
Wanita muda itu mengira Alvin mungkin akan menyewa sebuah gedung atau sebuah Dungeon yang memiliki kisaran harga diantara 500.000 - 1.000.000 dollar saja.
Bukan karena dia meremehkan Alvin. Tapi, dari perkiraan usianya, ia menebak bahwa Alvin pasti belum memiliki tabungan sebanyak itu.
Tidak ada hunter semuda dia yang bisa memiliki tabungan sebanyak itu kecuali dia adalah anak seorang hunter senior yang sudah kaya raya.
'Apa dia sedang berlagak sok kaya?'
Wanita itu kemudian melihat ke sekelilingnya, siapa tahu ada kamera tersembunyi atau sejenisnya.
'Apa dia ini hunter yang sedang membuat konten di MeTube? Setelah syuting kamera tersembunyinya selesai, dia tidak akan meminta maaf dan langsung pergi, kan?'
Tapi, saat Vina datang satu jam kemudian untuk melakukan pembayaran, wanita itu akhirnya yakin bahwa Alvin adalah hunter muda yang sangat sukses.
"Siapa dia sebenarnya? Apa dia hunter yang baru di bangkitkan dengan peringkat tinggi? Atau salah satu anak hunter kaya raya yang baru pindah ke kota ini?" tanya wanita muda itu pada bos nya, saat ia sedang menyiapkan dokumen kontrak mereka.
"Kau tidak mengenalnya? Dia hunter dari Kota S."
"Ya?"
Wanita muda itu terdiam beberapa saat sambil mengingat-ingat keluarga kaya dari kota tetangga itu dan seingatnya tidak ada nama keluarga Rufino disana.
"Lewis, Maxwell...," ia kemudian terdiam saat mengingat nama itu. "Pak..., apa dia buronan Asosiasi Kota S itu?"
Manager itu mengangguk.
"Jaga ekspresi wajahmu. Kau mungkin tidak akan selamat jika menunjukkan wajah ketakutanmu ini di hadapannya."
"P-pak... Apa Anda meminta saya yang melayaninya karena Anda sudah mengenalinya sejak awal?"
Pria itu tersenyum. "Aku akan memberikan bonus lebih padamu."
"..."
"Oh... dan ingat. Menjaga kerahasiaan klien adalah salah satu layanan kita. Jangan ceritakan pada siapa pun bahwa hunter Rufino mengunjungi kita hari ini."
"Y-ya..."
Wanita itu tiba-tiba bergidik ngeri saat menyadari berapa lama ia berada dalam satu ruangan dengan buronan itu. Buronan yang dikatakan Asosiasi Kota S sebagai hunter gila dan seorang pembunuh berdarah dingin.
......................
Jack Paul yang sudah menunggu Alvin di pintu utama gedung Asosiasi langsung menyambut kehadiran pemuda itu saat melihatnya turun dari SUV hitam yang berhenti di bawah tangga gedung megah itu.
"Bro!" Seru Jack nyaring. Wajahnya tampak bersemangat di awal, namun ia langsung mengerutkan dahi saat melihat penampilan Alvin yang agak kotor.
Kecuali pakaian yang pria itu kenakan, seluruh tubuhnya tampak sangat kotor. Terlihat sangat jelas bahwa ia seperti baru saja keluar dari sebuah Dungeon. Banyak darah yang sudah mengering ditubuhnya.
__ADS_1
"Kau baru kembali dari Dungeon?"
"Ya."
"Begitu...," Jack mengangguk pelan, "Kenapa dia tidak mandi dulu dan baru pergi kesini? Apa dia ingin menakut-nakuti orang?" pikir Jack.
"Jadi..., dimana kita bisa berbicara?" tanya Alvin, saat melihat Jack melamun dihadapannya.
"Ah, maaf. Ayo ikut denganku." Ajak Jack yang kemudian membawa Alvin pergi ke ruangan kantornya.
.........
"Informasi apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Jack, setelah mereka duduk berhadapan diantara meja kerjanya.
"Aku akan langsung saja. Tolong kau simak apa yang kukatakan ini karena aku tidak akan mengulanginya."
"Tentu."
"Kau tahu aku bisa membuka gerbang, kan?"
Jack mengangguk.
Alvin melanjutkan, "Sebenarnya, aku bisa melihat dimana saja bakal gerbang Dungeon akan muncul sebelum gerbang itu benar-benar muncul di Bumi."
"Ap..."
Alvin kemudian mengeluarkan ponselnya lalu membuka map di ponsel tersebut. Ia memperbesar layarnya, lalu menunjuk ke 4 lokasi berbeda, sambil melihat peta transparan sistem di sebelahnya.
