
"Di mana dia?" Alvin bertanya balik.
Sedari awal Alvin memang tahu jika ada dewa penguasa galaksi dari planet monster yang akan menunggu kedatangannya. Anna sudah memberitahukan padanya mengenai hal itu.
Karena itulah dia bersikap sedikit santai pada dewa Voxa.
Tapi, dewa Voxa tidak menanggapinya.
Alvin bisa melihat rasa kekecewaan yang terpancar jelas dari raut wajah dewa berparas pria remaja itu.
Saat dewa Voxa mulai meragukan jaminan pembebasan yang dewi Ann pernah katakan padanya, sebuah suara terdengar berbicara pada dirinya.
"Jadi kau berkhianat dari kami, Voxa?" ucap suara yang berasal dari bola kristal abu-abu yang tiba-tiba saja muncul di dekat Alvin dan dewa Voxa.
Alvin langsung merasakan tekanan sihir yang luar biasa besar pada seluruh tubuhnya.
Kedua kakinya menekuk tanpa ia kehendaki dan ia pun jatuh berlutut dengan kepala tertunduk di hadapan bola kristal itu, bahkan sebelum ia sempat melihat wujud sang pemilik suara.
Hal yang sama juga terjadi pada dewa Voxa.
Seperti tidak memiliki kuasa lagi atas tubuh masing-masing, keduanya berlutut di hadapan bola kristal tersebut.
'Jadi ini yang Anna katakan...'
Alvin hendak mendongakkan kepala, namun lehernya kaku tak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan untuk melirik ke arah bola kristal itu saja tak bisa dilakukan kedua bola matanya.
'Aku harus melawan makhluk ini?!'
Perasaan ngeri yang sebelumnya sudah mulai mereda, meluap kembali.
.........
"Kau berpihak pada Ann, Voxa?" sambung dewan Re.
Suaranya terdengar sangat tenang.
Nada yang tenang dan dalam itu, membuat dewa Voxa justru terdiam seribu bahasa.
Walaupun tidak bisa melihat apa yang terjadi pada dewa Voxa, Alvin bisa merasakan jika tubuh dewa itu sedang gemetar hebat.
Alvin metahuinya dari getaran kecil pada pasir yang berada di bawah lututnya, yang ia tahu bukan disebabkan oleh energi sihir.
'Jadi dewan pengawas para dewa semenakutkan ini? Dewa saja sampai gemetaran dibuatnya.'
.........
Tidak ada jawaban dari dewa Voxa. Rahangnya yang gemetar terkatup, tidak berani menyahuti apa yang dewan Re tanyakan.
Dewan Re beralih pada Alvin.
"Angkat wajahmu," ucap dewan Re.
Kalimat itu terdengar seperti sebuah perintah yang meminta Alvin untuk mengangkat wajahnya.
__ADS_1
Namun, sebelum Alvin mendongak dengan kehendaknya sendiri, ia bisa merasakan lehernya bergerak. Kepalanya mendongak sebelum ia gerakkan.
Untuk pertama kalinya, Alvin bisa melihat wujud dari dewan pengawas para dewa.
Awalnya ia mengira jika dewan pengawas itu memiliki wujud yang sama persis seperti manusia.
'Bola kristal?'
"Jadi kau makhluk duplikat dari Damballa."
Alvin mendengar dewan pengawas Re terkekeh di akhir kalimatnya.
'Siapa itu Damballa?'
["Dia salah satu fallen angel yang pernah ku bunuh di masa lalu. Tsk... Pantas saja aku seperti pernah melihat wajahmu dan ingin rasanya memukulimu."]
'...'
.........
Sebuah cahaya keperakan terjulur keluar dari bola kristal.
Cahaya itu kemudian membentuk sebuah tangan, lalu melayang menuju kepala Alvin dan memegang kepala pria itu tepat di ubun-ubunnya.
"Jadi Lorelei juga sudah membagikan inti Mana padamu," ucap dewan Re setelah menyentuh kepala Alvin selama beberapa detik.
Ia sedang membaca ingatan masa lalu Alvin dan tertawa nyaring setelahnya.
"Dan Ann memintamu untuk membinasakanku," dewan Re terkekeh, merasa hal tak masuk akal yang diperintahkan dewi Ann pada seorang makhluk ciptaan itu sangat lucu. "Makhluk sepertimu ingin membinasakanku?"
Hanya dari suara tawanya saja, Alvin bisa merasakan tekanan energi sihir yang jauh lebih mengerikan dibanding sihir yang masih membelenggu tubuhnya dan dewa Voxa, hingga mereka tidak bisa menggerakkan anggota tubuh sama sekali.
Pasir-pasir tandus yang memenuhi hampir seluruh permukaan planet monster mengambang naik ke udara akibat pengaruh sihir tersebut.
