
Setelah berganti pakaian lagi, Alvin akhirnya pergi menuju Royal Hotel, dimana pesta penyambutan dan memperkenalkan Cyntia sebagai calon kepala keluarga Maxwell sedang berlangsung
Saat ia masih berjalan kaki menuju gerbang benteng, seorang pria paruh baya mencegatnya dan meminta waktu padanya untuk berbicara.
Karena cara berbicara orang itu cukup sopan dan ramah, juga skor yang ia miliki 2, Alvin akhirnya berhenti dan mendengarkan apa yang ia katakan.
......................
“Mina, bagaimana menurutmu tentang apa yang dia katakan?”
[“Dari tatapan mata dan ekspresi wajahnya saat berbicara, ada rasa bersalah dan rasa takut akan sesuatu. Dia tidak berbohong dengan apa yang dikatakannya, tapi dia juga sepertinya menutupi hal lain.”]
“Menutupi?”
[“Mungkin, dia yang awalnya memberi ide untuk melakukan penyerangan lalu pada akhirnya menyesali perbuatannya itu. Karena itulah dia memberitahukannya padamu berharap agar kau bisa menemukan jalan keluar.”]
Alvin mendengus dengan kasar.
“Dia mau menjebakku, kan?”
Mina tertawa.
[“Kau sudah cukup berpengalaman dalam terkena jebakan.”]
“Orang-orang memang selalu mengincar orang yang mereka anggap lemah untuk dijadikan kambing hitam agar mereka bisa menyelamatkan diri.”
[“Jika benar dia menjebakmu, kau tinggal meracuninya saja.”]
"Kali ini aku menyetujui idemu."
["Ideku memang yang terbaik."]
......................
Acara penyambutan Cyntia Maxwell berlangsung dengan meriah.
Selain itu, para tamu undangan kelas atas yang merupakan para pebisnis terkemuka di Kota S dan kota sekitar juga sangat menyukai acara tersebut. Karena dengan adanya acara yang jarang terjadi ini, semua pengusaha kelas atas dapat berkumpul.
Hal seperti ini sangat mereka nantikan. Selain bisa membangun jaringan yang lebih luas diantara msreka, mereka juga bisa berkenalan dengan hunter-hunter hebat yang datang untuk menyambut kepulangan Cyntia, yang mereka tahu akan menjadi hunter elit di Kota S.
Semua orang yang berada di aula itu tampak berbincang bersama dengan penuh minat dengan apa yang mereka bahas, terutama saat mereka sedang membahas sebuah bisnis.
Untuk pembahasan calon kepala keluarga baru, semua pebisnis yang merupakan rekanan dari keluarga Maxwell menyambut baik perubahan kepemimpinan yang akan segera terjadi di keluarga Maxwell itu, terutama saat mereka melihat Cyntia yang tampak cerdas, anggun dan berwibawa sebagai calon kepala keluarga.
Apalagi, Cyntia juga memiliki nilai lebih. Selain cantik, dia juga seorang hunter yang peringkatnya sudah dikonfirmasi sebagai salah satu hunter peringkat tinggi yang tak kalah dengan ayahnya.
Walaupun peringkatnya tidak diungkapkan secara jelas, namun saat Alan Maxwell mengatakan bahwa Cyntia tak kalah dengan ayahnya yang peringkat S, itu sudah cukup untuk membuat semua orang tahu bahwa Cyntia setidaknya berperingkat S atau peringkat A yang mendekati kenaikan ke peringkat ke S.
Di zaman ini, selain kecerdasan dan kecakapan dalam memimpin, kekuatan sebagai seorang hunter adalah hal utama yang dibutuhkan seorang pemimpin. Jadi, Cyntia hampir memiliki semuanya kecuali kecakapannya yang masih harus dilihat lagi seiring berjalannya waktu.
.........
Saat semua orang sedang berdiri di sekitar Arthur dan Alan untuk mencari muka, seorang tamu kehormatan dari Kota T, tiba.
