Hunter System

Hunter System
Bab 120 - Wanita Cantik Dan Pria Bermata Merah


__ADS_3

Menyadari ada sosok yang terbang mengikutinya dari langit, Alvin menghentikan langkah kakinya.


Ia baru saja ingin mendongak, namun sosok yang mengekornya itu sudah terlebih dahulu mendarat di hadapannya.


Gerakannya sangat cepat. Alvin bahkan tidak bisa melihat sosoknya, sebelum wanita itu berdiri dihadapannya.


Ketika wanita itu sudah menapakkan kedua kakinya yang tanpa alas itu ke tanah, sepasang sayap lebarnya tiba-tiba menghilang.


Dengan perlahan ia menghampiri Alvin sembari memperhatikan pria itu lekat-lekat.


Alvin juga mengawasinya. Yang ingin ia pastikan untuk pertama kalinya adalah skor kesukaan yang wanita itu miliki pada dirinya. Ia ingin tahu, apakah wanita itu manusia atau monster. Dari pengalamannya, monster biasanya memiliki skor 0 pada dirinya.


Jika wanita itu memiliki skor 0, maka ia tidak perlu ragu lagi menilai siapa makhluk yang berwujud persis seperti manusia itu.


Namun, Alvin tidak bisa melihat skor sama sekali di atas kepala wanita itu.


'Dia tidak memiliki skor?'


["Dia ini bukan manusia."]


'Apa?! Tapi kenapa wujudnya... Apa Shiva itu sebenarnya bukan manusia juga?'


["...Yang itu manusia."]


.........


Wanita berambut pirang itu berjalan perlahan menghampiri Alvin yang diam mematung, menatapnya juga dengan penuh selidik.


Saat mereka sudah berdekatan, ia mengangkat salah satu tangannya, menyentuh wajah Alvin dengan punggung jari telunjuknya.


'Kenapa aku tidak bisa bergerak?!'


["Kau sudah terkena sihirnya."]


'Hah?! Sihir?! Kapan dia...'


"Dimana energi Mana mu tadi? Kau menyimpannya?" ucap Wanita cantik itu sembari mengusap-usap pipi Alvin dengan lembut.


Tangannya kemudan turun ke dada pria itu, lalu mengusap-usapnya juga sambil menatap kedua mata Alvin sembari tersenyum nakal.


"Apa itu bukan kau? Kenapa energi Mana mu sekecil ini?" ucap wanita itu pelan.


Ia kemudian menoleh ke sebuah arah, tempat di mana Cyntia berada.


"Yang disana itu sepertinya lebih kuat darimu. Apa dia temanmu?"


"Ya," sahut Alvin cepat.


'Apa-apaan ini?! Kenapa aku malah menjawabnya?'


["Sihirnya bernama sihir pesona. Kau akan menjawab semua pertanyaannya secara jujur walaupun kau tidak ingin."]


"Begitu...," wanita itu mengangguk pelan dengan masih mempertahankan senyum nakal di wajahnya.


Ia kembali menatap Alvin pada kedua matanya langsung.


"Apa kau mau jadi pengikutku? Aku akan memperlakukanmu dengan baik."

__ADS_1


"Aku..."


"Apa yang kau lakukan?! umpat seorang pria yang baru saja mendarat, turun dari langit. "Dia mangsaku!"


Pria berjubah hitam panjang itu langsung menyembunyikan sepasang sayap hitamnya begitu ia menapakkan kedua kakinya di tanah.


Pria itu memang berwujud persis seperti manusia. Tapi, seluruh kulitnya berwarna ungu gelap dengan kedua mata berwarna merah menyala, tanpa adanya manik mata.


"Pergilah!" bentak pria itu pada si wanita.


Wanita itu cemberut.


"Kau kasar sekali. Padahal aku sudah membantumu mengirimkannya ke dunia ilusi," ucap wanita itu.


'Apa?! Jadi dia ini yang membuatku berada di sana?'


["Dia cuma mengajarkan sihir itu pada monster bungkuk tadi. Jika dia yang melakukannya sendiri, kau tidak akan bisa lolos dari sihirnya."]


'...'


"Kau cuma mengajarkannya pada bawahanku saja dan kau ingin menganggap itu sebagai utang budi?" sahut pria berkulit ungu gelap dan berkepala plontos itu.


Wanita itu tertawa nakal sembari menutup mulut dengan satu tangannya. Ia kemudian menyentuh dada Alvin lagi.


"Kalau begitu, bolehkan aku memberikan kenang-kenangan padanya sebelum pergi?" ucap wanita itu. Tatapannya melekat pada tatapan Alvin.


"Kau benar-benar menjijikkan!" umpat si pria. "Bukankah kau sangat kasar? Kenapa kau berlagak seperti seorang wanita nakal?"


Raut wajah wanita itu tiba-tiba berubah. Ia tidak menjawab pertanyaan si pria dan langsung membuat sebuah gerbang sihir kecil di sebelahnya.


