Hunter System

Hunter System
Bab 107 - Physical Education


__ADS_3

Sama seperti yang terjadi pada para hunter muda di lantai satu, George Maxwell juga memiliki rasa frustasi yang tergambar jelas di wajahnya.


Alvin melihatnya sedang berusaha untuk menghubungi ayahnya, namun sepertinya usahanya itu telah di tolak berkali-kali.


Ia mendengar nada penolakan Chris Maxwell pada ponsel George dan tiba-tiba merasa bersyukur karena ayahnya tidak pernah melakukan hal itu satu kalipun padanya, walaupun saat ia menjadi buronan Asosiasi.


Merasa putus asa karena panggilannya terus saja di tolak, George menghubungi orang lain, asisten pribadi ayahnya, namun usahanya juga ditolak.


'Mina, aku sudah lelah menunggu ini. Lebih baik aku ke Dungeon untuk menaikkan experience ku.'


["Yah..., terserah kau. Tapi aku curiga ada orang lain yang bekerjasama dengannya untuk mencelagai keluarga wanitamu. Orang macam dia ini tidak akan punya nyali sebesar itu."]


'Lebih baik kutanyakan saja secara langsung.'


["Terserah. Tapi aku akan membantumu memberikan pertanyaan."]


'Untuk apa? Aku bisa melakukannya sendiri.'


["Kau belum pernah menginterogasi penjahat, kan? Aku akan mendikte pertanyaannya."]


'Ya... ya... Sudahlah, waktu terus berjalan.'


["Ok... Ayo kita siksa dia."]


'...'


.........


"Kau sudah ditinggalkan," ucap Alvin akhirnya.


George secara refleks melompat dari kursinya, kaget saat mendengar suara seseorang di dekatnya.


Melihat tidak ada siapapun di dalam kamar itu, ia pun menatap ponselnya, lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya lagi.


"Hallo? Paman? Apa itu kau?" ucap George, sembari menajamkan pendengarannya.


"Apa perasaanku saja?"


"Tidak. Kau benar-benar mendengarku berbicara," sahut Alvin.


George berputar-putar, mencari wujud orang yang sedang berbicara padanya.


Saat ia masih tidak melihat siapapun juga, ia mulai gemetar.


"Hantu?" gumamnya.


Plak...


"Yo..., bro...," ucap Alvin, sembari menepuk pundak George dari arah belakang pria itu.


"Mati aku...!" umpat George sembari melompat menjauhi Alvin, saking terkejutnya.


Dengan wajah pucat dan mata melotot, George menatap Alvin hampir tak berkedip.


"Kau tidak akan mati. Tenang saja, ok?"


"Kau..."


"Mungkin kau akan mengalami sedikit cidera saja."


.........


Saat Alvin muncul secara tiba-tiba seperti itu, tentu saja membuat George kaget setengah mati.


Tapi, saat menyadari bahwa yang berada dihadapannya itu 'hanyalah' Alvin, George langsung mendengus kesal.


“Kau…,” George tersenyum sinis. Ia tiba-tiba merasa beruntung karena orang yang ingin dicelakainya itu malah datang sendiri menemuinya.

__ADS_1


“Aneh. Kenapa kau malah terlihat senang?” ucap Alvin sembari mengernyitkan alisnya.


George tertawa.


“Kau malah datang sendiri padaku. Bagaimana aku tidak senang?”


Alvin menggelengkan kepalanya.


“Kau harusnya takut.”


“Hah?”


“Kecuali kau bodoh.”


George mengerutkan keningnya.


"Cyntia saja tahu tidak ada hunter yang bisa menghilangkan hawa keberadaannya, apalagi bisa memghilang. Apa kau bodoh?"


Glup...


George baru menyadari hal itu.


Tapi, rasa takutnya datang dengan sangat terlambat. Alvin sudah menangkapnya dengan airbender lalu membantingnya ke dinding, ke langit-langit dan menghempaskannya dengan keras ke lantai hingga lantai itu jebol dan George terjeblos jatuh hingga terhempas dengan keras di lantai satu.


Alvin tidak langsung menyusulnya. Ia mengambil ponsel George, mengaktifkan perekam video, barulah ia turun ke lantai satu melalui lubang yang tubuh George tinggalkan.


Mina baru saja menyarankan hal itu padanya.


'Untuk apa kita merekam video?'


["Untuk menakut-nakuti orang-orang rusak di kota ini."]


'Bukankah aku akan menjadi buron? Bagaimana jika Asosiasi pusat sampai tahu?'


["Jangan khawatir. Aku akan mengurus bagian itu. Semuanya hanya akan diketahui hunter-hunter di kota ini saja."]


Sesampainya di lantai satu, Alvin melihat belasan hunter muda sedang mengerumuni George.


“Menyingkir darinya,” ucap Alvin pada belasan hunter muda itu.


Mereka menoleh dan menatap Alvin dengan marah.


