
Sebelum dewa Zei benar-benar kehilangan kesadaran akibat terkena serangan terkuatnya sendiri, sebuah portal sihir muncul tepat di dekatnya.
Dari dalam portal, keluarlah sosok pria berperawakan tinggi ramping, disusul oleh sosok avatar hunter dan sosok wanita ramping yang cantik.
Serangan sihir yang dewa Zei lakukan dengan menggunakan seluruh energi Mananya benar-benar dahsyat.
Alvin bahkan bisa merasakan gelombang sihir itu sejak sebelum dewa Zei menembakkan petir hitam dari ujung pedangnya.
'Untung dia tidak mengetahui sihir gates of the death. Jika tidak, dia mungkin akan berhati-hati. Akan memakan sangat banyak waktu dan energi Mana untuk bisa menghabisinya.'
["Selain itu kau diuntungkan dengan sifat para dewa yang angkuh dan meremehkan manusia. Dia juga banyak membuang energi Mana untuk memanggil roh para monster dan memperkuat energi sihir mereka."]
'Kau benar.'
Alvin menyetujuinya. Kekuatan memang penting. Namun, keberuntungan jauh lebih penting.
Alvin memerhatikan daratan di sekelilingnya. Tidak ada lagi bangunan, pohon atau benda apa pun yang tersisa di sekitarnya, selain hamparan tanah yang melengkung.
Ia kini berada di dalam kawah super besar yang tercipta dari ledakan sihir serangan terakhir dewa Zei.
'Benar-benar sihir yang mengerikan.'
......................
Alvin berjongkok di samping tubuh dewa Zei yang langsung saja melirik dan menatapnya ngeri.
Ia tahu jika dirinya kalah oleh serangannya sendiri. Tapi, sihir pemindah raga yang tidak bisa ditangkalnya itu sangatlah mematikan.
Jika bukan karena sihir itu, dia tidak akan pernah terkena serangannya sendiri. Dia tentu akan berhasil dalam serangan terakhirnya tadi.
'Sihir yang sangat berbahaya.'
Tak pernah sekalipun terpikir oleh dewa Zei jika dirinya akan kalah bertarung hanya melawan seorang makhluk ciptaan.
"Si-siapa kau... sebenarnya? Seingatku... wajah Erv Arnix tidak mirip denganmu...," ucap dewa Zei dengan terbata. Nafas kehidupannya sudah hampir putus.
Ia masih saja penasaran dengan sosok dewa yang ia pikir telah menciptakan Alvin dengan wujud dan rupanya, lalu mewariskan inti Mana pada pria itu hingga memiliki sihir yang sangat menakutkan.
Satu-satunya sosok yang terpikirkan olehnya dan mungkin telah menduplikatkan tubuhnya untuk makhluk ciptaan sekuat Alvin hanyalah dewa Erv, adik dari dewi Ann.
Tapi, seingatnya, wajah dewa Erv dan Alvin tidaklah sama.
"Bahkan sampai hampir menemui ajal pun kau masih penasaran tentang hal itu? Apakah mengetahuinya sangat penting bagimu?"
Alvin mengarahkan pasak besi pada leher dewa Zei. Ia menyalurkan banyak energi Mana pada pasak besi tersebut, tahu jika apa yang akan dipotongnya adalah sesuatu yang sangat-sangat keras.
"Supaya kau tidak mati penasaran, aku akan memberitahumu. Aku..."
__ADS_1
Kedua mata dewa Zei yang hampir tidak memiliki cahaya kehidupan lagi, menatap Alvin dengan seksama dengan pandangan sayu, menunggu jawaban yang akan membuat rasa penasarannya terobati.
"...Alvin Rufino."
Sraaaatttt...!
Dengan satu tebasan yang Alvin lakukan, bersama energi Mana yang cukup besar, kehidupan dewa Zei pun telah berakhir.
Dewa yang dikenal di dunia para dewa sebagai dewa perang terkuat di era baru, setelah dewi Ann sang dewa perang legendaris menutup diri, berakhir di tangan salah makhluk ciptaan dari triliunan makhluk ciptaan yang berada di 4 dimensi berbeda dari alam semesta.
Dunia para dewa tentu akan gempar jika mengetahui apa yang telah terjadi pada dewa Zei.
Makhluk ciptaan Absolut yang berada di tingkatan ketiga, harus tewas di tangan makhluk ciptaan dewan pengawas para dewa.
......................
Setelah kematian dewa Zei, Rimi berjongkok di samping Alvin, tepat di hadapan mayat sang dewa.
