Hunter System

Hunter System
Bab 123 - Para Perekrut Dari Guild Besar Kota T


__ADS_3

"Tidak ada item kali ini," keluh Alvin, sembari mengeringkan rambut gondrongnya yang basah setelah ia selesai mandi.


["Tidak ada hal yang berharga dari monster-monster itu. Mereka juga cuma monster rendahan,"] sahut Mina.


"Monster rendahan?"


["Tentu saja. Kau juga bisa dengan mudah mengalahkan mereka, kan?"]


Alvin mendengus pelan. Kata-kata itu hanya dianggapnya sebagai sebuah kalimat penghibur.


["Tapi, ada sebagian monster dari ras yang sama yang jauh lebih kuat dibandingkan mereka. Perbedaannya ada pada tanduknya."]


Alvin mengingat lagi jumlah tanduk dari 3 jenis monster berbeda namun masih dalam satu ras sama tersebut.


"Satu tanduk berarti peringkat S, 3 tanduk peringkat SSS. Sebenarnya, ada berapa jenis monster dari ras itu?"


["Dalam ras itu ada 6 jenis monster dengan tingkat kekuatan berbeda. Sama seperti hunter-hunter dari ras manusia,"]


["Yang paling kuat di antara mereka adalah yang bertanduk enam dan memiliki kulit tubuh ungu metalik yang mirip seperti si botak itu."]


"Begitu...,"


"Tapi, siapa sebenarnya para pembuat Dungeon itu? Kau sudah berjanji untuk memberitahuku, kan?"


Alvin mendengar suara tarikan nafas panjang dari Mina sebelum ia menghembuskannya lagi dengan kasar.


["Sebenarnya hunter-hunter masa depan juga belum tahu jelas siapa mereka. Tapi, menurut data yang dikumpulkan, ada lebih dari 20 makhluk jenis mereka yang bertanggung jawab atas terbukanya semua gerbang Dungeon di seluruh dunia."]


"Dua puluh?!"


["Ya."]


"Maksudmu makhluk yang berwujud seperti manusia botak dan wanita pirang itu masih ada 20?"


["Yang botak itu tidak termasuk. Maksudku adalah wanita berambut pirang itu. Mereka harusnya mulai bermunculan secara bertahap dimulai dari 5 tahun dari sekarang. Aku juga agak bingung kenapa mereka menampakkan diri pada manusia secepat ini."]


"..."


["Hnnn? Apa yang ingin kau katakan?"]


"Satu saja sudah sekuat itu..."


["Begitulah... Aku tahu kau frustasi. Tapi percayalah kau akan mampu menghadapi mereka."]


"Apa mungkin aku bisa mengalahkan mereka? Bukannya aku pesimis. Tapi... aura dari energi sihirnya saja membuatku tidak bisa bergerak."


["Jangan khawatir. Selama kau mengikuti arahanku, aku menjaminnya. Karena itu aku berada disini. Selama kau bisa mengatasi mereka satu per satu, kau pasti akan bisa mengalahkan mereka dan menghapus semua gerbang Dungeon dari muka Bumi."]


"..."



"Tentu."


Setelah Alvin mengizinkan Rimi mentransfer experience point, ia mendengar Rimi mengucapkan kata 'level up' sebanyak empat kali.


"Level 112."


["Sudah lama kau tidak naik level."]


"Itu karena tidak banyak Dungeon peringkat tinggi yang kudapat."

__ADS_1


["Kau bisa memintanya pada Rimi nanti. Rimi menyimpan banyak bakal gerbang Dungeon peringkat S masa depan."]


"...Kenapa kalian tidak mengatakannya sejak dulu?"


["Sudah kukatakan, nanti, kan? Setelah kau menyelesaikan quest level 101. Saat ini kau masih akan kerepotan menghadapinya."]


"...Apa Dungeon peringkat S masa depan jauh lebih sukar dibandingkan Dungeon peringkat S tadi?"


["Koordinat bakal gerbang yang Rimi simpan hanyalah koordinat dari bakal gerbang Dungeon peringkat S yang memiliki prajurit monster minimal berperingkat SSS. Anggaplah ada 1.000 monster sekuat wanitamu di satu lokasi. Bagaimana menurutmu?"]


"Ayo selesaikan quest level 101 dulu."


Mina tertawa.


["Kau tidak ingin membereskan urusan pribadimu dulu?"]


"Ah... ya. Aku hampir lupa."


["Para pembuat Dungeon itu memberikan efek kejut yang lumayan besar, kan?"]


"...Sudahlah."


......................


Cyntia bangun pagi-pagi sekali. Ia langsung mencari-cari Alvin namun tidak menemukan keberadaannya sama sekali dan hanya menemukan sepiring sarapan yang sudah Alvin siapkan untuknya di meja makan.


"Apa dia memang biasa bangun sangat pagi?" gumam Cyntia. Ia kemudian membaca catatan kecil di samping sarapannya dan tersenyum karenanya, "Ini konyol sekali. Aku bisa memakan apapun sebagai sarapanku," gumam Cyntia lagi kemudian tertawa.


Saat sedang asik menikmati sarapannya, Cyntia mendengar suara gaduh di depan pintu bungalow, sebelum seseorang menekan bel pintu.


"Siapa?" Cyntia mengernyitkan kedua alisnya. Ia tidak bisa merasakan adanya energi sihir dari orang yang berada di depan pintu itu.


