Hunter System

Hunter System
Bab 81 - Penggertak Yang Ketakutan


__ADS_3

Robert dan Erfhina segera turun dari SUV, lalu berlari menembus gelapnya malam menuju gang tempat dimana Alvin tadi berbelok.


Mereka baru saja mendapatkan kabar dari tim pengintai keluarga Maxwell yang mengatakan bahwa Duncan Lewis tahu bahwa Alvin baru saja mereka turunkan di pinggir jalan.


Robert bisa menebak, Duncan pasti akan langsung mencarinya.


Karena itu, Robert meminta seseorang agen keluarga Maxwell yang berada di dekat situ untuk datang dan mengantarkan Marco Rufino kedalam benteng menggantikan mereka, sementara ia dan Erfhina pergi menyusul Alvin.


Sambil berlari, Robert mengubungi salah satu anak buahnya yang berada di dalam benteng.


《"Bos?"》


"Tolong minta nona Tia datang menyelamatkanku. Aku akan mengirim lokasinya."


《"Tapi... Nona Tia lagi di dalam Dungeon, bos."》


"Apa?!"


《"Nona Tia dan para pengawalnya sedang melakukan raid."》


"Sial! Tolong kirimkan saja hunter bantuan berperingkat tinggi padaku sekarang!"


Robert menutup panggilan itu, menyambungkan lokasi keberadaan pada anak buahnya, lalu mempercepat larinya.


"Kemana dia? Bukankah dia tadi berlari ke arah sini?"


......................


Walaupun Duncan sedang menyamarkan aura dari energi sihirnya, namun ia tidak bisa membohongi Alvin karena Mina langsung memberitahunya bahwa pria kekar berpenampilan rapi itu adalah seorang hunter peringkat S.


Alvin memerhatikan 6 pria lain yang berdiri di belakang Duncan, yang memiliki seringai di wajah mereka yang sama memuakkannya dengan seringai Duncan.


Tanpa Mina perlu beritahukan, Alvin bisa merasakan tingkatan energi Mana yang mereka miliki karena mereka tidak bisa menyamarkannya seperti Duncan.


Alvin menatap Duncan kembali.


"Kau, seorang hunter peringkat S membawa beberapa hunter peringkat A dan B cuma untuk menangkap seorang hunter peringkat F?" ucap Alvin. Suaranya sangat tenang. Tidak terdengar ada getaran takut sedikitpun dalam nada suaranya.


Hal itu membuat Duncan dan keenam pengawalnya yang sudah sering melakukan pemerasan dan menakut-nakuti hunter-hunter buruan guild mereka di Tiongkok, kehilangan senyumnya.


'Dia tidak takut pada kami?'


Bukan hanya tenang. Alvin malah menatapnya balik dengan sinar mata mengancam seakan dia adalah pemburunya dan Duncan sendirilah mangsanya.


Duncan berpaling, menatap keenam pengawalnya. Seperti sudah berjanjian, keenam pria itu kemudian tertawa bersamaan.


"Ini lucu. Lihat tatapan matanya."

__ADS_1


.........


Waktu saat itu masih menunjukkan pukul 8 malam. Masih banyak orang berlalu-lalang di sekitar mini market itu.


Walaupun orang-orang yang melihat sekumpulan pria yang mirip gangster itu bukanlah dari kalangan hunter, mereka sudah bisa menebak bahwa para pria itu adalah hunter hanya dari aura tidak nyaman dan hawa tidak enak yang berasal dari pancaran energi sihir ketujuh pria tersebut.


Belum lagi, dari cara mereka saling bertatapan yang bermusuhan, semua orang yang kebetulan sedang berada di tempat itu atau hanya sekedar sedang melewati depan mini market itu tahu bahwa akan terjadi keributan tidak lama lagi.


Dengan segera, orang-orang yang menyaksikan dan menyadari keadaan itu pergi menjauh. Mereka tahu, jika hunter-hunter itu sampai berkelahi apalagi sampai menggunakan sihir, mereka pasti akan mati.


Biasanya, di kota-kota lain, warga sipil pasti akan langsung menghubungi pihak Asosiasi Hunter jika melihat adanya bakal keributan antar hunter.


Namun, Kota S berbeda. Mereka tahu bahwa Asosiasi akan mengabaikan laporan seperti itu. Jadi, mereka hanya pergi menjauh tanpa mau melaporkan kejadian itu, sambil mengambil video rekaman kejadian secara sembunyi-sembunyi.


.........


Duncan menarik salah satu kursi dari bawah meja tepat diseberang Alvin, lalu duduk disana.


