Hunter System

Hunter System
Bab 113 - Dungeon Peringkat S


__ADS_3

Alvin dan Cyntia tentu pernah melihat wujud dataran dan keadaan Bulan dari video-video yang pernah mereka tonton.


Seperti itulah suasana di dalam Dungeon peringkat S itu.


Langit yang sangat gelap, juga dataran yang dipenuhi tanah gersang, membuat mereka merasa seakan sedang berada di Bulan.


Bedanya, mereka tidak bisa melihat adanya Matahari di tempat itu. Walaupun demikian, ada cahaya samar bagaikan cahaya rembulan, yang entah berasal dari mana, menerangi lingkungan Dungeon tempat mereka berada.


Lingkungannya sangat sepi. Tidak ada suara apapun di sana selain suara samar dari angin yang berdesir lembut menerpa tubuh dan pasir dingin di bawah kaki mereka.


...…...


“Aura sihirnya benar-benar tidak enak,” ucap Cyntia dengan setengah berbisik. Keadaan yang sangat sepi itu membuatnya sangat berhati-hati termasuk dalam menjaga volume suaranya.


Jika dia yang berperingkat SSS saja bisa merasakan tidak nyaman, apalagi hunter-hunter di depan gerbang yang masih berperingkat A ke bawah.


“Ya.”


“Ku harap kita bisa selamat,” ucap Cyntia lagi sambil tersenyum pahit.


“Kita harus kembali dengan selamat," sahut Alvin sambil memaksakan senyum.


Alvin membuka peta Dungeon dan melihat ada 30 lokasi tempat keberadaan monster, dengan lokasi yang terpisah dalam 3 bagian.


10 lokasi monster ada di area kiri, 10 di tengah dan 10 lagi di sebelah kanan.


Selain itu, masih ada 1 titik besar yang berada sangat jauh. Alvin menebak kalau itu adalah area bos Dungeon berada.


"Ayo kita pergi," ajak Alvin setelah selesai mengamati peta.


“Oh, ngomong-ngomong… kita tidak membawa alat pendeteksi.”


Cyntia baru menyadari mereka tidak membawa alat pendeteksi lokasi monster karena terlalu fokus mengagumi kostum dan belatinya.


“Aku tahu tempatnya.”


“Ya?”


“Ayo kita pergi,” ucap Alvin. Ia kemudian melangkah pergi menuju lokasi keberadaan monster.


“Bagaimana kau bisa tahu lokasinya tanpa alat pendeteksi?”


“Aku cuma menebaknya.”


Cyntia menghentikan langkah kakinya.


“Kau serius? Bagaimana kalau kita tersesat dan tidak tahu jalan kembali?”


“…”


Cyntia tiba-tiba tersenyum, “Sudahlah. Ayo kita pergi.”


“Ya?”


“Tidak masalah. Ayo.”


“Baiklah…”


Wanita itu tersenyum lagi.


“Ada apa?” tanya Alvin penasaran.


“Tersesat bersamamu, ku rasa bukan ide buruk," sahutnya pelan. Ia kemudian berjalan mendahului Alvin sambil terkadang berhenti dan menarikan salah satu tarian dari girl group idola Alvin.

__ADS_1


"..."


Glup...


["Haaaahhh..."]


...…...


Mereka akhirnya tiba di lokasi pertama keberadaan monster.


Karena Dungeon itu memiliki lingkungan seperti sebuah padang gurun luas tanpa adanya pohon, bukit atau benda apa pun untuk menyembunyikan diri, maka mereka langsung bertatap muka dengan monster-monster saat sudah tiba di tempat itu.


Alvin memerhatikan wujud monster yang tampak sangat asing. Dia tidak pernah sama sekali melihat gambar jenis monster seperti yang kini berdiri di hadapannya baik saat belajar di Akademi maupun di situs resmi Asosiasi.


Cyntia juga menelengkan kepalanya, merasa asing dengan monster-monster itu.


Mereka memiliki warna kulit tubuh hitam legam yang sangat mengkilap seakan tubuh mereka dibentuk dari cairan aspal.


Tubuh mereka hanya sedikit lebih tinggi dari tinggi tubuh seorang pria dewasa. Mereka juga memiliki dua tangan dan kaki yang panjangnya sangat proporsional dengan tubuhnya.


Beda monster-monster itu dengan manusia, selain warna kulit, adalah mereka tidak memiliki batang hidung, daun telinga juga rambut. Tapi, mereka memiliki sebuah tanduk pendek yang mencuat dari dahinya.


Monster-monater itu juga memiliki sepasang sayap hitam yang mencuat dari punggungnya dan sebuah ekor panjang yang melilit rapi di pinggang.


‘Monster apa ini?’


[“Aku tidak tahu,”] sahut Mina, membuat Alvin kaget.


‘Kau tidak tahu?’


[“Monster ini tidak ada di data base Rimi. Mereka tidak ada di masa depan. Hati-hati saja, aku belum bisa memberi gambaran mengenai kelemahan mereka. Yang pasti mereka cuma monster peringkat S.”]


'Baiklah.'


Alvin sejak tadi juga merasa bingung tentang itu. Monster hitam legam itu tidak bergerak sama sekali, hanya menatap mereka dengan sepasang mata merahnya.


Mereka tentu saja bukan patung. Alvin bisa melihat gerakan naik turun samar pada tubuh makhluk-makhluk itu, yang menandakan mereka bernafas layaknya manusia.


Alvin dan Cyntia saling bertatapan, heran karena ratusan monster itu hanya menatap mereka dalam diam seperti tidak berniat menyerang sama sekali.


Setelah hanya saling bertatapan selama beberapa menit dengan pasukan monster hitam legam itu, Alvin akhirnya mengaktifkan wujud kostumnya dan mengeluarkan salah satu belalang lalu memerintahkannya untuk menghampiri monster.


