
Alvin berusaha menangkis semua serangan lawan dengan pedang dan perisainya.
Walaupun semua serangan itu tidak bisa mengenai tubuhnya secara langsung, tapi formasi menyerang party lich, yang menyerangnya dengan sangat sistematis, berhasil membuatnya kesulitan untuk meloloskan diri dari kepungan.
Party itu selalu mengganti tim penyerang setelah para penyerang jarak dekat sudah mulai kehabisan energi Mana.
Saat lich Assassin mundur, lich Warrior masuk ke formasi garis depan untuk menggantikan mereka.
Ia juga tidak bisa menggunakan kesempatan saat lich Assassin itu mundur untuk meloloskan diri dari kepungan 5 lich Tank, karena pada saat itu para penyerang jarak jauh menghujaninya dengan panah dan bola api.
Sedangkan Tanker mereka yang sangat menyulitkan itu, tidak pernah kekurangan energi Mana karena lich tipe support selalu membantu memulihkan energi Mana mereka.
"Jadi begini cara bertempur dengan party... Mereka sangat merepotkan..."
Setelah bertarung seperti itu terus selama hampir setengah jam, Alvin akhirnya mengerti pola serangan dan cara lawan mengganti-ganti penyerang.
Ia pun mulai menyusun rencana bersama Mina, untuk menyerang balik.
"Mina, jika aku menyerang lich Mage itu, apa mereka bisa langsung ku bunuh? Mereka peringkat S, kan?"
["Gunakan thunderbolt atau shuriken. Mereka peringkat S, tapi cuma peringkat S dari zaman ini. Dengan attack booster mu, mereka tidak sekuat yang kau pikir."]
"Baiklah. Terima kasih."
["Tapi, yang perlu kau bunuh dulu itu sebenarnya Healer mereka yang selalu memulihkan energi Mana Tank. Ambil kesempatan saat lima Tank ini kehabisan energi Mana. Pada saat itu kekuatan aggro dan taunt mereka berkurang drastis."]
"Aku mengerti."
Beberapa menit kemudian, Alvin akhirnya mendapat kesempatan tersebut.
Saat sihir aggro Tanker melemah, ia mengganti job ke Assassin dan menghilang dari dalam kepungan lalu pergi menghampiri lich Healer.
Slash... Slash... Slash... Slash...!
Alvin berhasil menebas leher keempat Healer, kunci party lawan yang membuatnya sangat kerepotan.
Tidak sampai disitu, ia mengganti job lagi dan menyerang semua penyerang jarak jauh yang berada di dekat lich Healer, juga lich Warrior yang sedang memulihkan kembali energi Mana mereka di tempat itu, dengan thunderbolt.
Zlarrr... Zlarrr... Zlarrr...!!!
Walaupun lich-lich Mage dan Warrior itu setara dengan hunter peringkat S, namun saat mereka terkena serangan dengan kekuatan sihir maksimal dari Alvin, mereka tetap tidak dapat menahan kekuatan sambaran petir itu.
Semua lich yang ada di area itu pun akhirnya hangus terbakar tanpa ada satupun yang selamat.
Alvin mengganti job lagi ke Warrior. Ia mengambil pedang dan memenggal semua kepala lich Mage dan Warrior lalu menghancurkan kepala mereka untuk memastikan kematian para lich itu.
Hanya ada 7 lich lagi yang tersisa. Mereka adalah lich Tank dan Assassin yang tadi ia tinggalkan dengan secepat mungkin menggunakan speed booster.
Alvin menggunakan job Tank untuk menghadapi mereka lagi. Ia memerlukan self defence dari job itu, yang tidak memerlukan banyak energi Mana.
Ia juga menyimpan semua senjata dan bertarung hanya menggunakan tangan kosong saja dengan teknik tinju yang sudah sangat berkembang pesat dari hasil latihannya hari demi hari.
.........
Alvin memanfaatkan speed booster nya untuk mengelak dari serangan dua lich Assassin sementara ia juga terus melakukan jab-jab keras untuk menghancurkan sihir pelindung Tanker.
Mereka terus bertarung seperti itu sampai beberapa menit, sementara Alvin menunggu energi Mana nya pulih setengah dari kapasitas yang ia miliki.
Setelah target pemulihan energi Mana terpenuhi, Alvin dengan cepat mengganti job ke Assassin dan menghabisi dua lich Assassin dengan sangat cepat.
Srattt... Srattt...!!!
Tanpa adanya aggro bersihir kuat dari kelima Tanker yang hampir kehabisan energi Mana, Alvin akhirnya bisa memenggal leher kedua lich Assassin.