"Kau bisa memercayai apa yang kukatakan dalam 20 sampai 40 menit lagi," Alvin kemudian mengambil buku gambar dari dalam tas selempang yang biasa ia bawa setiap pergi ke Dungeon, lalu meletakkannya di atas meja. Ia kemudian beralih lagi pada peta di ponselnya dan mencatat nama-nama jalan di peta ke dalam buku gambarnya. "Jalan 12, 21, 42 dan 66," ucap Alvin, sembari menulis.
Jack mengangguk pelan. Ia tampak bingung, namun tidak bertanya apa pun dan hanya memerhatikan apa yang Alvin katakan.
"Di jalan 12 akan muncul gerbang Dungeon peringkan E dalam... 22 menit lagi. Di jalan 21 akan muncul gerbang Dungeon peringkat D dalam... 29 menit lagi. Di jalan...,"
Alvin memberitahukan keempat lokasi Dungeon sambil melihat peta transparannya, untuk melihat waktu kemunculan gerbang ke Bumi.
"Nah, silahkan kau hubungi tim petugas pemeriksa gerbang 40 menit lagi saat keempat gerbang itu sudah muncul semuanya."
Jack mengangguk. Ia kemudian tersenyum dan berbicara, "Apakah kita sudah lebih akrab sekarang?"
"Hah?"
Jack kemudian tertawa.
"Kau mengatakan akan memberitahukan kemampuanmu ini saat kita sudah lebih akrab." Sahut Jack yang kemudian tersenyum padanya. "Aku merasa sangat terhormat karena kau memberitahukan ini padaku, bro. Aku sangat menghargai itu."
Alvin mengangguk pelan. Ia akhirnya ingat pernah mengatakan hal itu.
__ADS_1
Tapi, bukan karena itu dia memberitahukan kemampuannya pada Jack.
"Maaf kalau aku lupa pernah mengatakan hal itu padamu. Tapi, aku memberitahumu mengenai kemampuanku ini bukan karena hal itu."
Jack mengerutkan dahinya, "Jadi..., apa ada hal lain?"
"Ya." Alvin kemudian menggeser lokasi peta di ponselnya dan menunjuk sebuah lokasi yang berada di daerah pinggiran sungai yang merupakan salah satu kawasan elit di Kota T. Itu adalah wilayah tempat tinggalnya, yang juga berdekatan dengan gudang yang baru ia sewa.
Alvin kemudian menggambarkan peta itu di buku gambarnya dengan bantuan Sistem. Ia menggambarnya dengan sangat cepat dan sangat bagus hingga berhasil membuat Jack terpukau.
Tapi, skill menggambar Alvin yang luar biasa itu tidak terlalu mengejutkan dibandingkan tiga baris kalimat yang baru saja Alvin tulis di atas sebuah lingkaran yang tertera pada gambar tersebut.
^^^Lokasi Dungeon Peringkat A.^^^
^^^Tanggal xx bulan xx tahun 2050.^^^
^^^Waktu kemunculan : Jam 18.15^^^
"Bro, apa kau serius?!" seru Jack saat membaca informasi yang Alvin tulis.
"Tunggu 15 menit lagi lalu lakukan panggilan pada tim pemeriksa lokasi gerbang. Jika satu saja dari keempat lokasi gerbang yang ku beritahu sebelumnya salah, kau boleh tidak memercayaiku." Sahut Alvin.
Setelah mengatakan itu, Alvin kemudian berdiri dan pamit, "Aku harus pergi sekarang. Kurasa kau sudah tahu apa yang harus Asosiasi Kota T lakukan untuk mencegah Dungeon Break."
Setelah mengatakan itu, Alvin berbalik dan pergi meninggalkan Jack.
"Bro..., t-tunggu... Kau mau kemana?"
"Ada hal lain yang harus kulakukan."
......................
"Apa dia memercayaimu?" tanya Raymond, begitu Alvin masuk kembali ke dalam SUV.
"Harusnya dia percaya. Tapi, itu terserah pada mereka."
"Tapi, kenapa kau justru menyewa gudang di dekat lokasi gerbang? Kau juga seharusnya pindah dari komplek itu sebelum gerbangnya muncul."
Alvin menggelengkan kepalanya. Justru karena itulah dia menyewa gudang yang berada di sekitar gerbang Dungeon peringkat A nantinya berada. Hal itu akan memberinya motivasi untuk berani mengambil quest yang Rimi berikan, agar ia bisa semakin kuat dan membantu Kota T keluar dari ancaman bahaya.
"Aku mungkin akan lebih bersemangat saat tahu bahwa orang-orang yang ingin kulindungi berada disekitarku." Sahut Alvin kemudian.
Raymond terdiam saat mendengar kalimat itu keluar dari mulut pria yang usianya terpaut 7 tahun lebih muda darinya. Ia menatap Avin sambil bergantian dengan menatap jalan sampai berkali-kali.
"Bro, kau tidak perlu mengatakan sesuatu yang keren dengan wajah pucat seperti itu."
"..."
__ADS_1
......................