Hunter System

Hunter System
Bab 224 - Rumah Sang Serafim


__ADS_3


...Bagian 8 : Sampai Akhir...


...☆ ☆ ☆...


'Jadi, Anda buyut guru?'


'Bagaimana ya sebutannya?'


Anak itu tertawa saat mendengar kecemasan tentang bagaimana Alvin harus memanggil dirinya.


Namun suara tawa itu lenyap ketika ia mendengar suara lain dari dalam pikiran gadis manis yang sedang berlutut juga di samping Alvin.


"Kau terlalu serius," ucap sang Serafim pada Mina. "Sekarang berdirilah. Aku membebaskan kalian dari sihir pengekang."


Setelah sang Serafim selesai berbicara, Alvin dan Mina merasakan tubuh mereka kembali ringan dan bisa digerakkan seperti biasa.


Tapi mereka masih berlutut tanpa berani mengangkat kepala untuk menatap wajah sang Serafim.


"Berdirilah."


Alvin dan Mina melayangkan pandangan mereka pada satu dan yang lain secara bersamaan.


Keduanya ragu untuk berdiri di hadapan makhluk yang mereka anggap sebagai buyut guru dan kakek guru tersebut.


"Tidak apa-apa. Berdirilah dan berbicara santai padaku atau aku akan membelenggu kalian lagi.


Saaatttttt...


Keduanya berdiri dengan cepat bersamaan. Apa yang mereka lakukan mengundang gelak tawa sang Serafim.


.........


Alvin menatap sang Serafim dengan sedikit heran.


Tidak seperti apa yang ia bayangkan, sang Serafim yang berwujud anak kecil itu hanya menggunakan celana pendek putih polos tanpa mengenakan baju sama sekali.


Ia juga mengenakan sehelai kain yang ia ikat horizontal di kepalanya sebagai penutup mata, hingga Alvin tidak bisa melihat kedua mata sang Serafim secara langsung.


Kepalanya botak seperti kepala seorang Biksu. Ada sebuah tasbih kristal biru yang melingkar dan terjuntai di lehernya.


Di kejauhan, dalam jarak kurang lebih 50 meter, Alvin melihat malaikat yang tadi datang pada mereka sedang berlutut dengan dahi menyentuh tanah.


'Pantas suaranya terdengar agak jauh.'


.........


"Aku sudah tahu apa yang terjadi pada kalian berdua dan apa yang masing-masing dari kalian harapkan," ucap sang Serafim.


Ia menatap Alvin dan Mina bergantian seolah bisa menatap langsung ke kedua mata mereka dari balik kain putih penutup matanya.

__ADS_1


"Tapi aku tidak diizinkan untuk membuka gerbang sama sekali," lanjut sang Serafim.


Mendengar itu, Mina merasa gusar kembali, "Kalau begitu, kakek guru..., bagaimana jika Anda menghubungi dewi Lyn dan dewi Ann?" tanya Mina. Dia memang bertanya, namun dengan nada memaksa.


"Kami juga tidak diizinkan untuk berhubungan dengan entitas lain. Kami hanya boleh berhubungan dengan Absolut."


"Dan jangan katakan kau ingin meminta Absolut untuk mengirimkannya kembali," sambung sang Serafim saat mendengar apa yang sedang Mina pikirkan. "Hal-hal bodoh yang dilakukan makhluk ciptaan tidak berhubungan dengan Absolut."


"Ya?"


"Intinya, tidak boleh ada hubungan apa pun antara dunia para dewa dan dunia pengasingan."


"Kalau begitu bagaimana Anda bisa bertemu dengan guru saya?"


Sang Serafim tersenyum. Ia bahkan tertawa setelahnya.


"Kau memiliki cara berpikir yang sangat kristis, nak. Tentu saja kami bertemu sebelum dunia pengasingan ini ada, saat aku masih tinggal di sisi Absolut dan sering berkunjung ke dunia para dewa."


Setelah selesai berkata-kata, sang Serafim kembali tertawa.


Hal itu membuat Alvin dan Mina bingung hingga mereka saling bertatapan kembali.


'Kenapa hampir semua dewa dan Serafim juga memiliki sikap yang sangat santai?'


"Ayo ikut ke rumahku dulu," ucap sang Serafim yang kemudian berbalik. "Bangun kembali gunung itu dan buat penjaga lain di dalamnya," perintah sang Serafim pada malaikat yang masih bersujud tanpa berani bergerak, di kejauhan.


Setelah sang Serafim memberikan perintah, keadaan tiba-tiba berubah gelap.


'Kami berteleportasi...'


"Selamat datang di rumahku," ucap sang Serafim setelah duduk di atas singgasananya.


Alvin menatap sekeliling.