Setelah itu, ia menggunakan spider webs untuk menjerat kelima lich Tank, lalu meledakkan mereka dengan thunderbolt.
Tidak lupa, Alvin juga memenggal kepala kelima lich itu lalu menghancurkannya setelah itu.
.........
Alvin berdiri diam di dekat tubuh lima lich Tank sambil fokus membantu recovery sistem untuk memulihkan energi Mana dengan skill job Healer nya.
Ia sama sekali tidak berpuas diri karena telah berhasil menghabisi party lich hunter. Ia tahu, yang namanya lich, pasti akan bangkit setelah kematian mereka.
Dan hal itu terjadi beberapa menit kemudian.
Lich Healer, Mage dan Warrior yang lebih dahulu mati akhirnya bangkit kembali. Tapi, Alvin tertawa saat melihat mereka tampak kebingungan mencari-cari lokasi keberadaan musuh dengan meraba-raba, karena kepala mereka telah hilang dan sudah dihancurkan.
Alvin sudah memperkirakan hal itu. Karena itulah ia memenggal semua kepala lawan lalu menghancurkannya.
Alvin mendekati mayat hidup itu lalu membakar mereka semua.
.........
__ADS_1
"Menurut pelajaran yang kuterima di Akademi, mereka akan mati jika dibakar dengan sihir api membara selama beberapa menit, kan?" ucap Alvin, sambil terus membakar 23 lich yang berada dihadapannya itu.
"Rimi, bisakah kau memberitahu kenaikan levelku dengan cara biasa saja?"
"..."
["Tidak kusangka kau pintar juga."]
"Tsk... Aku mengingat apa yang kupelajari di Akademi dulu. Asalkan mereka ini lich normal, mereka akan mati dengan sihir api yang kuat."
["Kau benar. Tapi, mereka sebenarnya tidak normal."]
"Benarkah?"
["Mereka harusnya tidak bisa dibangkitkan saat kehilangan kepalanya, kan?"]
"Apa harusnya begitu?"
["Huh? Lalu, untuk apa kau hancurkan kepala mereka jika tidak berpikir begitu?"]
"Aku cuma ingin mereka kebingungan saat bangkit tanpa kepala."
["..."]
Alvin dapat mendengar suara Rimi tertawa cekikikan.
"Rimi, kau sebenarnya bisa berbicara normal seperti Mina, kan?"
<...>
.........
Setelah menghanguskan tubuh dan tulang-tulang mereka, Alvin juga membakar 7 lich lain yang baru saja bangkit.
["Apa masalahnya?"]
"Kalau menghabisi pasukannya saja mendapat kenaikan 3 level, bagaimana jika level ku kelewatan setelah berhasil menghabisi bos nya?"
["Itu tidak akan terjadi."]
"Hah? Kenapa?"
["Hancurkan pilar sihir lalu keluar saja. Kau mungkin akan mati jika menghadapi bos nya."]
"Bukankah kau bilang Dungeon ini bagus untuk latihanku?"
["30 lich hunter itu yang bagus untuk latihan. Tidak dengan bos Dungeonnya."]
"Apa bos nya masih diluar kemampuanku untuk menanganinya?"
["Ya. Mereka masih jauh dari kemampuanmu."]
Alvin sedikit kesal mendengarnya. Padahal, beberapa waktu lalu ia sudah senang saat menebak bahwa dia mungkin sudah lebih kuat dibandingkan Norman dan Duncan Lewis. Tapi, sekarang ia dikatakan masih belum cukup kuat untuk bos Dungeon ini.
"Tapi..., bukankah kalau aku sekarat kau akan menggantikanku?"
["Itu kalau kau sempat sekarat. Bagaimana jika lawan langsung membunuhmu?"]
Alvin bergidik.
"K-kau benar..."
["Ikuti saja apa yang kusarankan."]
"Tapi, makhluk apa sebenarnya mereka tadi? Kenapa mereka sangat mirip dengan manusia?"
["Karena mereka memang berasal dari DNA manusia yang hidup di era ini. Mereka adalah makhluk kloning."]
"Apa?!"
["Makhluk sejenis mereka sebenarnya baru ada di tahun 2065, masih 15 tahun lagi dari sekarang. Aku juga agak bingung kenapa mereka sudah ada sekarang."]
Alvin mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa ditanggapinya karena ia tidak tahu apa yang terjadi di masa depan yang sudah Mina ketahui.
__ADS_1
["Mereka itu berasal dari DNA hunter-hunter yang dikloning oleh pencipta Dungeon. Karena lawanmu tadi lich, bos nya pasti memiliki kekuatan dari necromancer. Karena itulah mereka akan langsung menjadi lich ketika mati."]
