
Cyntia langsung berdiri saat benar-benar yakin jika ia mengenal suara wanita di balik topeng. Ia bahkan membiarkan Lawrence melewatinya dan melarikan diri dari ruang bawah tanah tersebut.
"Kau..., apa kau teman masa kecil Alvin?" tanya Cyntia.
Shiva membuka topeng yang ia kenakan lalu tersenyum jahat.
"Karena kau bisa menebaknya, tidak ada gunanya lagi aku mengenakan topeng, kan?"
"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau bersama mereka?"
Shiva melempar topengnya ke lantai dan mencabut pedangnya. Ia memutar-mutar pedang itu sembari berjalan menghampiri Cyntia dengan langkah pendek dan tidak tergesa.
"Untuk mengambilnya kembali darimu," sahut Shiva.
Jantung Cyntia berdetak lebih cepat setelah mendengar apa yang baru saja Shiva katakan. Ia akhirnya tahu mengapa Shiva memiliki tatapan putus asa saat itu.
"Ternyata begitu..., sudah ku duga."
"Sudah menduga?"
"Kau menyukainya juga, kan?"
Shiva mengernyitkan dahi. "Apa? Suka?"
"..."
Shiva tertawa nyaring.
"Siapa yang menyukainya? Aku cuma ingin merebut kembali anjing pesuruhku darimu. Anjing itu sangat manis sebelum kau merebutnya dariku!"
Cyntia masih diam menatap Shiva sampai beberapa detik kemudian, setelah ia akhirnya bisa mencerna dengan benar apa yang wanita itu maksud.
"Jadi, apa selama ini kau cuma memanfaatkannya saja?"
"Kau benar."
"Kau keterlaluan."
Melihat Cyntia tidak waspada, Shiva menggunakan kesempatan itu untuk menyerangnya.
Shiva yakin bisa mengalahkan Cyntia setelah ia mendapat peningkatan kekuatan yang sangat besar. Jadi, ia merasa tidak perlu terburu-buru untuk membunuhnya.
Tidak seperti kebiasaan seorang hunter yang selalu berusaha menyerang ke arah leher atau jantung, Shiva memilih untuk membuntungi salah satu kaki Cyntia terlebih dahulu.
Pedang itu terarah tepat ke kaki kiri Cyntia dan...
Melewatinya.
Cyntia hanya menggeser kakinya sedikit untuk menghindari serangan itu.
Dengan gerakan cepat dan tanpa banyak usaha, Cyntia kemudian meraih tangan Shiva yang memegang pedang lalu merebut pedang itu dengan sangat mudah.
__ADS_1
Shiva terbelalak kaget. Ia langsung melompat mundur beberapa langkah setelah satu-satunya senjata yang ia miliki telah berhasil direbut lawan.
Ia mengira dengan kekuatannya sekarang sudah bisa menghadapi Cyntia. Ia sangat yakin tentang itu. Namun, Shiva tidak tahu perbedaan dari kekuatan dan kecepatan mereka sangatlah besar. Bukan hanya itu, pengalaman bertarung mereka juga sangat jauh.
.........
Cyntia menatap pedang di tangannya sebelum akhirnya mematahkan pedang itu menjadi dua dan melemparkannya ke sembarang tempat.
Ia kemudian menatap Shiva dengan tatapan simpatik yang sama seperti yang ia miliki seperti saat pertama kali bertemu dengan wanita itu, sementara Shiva kini diam membeku di tempatnya berdiri.
"Aku... Untuk pertama kalinya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada seseorang yang harusnya kubunuh," ucap Cyntia. Suaranya sedikit tercekat di tenggorokannya. "Kau sangat menyedihkan. Bagaimana bisa kau memperlakukan orang yang sangat memercayaimu sebagai seorang sahabat seperti itu?"
Setelah mengucapkan kalimat itu, ia menatap ke arah sel tahanan di ruang bawah tanah itu dan mempertimbangkan apakah ia harus menyekap Shiva di sana namun ia ragu untuk melakukannya.
Cyntia menatap Shiva kembali.
"Kali ini aku akan melepaskanmu karena kau adalah teman masa kecil Alvin," ucap Cyntia. Ia kemudian berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Shiva.
......................
Alvin tiba di gerbang benteng keluarga Maxwell tepat saat Sam, Alan, Felix, Robert dan ketiga pengawal pribadi Cyntia yang sedang berusaha menghalau serbuan The Destroyer hampir saja mati di tangan pria bertopeng itu.
The Destroyer yang sedang berhadapan dengan Sam dan Alan tidak menyadari kehadiran Alvin yang sudah berdiri di belakangnya sejak tadi, sampai Alvin akhirnya menangkap tengkuknya dan melemparkan hunter peringkat SSSS itu dengan sangat mudah, seakan sedang membuang sekantong sampah makanan ringan saja.
Melihat bagaimana pemimpin mereka yang sangat hebat itu bisa disergap dengan mudah, 18 hunter yang sedang bertarung dengan para hunter dari guild Maximus sontak saja melompat menjauh untuk bersiaga di depan pemimpin mereka. Mereka tahu, orang yang baru saja datang itu pastilah sangat berbahaya.
Sementara itu, The Destroyer juga sudah melompat dan berdiri kembali. Ia kemudian berjalan melewati anak buahnya dan berdiri di depan mereka agar tidak kehilangan wibawanya.
Ia menatap Alvin dan mengawasinya, mengukur sejauh apa kehebatan pria itu hingga bisa menangkap dan melemparkannya seperti itu padahal ia sedang dalam kesiagaan penuh.