Hanya ada kegelapan dan kerlap-kerlip cahaya Bintang di sekitar mereka tanpa adanya dinding, lantai, juga langit-langit seperti yang umumnya ada pada sebuah ruangan.


Mereka seperti sedang mengambang di ruang angkasa.


Tapi, walaupun mereka seperti berada di ruang angkasa yang harusnya hampa udara dan tidak bisa mengantarkan getaran suara, di tempat ini Alvin bisa merasakan adanya oksigen yang bisa membuatnya tetap bernapas dengan normal.


Tidak seperti saat ia baru keluar dari sihir black hole milik dewan Re dulu, hingga ia harus dimasukkan dalam pelindung sihir dewi Ann agar bisa bernapas normal.


.........


"Apa itu planet tempat kita berada tadi, kakek guru?" tanya Mina sembari menatap jauh ke sebuah bola raksasa yang berada di bawah kakinya.


Alvin mengikuti arah tatapan Mina dan melihat sebuah planet besar dengan Bulan besar di dekatnya.


Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada 3 planet lain yang mengambang sejajar dengan planet pengasingan, namun dengan ukuran yang jauh lebih kecil.


Walaupun keempat planet itu tampak seperti planet yang berada dalam sebuah tata surya, namun planet tersebut tidak mengorbit pada apa pun.

__ADS_1


Tidak ada Matahari sebagai pusat tata surya. Planet-planet itu hanya mengambang dan diam tak bergerak.


.........


"Kau benar," sahut sang Serafim atas pertanyaan Mina.


"Dan kau tidak perlu bingung kenapa tidak ada pusat tata surya. Namanya juga planet pengasingan," ucap sang Serafim yang ditujukan pada Alvin. Ia kemudian tertawa bahagia seolah-olah apa yang Alvin pikirkan lucu baginya.


'Bagaimana ada siang dan malam jika tidak ada Matahari?'


"Apa gunanya sihir?" sahut sang Serafim setelah mendengar isi pikiran Alvin lagi dan kembali tertawa setelahnya.


Glup...


Alvin menoleh dan bertatapan dengan Mina. Dulu ia sangat tidak menyukai saat Mina dengan lancang selalu membaca pikirannya.


'Ternyata ada yang lebih mengerikan dari Mina.'


"Apa tiga planet itu juga planet pengasingan, kakek guru?" tanya Mina.


"Satu di antara ketiganya planet cadangan. Saat planet tempatmu tinggal sudah penuh maka makhluk ciptaan yang datang belakangan akan mengisi planet-planet itu. Satu planet adalah tempat para malaikat membuatkan hadiah quest, dan sisanya adalah tempat pembudidayaan kayu dan tempat penghasil batu untuk membuat rumah di planet pengasingan."


Mina mengangguk pelan.


"Ada yang ingin kau tanyakan lagi?"


"Apa dewa dan malaikat yang sudah binasa juga akan dikirimkan ke planet pengasingan?" Mina lanjut bertanya ketika diizinkan.


"Tidak. Dewan pengawas para dewa, dewa dan malaikat akan dikirim ke sana," sahut sang Serafim sembari menunjuk ke sebuah arah.


Alvin dan Mina mengikuti kemana jari telunjuk sang Serafim mengarah, namun tidak bisa melihat apa pun di sana.


Sampai beberapa saat kemudian, mereka melihat ada kekosongan di antara kerlipan bintang, barulah mereka menyadari ada sebuah planet berwarna hitam pekat di sana.


"Itu dunia kehampaan. Ketiga entitas itu akan dikirimkan kesana setelah kematian dan mereka tidak akan pernah bisa kembali lagi."


"Maksud Anda?"


"Kalian pernah berpikir tentang Lyn yang pernah mengulangi kehidupan, kan? Apa yang kalian pikirkan memang benar. Jika dewa mengulang kehidupan, roh makhluk ciptaan yang telah mati akan dikembalikan ke dunia asalnya, tapi tidak dengan entitas tinggi."


"Tapi..., jika begitu, kenapa para malaikat jatuh yang sudah mati bisa hidup kembali?" tanya Mina lagi.


Tidak seperti Alvin, Mina yang memiliki banyak rasa penasaran terus-terusan mencecar sang Serafim dengan pertanyaan.


"Roh baru akan mengisi raga mereka."


"Kalau begitu, kenapa mereka selalu mengulang perbuatan jahatnya? Bukankah roh yang mengisi raga mereka berbeda?"


Sang Serafim tertawa.


"Karena takdir yang sudah dituliskan dalam kitab dewan pengawas agung. Mereka akan terus melakukan hal yang sama walaupun mereka tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Sama dengan takdir kalian yang terus berperang melawan mereka."

__ADS_1


.........


__ADS_2