
Makhluk kuat itu tentu saja tidak tinggal diam. Ia mengerahkan sihirnya dan menyerang Alvin lalu bangkit berdiri dan melesat menjauhinya.
Tapi, Alvin bisa menyusulnya dengan mudah. Ia menangkap tengkuk makhluk bertubuh hitam legam itu lalu melemparkannya ke ujung lorong sebelum mengejarnya lagi.
Makhluk itu adalah makhkuk bertubuh sehitam aspal yang dulu Alvin temui di dalam Dungeon peringkat S di Kota T.
Dia adalah makhluk yang menghajarnya bersama wanita berambut pirang.
......................
Keduanya kini berada di ruangan lain lagi.
Alvin sebenarnya ingin menangkap dan membanting-banting lagi tubuh makhluk hitam legam itu untuk menyiksanya. Tapi, ia segera mengurungkan niatnya saat melihat ribuan tabung kaca berukuran besar memenuhi ruangan tersebut.
Di dalam masing-masing tabung, ia melihat ada sosok makhluk menyerupai manusia yang sedang tenggelam di dalam air kehijauan yang mengandung energi Mana samar.
"Apa-apaan ini?"
["Merekalah makhluk kloning yang pernah kuceritakan. Sepertinya mereka masih dalam proses pembentukan."]
Alvin menatap sekelilingnya, memperkirakan jumlah tabung yang berada di sana. "Sebanyak ini..."
["Mereka hasil kloning dari DNA hunter. Entah itu hunter yang masih hidup ataupun yang sudah mati."]
"Darimana mereka mendapatkan DNA-nya?"
["...Tebak saja."]
"F**k! Apa dari Asosiasi Dunia?"
["Tentu saja. Siapa lagi yang diizinkan menyimpan sampel DNA semua hunter selain mereka?"]
"Kalau begitu... Ketua Asosiasi Dunia pasti terlubat, kan?"
["Tidak. Dia hanya dimanfaatkan. Sayangnya dia baru akan menyadarinya 20 tahun dari sekarang."]
"Tidak jika aku segera memberitahunya."
["Semoga mereka tidak menutup gerbangnya supaya kau bisa menunjukkan semua ini padanya."]
"Aku akan merekam semua ini dengan ponselku setelah aku membereskan..."
Ziiiinggg...
......................
Saat Alvin masih dibuat heran oleh temuan itu, makhluk hitam legam menggunakan kesempatan tersebut untuk membaca mantra sihir ilusi.
Ia membacakan mantra dengan sangat cepat sembari terus menatap ke arah Alvin dengan sedikit heran melihat Alvin yang terus berbicara seorang diri seperti orang gila.
__ADS_1
Saat mantra sihirnya sudah selesai dirapalkan, secara kebetulan Alvin menatap kembali padanya.
Makhluk itu menyeringai. Ia tahu, setelah Alvin menatap matanya, Alvin akan terperangkap pada sihir yang sama dengan yang pernah diterimanya juga saat pria itu berada di Dungeon buatannya.
"Kau bodoh!" seru makhluk itu dengan sangat riang.
Ia tertawa nyaring saat melihat tatapan kosong Alvin yang menandakan sihirnya telah berhasil menaklukkan pria itu.
"Sial. Aku benar-benar kaget melihat perkembanganmu. Ku kira aku akan mati!"
......................
Setelah bertatapan dengan makhluk hitam legam itu, Alvin melihat ruangan tempatnya berada tiba-tiba saja bergoyang.
Tabung-tabung kaca yang berada di sana tiba-tiba melengkung, berkelok-kelok seakan mereka adalah makhluk hidup.
Alvin sebenarnya masih sangat penasaran dengan makhluk-makhluk yang berada di dalam tabung kaca tersebut. Ia tadi mengalihkan tatapannya kembali pada makhluk hitam itu karena ia tahu makhluk itu sedang membacakan sebuah mantra sihir yang mencurigakan.
Saat mereka bertatapan itulah sihir ilusinya telah diaktifkan.
.........
Scamra, makhluk hitam legam itu tertawa terpingkal-pingkal saat melihat sihir yang dipelajarinya dari Astareth telah berhasil merasuki lawannya.
Ia bisa melihat keberhasilan itu dari tatapan kosong Alvin padanya.
"Apa dia manusia yang menghabisi lich ciptaanku?" tanya makhluk hitam legam lain yang baru hadir di laboratorium bawah tanah itu. Baik wujud dan rupanya sangat mirip dengan Scamra.
"Kau benar. Dia pelakunya. Dia juga sudah menghabisi para pengikutku," sahut Scamra.
Alcamtar, makhluk hitam legam yang baru tiba, juga pergi menghampiri Alvin. Ia memerhatikan pria itu dengan seksama.
"Kau akan membunuhnya?"
