Hunter System

Hunter System
Bab 205 - Kembali Ke Bumi


__ADS_3

Alvin keluar dari gerbang kecil yang menghubungkan planet penuh air tempatnya dan dewi Ann tadi berada, dengan Kota T yang hanya tersisa daratan tanpa bangunan sama sekali.


Ia sudah tidak merasakan adanya energi sihir dari pertempuran di Bumi, yang menandakan jika hunter-hunter dari Kota C pasti sudah berhasil menghabisi dewan pengawas lain yang datang ke Bumi sementara ia juga sedang bertempur menghadapi dewan Re di planet monster.


'Mereka juga pasti sudah berhasil.'


Alvin memandang sekeliling, memerhatikan puing-puing kristal yang berasal dari gerbang, masih ada dan berhamburan di daratan.


Ia pun tersenyum lebar dan turun ke daratan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin kristal sihir yang berasal dari gerbang dan melemparnya ke dalam inventory.


"Insect conqueror!"


500 serangga peliharaan Alvin dan Rimi, beserta jutaan lalat, keluar dari sarang mereka.


Alvin memerintahkan semua serangga itu untuk mengumpulkan semua kristal sihir dari seluruh daratan dan lautan lalu disimpan dalam inventory Rimi.


["Akan memakan waktu yang lama. Pinjamkan tanganmu."]


"Ya...? O-ok..."


Mina menebarkan energi sihir pada kristal-kristal hitam yang menumpuk di depan Alvin.


Lalu, dengan mantra sihir gates of the death, Mina memindahkan semua kristal sihir ke dalam ruang inventory.


"Jadi bisa digunakan untuk itu juga?!"


["Dengan begini keinginanmu tercapai, kan? Kau akan menjadi orang terkaya di dunia mulai sekarang."]


Alvin tertawa. Ia teringat kembali pada perintah yang dewi Ann berikan padanya.


Awalnya Alvin mengira jika perintah dewi Ann akan membuatnya repot. Namun, setelah mendengar penjelasan dewi Ann, perasaan bahagia muncul dalam dirinya.


"Ku kira aku akan menjadi pengangguran setelah semua masalah dengan para bedebah itu selesai. Ternyata keberuntungan masih berpihak padaku! Haha..."


"Hahahahahaha..."


Suara tawa yang mengandung emosi bahagia, kepuasan akan hasil yang telah dicapai, rasa kemenangan, dan keserakahan, terdengar nyaring keluar dari mulut Alvin.


["Astaga... Kenapa Bimi memilih orang sepertinya?"]



Mina mendengus.


["Kenapa Bimi suka orang-orang seperti mereka ini? Tsk... Harusnya kau saja yang kutugaskan untuk mencari hunter penerima Sistem."]


"Hei... Kenapa kalian berbicara seperti itu dihadapanku?"


["Di mana lagi kami bisa berbicara?"]


"Pergilah ke ruang inventory. Sekalian murnikan kristal-kristal sihir itu."


["Kau f**k!"]


...****************...


"Alvin!"


Cyntia yang sejak tadi khawatir jika Alvin terjebak di planet monster, langsung berlari cepat menuju Alvin setelah melihatnya turun dari langit gelap, dari antara rimbunnya dedaunan pohon.


Awalnya, Cyntia hendak memeluk pria itu. Namun kewarasannya segera kembali begitu ia sudah berada di dekatnya.


Ia buru-buru memutar tubuhnya, berdiri disamping Alvin sembari mengusap-usap tengkuknya yang terasa panas karena malu dengan pikiran yang baru saja terlintas di benaknya.


Ekspresi khawatirnya langsung berubah menjadi ekspresi canggung saat ia sadar hampir saja memeluk pria itu.


Fyuh...


'Hampir saja. Untung aku cepat menyadari.'


"Aku sudah kembali...," ucap Alvin, ingin mencairkan suasana setelah menyadari sikap kikuk Cyntia.


"Y-ya... Haha... Syukurlah..."


Alvin menelengkan kepala, memerhatikan wajah merah Cyntia yang sedikit tertutup rambut yang menjuntai di depan wajahnya.

__ADS_1


Tapi, Alvin segera mengalihkan pandangannya saat Cyntia mendongak dan menatap padanya.


'Hampir saja...'


.........


Keduanya akhirnya pergi menuju bunker untuk memberitahukan pada semua orang jika mereka telah memenangkan pertempuran.


Sesampainya di dekat bunker, Alvin melihat Reno yang telah sekarat tergeletak di atas dedaunan kering yang melapisi tanah. Jika Erfhina tidak menghentikan pendarahannya, mungkin pria itu telah tewas.


"Jadi gerbangnya runtuh bukan karena dia sudah mati?"


"Gerbangnya runtuh sendiri. Ada gempa besar aneh yang terjadi," sahut Cyntia.


"Gempa aneh?"


Cyntia mengangguk cepat.


"Langit malam berubah jadi siang sebelum kembali normal. Bulan membesar dan tanah bergetar hebat."


Sebelum Alvin bertanya lagi, sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.


["Kau sudah kembali. Terima kasih sudah menangani dewan Re,"] ucap suara itu.


