Hunter System

Hunter System
Bab 115 - Bos Dungeon Yang Tak Terlihat


__ADS_3

“Mungkin mereka itu seperti lich. Mereka memiliki sejenis necromancer,” ucap Alvin saat mereka sudah tiba di dekat gerbang, menunggu monster-monster yang akan pergi keluar gerbang di sana.


“Kalau begitu kita tinggal membunuh bos nya saja, kan?” ucap Cyntia, menduga bahwa bos Dungeonnya lah yang memiliki kontrol dari kehidupan monster-monster itu.


“Ku rasa juga begitu. Ayo berharap level bosnya tidak terlalu jauh.”


[“Coba lihat peta Dungeon.”]


Alvin membuka petanya lagi.


[“Perhatikan 10 titik merah di bagian kiri peta. Mereka bergerak ke satu tempat.”]


‘Ya.’


[“Yang di tengah dan di kanan juga. Dugaanmu mungkin benar. Kalau memang begitu, monster yang memiliki kuasa atas kehidupan pasukan itu mungkin pemimpin dari tiap pasukan. Mungkin saja pasukannya bisa dibunuh setelah pemimpin pasukan mati atau mereka akan langsung mati saat pemimpinnya mati.”]


‘Kalau begitu aku nanti akan langsung menyerang mereka.'


Alvin menoleh pada Cyntia lagi.


“Mereka sudah mendekat. Ada 3 pasukan yang datang. Aku berharap mereka hanya monster-monster berperingkat S seperti yang sebelumnya.”


Cyntia mengalihkan tatapannya dari udara kosong di samping tubuh Alvin dimana kedua mata robot Alvin tadi diam menatap selama beberapa detik.


'Apa dia memiliki sejenis Sistem dikepalanya?'


“Jadi, apa rencanamu?” tanya Cyntia.


“Aku akan meninggalkan pasukan serangga bersamamu. Kalian cegah mereka agar tidak keluar dari Dungeon ini. Aku akan mencoba membunuh pemimpinnya.”


“Baiklah..."


.........


Alvin memanggil kembali pasukan serangganya.


Ia menempatkan 10 laba-laba raksasa tepat di depan gerbang yang berada jauh di belakang mereka. 10 laba-laba itu ditugaskannya sebagai pertahanan terakhir yang akan membasmi monster seandainya mereka lolos dari pasukan penyerang yang akan ditempatkannya jauh di depan.


Pasukan belalang yang memiliki aggro dan taunt skill alami ia tempatkan di bagian terdepan, sedangkan pasukan nyamuk ia tempatkan tepat di belakang pasukan belalang.


Pasukan nyamuk bertugas sebagai pengganggu konsentrasi monster dengan sihir yang berasal dari kepakan sayap juga untuk memperlemah pasukan musuh dengan belalai menghisap energi Mana mereka.


Belalang sembah, serangga tipe Assassin, ia perintahkan untuk bekerja bersama Cyntia, untuk menghabisi pasukan monster yang lolos dari serangan 30 laba-laba raksasa yang ia perintahkan sebagai pasukan penyerang utama yang berposisi tepat di belakang pasukan nyamuk.


“Aku tidak pernah menyangka akan bekerjasama dengan pasukan robot untuk memerangi monster,” ucap Cyntia sembari menatap kagum pasukan serangga.


“Semoga tidak akan ada yang lolos dan pergi keluar dari Dungeon."


Cyntia menoleh ke belakang mereka, menatap 10 laba-laba raksasa yang sedang duduk dengan melipat kaki di depan gerbang.


“Selama kami tidak meloloskan rarusan monster, ku rasa mereka pasti bisa mengatasinya," ucap Cyntia, lalu tertawa.


Alvin mengikuti arah tatapan Cyntia dan mengangguk pelan.


Satu laba-labanya itu saja bisa menghabisi puluhan monster peringkat S sekaligus. Jadi ia yakin apa yang Cyntia katakan masuk akal.