'Apa para pengungsi sudah kembali?'


.........


Empat pria yang berada di depan bungalow terkejut saat melihat Cyntia muncul dari balik pintu.


"Ya?"


Glup...


"Cantik sekali," batin keempat pria itu.


"P-permisi... I-ini tempat tinggal tuan Rufino, kan?" tanya salah satu pria sembari menatap papan nama yang tertera di bawah nomor unit bangunan, di samping pintu.


Cyntia menatap keempat pria itu bergantian, memerhatikan pakaian mereka yang sangat rapi dan tampak mahal.


'Seperti para perekrut hunter saja.'


"Benar," sahut Cyntia.


Keempat pria itu saling bertukar pandang.


"A-apa Anda nyonya Rufino?" tanya pria lain yang merasa sedikit ragu karena setahunya Alvin belum menikah.


Ia juga sudah kenal dengan Vina Rufino karena guild nya sudah menandatangani kontrak kerjasama dengan perusahaan mereka. Ia tahu, wanita di depannya ini bukanlah Vina, kakak Alvin.


Cyntia terkejut pada awalnya. Namun wajahnya langsung tersipu tak lama setelahnya.


"B-belum..., belum bisa dikatakan seperti itu," sahut Cyntia malu-malu.

__ADS_1


Deg...


'Bodoh. Apa yang kukatakan?'


Cyntia menatap pria itu lagi. "Apa Anda semua ada keperluan dengan Alvin?"


Keempat pria itu kembali bertatapan setelah mendengar Cyntia menyebutkan nama Alvin dengan nada yang sedikit berbeda dari hanya seorang teman biasa atau keluarga. Tatapan matanya, juga raut wajahnya juga terlihat berbeda saat mengucapkan nama hunter itu.


Dari situ saja mereka tahu jika wanita cantik yang berdiri di hadapan mereka ini pastilah orang dekat hunter yang sedang dalam target perekrutan mereka.


Sudah beberapa hari lamanya mereka menunggu kedatangan Alvin setelah mendapatkan informasi kehebatan pria itu dari ketua guild masing-masing.


Sayangnya, usaha mereka untuk mencari Alvin yang pergi ke Kota S gagal karena mereka tidak bisa menemukan informasinya sama sekali di sana.


Jadi, saat ketua guild memberitahukan pada mereka bahwa Alvin sudah kembali ke Kota T, mereka dengan tergesa kembali dari pengungsian, berkendara semalaman penuh hanya untuk tiba pagi-pagi sekali di kediaman Alvin.


Sayangnya, semua pesaing juga ternyata berpikiran sama dan di sinilah keempat saingan dari guild berbeda itu kini berkumpul.


.........


"Ya, nona...!" sahut salah seorang pria sembari menyerahkan kartu namanya. "Saya kepala divisi perekrutan dari guild Devils Shadow. Kami ingin..."


"Nona, saya sekretaris dari guild Iron Wall," ucap pria lain memotong kalimat kepala divisi dari guild Devils Shadow itu.


Apa yang mereka lakukan juga diikuti dua pria lain yang juga menyodorkan kartu nama mereka pada Cyntia.


Setelah menebak bahwa wanita cantik ini pastilah orang dekatnya Alvin. Mereka tahu, jika mereka sampai bisa membujuk wanita ini, ada kemungkinan mereka akan mendapatkan tanda tangan Alvin untuk bergabung dengan guildnya.


"Nona..., kami memiliki penawaran yang sangat menarik untuk tuan Rufino jika Anda memberi saya waktu untuk..."


"Nona..., tolong dengarkan saya dulu. Saya..."


Cyntia tidak mendengarkan lagi apa yang mereka katakan. Ia mengambil keempat kartu nama itu lalu tersenyum ramah pada mereka.


"Saya akan menyerahkan kartu nama Anda semua pada Alvin. Untuk kesepakatannya, sebaiknya Anda-anda diskusikan saja langsung padanya."


"Tapi, nona..."


"Saya sedang sarapan," ucap Cyntia. Senyum ramahnya belum menghilang sama sekali.


Cyntia sebenarnya tidak masalah melayani apa yang ingin mereka bicarakan sedikit lebih lama lagi. Namun ia baru saja merasakan seseorang yang tak terlihat menyentuh tangannya dan ia yakin kalau itu adalah Alvin.


"K-kalau begitu... Kami akan menunggu tuan Rufino," ucap salah satu pria sembari menunjuk ke arah gazebo di halaman bungalow.


Cyntia mengikuti arah yang pria itu tunjukkan. "Apa itu tidak masalah?"


"Tidak... Ini sudah bagian dari pekerjaan saya. Anda tidak perlu khawatir."


"Bukan itu. Maksud saya..., coba Anda lihat. Bukankah gazebo itu berada di antara dua batas halaman?"


"Y-ya?"


Mereka menatap pada gazebo dan baru sadar jika gazebo itu berdiri di dua tanah dari unit yang berbeda.


"Jika tetangga juga mengizinkannya, saya rasa tidak masalah jika Anda mau menunggu di sana," ucap Cyntia lagi.


'Sayangnya tetangga pasti masih dalam pengungsian dan kalian tidak akan bisa mendapatkan izin.'


Ia kemudian melambaikan tangan pada keempat pria itu sebelum masuk dan menutup kembali pintu bungalow.


......................

__ADS_1


__ADS_2