'Hah? Mereka tidak takut padaku setelah aku membanting ketua mereka? Dan lagi, bukankah mereka tadi sedang menyesali apa yang mereka lakukan?'


["Kau Healer peringkat F bagi mereka."]


'Ah..., kau benar.'


["Ayo takut-takuti mereka dulu."]


'Yes, madam!'


["F**k!"]


.........


Satu dari dua hunter muda berperingkat paling tinggi di antara mereka maju menyerang. Dia adalah hunter yang ingin memukul Alvin beberapa hari lalu di depan kastil.


Wushhh… Brakkkk!


Saat hunter itu sudah berada dekat dengannya, Alvin menghempasnya dengan airbender, membuat hunter itu terpental jauh, menghantam dinding dengan keras hingga mengakibatkan beberapa bagian tulang tangannya patah.


Setelah melemparkan satu hunter, Alvin juga melakukannya lagi pada satu hunter lain yang ia tahu memiliki energi Mana paling banyak di antara mereka.


Setelah menyingkirkan dua hunter terkuat di antara para hunter muda itu, Alvin menatap sisa hunter yang juga sedang menatapnya dengan ketakutan, lalu menggertak mereka semua.


“Kalian lihat itu? Jika kalian tidak bodoh, menyingkir sekarang. Aku cuma memiliki urusan dengan orang itu,” ucap Alvin sambil menunjuk George yang masih meringkuk di lantai, memegangi salah satu kakinya yang patah.

__ADS_1


Semua hunter muda itu akhirnya menyingkir, meninggalkan George yang sedang meringis kesakitan. Bahkan, Healer yang tadinya sedang berusaha memulihkan kondisi kaki George pun ikut menyingkir.


'Nah, ini tatapan yang kumau dari mereka.'


["Good job. Kau harus lebih sering menakut-nakuti orang mulai sekarang."]


'...'


Alvin kemudian melemparkan ponsel George yang sudah dalam mode pengambilan video pada salah satu hunter.


“Tolong arahkan kameranya pada kami, ok?Jangan sampai ada adegan yang terlewat. Aku sedang mengambil video promosi.”


Hunter itu mengangguk dengan cepat lalu mengarahkan kamera ponsel pada Alvin dan George dengan tangan gemetar.


Alvin menghampiri George. Ia mendecak muak saat melihat George meringkuk kesakitan.


“Bukannya kau peringkat A? Kenapa sudah meringis seperti ini padahal bantingan itu tidak terlalu keras? Jangan-jangan kau sebenarnya tidak pernah bertarung dan merasakan di hajar monster?”


Dengan tatapan marah, George mendongak. “Kau…! Kau tahu apa yang kau lakukan ini adalah tindakan kriminal?!” umpat George.


“Aku tahu,” sahut Alvin, menirukan kata-kata Mina di dalam kepalanya. Ia kemudian menyeringai dengan aneh saat Mina menyuruhnya melakukan hal itu, lalu menunjuk ke arah kamera. “Aku bahkan sudah merekam tindakan kriminal ini untuk dikirimkan pada... Asosiasi.”


'Hah? Kau yakin?'


["Tentu. Katakan saja apa yang ku ucapkan. Ini sebagian skill seorang pemburu."]


'...Ya.'


“Kau breng…”


Bakkk…!


Alvin menendang mulut George, sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya.


Melihat George memegangi mulutnya yang berdarah akibat tendangannya telah melepaskan beberapa gigi pria itu, Alvin sempat memalingkan wajahnya sebentar sebelum akhirnya menatapnya lagi.


‘Walaupun ini sangat memuaskan, tapi sepertinya terlalu jahat, kan?’


[“Kau sudah pernah membunuh Miranda dan anak buahnya dan sekarang kau menganggap ini jahat?"


'Dia keponakan paman Arthur.'


["Lakukan saja seperti yang ku katakan. Lagian, dia sudah melakukan ini pada banyak hunter lemah saat ia masih tinggal di Amerika. Lakukan apa yang pernah dilakukannya pada orang lain agar dia jera, ok?”]


‘Dari mana kau tahu itu?’


[“Aku dan Rimi datang dari masa depan. Semua data hunter jahat ada pada Rimi.”]


‘…’


[“Ayo kita mulai lagi. Kau ingat judul lagu wanitamu? Physical Education. Bukankah ini mirip? Hehehe…”]


'...Kau gila.'


Alvin menatap George lagi dan memaksakan senyum padanya saat George menatapnya dengan tatapan marah.


“Kau lupa? Aku bukan sekedar melakukan tindakan kriminal. Aku sudah menjadi buron Asosiasi. Jadi hal-hal seperti ini tidak menjadi masalah bagiku.”


Alvin menangkap leher George dengan airbender lalu mengangkat tubuhnya hingga pria itu kini melayang-layang di udara.


“A-aha hang…”


Bukkk!


Alvin meninju perutnya.


“Diamlah saat aku belum bertanya!"

__ADS_1


__ADS_2