Tahu siapa yang datang, semua orang langsung membukakan mereka jalan, agar tamu tersebut dapat saling menyapa langsung dengan Arthur Maxwell.
“Zayn?” ucap Arthur dengan ekspresi terkejut.
__ADS_1
Ia kemudian menatap pada Alan dan sadar bahwa Alan juga sepertinya tidak tahu bahwa kepala keluarga Cruz itu akan hadir juga.
“Lama tidak bertemu, Arthur,” ucap Zayn sambil menjabat tangan, lalu memeluk kawan lamanya itu.
“Oh Tuhan, mimpi apa aku semalam?!” seru Arthur yang kemudian tertawa bahagia sambil memeluk erat Zayn, teman lamanya jauh sebelum dunia memasuki era gerbang Dungeon.
“Ini putra sulung ku,” ucap Zayn, memperkenalkan Billy Cruz pada Arthur.
“Paman Arthur, senang bertemu Anda,” sapa Billy dengan sopan.
Arthur menjabat tangan Billy sambil menepuk-nepuk punggung tangan pria itu dengan tangannya yang lain.
“Sudah sangat lama kita tidak bertemu, kan? Aku bahkan tidak pernah bertemu putramu sejak awal,” ucap Arthur pada Zayn, sambil masih menggenggam tangan Billy.
Setelah itu, seorang gadis manis maju menghampiri Arthur untuk memperkenalkan dirinya juga.
“Hallo paman Arthur, senang bertemu Anda, saya Ivory,” ucap Ivory sembari menjabat tangan Arthur.
“Dia adik Billy,” Zayn memperkenalkan.
Arthur tersenyum senang. Namun, ekspresinya tiba-tiba berubah saat melihat seseorang yang wajahnya seperti ia kenal, ada bersama keluarga Cruz.
Untuk memastikan apakah dugaannya benar, Arthur menoleh, menatap pada Marco yang juga memiliki ekspresi terkejut yang sama dengannya.
Arthur akhirnya menatap wanita muda itu lagi dan bertanya, “Apa kau Vina?”
“Ya, paman,” sahut Vina sembari mendekat dan memeluk Arthur, juga menyapa dan memeluk Alan Maxwell setelahnya.
Zayn, Billy dan Ivory tentu saja kaget saat melihat Vina sepertinya sudah mengenal Arthur.
“Kalian sudah saling mengenal?”
Mereka tidak perlu menanyakan siapa orang yang Arthur maksud karena Vina langsung menghampiri Marco setelah itu, lalu memeluknya.
Zayn terlihat senang mengetahuinya. Dalam perjalanan ke Kota S tadi, Billy dan Ivory sudah memperkenalkan Vina sebagai seorang pengusaha baru, yang ia sendiri nilai akan memiliki masa depan sangat cerah.
Mengingat pembicaraan mereka saat dipesawat, Zayn akhirnya tertawa sambil menatap Alan.
“Alan, apa kau sedang berpura-pura?”
Alan yang sejak tadi diam sambil memerhatikan mereka, tentu saja kebingungan dengan maksud pertanyaan Zayn.
“Y-ya?”
“Bukankah kau mengatakan ingin bekerja sama dengan perusahaan Rufino untuk pengadaan perlengkapan raid guild Maximus?”
Alan masih bingung namun ia tetap mengangguk pelan. Ia tahu nama perusahaan itu Rufino, tapi dia sama sekali belum mengetahui bahwa Alvin dan Vina yang berada di baliknya.
Jangankan Alan. Marco yang sudah diceritakan Alan tentang bakal kerjasama itupun hanya tertawa saat tahu nama perusahaannya. Ia tidak menduga sama sekali jika itu adalah perusahaan anak-anaknya.
“Y-ya.”
“Apakah kau berpura-pura tidak tahu kalau nona Rufino ini CEO dari perusahaan Rufino?”
“Y-ya...," Alan mengangguk ragu. Sebenarnya, sejak tadi ia masih tidak menangkap jelas apa yang Zayn maksud. Tapi, saat ia sudah berhasil mencerna maksudnya, Alan benar-benar terkejut, "Ap... Apa?!”