Belalang itu terbang dan berkeliling di atas tubuh tiap monster atas perintah Alvin melalui telepati, namun monster-monster itu masih tidak bergerak sama sekali dan tampak tidak terganggu dengan apa yang dilakukan belalang.


Alvin akhirnya memerintahkan belalang untuk menyerang.


Walaupun belalang itu petarung tipe Tank, tapi ia memiliki serangan yang cukup kuat untuk langsung merobohkan seorang hunter peringkat A. Jadi, saat belalang menyerang dengan kaki belakangnya yang panjang dan kuat, salah satu monster hitam yang terkena serangannya terdorong mundur sampai bertabrakan dengan monster dibelakangnya.


Alvin memerintahkan belalang untuk terus menendang salah satu monster sampai akhirnya monster itu jatuh terlentang.


Anehnya, monster itu juga masih tidak bergerak seakan tidak merasa terganggu walaupun baru saja mendapat serangan bertubi-tubi. Ia bahkan tidak berniat untuk bangkit berdiri kembali.


Kawanan monster juga tampak tidak terganggu walaupun kawan mereka baru saja di serang.


“Aku tidak tahu kenapa mereka diam saja tapi ayo kita serang mereka,” ucap Alvin pada Cyntia.


Alvin menggunakan spider webs, menjerat seluruh monster di barisan terdepan lalu meremukkan mereka semua dalam sekali sentakan.


Cyntia melesat pergi ke barisan monster yang berada di bagian belakang untuk menghabisi mereka.


Tidak sampai dua menit, ratusan monster bertubuh hitam legam itu tewas.


Setelah selesai menghabisi seluruh monster, Alvin dan Cyntia kembali saling bertatapan.

__ADS_1


“Apa kau tidak merasa aneh?” tanya Cyntia.


“Ini memang sangat aneh. Tidak mungkin monster dari Dungeon peringkat S bisa dikalahkan semudah ini."


Cyntia mengangguk.


[“Mereka belum mati.”]


‘Ya?’


[“Kau tidak merasa mendapat experience, kan? Periksa juga peta Dungeonmu.”]


Alvin membuka kembali peta Dungeon dan melihat masih banyak titik merah di tempat ia dan Cyntia berdiri, di antara mayat monster. Dia juga tidak mendapat experience point yang biasanya akan langsung terserap ke dalam tubuhnya setelah berhasil membunuh monster.


“Alvin, liat mayat mereka…”


Alvin mengalihkan pandangannya ke mayat-mayat monster yang tiba-tiba saja meleleh.


“Menjauh.”


Alvin dan Cyntia melompat pergi dari tempat mayat monster berserakan untuk mengamati kondisi mayat yang tiba-tiba saja meleleh.


Mereka melihat seluruh bagian tubuh monster yang remuk dan terpenggal itu berubah menjadi lendir hitam menyerupai aspal cair.


Tubuh mereka pada akhirnya menyatu kembali dan membentuk tubuhnya masing-masing seperti semula, mulai dari bagian kaki sampai bagian kepala.


Ratusan monster yang telah pulih itu kembali berdiri tegak, menatap mereka seperti sebelumnya dengan masih tak bergerak.


Alvin menjerat monster-monster itu lagi lalu meremukkan mereka dengan spider webs.


Cyntia juga membantu dengan memenggal leher monster-monster yang berada di barisan belakang.


Seperti sebelumnya, tubuh monster-monster itu remuk karena jaring-jaring Alvin dan leher mereka terpenggal oleh belati Cyntia. Tapi, tubuh yang sudah remuk dan terpenggal-penggal itu meleleh lalu menyatu kembali.


Setelah mengulangi serangan seperti sebelum-sebelumnya, Alvin menggunakan flame skill untuk membakar mereka saat tubuh monster-monster itu mencair, namun tindakan itu tidak menghambat penyatuan tubuh monster sama sekali.


Ia juga berusaha membekukan lelehan tubuh monster dengan ice dew namun usahanya juga sama sia-sianya.


Alvin juga sudah menggunakan thunderbolt, namun tak ada satupun usahanya yang bisa mencegah tubuh monster menyatu kembali sampai akhirnya berdiri tegak seperti semula dan menatap mereka tanpa ekspresi.


“Apa-apaan ini?!” oceh Alvin sembari menatap monster yang tampak seperti mempermainkannya itu dengan perasaan mendongkol.


Cyntia juga tidak bisa membantu memberi informasi apa pun. Pengalamannya dalam melakukan banyak raid juga tidak berguna karena ia belum pernah sama sekali bertemu monster dengan jenis yang sama.


Jangankan Cyntia, Mina yang datang dari masa depan pun tidak pernah melihat monster jenis ini.


Merasa bingung, Alvin akhirnya menghampiri monster-monster itu. Ia memerhatikan mereka dari dekat dan meraba-raba kulit tubuhnya.


“Tekstur kulitnya sangat kenyal seperti karet.”


[“Mereka punya jaringan otot dan darah.”]


‘Itu kabar baik.’


Alvin memegang salah satu kepala monster dan mengalirkan poison skill padanya, lalu mengamatinya lagi.


Tetap saja, tidak ada apa pun yang terjadi.



“Apa?!" Alvin benar-benar terkejut mengetahui hal itu. Jika darah monster-monster itu beracun, berarti Cyntia yang tidak mengenakan kostum padat seperti miliknya mungkin saja akan terkena racun.


Alvin menoleh ke arah Cyntia dan langsung berlari menghampirinya saat melihat kulit wajah Cyntia yang tidak terlindung oleh helm itu mulai menghitam karena racun.

__ADS_1


......................


__ADS_2