
Monster-monster yang memenuhi garis horizontal daratan itu langsung melengkungkan barisan dan terbang mengitari keberadaan Alvin dan sekutunya.
"Saya akan mengurus mereka," ucap Rimi yang kemudian pergi memimpin pasukan serangga menuju pasukan monster yang mulai membentuk lingkaran untuk mengepung mereka.
'Dia bisa berbicara secara langsung?'
["Ada fungsi untuk berbicara dan mendengar pada avatar."]
'Hebat. Sudah seperti manusia saja.'
"Bagaimana dengan ular-ular terbang itu?" tanya Cyntia sambil mendongak menatap ular raksasa yang baru saja terbang melintas dan menyebabkan gempa di tanah.
"Biarkan saja."
"Ya?"
"Mereka sudah menyebar kesana kemari. Daripada itu, bisakah kau membantu menghabisi monster-monster yang lolos dari serangan Rimi dan pasukannya?"
"Rimi?"
"Avatar hunter tadi. Namanya Rimi."
"...Baiklah. Tapi, bagaimana denganmu?"
"Ada satu satu monster yang sedang ku tunggu kehadirannya. Aku akan kembali ke dekat gerbang."
"Hati-hati, ok?"
"Tentu saja."
Setelah berpamitan pada Cyntia, Alvin pergi kembali menuju gerbang.
Sesampainya di sana, ia membuat enam buah gerbang raksasa di hadapannya, lalu berkonsentrasi untuk merasakan lokasi ular-ular raksasa yang sudah pergi menyebar ke segala penjuru pulau.
Saat bisa merasakan lokasi keberadaan mereka, Alvin membuat gerbang raksasa di hadapan tiap-tiap monster itu, yang langsung tertelan kedalam gerbang.
Monster-monster terbang tersebut kemudian bermunculan dari 6 gerbang yang berada di hadapan Alvin.
Dengan pasak besi di kedua genggaman tangannya, Alvin mulai menghabisi ular-ular raksasa itu satu per satu dengan sangat cepat hingga ratusan makhluk yang sebelumnya hendak menyebar ke setengah daratan yang berada di Bumi, telah tewas seluruhnya.
.........
Setelah menghabisi ular-ular raksasa, Alvin beralih untuk menghabisi seluruh monster yang baru bermunculan dari gerbang dengan menggunakan skill bagian kedua dari The Art Of Killing, Dagger Rain.
Kali ini, Alvin menggunakan lebih banyak energi Mana untuk menciptakan dagger dalam jumlah yang lebih banyak dari yang biasa ia buat, lalu mengerahkan ratusan ribu dagger tersebut untuk mengejar monster-monster yang berada di lokasi agak jauh yang berada di luar jangkauan serangan Rimi dan pasukannya.
Sementara dagger sihir bekerja menghabisi monster-monster kecil, Alvin memanjat lebih tinggi di udara dengan airbender, untuk menghabisi ular raksasa yang baru bermunculan lagi dari gerbang.
Ular-ular raksasa yang sebenarnya bisa menyemburkan nafas api dengan enerhi sihir mengerikan, tidak sempat sama sekali menunjukkan kemampuannya di hadapan Alvin yang sudah menghabisi mereka semua sebelum mereka menyadari keberadaannya.
Kecepatan dalam menghabisi mangsa adalah prinsip seorang pemburu. Itulah yang Alvin pelajari dari Mina dan Miyuki, yang sudah ahli dalam menggunakan skill yang sama dengannya.
__ADS_1
Karena itu, Alvin terus menghabisi ular raksasa saat mereka baru saja keluar dari gerbang.
......................
Satu hari telah berlalu sejak kemunculan gerbang cincin yang melingkari Bumi dan memisahkan dua sisi Bumi yang telah ditembokinya.
Karena lawan yang ditunggu tak kunjung menampakkan diri, Alvin, Cyntia dan Rimi akhirnya memutuskan untuk bersembunyi di dalam inventory yang kini hanya bisa di akses oleh Rimi.
Dengan izin Rimi, Alvin dan Cyntia bisa masuk ke dalam inventory dan bersembunyi di sana sambil menyaksikan siaran langsung dari stasiun berita terbesar dunia, WABC di sebuah layar transparan yang Rimi bentangkan di salah satu sisi dinding ruang hologram.
"Sia-sia saja kita mencegah mereka di sini jika mereka bisa keluar dari sepanjang gerbang," ucap Alvin dengan menyesali kehancuran banyak kota di seluruh dunia yang bisa dilihatnya pada siaran berita.
Pulau Borneo tempat Alvin berada juga tak luput dari kehancuran.
Pasukan serangga yang Rimi kirim untuk mengamankan pulau Borneo memang bisa menghapus kemunculan monster.
Namun, ada sisi lain dari pulau Borneo yang terhalang gerbang yang kini hancur oleh amukan monster karena mereka tidak bisa menyeberang ke sisi itu.
