Hunter System

Hunter System
Bab 226 - Gerombolan Dewa Di Celah Dimensi


__ADS_3

"Jadi saudara si keparat itu yang memindahkan kami ke dunia pengasingan! Pantas saja..., kukira aku sudah tidak memiliki musuh," ucap Alvin sembari menatap tajam dewa Roa dari layar sihir yang terbentang di hadapannya.


"Karena dia sudah menyusup ke tempatku, berarti dia telah melanggar hukum Absolut."


Alvin dan Mina menatap sang Serafim dan sang Serafim mendongak lalu tersenyum penuh arti pada Alvin yang berdiri di sebelah kanannya.


"Aku sebenarnya ingin mendatangi dan menghabisinya. Kecuali kau mau melakukannya untuk membalas perbuatannya padamu."


"Tentu saja. Biarkan saya yang menghukumnya, buyut guru!" seru Alvin.


Alvin yang pada dasarnya pendendam, tentu akan dengan senang hati melakukan hal tersebut.


"Tapi, bagaimana kami bisa pergi ke sana? Bukankah Anda tidak diizinkan membuka gerbang, kakek guru?" tanya Mina.


"Kami tidak diizinkan membuka gerbang ke sebuah wilayah yang memiliki dewa penguasa. Karena dia berada di celah dimensi, jadi kami boleh melakukannya."


"Apa itu berbeda?"


"Tentu saja. Celah dimensi adalah wilayah tak bertuan. Siapa pun yang memiliki sihir pembuka gerbang diizinkan pergi ke sana."


Mendapat pengetahuan itu, Mina tiba-tiba memiliki sebuah ide.


"Kalau begitu, kakek guru, tidak bisakah Anda mengajari kami untuk bisa menggunakan sihir pembuka gerbang?"


Sang Serafim langsung tertawa. Ia kemudian menggelengkan kepala. "Hanya malaikat dan entitas di atasnya yang bisa menggunakan sihir pembuka gerbang. Kalian tidak akan bisa melakukannya walaupun mengetahui rahasia sihirnya."


Sigh...


Sang Serafim mengabaikan kekecewaan yang tampak di wajah Alvin dan Mina. Ia kemudian mengambil tasbih kristal yang tergantung di lehernya lalu membagi kalung tersebut menjadi dua bagian.


"Aku hanya bisa membantu kalian dengan ini."


Alvin dan Mina menerima tasbih kristal dengan kedua tangan mereka.


Tanpa diberitahukan apa fungsi tasbih kristal tersebut, Alvin dan Mina sudah bisa merasakan fungsinya setelah kulit mereka bersentuhan dengan tasbih yang masing-masing kini hanya seukuran pergelangan tangan.


Mereka kemudian melingkarkan tasbih tersebut di pergelangan tangan dan bisa merasakan fungsi dari tasbih sihir itu dengan lebih nyata lagi.


'Luar biasa, kristal sihir ini bisa meningkatkan kekuatan berkali lipat!'


.........


"Katakan saja jika kalian sudah siap, aku akan membukakan gerbang untuk pergi ke celah dimensi."


Alvin dan Mina mengangguk pelan bersamaan.


"Anda bisa membuka gerbangnya sekarang, buyut guru."

__ADS_1


Wushhhh...


Gerbang sihir langsung terbuka di hadapan mereka begitu Alvin menyatakan kesiapannya.


"Aku tahu kalian sangat kuat. Tapi, sebisa mungkin, jangan membunuh dewa yang tak bersalah," ucap sang Serafim memberi nasehat sebelum akhirnya tertawa nyaring.


"Dewa tak bersalah? Apakah ada dewa lain selain si keparat itu?" tanya Alvin penasaran.


"Pergilah. Kalian akan tahu nanti," sahut sang Serafim.


Alvin dan Mina menganggukkan kepala mereka lalu masuk ke dalam gerbang sihir di hadapan mereka.


Setelah berpindah lokasi ke sebuah gua, betapa terkejut keduanya saat melihat ada banyak sekali dewa di sekeliling dewa Roa.


"Ku kira cuma ada satu atau dua dewa lain yang sedang bersamanya."


......................


Dewa Roa mengembalikan cawan penuh anggur ke atas meja setelah mengosongkan isinya dengan sekali tegukan.


Ia kemudian berdiri tanpa melepaskan pandangannya dari Alvin dan Mina yang baru saja keluar dari sebuah gerbang sihir.


Selain heran karena makhluk ciptaan seperti mereka bisa membuat gerbang, ia juga merasa heran karena ada hal aneh yang bisa dirasakannya dari kedua makhluk pusaran putih tersebut, dia tidak bisa merasakan energi Mana mereka sama sekali.


"Apa kau mengenal mereka?" tanya dewa lain yang sudah berdiri di samping dewa Roa.


