
"B-bro... I-ini... siapa sebenarnya penempa yang membuatkan barang-barang ini untuk kita?" tanya Thomas dengan tangannya yang masih gemetar setelah ia selesai memeriksa seluruh status dari perlengkapan raid yang Sistem buat.
"Aku tidak bisa memberitahu mu. Dia memintaku untuk merahasiakan tentangnya," sahut Alvin yang kemudian tersenyum kaku.
["Hmmm..."]
'...'
Thomas mengangguk pelan. Ia bisa memahami kenapa sang penempa ingin merahasiakan jati dirinya.
"Dia pasti minta dirahasiakan karena ingin hidup dengan tenang," pikir Thomas. Ia menanyakannya hanya karena penasaran setelah melihat kualitas produk hasil buatan sang penempa dan tidak masalah jika si penempa memang tidak ingin dikenal.
Dan lagi, ia tidak perlu mengetahuinya karena Alvin sudah mengatakan bahwa penempa itu akan selalu membuatkan produk untuk perusahaan mereka.
Walaupun Thomas sebenarnya salah paham, namun apa yang ia pikirkan tidak sepenuhnya salah. Orang dengan kemampuan seperti itu tentu akan sangat dicari oleh banyak hunter untuk bisa membuat perlengkapan dengan pesanan khusus.
Thomas kemudian melihat ke sebuah ukiran inisial yang berada di bagian bawah tiap bilah pedang dan tombak, juga pada bagian dalam semua set armor yang bertuliskan 'Mina'.
'Apa ini inisial nama penempa?'
Alvin mengikuti arah tatapan mata Thomas, lalu bertanya pada Sistem. Ia juga penasaran dengan inisial nama itu.
'Apa itu nama mu?'
["Aku mengukirnya hanya agar produk perusahaan mu memiliki nilai jual yang baik. Akan bagus jika sebuah produk hasil buatan tangan memiliki inisial nama pembuatnya."]
'Begitu... Ku pikir itu nama mu. Tapi, bagaimana jika mulai sekarang aku memanggilmu Mina?'
["..."]
Alvin dan Sistem Pemburu : "..." ["..."]
'Rimi juga terkadang suka seenaknya saja, kan?'
.........
"Nah, aku sudah memenuhi janji ku. Aku akan pergi sekarang." ucap Alvin pada Thomas, yang masih menatap ukiran nama di sebuah armor berbahan kulit belalang.
"A-apa? Bagaimana dengan harga-harganya?"
"Kau manager pemasaran, kan? Aturlah sesukamu selama itu bisa menghasilkan keuntungan yang baik untuk kita."
Alvin langsung pergi meninggalkan Thomas setelah ia berpamitan sekali lagi.
Ia akhirnya kembali lagi ke Dungeon setelah selama 3 hari sibuk mengurus sistem manajemen perusahaan yang ia dirikan.
Namun, di sela-sela kesibukannya itu, ia tetap terus melaksanakan quest harian, mingguan dan bulananya untuk memperkuat status-status pasif nya.
......................
Alvin, Raymond dan enam hunter lain yang sudah menandatangani kontrak sebagai tim pengangkut mayat monster dan penambang kristal sihir akhirnya tiba di lokasi yang Alvin tahu akan ada bakal gerbang.
Ini adalah pertama kalinya mereka bekerja bersama secara resmi setelah penandatanganan kontrak.
__ADS_1
Mereka tiba di sana dengan 6 truk pengangkut milik perusahaan yang dikemudikan oleh keenam hunter kontrak, sementara Alvin dan Raymond mengendarai SUV perusahaan mereka.
"Bro, dimana gerbangnya?" tanya Raymond kebingungan saat tidak melihat apa pun saat mereka sudah tiba di lokasi yang navigasi mobil tunjukkan.
"Lihat di sebelah kiri," sahut Alvin sambil menekan sebuah tombol pada layar transparan di hadapannya.