Mirisnya, mereka bisa menyaksikan kehancuran yang terjadi di belahan lain pulau melalui siaran langsung yang sedang stasiun WABC lakukan, tanpa bisa berbuat apa-apa.
"Apa boleh buat. Kalian tidak bisa menyeberang ke sana," sahut Mina yang bisa menampakkan wujud hologram dirinya saat Alvin sedang berada di ruang inventory.
Setelah menyahuti ucapan Alvin, Mina menoleh dan menatap Cyntia yang tatapan matanya terus terarah pada dirinya.
"Kau tidak cemburu, kan?" tanya Mina pada wanita itu.
"Ya?"
"Kau tahu jika aku berada di dalam tubuh pria yang kau sukai. Mungkin saja kau akan cemburu."
"Bisakah kau tidak membahas itu?!" pinta Alvin dengan nada suara sedikit tinggi setelah melihat Cyntia tampak canggung dengan pertanyaan tersebut.
"Yah..., aku cuma ingin tahu."
"..."
"Tuan, ular-ular raksasa mulai bermunculan lagi," potong Rimi.
"Baiklah. Aku akan menghabisi mereka," sahut Alvin. Ia kemudian berdiri dan pergi keluar dari ruang inventory.
Saat Alvin melewati portal inventory, Mina yang menyatu dengan tubuhnya otomatis ikut menghilang dari ruangan tersebut.
......................
Karena level ular raksasa berada jauh di atas kesanggupan pasukan serangga, maka harus Alvin sendirilah yang menangani mereka.
Seperti sebelum-sebelumnya, hanya membutuhkan waktu kurang dari 2 menit bagi Alvin untuk menghabisi ratusan pasukan monster tersebut.
"Setingi apa gerbang ini? Apa kau pernah menelitinya?"
["Ujung bagian atasnya hanya sedikit lebih rendah dari tempat Bulan berada."]
__ADS_1
"Terlalu jauh."
["Kau ingin menyeberang ke sebelah?"]
"Tadinya."
["Kau tidak akan bisa melindungi semua orang. Utamakan misi utamamu. Lihat saja, gadis itu juga tidak..."]
"Tidak apa?"
["Aku sepertinya salah. Pasukan Anna baru saja membersihkan pulau Borneo di sisi lain gerbang."]
"Kekuatan pasukannya benar-benar berada di luar nalar," puji Alvin, mengingat video tentang Anna dan pasukannya yang sering ia tonton belakangan ini. "Tapi... Darimana kau tahu?"
["Rimi baru saja memberitahuku."]
"Kau masih terhubung dengan Rimi?"
["Aku yang membawanya kesini tentu saja pikirannya akan tetap terhubung denganku."]
"Begitu..."
Alvin akhirnya kembali ke darat, di dekat lokasi inventory berada, untuk masuk kembali ke dalam ruang hologram itu.
Namun, belum sempat menjejakkan kakinya di tanah, Alvin bisa merasakan kekuatan yang sangat besar yang baru saja keluar dari gerbang.
Alvin berpaling untuk melihat wujud monster apa yang baru saja datang ke Bumi dengan energi Mana sebesar itu.
.........
Seringai lebar muncul di wajah Alvin saat melihat makhluk yang selama ini ditunggunya akhirnya menampakkan diri juga.
"Beelzebub..."
Alvin lenyap dari tempatnya berada.
Ia memacu kecepatan larinya untuk langsung pergi mendatangi Beelzebub dan langsung menyerangmya.
Wushhh...
Beelzebub yang tidak bisa merasakan aura keberadaan Alvin hampir saja tidak bisa menghindari serangan super cepat yang Alvin tujukan padanya, andai ia tidak melihat kilauan cahaya biru yang berasal dari senjata pria itu.
Beelzebub memagari dirinya dengan sihir pelindung yang sangat kuat, menyadari jika ada lawan berbahaya yang bisa saja mengancam nyawanya.
"Kau...," kedua mata Beelzebub melebar saat tahu siapa penyerangnya. "Kau masih hidup?"
"Hah? Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku masih hidup. Justru aku yang bingung kenapa malaikat lemah sepertimu malah masih hidup."
Mendengar hinaan itu, Beelzebub menggeram. Ia adalah makhluk yang sebenarnya jauh lebih mulia dari manusia sebelum kejatuhannya.
"Sebagai seorang manusia kau terlalu sombong! Jangan berbesar kepala hanya karena kau sudah menguasai kemampuan sihir Lorelei!" umpat Beelzebub.
__ADS_1
Beberapa saat setelahnya, Beelzebub yang kini sudah sangat jauh lebih kuat dari saat ia melarikan diri dari Alvin dulu, mengeluarkan trisula di masing-masing tangannya.
Makhluk tampan berambut pirang itu kemudian melesat menyerang Alvin yang masih melayang-layang di hadapannya.