"Tentu saja. Dia sedikit mengganggu."
Alcamtar memerhatikan pintu laboratorium yang sudah hancur, juga memerhatikan leher panjang Scamra yang terkoyak dan berdarah.
"Dia sangat kuat. Bagaimana bisa para malaikat jatuh itu melewatkan manusia sekuat ini?" ucap Alcamtar sembari mengelilingi Alvin, mengamatinya.
"Dia tidak sekuat ini beberapa waktu lalu. Aku bahkan bisa mempermainkannya dengan mudah."
Alcamtar menghentikan langkah kakinya lalu berpaling menatap Scamra dengan kening berkerut. Ia kemudian tertawa.
"Akui saja jika lawanmu memang kuat. Tidak mungkin ada makhluk yang bisa mengembangkan kekuatannya dengan sangat cepat hingga bisa melampauimu dalam waktu singkat."
"Kau bisa tanyakan pada malaikat jatuh itu!"
Alcamtar tersenyum, menampakkan sedikit gigi-gigi merahnya yang runcing.
__ADS_1
Scamra mendecak kesal melihat tatapan dari bola mata merah Alcamtar yang tampak tidak memercayainya.
Untuk melampiaskan kemarahannya, Scamra mengangkat pedang di tangannya lalu meletakkan sisi tajam pedang pada leher Alvin.
"Sayang sekali. Padahal aku ingin tahu sampai kapan dia akan terjebak di dalam dunia ilusi," ucap Scamra, sebelum akhirnya menebas leher Alvin.
Srattt...!
Pluk...
Setelah kepala yang baru Scamra pisahkan dari tubuhnya itu jatuh ke lantai, ia menendang tubuh tanpa kepala di hadapannya sampai terpental jauh keluar dari lorong laboratorium.
"Tsk... Kenapa kau menjauhkannya dariku? Aku masih mau menelitinya," protes Alcamtar.
Alcamtar menarik tubuh Alvin kembali dengan sihir telekinesis.
"Kau ingin mengambil DNA-nya? Bukankah manusia itu bisa melakukan pengambilan sampel dengan kepalanya ini saja?" tanya Scamra.
Alcamtar berpaling, menatap seorang manusia yang baru masuk ke dalam ruangan luas itu.
"Apa kau bisa mengambil yang kalian namakan DNA itu hanya dari kepalanya saja?" tanya Alcamtar pada pria paruh baya itu.
Jika ada hunter yang melihat pria paruh baya itu sedang bersama kedua monster itu, hunter tersebut pasti akan sangat terkejut.
Pria itu adalah ilmuwan terkenal dunia yang juga salah satu dari 12 hunter peringkat SS ternama yang selama ini disanjung dan dipuja di seluruh dunia. Dia adalah Takayoshi Sato, penemu sistem pengekstrakan inti Mana.
Dia adalah orang paling berjasa bagi umat manusia karena dengan hasil temuannya itulah hunter-hunter dapat meningkatkan kekuatan mereka untuk bisa melawan monster di Dungeon.
.........
"Tentu saja bisa. Tapi saya juga ingin meneliti inti Mananya. Apa Anda berdua tidak menyadari jika kita tidak bisa merasakan energi Mananya, tuan? Dia pasti memiliki inti Mana yang unik."
Scamra menatap tubuh tanpa kepala yang tadi ia tendang dan kini sudah berada kembali di dekat kaki Alcamtar.
"Itu bukan karena inti Mananya," sahut Scamra. Ia menatap Takayoshi kembali dan berbicara, "Di luaran sana, ada sihir untuk melenyapkan keberadaan. Tsk..., bagaimana seorang manusia yang bisa menjiplak tubuh manusia lain sampai tidak tahu itu?" ucap Scamra dengan nada menghina.
"Jangan menghinanya! Kau juga sudah mengambil manfaat darinya," sahut Alcamtar membela.
"Terserah. Aku mau pergi!" seru Scamra.
Ia membuat sebuah gerbang hitam kecil yang hanya sebesar ukuran tubuhnya, lalu masuk kedalamnya.
.........
Setelah Scamra pergi, Takayoshi juga pergi ke sebuah ruangan yang pintunya berada di salah satu sisi ruangan besar itu.
Ruangan itu adalah ruangan tempatnya melakukan penelitian untuk menciptakan temuan-temuan baru lagi. Tepatnya, ruangan tempatnya mempelajari buku hasil penelitian Satoshi Nakano, ilmuwan jenius, yang telah ia curi.
Sebenarnya, semua hasil temuan yang selama ini dipatenkan atas namanya, adalah hasil dari mencuri temuan Satoshi dan tidak ada yang pernah mengetahuinya.
__ADS_1
Setelah teman dan 'pembantunya' pergi, Alcamtar akhirnya memeriksa mayat Alvin yang tergeletak di lantai.