Raymond menoleh ke arah itu namun tidak menemukan adanya gerbang juga di sana, sementara Alvin sudah keluar dari SUV.
Ia pun segera turun lalu berlari kecil menyusul Alvin.
"Di ma... Woooowwww!!!"
Alvin dan Raymond sama-sama terkejut saat melihat lingkaran sihir hitam yang kemudian membentuk sebuah gerbang Dungeon tiba-tiba muncul di hadapannya. Namun Alvin bisa dengan cepat menyembunyikan rasa terkejutnya itu.
"A-apa...? Bagaimana bisa."
"Ayo masuk," ucap Alvin tanpa memerdulikan keterkejutan Raymond dan keenam hunter penambang yang masih melotot dan menganga lebar saat melihat gerbang Dungeon yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka.
.........
Setelah mereka semua berada di dalam Dungeon, Alvin menutup kembali gerbangnya.
Hal itu tentu saja membuat semua orang yang masih belum pulih dari rasa terkejut mereka, kembali terkejut. Mereka mengira bahwa mereka terjebak di dalam Dungeon itu seperti Miranda dan rekan-rekannya.
"Jangan khawatir. Aku akan membuka gerbangnya lagi saat kita akan keluar," ucap Alvin. Ia bisa menangkap rasa takut rekan-rekannya dari wajah mereka.
Alvin kemudian mengambil sebuah buku gambar yang sudah disediakannya, lalu menggambar peta Dungeon dengan bantuan Sistem.
"Bro! Bagaimana kau bisa melakukan hal itu?"
"T-tapi..."
"..."
"B-baiklah. Maafkan aku..."
"Nah ini petanya. Kalian tambang terlebih dahulu kristal-kristal sihirnya sementara aku memburu para monster."
.........
Alvin sudah menyelesaikan raid bahkan lebih cepat daripada rekan-rekannya menambang kristal sihir di seluruh lokasi penambangan di dalam Dungeon tersebut.
Memiliki status yang sangat bagus, tentu saja bukan menjadi hal yang sukar ia lakukan lagi untuk menghabisi seluruh monster di Dungeon peringkat D itu, walaupun ia melakukannya tanpa poison skill sama sekali.
Selain karena ingin melatih teknik bertarungnya menggunakan job Warrior dan Assassin, Sistem juga melarang Alvin menggunakan poison skill jika lawannya tidak membuatnya sangat kerepotan.
Poison skill akan membuat semua mayat terinfeksi racun yang nantinya akan membuat Sistem kerepotan menetralkannya. Racun-racun itu tidak boleh tertinggal sama sekali di mayat monster, karena hal itu akan berpengaruh sangat buruk bagi hunter-hunter yang nantinya akan membeli perlengkapan raid dari perusahaan mereka.
.........
Raymond dan keenam hunter penambang juga akhirnya mengerti kenapa nilai kontrak mereka sangat tinggi.
Selama dua minggu penuh ini, ia akhirnya tahu bahwa nilai kontrak itu benar-benar sesuai dengan rasa lelah yang mereka alami setelah Alvin mengajak mereka pergi ke 3 Dungeon setiap hari, tanpa ada libur seharipun.
Raid tanpa henti itu juga membuat gudang penyimpanan mereka menjadi sangat penuh dan Sistem harus bekerja ekstra untuk menguliti mayat-mayat monster, memilah tulang dan daging, juga menempa perlengkapan raid yang Alvin butuhkan untuk perusahaannya.
__ADS_1
.........
"Kenapa Rimi tidak memberikan quest utama pada ku lagi?" tanya Alvin pada Sistem, saat ia sedang mengecek statusnya.
["Kau harus mencapai level 61 dulu untuk mendapatkan quest utama. Rimi akan menyesuaikan kemampuanmu sebelum memberikan sebuah quest utama."]
Alvin mengangguk pelan. Ia mengingat-ingat kembali tingkat kesulitan yang ia hadapi setiap menjalankan quest utama.