"Mereka makhluk rendahan yang kukirimkan ke dunia pengasingan."


Dewa Roa menggeleng.


"Apa kalian juga tidak bisa merasakan energi Mana mereka?" tanya dewa lain yang sudah menyadari hal itu.


Tatapan dewa Roa turun ke masing-masing pergelangan tangan Alvin dan Mina. Ia kemudian mengenali benda pusaka yang melingkar di tangan masing-masing makhluk yang sudah ia anggap sebagai musuhnya itu.


"Tasbih Serafim. Jadi karena itu..."


.........


"Karena kita sudah bertemu, ayo kita selesaikan urusan kita sekarang," ucap Alvin setelah selesai mengamati ratusan mantan dewa penguasa dan dewa perang di dalam gua itu.


Jika sebelumnya ia tidak bisa merasakan energi Mana sosok dewa, kali ini ia bisa merasakannya. Ia juga bisa mengerti bahasa asing yang mereka gunakan.


Berkat tasbih sihir yang Serafim berikan padanya, Alvin bahkan bisa merasakan jika ia dan Mina bukan hanya berada di dalam sembarang gua.


Ia tahu jika gua itu terbentuk dari energi Mana dewa Roa dan beberapa dewa yang berada di sana. Ia juga tahu jika mereka sebenarnya sedang mengambang di ruang hampa udara di angkasa bebas.


"Berani sekali makhluk rendahan sepertimu berbicara seperti itu pada dewa!" salah satu dewa mengumpat.

__ADS_1


Ia juga sudah mencabut pedangnya dan langsung melesat menyerang Alvin setelah berbicara.


Wush...


Sratttttt...!


Sebelum dewa itu tiba di dekat Alvin, Mina sudah lebih dulu bergerak dan memenggal tubuhnya menjadi dua bagian, tepat dari antara kedua kaki sampai pucuk kepalanya.


Melihat bagaimana mudahnya makhluk yang mereka anggap rendah itu membunuh salah satu rekan mereka, seluruh dewa yang awalnya meremehkan kini menjadi sangat waspada.


"Apa mereka berdua ini sebenarnya sangat kuat?"


"Tentu saja. Bagaimana bisa mereka membunuh Zei jika tidak?" ucap dewa Roa.


Alvin tertawa.


"Bukan cuma bajingan lemah itu. Kami bahkan sudah membunuh dewan pengawas para dewa!" seru Alvin lantang.


Ia tahu jika para dewa sangat takut pada kekuatan dewan pengawas para dewa. Karena itulah dia memberitahukannya untuk memperingatkan dewa-dewa yang telah bersekutu dengan dewa Roa.


Mungkin beberapa dari mereka yang ketakutan akan memilih untuk tidak ikut campur.


Mengurangi jumlah lawan adalah hal terbaik yang bisa ia lakukan. Lagian dia juga tidak memiliki urusan dengan dewa lain. Itulah yang Alvin pikir dan rencanakan.


Lagian, sang Serafim sudah berpesan pada mereka untuk sebisa mungkin tidak menghabisi dewa yang tidak bersalah, yang tidak berhubungan dengan mereka berdua.


......................


Apa yang Alvin pikir dan rencanakan tampak berhasil.


Beberapa puluh dewa tampak terkejut dengan apa yang baru saja diucapkannya dan mulai berdesakan menghampiri dewa Roa.


"Apa yang dia katakan benar?"


"Kenapa kau tidak memberitahu pada kami?"


Bukannya merasa tidak nyaman setelah menutupi hal itu dari para sekutunya, dewa Roa justru mengumpat marah.


"Jika aku sampai menjebaknya untuk mengakhiri hidupnya, kalian pikir sekuat apa dia?!" umpat dewa Roa.


Ia sama sekali tidak merasa takut jika beberapa dari mereka meninggalkannya. Ia tahu, dewa-dewa yang protes itu adalah yang terlemah di antara mereka.


'Pantas saja mereka kehilangan pusaran dengan sangat mudah. Ternyata mereka sebodoh ini.'


"Kalau begitu aku tidak akan mencampuri urusanmu! Selamat tinggal!" ucap salah satu dewa.


Bukan hanya dia, beberapa puluh dewa kemudian pergi meninggalkan gua tersebut melalui gerbang sihir yang mereka ciptakan.

__ADS_1


"Pengecut!" umpat dewa Roa setelah melihat lebih dari separuh dewa meninggalkan gua.


"Mereka bukanlah pengecut. Mereka tahu jika mereka tidak memiliki urusan apa pun dengan kami. Lagian, untuk apa mereka membantumu? Apa kau menjanjikan sesuatu yang terlalu muluk pada mereka?" ucap Alvin, menyela kalimat dewa Roa.


__ADS_2