“Nah, mereka datang. Aku akan menyelinap menuju pemimpinnya.”


“Hati-hati, ok?”


“Tentu dan ingat… kalian semua harusnya tidak terlihat oleh mereka.”


“Ya?”


“Aku akan membuat kalian tidak terlihat.”

__ADS_1


“…Baiklah."


“Aku pergi sekarang.”


Alvin mengaktifkan ghost skill untuk menyembunyikan keberadaan Cyntia dan pasukan serangga, baik wujud maupun aura mereka. Setelah itu barulah ia pergi menuju pasukan monster hitam yang sedang dalam perjalanan ke arah gerbang.


.........


Ketika ia sudah bertemu dengan pasukan monster, Alvin menghentikan langkah kakinya dan menatap semua monster yang sedang terbang tak terlalu jauh di atasnya dan mereka tidak melirik padanya sama sekali.


Dengan begitu ia yakin monster-monster itu juga tidak akan bisa melihat Cyntia dan pasukan serangganya.


Alvin masih berdiri diam, menunggu pemimpin pasukan di tempat itu. Karena menurut petanya, ketiga pemimpin pasukan akan bertemu di tempatnya saat ini berada.


.........


Beberapa saat kemudian, ia akhirnya melihat 3 monster yang memiliki tinggi badan dua kali lipat darinya, datang dari 3 arah berbeda.


[“Mereka monster peringkat SS.”]


‘Itu bagus.’


Saat monster-monster sudah semakin dekat, Alvin menembakkan spider webs pada monster yang datang dari arah kiri dan kanannya lalu menarik mereka ke tengah, bermaksud membenturkan mereka pada monster yang datang dari arah depannya.


Wusssshhhh…


Boink…


Saat ketiga tubuh monster saling beradu, tubuh mereka bukannya hancur seperti yang ia kehendaki.


Ketiga monster itu malah saling memantul setelah bertabrakan, hingga ia harus memutuskan jaringnya jika tidak ingin terseret oleh pentalan tubuh kedua monster yang ia jerat.


“Mereka selentur itu?”


“…”


Alvin mencoba membakar monster itu dengan flame. Ia berpikir jika tubuh mereka selentur karet, mereka harusnya akan meleleh saat terbakar api berkekuatan besar.


Dugaannya tepat. Monster itu mulai meleleh saat terbakar api yang semakin lama semakin membesar setelah ia terus menambahkan kekuatan sihir di dalamnya.


Alvin menghentikan pembakaran pada monster itu untuk mengejar dua monster lain yang mengacuhkannya dan sudah terbang lagi ke arah gerbang.


Ia menangkap mereka dengan spider webs lalu menarik dan melemparkan kedua monster bertanduk dua itu ke dekat monster yang sedang terbakar, kemudian membakar kedua monster itu.


Wushhh…


Alvin melompat untuk menghindari cairan hitam berapi yang mengarah padanya. Ia melompat beberapa kali lagi sebelum menggunakan airbender untuk menangkap dan mengembalikan lendir api yang dilemparkan monster pertama yang ia bakar, padanya.


Sembari mengembalikan lendir-lendir api itu, ia memerhatikan monster yang pertama dibakarnya itu sedang mengambil bagian tubuhnya yang terbakar untuk dilemparkan padanya.


'Bukankah aku sudah mengaktifkan ghost skill? Apa dia bisa melihatku?'


["Dia melihat jejak kakimu di pasir."]


'...'


Serangan monster itu baru terhenti saat kedua tangannya mulai meleleh. Namun, serangan bola api lain berdatangan dari dua monster yang terakhir dibakarnya.


Alvin merentangkan kedua tanggannya, menahan bola-bola api yang meleleh itu dengan airbender agar tidak mencapai dirinya.


Setelah serangan-serangan itu terhenti akibat tangan-tangan monster sudah meleleh, ia akhirnya bisa bernafas lega.