"Aku tidak akan membunuhnya," ucap wanita itu sembari menatap marah pada Alvin.


"Sudah ku bilang, aku cuma mau membuat kenang-kenangan kecil. Apa tidak boleh?"


Pria itu diam beberapa saat.


"Kau boleh melakukannya. Tapi pergilah setelah itu."


"Tsk... Kau tidak percaya padaku? Bukankah aku sudah membuka gerbang?"


"Tapi setelah ini, tolong putuskan semua hubungan dunia luar dari pulau ini."


"Kau ingin bermain-main sendiri tanpa membawa kami, tuan?"


"Kalian sudah menguasai seluruh dunia. Aku cuma meminta pulau ini saja!" pria plontos berwajah ungu tua menggeram.


Wanita itu tidak langsung menjawabnya. Ia menoleh pada Alvin lagi lalu tersenyum jahat padanya.


"Akan ku katakan pada mereka," sahut wanita itu kemudian.


"Jika kalian berani mengganggu wilayahku, aku akan memusnahkan kalian semua!"


Senyum wanita itu menghilang. Wajahnya memerah marah, tidak menyukai ancaman tersebut. Namun, hanya Alvin yang bisa melihat perubahan ekspresi wajah itu.


"Aku mengerti," sahut wanita itu, yang kemudian menepuk dada Alvin dengan salah satu telapak tangannya.


Baaaaaanng!!!

__ADS_1


"Gahhhh...!!!"


Alvin terpental sampai ratusan meter sebelum akhirnya jatuh bergulingan di tanah berpasir, saat wanita itu memukulnya dengan kekuatan sihir yang tidak bisa dibendungnya walaupun ia sudah melindungi diri dengan self defence.


Ia memuntahkan beberapa teguk darah segar. Jantungnya hampir saja pecah jika ia tadi tidak langsung menggunakan healing skill dan meregenerasi tulang dadanya yang hancur dan menekan jantungnya.


Sambil masih tertelungkup di tanah karena tidak bisa bergerak, Alvin berusaha menyembuhkan tubuhnya yang terluka dalam karena serangan mengerikan itu.


'Gila... Padahal dia cuma menepukku saja...'


["Kau beruntung dia cuma menggunakan sedikit kekuatan saja."]


'Cuma sedikit?!'


["Ya."]


'Astaga...'


Dengan perasaan ngeri, Alvin bersusah payah mengangkat kepalanya untuk menatap wanita berjubah putih itu, yang sedang melambaikan tangan padanya sebelum akhirnya masuk ke dalam gerbang hitam kecil yang tadi dibuatnya dan menghilang bersama gerbang.


Setelah wanita itu pergi, pria berjubah hitam melompat dengan satu kali hentakan kaki menuju Alvin.


Ia mendarat tepat di samping tubuh Alvin, lalu membalik tubuh Alvin yang tertelungkup dengan kakinya.


"Kau cukup kuat. Kau masih hidup setelah terkena serangan itu."


Ia kemudian menarik Alvin dengan sihir telekinesis untuk membuat Alvin yang masih tidak bisa bergerak itu berdiri di hadapannya.


"Aku membuat Dungeon ini karena ingin mencari manusia yang telah mengalahkan lich. Apa itu kau?"


Alvin tidak menjawabnya. Ia hanya melirik, menatap marah pada pria itu.


"Jawab saja. Aku belum akan membunuhmu. Aku masih senang bermain-main dengan manusia," ucapnya, dengan wajah penuh simpatik yang membuat Alvin hendak meludahinya.


'Mina. Dia ini... Kapan aku bisa mengalahkannya?'


["Aku tidak tahu skill makhluk ini. Dia tidak terdaftar. Tapi, kalau dari segi energi Mana, perbandingan kuatan kalian bagaikan Bumi dan Bulan."]


'Apa?!'


["Kalau kemampuannya aku tidak tahu. Tidak ada makhluk jenis ini di masa depan. Monster-monster sejenis pengikutnya itu memang ada, tapi dia tidak."]


Baaaaaaammmm!!!


Alvin terpental sampai puluhan meter saat pria itu menjentikkan jari telunjuk di dadanya.


Ia kembali muntah darah setelah terkena serangan itu.


Saat Alvin baru saja mendarat di tanah berpasir, tubuhnya di tarik dengan kekuatan telekinesis.


'Sialan! Sihir apa ini? Aku tidak bisa bergerak!'


["Makhluk ini tidak menggunakan sihir khusus seperti wanita tadi. Kau tidak bisa bergerak cuma karena aura sihirnya saja."]


'Apa?!'


["Dia jauh lebih kuat dibandingkan si pirang tadi. Bertahanlah. Jangan aktifkan wujud Hunter Equipment atau dia akan langsung membunuhmu."]

__ADS_1


.........


__ADS_2