Rimi mengarahkan salah satu tangannya pada dada dewa Zei lalu ujung-ujung jemarinya menembus tubuh berwujud asap hitam itu untuk mengambil jantungnya.
Sebuah bongkahan kristal berwarna ungu metalik muncul di tangan Rimi, menggantikan jantung dewa Zei yang telah ia cabut dari tempatnya.
Setelah mencengkram kristal untuk memecahkannya, asap ungu tebal muncul menggantikan kristal yang telah pecah menjadi serpihan-serpihan kecil, lalu terserap ke dalam tubuh avatar Rimi.
"Mulai sekarang saya tidak akan khawatir jika batas membangkitkan pasukan serangga telah habis," ucap Rimi dengan nada riang.
"Skill memanggil roh dan black thunder, tuan. Saya juga menyerap inti Mananya."
Glup...
'Bukankah dia sekarang terlalu mengerikan?'
Rimi kemudian mengulurkan tangannya lagi, mengambil pedang hitam dewa Zei yang tergeletak di sisi lain mayat dewa itu.
"Juga pedang ini. Kecuali Anda ingin memilikinya."
Alvin menggelengkan kepala. "Tidak, untukmu saja."
Walaupun Alvin tahu jika pedang itu memiliki status yang jauh lebih baik dibandingkan pasak besinya, namun ia sudah lebih nyaman dengan gaya bertarungnya sekarang, yang lebih cocok menggunakan pasak besi, tanto, atau belati.
"Terima kasih, tuan."
"Tidak perlu berterima kasih," Alvin tersenyum sembari memerhatikan wajah tanpa ekspresi avatar Rimi.
Aneh baginya mendengar suara mekanik ceria yang dikeluarkan wujud avatar Rimi yang tidak diiringi oleh ekspresi bahagia yang selaras dengan emosi Rimi yang dapat dirasakannya.
"Apa kau tadi tidak mengeluarkan pasukan lalat karena khawatir jika mereka akan mati?" tanya Alvin.
__ADS_1
"Ya, tuan. Mereka masih sangat lemah. Akan banyak menguras energi Mana jika harus menghidupkan mereka lagi."
Alvin mengangguk pelan. Ia juga selalu menghindari hal itu. Ia tidak rela melihat pasukan serangga yang telah dikumpulkan dan dikembangkannya harus mati, apalagi jika mereka harus lenyap andai kehabisan jatah pembangkitan.
Karena itu, Alvin jarang memanggil pasukan serangga dari sarang mereka, kecuali jika ia merasa pasukan serangga akan bisa mengalahkan lawan.
Seandainya dia dulu bisa memanggil roh mereka kembali dari kematian, dia pasti tidak akan mengkhawatirkan kematian para serangga itu.
.........
Alvin kemudian mengalihkan perhatian pada Cyntia yang sedang diam menatap gerbang cincin hitam raksasa di kejauhan.
"Gerbang itu tidak akan menghilang sebelum kita menghabisi pembuatnya."
Cyntia berpaling, menatap Alvin dan tersenyum pahit sembari mengangguk kecil.
"Apa masih ada pertarungan lain?" tanya Cyntia.
Alvin mengalihkan pandangan, menatap gerbang raksasa yang masih berdiri kokoh walaupun tidak mengeluarkan satu monster pun lagi di sisi tempatnya berada.
"Tidak ada. Aku hanya harus menjemput hunter-hunter Kota T dari planet mereka saja dan menghabisi pembuat gerbang itu."
Cyntia menghela nafas lega. Ia khawatir jika akan ada pertarungan yang harus Alvin hadapi lagi.
Melihat dari besarnya kawah tempat mereka berada saja, ia bisa menebak bagaimana kuatnya lawan yang telah Alvin hadapi.
"Ku harap mereka baik-baik saja."
"Ya."
Setelah berbicara pada Cyntia, Alvin beralih lagi pada Rimi.
"Tolong beritahu aku jika gerbang menuju planet monster sudah muncul."
"Apa Anda ingin pergi dari tempat ini, tuan?"
Alvin mengangguk pelan. "Ada seseorang yang harus ku kunjungi terlebih dahulu sebelum pergi ke sana."
"Baiklah. Saya akan memberitahu Mina jika gerbang yang Anda maksud sudah terbuka."
"Terima kasih."
Alvin kemudian mengajak Cyntia pergi menuju Kota S, di mana bunker tempat keluarga Maxwell dan keluarganya berada.
Setibanya di sana, ia langsung mencari Jack Paul.
......................
__ADS_1