Tanah tandus yang ditinggalkan bergetar dan mulai retak di sana sini.
Tapi, walaupun keadaan tampak dan terasa mulai mencekam, rasa gentar Alvin justru kembali memudar setelah mendengar ucapan dewan pengawas Re.
Rasa takutnya telah menguap entah kemana, digantikan perasaan marah setelah dia merasa dipermainkan dan diejek oleh dewan pengawas para dewa itu.
Wajah Brondy Lewis tiba-tiba saja muncul di dalam ingatannya.
'Bajingan ini! Apa dia nenek moyang Brondy?!'
......................
"Kenapa kau memilih mengkhianati kami?" dewan Re beralih pada dewa Voxa lagi, mengabaikan Alvin yang ia tahu sedang terbakar kemarahan.
"Apa kau pikir Ann sekuat itu? Kalau dia memang memiliki kekuatan seperti yang dibicarakan para dewa, kenapa dia tidak menyelesaikan masalahnya sendiri dan datang menemuiku?" ucap dewan Re, berusaha menghancurkan rasa percaya dewa Voxa pada dewi Ann.
"Apa kau mengira dia bisa menghancurkan sebuah galaksi hanya dengan mengangkat satu jari seperti dongeng yang beredar di dunia para dewa?"
"Dia terlalu kuat hingga harus berhati-hati menggunakan kekuatannya di sebuah galaksi? Itukah yang kau dengar?"
__ADS_1
Dewan Re tertawa nyaring setelah mengatakan cerita yang selama ini beredar di dunia para dewa dan sepertinya dipercaya dewa Voxa.
"Kau sudah tertipu, Voxa. Tidak ada yang seperti itu. Dia hanya sedikit lebih kuat dibandingkan dewa lain. Dia cuma menipumu untuk melarikan diri dari tanggung jawabnya,"
"Dia tidak datang sendiri karena dia takut padaku!"
Dewan Re tertawa lagi setelah mengakhiri kalimat mengejeknya pada dewi Ann.
Lalu setelahnya, kilatan cahaya keperakan lain muncul dari permukaan bola kristal.
Kilatan cahaya itu menghantam dewa Voxa dengan sangat keras, hingga tubuh dewa malang itu terpental jauh dan jatuh bergulingan setelah terbang melayang sejauh puluhan kilometer.
Setelah dewa Voxa lenyap dari tempat itu, cahaya keperakan berwujud tangan yang masih mencengkram pucuk kepala Alvin mulai menekan tengkorak kepalanya.
Krtak... Krtak...
"Energi Mana pelindung?" gumam dewan Re yang kemudian terkekeh lagi.
Tanpa bisa bergerak sedikitpun, Alvin merasakan jemari keperakan yang sedang memaksa melobangi kepalanya itu sedang berusaha menembus Hunter Helmet yang melindungi kepalanya.
Tapi, tangan dan bola kristal itu langsung lenyap, saat Alvin yang tiba-tiba saja bisa bergerak, mengayunkan pasak besi pada bola kristal.
Wusssshhh...
Bola kristal terbang tinggi menghindari serangan. Namun, Alvin yang tentu saja tidak membiarkan bola kristal itu melarikan diri, sudah muncul lagi di hadapannya.
Wushhh... Wushhh...
Alvin mengayunkan pasak besi berulang kali, berusaha untuk bisa menggoreskan senjatanya pada kristal tersebut.
Hanya butuh sebuah goresan, maka ia akan bisa membalas permainan yang dewan Re lakukan padanya.
.........
Bola kristal lenyap dari hadapan Alvin.
Bola itu berpindah ke darat dengan sudah memiliki tubuh, sepasang kaki, dan sepasang tangan yang terbuat dari cahaya keperakan di sisi bagian bawahnya, sementara bola itu sendiri menempati bagian teratas cahaya, bertindak sebagai kepala dari tubuh yang terbentuk oleh cahaya keperakan.
"Kau bisa melepaskan diri dari sihir pembelenggu?"
"Return Gate!"
Alvin membuat sebuah portal skill tepat di bawah kaki dewan Re.
Portal itu menelan seluruh tubuh dewan Re yang terbentuk dari cahaya, lalu melontarkannya lagi dari portal yang berada di hadapan Alvin.
Tapi, bukannya Alvin yang berhasil menyarangkan sebuah tusukan, seperti yang sudah direncanakannya, pada dewan Re setelah kemunculannya dari gerbang itu, namun dewan Re lah yang lebih dulu menyerangnya.
Baaaaamm!!!
Sebuah tinju mendarat telak di wajah Alvin, tepat setelah dewan Re muncul dihadapannya.
Alvin terpental dan melayang selama 0.1 detik, sebelum tubuhnya tiba-tiba terhenti dan terkena hantaman keras sekali lagi di wajahnya.
__ADS_1
Bannnnnnngggg!!!