
“Tia, jangan banyak bergerak.”
“Ya?”
"Kau terkena racun mematikan."
"Racun?" Kedua mata Cyntia melebar, menatap Alvin dengan perasaan gugup.
Alvin segera mengganti job lalu menggunakan healing skill untuk mengeluarkan racun di tubuh Cyntia.
“Darah mereka beracun. Wajahmu tidak tertutup helm. Racunnya masuk dari pori-pori kulitmu yang terkena cipratan darah mereka," ucap Alvin sembari menyalurkan sihir penyembuhnya pada Cyntia.
Tapi ia langsung menghentikan sihirnya saat bingung bagaimana cara mengeluarkan racun yang sudah beredar luas ke jaringan otot dan fungsi saraf. Ini berbeda dengan racunnya yang masuk dari jaringan otot ke sel darah.
Glup...
'Aku belum mempelajari ini.'
Baru saja Alvin selesai menjelaskan, Cyntia sudah mulai merasakan efek racun bekerja di tubuhnya. Pandangannya mulai kabur. Secara perlahan, ia sudah mulai tidak bisa merasakan tubuhnya lagi. Karena itu kedua kakinya, yang mulai tidak terasa, kehilangan daya pijak dan ia pun akhirnya terjatuh dalam pelukan Alvin yang dengan sigap menangkapnya.
[“Untung saja dia memiliki kapasitas energi Mana besar yang sejak tadi berusaha menolak racun. Jika tidak dia pasti akan langsung mati begitu terciprat darah monster itu. Racun monster itu benar-benar gila!"]
Alvin membaringkan Cyntia di pasir lalu melanjutkan proses pengeluaran racun dari tubuh wanita itu, dari sel darah dan jaringan ototnya.
Asap hitam mulai keluar dari pori-pori kulit wajah Cyntia saat Alvin terus-terusan mengalirkan healing skill nya.
[“Aku akan mengambil alih tanganmu.”]
‘Ya?’
Mina langsung mengambil alih penguasaan kedua tangan Alvin sebelum Alvin memberikan izin.
Dengan cepat, Mina membuka resleting kostum Cyntia dan melepaskan kostum itu sampai setengah tubuhnya, lalu mendudukkan wanita itu.
Mina kemudian menusuk-nusukkan jarinya pada beberapa bagian titik akupuntur tubuh dan tangan Cyntia yang kemudian meninggalkan bekas luka. Asap hitam mengalir keluar dengan sangat cepat dari bekas-bekas tusukan itu.
[“Pindah ke belakang tubuhnya. Cepat!”]
Alvin langsung berdiri dan pindah ke belakang Cyntia.
Mina menggoreskan jari Alvin pada tulang belakang wanita itu dari bagian tengkuk hingga tulang ekornya.
Asap hitam tebal juga mengalir keluar dari sana, dari bekas sayatan yang Mina berikan.
Mina menyalurkan lagi healing skill dari kedua tangan Alvin pada tubuh Cyntia. Dari cara Mina melakukan proses pembuangan racun itu, Alvin bisa merasakan cara berbeda Mina dalam mengalirkan energi Mana.
Dari sihir yang mengalir, ia bisa merasakan cara yang Mina gunakan dalam penyaluran healing skill hanya untuk mengeluarkan racun tanpa menutup luka sayatan yang dibuatnya.
‘Jadi begini cara memilah aliran energi Mana.’
[“Anggap ini pelajaran tambahan. Kau juga bisa menggunakan cara ini pada semua job.”]
‘Jadi aku bisa membunuh satu orang walaupun orang itu bersembunyi di tengah kerumunan dengan cara ini?’
[“Tentu saja.”]
__ADS_1
‘Terima kasih.’
["Racunnya sama sekali tidak mengganggu jantung. Aneh, kan?"]
'Hah?'
["Monster itu ingin mengambil alih tubuhnya tanpa membunuh. Ini lebih mengerikan dari hipnotis. Jika bukan Healer ahli, tidak akan ada yang bisa menyembuhkannya."]
'Healer ahli? Jadi tekniknya sudah diprogramkan padamu juga?'
["..."]
'Mina?'
["Sebentar. Ada yang sedang ku diskusikan bersama Rimi tentang monster aneh yang tidak pernah ada ini."]
'B-baiklah...'
[“Tsk… mengganggu saja.”]
‘Ya?’
[“Mereka bergerak.”]
Alvin menoleh pada ratusan monster di belakangnya dan benar saja, mereka kini mulai bergerak dan berdatangan ke arahnya.
“Insect conqueror.”