Tapi, perasaan lega itu langsung sirna saat ia tidak merasakan ada experience point yang terserap ke dalam tubuhnya. Ia membuka peta Dungeon dan melihat titik merah milik ketiga monster masih berada di sana.


Alvin buru-buru menggunakan ice dew untuk membekukan bagian-bagian tubuh monster yang masih terbakar dan berserakan di sekitarnya.

__ADS_1


Ia menebak, bagian-bagian itu pasti akan menyatu lagi nanti saat apinya sudah padam, jadi ia membekukannya.


[“Cari jantungnya dan hancurkan. Mereka pasti punya sumber kehidupan yang membuat mereka tidak bisa mati sebelum dihancurkan.”]


Alvin mengikuti saran Mina. Ia menghampiri salah satu monster lalu ‘membongkar’ tubuh monster tersebut dengan airbender untuk mencari jantung atau apa pun itu yang membuat monster tetap hidup, namun tidak menemukannya sama sekali.


[“Ini aneh.”]


“Apa mungkin bos Dungeon yang membuat mereka tetap hidup?”


[“Mungkin. Ayo datangi dia saja.”]


“Tapi bagaimana kalau mereka ini hidup lagi dan pergi ke gerbang?”


[“Kumpulkan semua potongan tubuh mereka dan masukkan ke inventory.”]


“…Itu lebih berbahaya, kan? Bagaimana jika mereka hidup lalu menghancurkan inventory?”


[“Selama aku ada, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.”]


“…”


[“Hnnn?”]


“Baiklah.”


Alvin mengumpulkan semua potongan tubuh yang membeku itu lalu melemparkannya ke dalam inventory.


Ia juga menyempatkan melihat peta Dungeon lagi untuk memastikan keadaan di dekat gerbang.


Melihat titik-titik hijau masih berbentuk formasi yang lumayan rapi, ia tahu mereka baik-baik saja. Ia pun pergi mendatangi bos Dungeon, yang sebenarnya juga sudah bergerak ke arahnya.


...…...


Alvin terus berlari sambil melihat peta yang melayang-layang di samping wajahnya.


Karena itulah dia tahu bahwa bos Dungeon itu sudah melewatinya saat mereka harusnya sudah berpapasan.


Titik merah besar itu malah sudah melewatinya agak jauh tanpa ia bisa melihat wujud makhluk tersebut.


Alvin melihat ke atas lalu memicingkan kedua matanya, mengira bos Dungeon itu terbang sangat tinggi untuk melewatinya. Namun ia tidak melihat benda apa pun yang terbang di langit gelap Dungeon.


“Stealth?”


[“Bukan. Aku tidak bisa merasakan adanya energi sihir.”]


“Rimi, kau juga tidak tahu dia ada di mana?” tanya Alvin sembari berlari secepat mungkin mengikuti titik merah yang sudah meninggalkannya agak jauh, pergi menuju gerbang.



“Kalau begini, dia bisa saja keluar dari gerbang tanpa kesepuluh laba-laba penjaga ketahui, kan?"


[“Itu tidak mungkin terjadi. Ukuran gerbangnya besar. Ukuran gerbang itu sebenarnya bukan karena level Dungeon tapi karena ada monster yang memiliki ukuran tubuh hampir sebesar gerbang,”]


“Aku baru tahu itu.”


[“Ada gerbang yang bahkan hampir sebesar pintu sebuah rumah sederhana namun level monsternya sangat tinggi.”]


“Begi... Hah? Kenapa pasirnya... Woooaaahhhh…!”


Saat mereka masih berbicara dan berdiskusi, tanah berpasir yang Alvin pijak tiba-tiba melunak dan amblas.


Ia juga merasa ada seseorang yang sedang menarik salah satu kakinya hingga ia terjeblos masuk ke dalam tanah berpasir dan terus ditarik hingga pada akhirnya seluruh tubuhnya masuk ke dalam tanah.


......................

__ADS_1


__ADS_2