Alan menatap Zayn dan Vina secara bergantian.
__ADS_1
Saat Alan kebetulan menatapnya lagi, Vina langsung mengangguk dan itu meyakinkan Alan.
“K-kau memiliki sebuah perusahaan?”
Vina menggeleng.
“Bukan saya, paman. Saya hanya CEO nya,” sahut Vina.
“Hanya CEO? Jangan-jangan...!” Alan kemudian terdiam, menatap Arthur dan Marco yang juga sedang terpana sambil masih menatap Vina.
Mereka tentu saja terkejut. Di zaman ini, seorang pengusaha yang bergerak di bidang pengolahan kristal sihir dan perlengkapan raid, bukanlah orang yang bisa dianggap remeh. Butuh modal yang sangat-sangat besar untuk membangun usaha tersebut.
Karena itulah mereka tidak menyangka bahwa Alvin dan Vina akan bisa membangun perusahaan tersebut.
Pada saat itu, Cyntia yang akhirnya berhasil melarikan diri dari kepungan para undangan, menghampiri dan bergabung bersama mereka.
Dengan sangat anggun dan sopan, ia menyapa semua orang yang berada di situ.
.........
“Kau sangat cantik, nak,” puji Zayn.
Sambil menarik tangan Vina untuk mendekat padanya, Cyntia tersenyum dan mengangguk pelan untuk menanggapi pujian itu.
Ia sebenarnya belum mau bergabung dengan orang-orang ini. Dia datang karena melihat Vina ada di situ dan ingin melindunginya karena ia tahu akan ada serangan pada pesta ini.
“Tolong jangan berada jauh dariku,” bisik Cyntia pada Vina, sembari mengangguk dan tersenyum lagi menanggapi apa yang Zayn katakan saat pria paruh baya itu memuji-mujinya.
Vina mengira Cyntia merindukannya. Ia mengangguk pelan dan tetap berdiri di samping Cyntia, sambil menunggu kesempatan agar mereka bisa mengobrol.
.........
Sambil tersenyum ceria, Zayn berbicara pada Arthur yang masih bengong menatap Vina.
“Arthur...”
“Ya?”
“Apakah putrimu kebetulan belum menikah?” tanya Zayn, sambil melirik Cyntia dan Billy.
Arthur langsung tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan, tahu kemana Zayn akan mengarahkan pembicaraan mereka selanjutnya.
Zayn juga ikut tertawa. Ia menebak, Arthur tahu maksudnya menanyakan hal itu dan sepertinya Arthur juga menanggapi dengan baik apa yang dia inginkan.
Billy juga bisa menebak arti pertanyaan ayahnya. Ia kemudian menatap Cyntia dan tersenyum lembut padanya. Tapi, senyumnya langsung menghilang saat Cyntia akhirnya berbicara.
"Saya sudah memiliki orang yang saya suka, paman," ucap Cyntia dengan senyuman penuh arti di wajahnya.
Kata-katanya itu, membuat semua orang yang mendengarnya tercengang.
Mereka akhirnya bertatapan antara satu dan lainnya. Di saat seperti ini, seorang wanita harusnya hanya diam dan membicarakan hal itu dengan keluarganya saja jika ia tidak setuju dijodohkan.
Billy yang merasa di tolak mentah-mentah, hanya bisa tersenyum canggung sambil menatap wajah cantik Cyntia yang sedang tersenyum.
Sampai akhirnya, tak lama kemudian, Billy melihat ekspresi Cyntia yang tiba-tiba berubah.
Senyumnya menghilang, digantikan ekspresi canggung aneh yang dilengkapi oleh rona merah yang juga tiba-tiba saja muncul di wajah wanita itu sebelum akhirnya memalingkan wajah.
__ADS_1
Billy tahu, ada seseorang yang baru datang yang membuat Cyntia menunjukkan wajah canggung secara tiba-tiba. Billy pun menoleh ke arah pintu, kemana Cyntia tadi menatap dan terkejut saat melihat Alvin sedang berjalan ke arah mereka.
......................