Menyadari hal itu, ia yang biasanya sangat brutal dan tidak pernah memberikan lawannya waktu untuk diam berdiri berhadapan seperti saat ini, justru malah terdiam membeku di tempatnya.
Baru kali ini ia diam mengamati lawan yang ia rasa lebih kuat darinya, terutama saat ia menyadari lawan bisa menghilangkan aura keberadaannya sama sekali.
Selama ini, baru Cyntia saja lawan terberat yang pernah ia hadapi. Ia sudah memperhitungkan hal itu dan yakin kali ini pasti bisa mengalahkan wanita itu dengan mudah setelah mendapatkan kenaikan peringkat.
The Destroyer bahkan sudah menargetkan Kevin Jung yang sangat terkenal di Asia Tenggara dan Australia itu setelah menyelesaikan tugasnya di Kota S ini, untuk membuktikan bahwa dia jauh lebih baik dibandingkan hunter terkenal yang baru saja menggemparkan dunia itu.
Dia bahkan tidak pernah memperhitungkan Alvin sama sekali. Ia yakin, saat itu Alvin hampir bisa membunuhnya hanya karena dia telah kehabisan energi Mana setelah kelelahan bertarung melawan Cyntia.
Tapi, saat ini, ia menyadari bahwa lawan yang sedang berdiri di hadapannya ini sangatlah berbahaya. Tidak mudah melawan musuh yang bisa menghilangkan aura keberadaan mereka, apalagi jika mereka nantinya akan bertarung dalam kecepatan tinggi.
"Ini seperti skill milik pengikutku dulu. Aneh, bagaimana bisa dia mendapatkan skill langka itu?" pikirnya lagi.
The Destroyer kemudian memasang kuda-kuda untuk melakukan serangan dengan kekuatan penuh, sambil berbicara pada semua pengikutnya, ingin memerintahkan mereka untuk menyerang terlebih dulu dan ia akan memberikan serangan kejutan setelahnya.
"Kalian..."
Deg...
The Destroyer terdiam kembali saat tidak bisa merasakan aura keberadaan para pengikutnya.
__ADS_1
Buk... Buk... Buk...
Tak lama setelah itu, ia bisa mendengar suara benda-benda berjatuhan dari arah belakangnya. Mau tak mau, ia pun menoleh.
Pria bertopeng hitam itu langsung melompat mundur menjauh setelah melihat tubuh seluruh pengikutnya telah bergeletakan di tanah dengan kondisi mengenaskan.
'Apa yang terjadi? Apa dia yang membunuh mereka semua? Kapan dia melakukan...'
"Hiii...!"
The Destroyer terperanjat dan kembali melompat mundur secara refleks saat Alvin tiba-tiba muncul tepat 1 meter di hadapannya.
Tapi, ia langsung melompat lagi saat Alvin juga ikut pergi ke tempatnya mendarat.
Hal itu terus berulang beberapa kali.
Kemanapun ia pergi, Alvin sudah langsung berada di hadapannya lagi, dengan jarak hanya 1 meter.
Tap...
Alvin akhirnya menangkap leher The Destroyer.
"Ternyata gerakanmu sangat lamban."
Alvin kemudian menarik topeng kulit dari wajah pria itu dan melihat wajah tampan yang kini telah memutih, pucat pasi.
"Ku kira kau menutup wajahmu karena ingin menyembunyikan bekas luka. Ternyata cuma untuk penyamaran saja?"
"K-kau... Bagaimana kau bisa secepat itu?" tanya The Destroyer dengan suara bergetar. Saking merasa ngeri, ia bahkan lupa kalau dia adalah seorang hunter peringkat SSSS.
Alvin menepuk pundaknya pelan, "Aku membayar sangat mahal dengan tubuh dan perasaanku untuk bisa seperti itu. Kau mau mencobanya?"
Alvin kemudian memasukkan energi sihir ke dalam tubuh pria itu.
The Destroyer ingin menangkalnya, namun kekuatan sihir yang sudah menjalar ke seluruh tubuhnya itu sangatlah kuat hingga ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sama sekali.
The Destroyer dapat merasakan energi sihir mengalir ke kedua kakinya yang kemudian membekukan dan mengeraskan tulang di kedua kakinya, dari bagian pangkal paha sampai telapak kaki.
Setelah kedua tulang kaki pria itu memadat sekeras baja, Alvin mulai menekan kedua pundak The Destroyer dengan kekuatan yang sangat mengerikan.
Akibat tekanan itu, tulang pinggul The Desteoyer remuk. Kedua bagian tulang kakinya itu kemudian menghancurkan otot pinggul hingga bergeser terus dan masuk merangsek ke dalam tubuh, menghancurkan isi perut, memecahkan ginjal dan paru-parunya seketika itu juga.
"Huuuuaaaaaaaaahhhh!!!"
Hanya terdengar suara teriakan nyaring dari The Destroyer setelahnya, saat kedua kaki pria itu masuk ke tubuhnya hingga kedua kakinya kini terlihat pendek seperti kaki pinguin.
Alvin menatap The Destroyer yang kini hanya setinggi pinggangnya saja, dengan tatapan dingin lalu menjambak rambutnya dan mengangkatnya tinggi.
Darah segar mengalir keluar dari mulut pria itu.
'Apa tampangku kemarin seperti ini saat hologram brengsek itu melakukan hal ini padaku?'
__ADS_1
["Setidaknya ada perbedaan dari cara kalian menatap. Kau terlalu pemarah. Dia ini... Hmmm... Bunuh saja. Dia tampak sangat putus asa."]
......................