Semua serangga keluar dari dalam portal sihir setelah Alvin mengaktifkan skill nya.
Sebenarnya, monster-monster itu tidak susah untuk dikalahkan. Sementara pasukan belalang membentuk lingkaran untuk mencegah pasukan monster mendekati Alvin, belalang sembah dapat menghabisi mereka semua satu per satu sampai tak bersisa, dengan hampir tanpa perlawanan.
Masalahnya hanyalah monster itu dapat menyatu dan hidup kembali tiap kali belalang sembah memenggal tubuh mereka.
.........
‘Mina…, kau ini… apa kau dulu manusia? Atau kau memang sebuah Sistem sejak awal?’
[“Kenapa kau bertanya begitu?”]
‘Kalau kau manusia, kau benar-benar mengerikan. Kau bahkan bisa merasakan pergerakan mereka lebih dulu dariku.’
[“Kau akan sampai pada tahap itu nanti.”]
Cyntia tiba-tiba terbatuk dan memuntahkan sebuah batu berwarna hitam legam dari mulutnya.
Batu itu adalah semua racun yang sudah beredar dalam darahnya dan telah dikumpulkan Mina di satu titik sebelum mengeluarkannya.
Setelah tidak merasakan adanya racun lagi pada tubuh Cyntia, Mina menutup semua luka tusuk dan sayatan yang tadi ia buat, hingga tidak meninggalkan bekas luka sama sekali.
[“Sudah selesai. Ambil bola hitam itu dan lempar ke inventory. Rimi akan melakukan uji coba pada racunnya.”]
‘Terima kasih, Mina.’
["Berterimakasihlah pada kostummu. Jika tidak kau juga akan terkena racun."]
__ADS_1
'Terima kasih kostum.'
["..."]
Alvin kemudian berdiri, mengambil bola hitam yang sangat padat itu dari tanah, lalu melemparkannya ke dalam inventory.
......................
“Kau sudah pulih,” ucap Alvin setelah melihat Cyntia membuka kedua matanya. Namun ia segera memalingkan wajah, merasa tidak enak karena tanpa sengaja sudah melihat tubuhnya.
Cyntia duduk tegak lalu mengenakan kembali kostumnya saat sadar tidak mengenakan apa pun di bagian atas tubuhnya.
[“Aku sudah membuatkannya helm khusus. Ambillah di jendela inventory.”]
‘Apa kau sebenarnya memang bisa membuat perlengkapan dengan sangat cepat?’
[“Tidak untuk kostum sebagus milik wanitamu. Racun tadi bahkan tidak bisa menembus kostumnya.”]
'Tapi, bukankah helmnya belum ada?'
["Aku mengerjakannya dari kemarin malam."]
‘...Kau sudah bekerja keras. Terima kasih.’
[“…”]
Alvin menatap topeng berbahan kulit lich yang lentur seperti karet itu sambil mengangguk-angguk pelan. Hanya ada mata berwarna silver pada wajah topeng yang keseluruhannya berwarna dark-pink. Tidak ada bentuk mulut dan yang lainnya lagi pada topeng itu.
‘Ini keren.’
[“Tsk… Tentu saja.”]
Alvin menyerahkan topeng itu pada Cyntia.
“Pakailah topeng ini. Ini akan melindungimu dari racun,” ucap Alvin sembari memberikan topeng karet itu pada Cyntia.
Cyntia langsung menyambar topeng itu saat merasa sangat kebetulan ada sesuatu yang bisa menutupi wajahnya yang memerah.
Ia segera mengenakan topeng itu dan penampilannya kini sudah sedikit mirip dengan Alvin yang berkostum lengkap.
Bedanya hanyalah seluruh kostum Alvin terbuat dari besi sedangkan kostum Cyntia berbahan kulit lich yang sangat lentur seperti karet.
‘Masalahnya sekarang tinggal bagaimana caranya membunuh mereka ini.’
[“Sebaiknya kau kembali dulu ke dekat gerbang. Sebentar lagi adalah waktu sihir pengunci gerbangnya terbuka.”]
Mengetahui itu, Alvin segera membuka peta bakal Dungeon untuk melihat waktu yang tersisa sampai sihir pengunci gerbang akan menghilang.
“Ayo kembali ke dekat gerbang.”
“Apa waktunya sudah tiba?”
“Masih ada waktu 30 menit lagi. Ayo kita berlari secepat mungkin.”
Setelah pasukan serangga menghabisi monster hitam legam itu untuk yang kesekian kalinya, Alvin menyimpan kembali semua serangganya lalu pergi menuju gerbang.
__ADS_1
......................