"Quest utama berikutnya pasti akan lebih susah kalau aku harus menunggu sampai level 61, kan?"
["Lihat saja nanti,"] sahut Sistem yang kemudian tertawa kecil. ["Fokus saja naikkan level mu dengan Dungeon-dungeon dari peta pengidentifikasi bakal gerbang itu."]
"Aku tahu itu. Tapi..., experience point yang terkumpul agak lambat karena Dungeon-dungeon itu hanya berperingkat C ke bawah," keluh Alvin.
Terakhir kali melakukan quest dari Rimi, ia sudah berada pada level 55 dan sekarang ia baru berada pada level 59 walaupun sudah melakukan raid selama 2 minggu penuh.
["Itu bagus, kan? Kau bisa memenuhkan gudang mu sebelum kita akan bekerja dengan serius nantinya."]
"Bekerja dengan serius? Pekerjaan apa yang kau maksud?"
["Kau akan tahu nanti. Untuk itulah kami datang dari masa depan. Kau pikir kami datang hanya untuk membantumu jadi orang kaya?"]
"..."
Alvin sebenarnya bisa menyadari hal itu. Hanya saja, ia memang tidak ingin menanyakannya. Ia tahu bahwa tidak mungkin sistem secanggih Sistem Pemburu dan Sistem Kecerdasan dikirimkan ke masa lalu hanya untuk bermain-main. Mereka pasti mempunyai sebuah tujuan dan Alvin menebak bahwa itu adalah hal yang besar dan mungkin sangat berbahaya.
Alvin hanya ingin menikmati prosesnya terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan yang harus ia lakukan dengan Sistem nanti.
.........
"Kau sedang melamun?" tanya Vina, saat melihat Alvin tampak termenung sambil menatap ke arah ruangan pembeku dimana mayat-mayat monster menumpuk.
"Tidak. Aku hanya sedang memikirkan sepertinya kita harus mencari tempat yang lebih luas untuk tempat penyimpanan," sahut Alvin. Ia tadi memang sedang memikirkan hal itu sebelum berbicara pada Sistem yang sedang bekerja di dalam inventory.
Vina tertawa kecil mendengarnya.
"Kau sudah dewasa ya? Kau sudah bisa memikirkan tentang perusahaan." ucap Vina yang akhirnya tertawa lagi setelah mengakhiri kalimatnya.
"Tsk... Umurku sudah 25 tahun, ok? Dan aku hanya lebih muda 2 tahun darimu."
"Oh, kedewasaan bukan tentang umur. Beberapa bulan lalu kau bahkan tidak memikirkan masa depanmu dengan benar. Apa kau tidak menyadarinya?"
Alvin mendengus kesal. Ia tidak menanggapi ucapan itu. Ia sebenarnya selalu memikirkan masa depannya dengan sangat serius untuk menjadi seorang hunter profesional. Hanya saja, ia tidak memiliki daya apa pun pada saat itu selain tekad dan terus bekerja keras walaupun banyak hinaan yang menerpanya hampir setiap hari.
"Ngomong-ngomong, kenapa kau memilih nama Rufino sebagai nama perusahaannya?" tanya Alvin.
Ia agak bingung saat tahu kakaknya akhirnya memakai nama keluarga mereka sebagai nama perusahaan, sementara mereka sebelumnya sudah mendiskusikan bahwa tidak akan memakai nama inisial apalagi nama keluarga sebagai nama perusahaan untuk menghindari keberadaan mereka diketahui keluarga Lewis.
"Setelah ku pikir-pikir, itu adalah nama yang justru tidak akan disangka-sangka oleh keluarga Lewis. Dengan kesombongannya, Norman Lewis pasti tidak akan mengira perusahaan Rufino kita adalah perusahaan milik orang yang sama dengan orang yang dia cari."
Alvin mengangguk kecil.
"Kau benar..."
...****************...
__ADS_1