"Aku sedikit heran denganmu. Kau seperti tidak punya rasa takut padahal kau sudah tahu betapa berbahayanya situasimu saat ini," ucap Duncan, sembari menatap kedua mata Alvin lekat-lekat. "Tatapan matamu itu juga... Tsk... Aku benar-benar ingin mencongkel biji matamu itu!" ucap Duncan dengan nada menggeram di akhir kalimat.


Duncan memajukan tubuhnya. Menyandarkan kedua tangannya di atas meja dan mendekatkan wajahnya pada Alvin, yang masih menatapnya dengan tajam.


"Tidak lama lagi kau akan tahu apa itu neraka," ucap Duncan pelan, dengan nada mengancam.


Ia kemudian menegakkan tubuhnya lagi lalu tertawa dengan sangat nyaring. Begitu pula dengan keenam pengawalnya, yang langsung menyambut tawa Duncan dengan suara tawa yang tak kalah nyaringnya.


Biasanya Alvin akan langsung marah saat diperlakukan seperti saat ini.


'Kurasa..., saat menghadapi Billy dan waktu yang kuhabiskan untuk bisa mengalahkan Healer-Tank itu memberikanku pengalaman dalam melatih kesabaran.'


Tawa Mina langsung meledak mendengar apa yang baru saja Alvin katakan.


Alvin bahkan sampai memejamkan kedua matanya, tak tahan mendengar suara tawa melengking itu di dalam kepalanya.


Walaupun samar, karena sepertinya memaksakan diri untuk tidak ikut tertawa, namun Alvin juga bisa mendengar suara tawa Rimi.


.........


"Oh, kau menutup matamu? Kau baru sadar jika kau sedang dalam bahaya?" Duncan tertawa lagi setelah mengucapkan kalimat itu. "Wajah putus asa mu itu begitu lucu," ucap Duncan lagi, sebelum akhirnya tertawa semakin nyaring.


Beberapa saat kemudian, suara tawanya menghilang saat ia mendengar Alvin berbicara mengejeknya.


"Lihatlah orang bodoh ini. Tidak bisa membedakan ekspresi wajah takut dan ekspresi wajah menakutkan."


Alvin kemudian memajukan tubuhnya, mengikuti cara Duncan tadi, sebelum berbicara sambil menyeringai jahat.


"Kau sebenarnya takut saat bertatapan denganku, kan?"

__ADS_1


Duncan menatap Alvin tajam, sebelum tangannya dengan cepat bergerak hendak mencengkeram leher pria kurus itu.


Tapi, Duncan segera menarik kembali tangannya dengan cepat saat ia menyadari ada bahaya datang mengancam.


Ia merasakan ada aura sihir kuat dari seseorang, dan aura sihir dari sebuah senjata mematikan yang hendak menebas pergelangan tangannya.


Sraaaakkkk...!


Suara gesekan antara kaki kursi dan lantai memekakan telinga, saat Duncan dengan cepat menarik tangan dan tubuhnya untuk mundur menjauh.


Saking mengerikannya aura mengancam yang ia rasa hampir memutuskan pergelangan tanganya tadi, Duncan dengan refleks melompat mundur lagi setelah ia berdiri dari tempat duduk tersebut.


Bukan hanya Duncan dan para pengawalnya yang terkejut. Alvin juga merasakan hal yang sama. Seluruh bulu halus di kedua tangan dan tengkuknya berdiri saat merasakan aura ancaman yang sangat berbahaya tiba-tiba datang entah dari mana.


Alvin bahkan tidak berani menggerakkan tubuhnya. Ia hanya berani melirik, menatap wanita berekpresi datar yang sudah duduk di kursi lain, dimeja yang sama dengannya.


Anehnya, aura membunuh yang tadi Alvin rasakan dari wanita itu tiba-tiba saja lenyap, saat wanita cantik berekspresi galak itu meliriknya sekilas, sebelum akhirnya memalingkan wajahnya dan berbicara pada Duncan Lewis.


.........


'Mina...'


["Diam saja. Dengar apa maunya."]


'Kenapa aku merasa ngeri dengan auranya?'


["Itulah yang akan kau rasakan saat seorang Assassin berperingkat SSS berniat membunuhmu."]


'A-apa?! Peringkat SSS?!'


["Ya. Jujur saja, kau akan mati jika bertarung melawannya. Dia bisa memenggal lehermu bahkan sebelum kau sempat menggunakan satu pun skill yang kau miliki."]


Glup...


["Dia ini sangat berpengalaman dalam membunuh."]


'K-kau... Kenapa kau malah menakut-nakutiku?'


["Aku hanya ingin agar kau tidak ceroboh. Dan... Eh?!"]


'A-ada apa?'


["..."]


'Mina?'


......................

__ADS_1


__ADS_2