"Jadi begitu... Berarti, ada makhluk kloning yang bukan lich?"
["Ya. Semua tergantung pada siapa yang membuat pasukannya."]
"Apa maksudnya?"
["Sudahlah. Aku akan memberitahu nanti. Keluar dulu dari Dungeon ini."]
"Ah, ya... Kau benar."
["Gunakan stealth dan pergi ke area bos untuk berjaga-jaga saja siapa tahu bos nya bukan makhluk yang berada di dalam kuburan. Rimi akan menghilangkan aura keberadaanmu. Ingat, jangan coba-coba melawan bos nya. Hancurkan saja pilar sihir lalu gunakan job Assassin dan speed booster untuk melarikan diri."]
"Aku mengerti."
......................
Alvin akhirnya pergi ke wilayah bos Dungeon.
Saat tiba ditempat itu, ia melihat sebuah gundukan tanah besar dan tinggi ada disitu, juga langsung merasakan aura dari energi sihir yang sangat tidak nyaman dan sangat menekannya yang berasal dari gundukan tanah tersebut.
Sialnya, batu nisan yang menancap di tengah-tengah kuburan itulah pilar sihirnya.
'Ngomong-ngomong, dimana pendamping bos nya? Cuma ada satu kuburan saja disini.'
["Perhatikan di peta."]
Alvin membuka peta Dungeon, ia tidak menemukan monster lain, selain yang sedang berada di dalam kuburan.
Walaupun ia sedikit senang karena tidak melihat adanya pendamping bos Dungeon, ia sangat terkejut saat melihat titik merah pada peta itu sangat besar. Dari situ ia tahu bahwa kekuatan bos nya sangatlah besar.
Jika dibandingkan dengan ukuran titik hijau yang adalah titik dari dirinya sendiri, perbandingannya lebih dari setengah. Titik hijau jauh lebih kecil.
'Pantas aku merasa hawa sihir yang sangat tidak nyaman dari kuburan ini.'
Ia kemudian menatap batu nisan yang berada di atas kuburan dan meneguk ludah setelahnya.
'Sial, kenapa pilar sihir itu harus berada disana?'
["Tidak masalah. Kau tinggal hancurkan saja lalu pergi secepatnya dengan job Assassin."]
'Ya.'
Alvin berjalan dengan langkah sangat ringan untuk memanjat gundukan yang bisa dikatakan sebagai bukit mini.
Ia agak ngeri membayangkan lawan seperti apa yang berada dibalik gundukan itu mengingat kuburannya saja sangat besar.
Bertarung melawan raksasa yang memiliki kemampuan hebat, tentu bukanlah sebuah pilihan baik.
.........
Setibanya di atas, Alvin menghancurkan pilar sihir dan langsung melarikan diri dengan kecepatan penuh.
Karena pilar sihir telah hancur, maka tidak akan ada Dungeon Break karena gerbang paling lama akan tertutup dalam 1 jam kedepan, sedangkan Dungeon Break baru akan dimulai besok.
Tapi, saat Alvin sudah hampir mencapai gerbang, seseorang tiba-tiba menangkap tengkuknya, lalu melemparnya menjauhi lokasi gerbang.
Dilemparkan dengan keras dan kasar, membuat Alvin bergulingan sampai berkali-kali. Tubuhnya baru terhenti dari pentalan itu setelah menghantam dan menghancurkan beberapa pohon besar.
Baru saja Alvin duduk dan ingin berdiri, sosok yang melemparkannya tadi sudah berdiri dihadapannya dan menangkap lehernya.
'B-brengsek... Apa gunanya speed booster jika ada yang bisa mengejarku?'
["Itu karena levelmu masih berada dibawahnya."]
Makhluk yang sangat mirip dengan manusia tapi tidak bisa berbicara itu, mencekik dan mengangkat tubuh Alvin hingga ia berada lebih tinggi darinya.
Lalu, dengan sangat keras, ia membanting Alvin lagi ke tanah.
Bammmmm!!!
Hasil bantingan itu membentuk kawah dalam di belakang punggung Alvin.
Belum puas sampai disitu, makhluk itu kembali mencekik Alvin dan membantingnya berkali-kali sebelum menyeretnya pergi sampai mereka pun tiba kembali disamping kuburan raksasa.
Alvin bisa diseret sampai ketempat itu kembali bukannya karena ia tidak melawan. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk melepaskan cengkeraman lawan, namun cengkraman jemari makhluk itu sangat kuat, seperti sudah terlem pada kulit lehernya.
'Mina, apa yang harus ku lakukan? Dia sangat kuat.'
["Semoga beruntung."]
'A-apa?!'
__ADS_1
......................