Alvin mengenali suara gadis muda yang berbicara melalui telepati padanya yang tak lain adalah Anna.


'Apa fenomena bulan membesar, dan lain-lain itu karena skill mu?'


Alvin mendengar Anna tertawa canggung sebelum mengiyakan pertanyaannya.


["Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja, kan?"]


'Aku akan menceritakannya nanti. Dewi Ann juga memberikan pesan yang harus ku sampaikan padamu.'


["Kau ingin aku datang sekarang?"]


Alvin melirik Cyntia yang berwajah menggemaskan dan tampak ingin berbicara banyak padanya.


'Aku akan mendatangimu dalam waktu dekat.'


["Baiklah. Aku akan menunggumu."]


.........


"Maaf... Anna baru berbicara padaku."


"Ya?"


Alvin menunjuk kepalanya sendiri.


"Dia berbicara melalui telepati."


"Ah... Begitu..."


Alvin menatap Reno lagi. Mempertimbangkan hukuman apa yang harus ia berikan pada saudara iparnya itu setelah mengundang jutaan monster menginvasi Bumi.


Gerbang cincin sudah runtuh dan Reno sudah tidak berhubungan lagi pada gerbang. Jadi, sebenarnya dia tidak harus membunuh pria itu.


Alvin kemudian berjongkok di dekat Reno yang sudah hampir kehilangan kesadaran, lalu menyentuh dadanya, tepat di atas inti Mana pria itu berada, lalu menyerap inti Mana darinya.


Alvin menatap wajah Reno yang meringis kesakitan saat proses penyerapan inti Mana berlangsung. Suara teriakan kesakitan tertahan terdengar dari tenggorokannya.


"Jangan melihatku seperti itu. Aku menolongmu untuk terbebas dari penderitaan. Aku bisa membiarkanmu tetap hidup untuk menyesali semua kesombonganmu di masa lalu dan kejahatan yang baru saja kau lakukan pada dunia. Tapi..., apa kau ingin hidup dalam keadaan cacat seperti ini?"



'...Rimi... Tolong diam dulu.'



Reno kembali menangis dan menggelengkan kepalanya. Dia masih ingin hidup. Dia tidak ingin mati walaupun harus hidup dalam keadaan cacat.


Tapi, Alvin salah menebak keinginan pria itu. Menggeleng berarti Reno baru saja mengiyakan apa yang baru saja ditanyakannya.


"Bagus. Jadi aku tidak akan merasa bersa..."

__ADS_1


Bammmm...!


Alvin meledakkan tubuh Reno menjadi partikel kecil dengan terburu-buru, tepat sebelum pintu bunker terbuka.


'Hampir saja. Padahal aku masih ingin menyiksanya sedikit lagi.'


Jack dan Sam keluar dari bunker.


Tahu jika Jack ada di antara orang yang hendak keluar dari bunker, karena itulah Alvin segera menghabisi Reno. Ia tidak ingin melakukannya di depan Jack.



'Hah?'



'Lalu, kenapa dia menggeleng? Dia harusnya mengangguk.'



'...'


["Rimi... Sudahlah..."]



......................


"Bro! Kau sudah kembali... Apa kau berhasil?"


Alvin berdiri dan menatap kedua pria itu bergantian.


'Jack tidak melihatku meledakkan tubuh Reno, kan?'



'Syukurlah...'


Walaupun demikian, Alvin melihat Jack memandang sekitar hutan, sepertinya ia sedang mencari keberadaan Reno.


"Dia sudah tewas."


"Ya...?"


"Ku rasa kau sedang mencari kakakmu."


"Be-begitu ya..."


Alvin masih menatap Jack. Memerhatikan emosi apa yang Jack miliki setelah tahu jika kakaknya sudah tewas, melalui ekspresi wajahnya.


"Apa kau berhasil mengalahkan mereka?" Sam langsung memotong pembicaraan, ia tahu suasana mungkin akan menjadi canggung jika tidak segera mengalihkan pembicaraan itu.


Alvin masih menatap Jack beberapa saat sebelum akhirnya berpaling pada Sam setelah Mina berbicara di dalam kepalanya.


["Tidak apa-apa. Dia pasti sedih tapi dia mungkin akan mengerti."]


"Ya. Mereka sudah binasa," ucap Alvin, menjawab pertanyaan Sam.


Sam menghela nafas panjang lalu mengarahkan tinjunya pada pangkal lengan Jack yang tampak melamun.


"Semuanya akan berjalan baik mulai sekarang," ucap Sam.


Jack mengangkat kepalanya lalu memaksakan senyumnya pada Sam dan Alvin.


"Terima kasih sudah menyelamatkan kami...," ucap Sam lagi sembari menatap Alvin.


Ia kemudian berjalan menghampiri Alvin namun menghentikan langkah kakinya saat Alvin tiba-tiba menarik Cyntia lalu memeluknya.


"Aku lebih senang berpelukan dengan wanita," ucap Alvin dengan ekspresi serius.


Dengan wajah kaku, Sam mengangkat tangannya yang terkepal.


"Aku tidak ingin memelukmu, bro," sahut Sam sembari mengulurkan kepalan tinjunya pada Alvin.


"..."

__ADS_1



......................


__ADS_2