau benar. Hanya satu dari dua pilihan yang bisa kau ambil.”]


Alvin mengerutkan keningnya. “Lalu, kenapa tadi aku memiliki dua pilihan saat melawan nyamuk?”


[“Di sana tadi ada 200 lebih nyamuk.”]


“Ah… k-kau benar.” Alvin menggaruk-garuk kepalanya dan tersipu.


[“Pikirkanlah dengan benar. Kau ingin menjadikannya pengikut atau mengambil skill nya?”]


Alvin mengusap-usap dagunya. Ia tahu belalang itu sangat lincah dalam bertarung. Tapi hanya kelincahan itu saja kemampuannya. Alvin kemudian melihat kedua kaki dan sepasang sayapnya. Jika dia ingin bergerak sebagus belalang, ia mungkin harus memiliki kaki yang sama, juga sepasang sayap yang sama.


Alvin akhirnya memilih untuk menjadikannya pengikut saja.


“Lebih baik ku jadikan dia pengikut ku,” ucap Alvin.



“Ya. Tolong ganti salah satu belalang lain dengan belalang sembah ini.”


Setelah itu, belalang sembah yang yang baru saja kehilangan kepalanya itu bangkit. Kepalanya pun telah menyatu kembali dengan tubuhnya. Ia kemudian terbang dan masuk ke dalam portal tempat dimana para belalang berada.


Alvin menepuk-nepukkan tangannya dua kali.


“Yah, akhirnya selesai juga.”


[“Belum selesai.”]


“Hah?”


[“Kau tidak menyadarinya?”]


Alvin membuka kembali jendela questnya dan melihat quest bagian keduanya belum selesai, sementara waktu yang tersisa hanya 30 menit lagi.


“Kill the Assassin? Quest apa ini? Bukankah belalang sembah itu Assassinnya?”


Alvin juga melihat 1 hadiah yang belum bisa ia terima di sana. Yang artinya itu pasti hadiah saat ia menyelesaikan quest keduanya.


“Apa quest bagian kedua bukan di Dungeon ini?”


Baru saja Alvin bertanya, keadaan di sekitarnya yang sudah gelap, tiba-tiba saja menjadi gelap gulita.


Lalu, di hadapannya muncullah sosok hologram seorang gadis remaja dengan jubah hitam panjang dan wajahnya yang tertutup tudung sembari menggenggam belati di masing-masing tangannya.


Tanpa memberikan waktu untuk Alvin menebak-nebak hologram apa itu, makhluk itu tiba-tiba menyerangnya.


Gerakannya sangat cepat. Alvin bahkan tidak bisa melihat datangnya serangan sama sekali.

__ADS_1


Sraakkkkk…!


"Arghhh...!"


__ADS_2