
Hanya butuh waktu kurang dari 2 jam, Dungeon peringkat A itu sudah berhasil Alvin taklukkan seorang diri. Padahal, tim raid utama yang sudah berjuang selama 4 hari 4 malam saja bahkan hanya bisa membunuh 10 laba-laba raksasa sebelum akhirnya melarikan diri dari Dungeon.
Tapi, hanya Jack, Ivory dan Lex saja yang tahu bahwa Dungeon itu telah berhasil ditaklukkan. Tidak dengan semua hunter lain yang masih berada di depan gerbang dengan wajah khawatir.
Mereka masih tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi setelah Jack, Ivory dan Lex masuk kedalam gerbang lagi.
.........
Alvin sudah kembali menyembunyikan dirinya dibalik stealth skill.
Ivory membawa Alvin dan Jack ke mobilnya untuk pergi ke lokasi gerbang Dungeon kedua, sementara Lex tetap berada di lokasi gerbang pertama, menunggu Raymond dan anak buahnya datang untuk mengangkut semua mayat monster dan menambang semua kristal sihir ditempat itu atas permintaan Alvin.
......................
Hampir tidak ada pembicaraan apa pun sepanjang perjalanan ketiga hunter itu menuju gerbang kedua.
Jack sibuk berhubungan dengan petugas di gerbang berikutnya untuk memberitahukan kedatangan mereka, sementara Alvin sibuk membalas pesan Vina dan Raymond, hingga membuat Ivory yang tadinya ingin berbicara pada Alvin jadi merasa tidak nyaman dan mengurungkan niatnya.
Ketiga hunter itu akhirnya tiba di lokasi berikutnya, yang kini telah dijaga ketat oleh militer dan hunter-hunter dari Asosiasi.
Tidak seperti di kediaman keluarga Cruz, gerbang Dungeon di pabrik pengolahan itu diabaikan. Tidak tampak seorangpun hunter yang akan melakukan raid, selain para petugas penjaga gerbang, yang terlihat berada disana.
Sementara Jack dan Ivory berbicara pada petugas penjaga gerbang, Alvin sudah masuk terlebih dahulu ke dalam gerbang dengan menggunakan stealth skill agar tidak seorangpun yang tahu ia ada disana.
Seperti biasa, Alvin langsung membuka peta Dungeon begitu ia melewati gerbang.
"Dua lokasi? Apa memang ada Dungeon peringkat A dengan 2 lokasi monster?"
Cukup lama sebelum Mina menjawab pertanyaan tersebut.
["Ini Dungeon percobaan. Aneh, kenapa Dungeon percobaan sudah muncul?"]
"Apa maksudmu?"
["Pembuat Dungeon ingin menguji kekuatan manusia di era ini. Mereka ingin melihat sudah sekuat apa manusia untuk nantinya memutuskan apakah mereka akan menaikkan level monster atau tidak."]
"Jadi..., apa yang harus kulakukan? Jika aku bisa mengalahkan monster disini dengan mudah, bukankah nantinya akan menjadi sangat berbahya untuk hunter lain?"
["Kau benar. Tapi, kau tidak memiliki pilihan lain, kan? Dan lagi, kau belum tentu bisa menang dengan mudah."]
"Dari mana kau tahu itu?"
["Aku bisa merasakan hanya ada 1 pasukan disini dan satu lokasi bos. Pasukannya berperingkat S."]
"Pasukannya peringkat S?"
Alvin menatap lagi pada peta Dungeon. Menghitung dengan cermat titik merah yang sedang berbaris dengan rapi.
"Mereka ada 30. Semuanya peringkat S?"
["Ya."]
Glup...
["Tapi, Dungeon ini bagus untuk menguji kemajuanmu karena tidak ada pembatasan job dan skill yang bisa kau gunakan seperti saat kau berada di quest Rimi. Jadi, coba saja."]
"Berbicara memang mudah."
["Buat dirimu sekarat. Aku akan..."]
"Menghabisi mereka semua dalam hitungan detik."
["..."]
"Tsk... Kau ini... Aku akan pergi."
["Memang seharusnya begitu. Kau butuh banyak pengalaman bertarung."]
"Ya."
["Tapi..., minta mereka untuk menunggu diluar gerbang saja. Disini terlalu berbahaya."]
__ADS_1
Alvin menoleh ke arah gerbang, dimana Jack dan Ivory baru saja masuk.
Ia kemudian menghampiri kedua hunter itu. Berbicara pada mereka untuk meminta mereka menunggu diluar, barulah ia pergi ke lokasi monster setelahnya.
......................
Setelah Alvin tiba di lokasi monster harusnya berada, ia bingung karena tidak melihat satupun monster yang berada di tempat itu.
Sebagai gantinya, ia melihat ada puluhan gundukan tanah dengan batu nisan di sisi yang sama.
"Apa ini kuburan?"
Dugaan Alvin memang benar. Dihadapannya, ada 30 kuburan yang berjejer rapi.
Beberapa detik kemudian, tanah di lokasi itu bergetar hebat saat kuburan-kuburan mulai terbelah dan semua gundukan tanah itu terperosok jatuh ke dalam.
Tak lama kemudian, makhluk-makhluk berwujud manusia muncul dari tiap lobang dan mereka langsung menatap Alvin dengan tatapan kosong, dengan manik mata merahnya.
Walaupun Alvin menebak bahwa lawannya kali ini adalah mayat hidup, namun ia bingung karena mereka tidak menyerupai mayat yang sudah busuk dan berbau menyengat. Mereka benar-benar terlihat seperti manusia normal.
"Monster jenis apa mereka ini? Kenapa mereka tampak seperti manusia normal?"
Setelah Alvin bertanya, ia dapat mendengar Mina berdecak.
["Mereka ini sebenarnya lich. Tsk... Aneh. Kenapa lich jenis ini sudah muncul di tahun ini walaupun cuma digunakan untuk uji coba?"]
"Lich? Kenapa mereka tampan-tampan dan cantik-cantik? Bukankah lich itu harusnya berwujud tengkorak atau mayat hidup?"
["Hati-hati!"]
Baru saja Mina memperingatkan Alvin, 5 lich sudah maju menyerang.
Kelima lich itu langsung menyerang Alvin dengan membabi-buta menggunakan pedang pendek mereka.
Serangan kelima lich itu sangat cepat dan terorganisir. Makhluk-makhluk itu tidak menyerang secara bersamaan dengan serampangan. Mereka melayangkan serangan secara bergantian.
Alvin sibuk menghindari dan menangkis serangan lich dengan pedangnya selama beberapa saat sebelum ia akhirnya mengganti job ke Mage dan menjerat semua lich dengan jaring.
Alvin terus berusaha meremukkan gelembung asap padat itu. Tapi, ia diganggu oleh serangan jarak jauh dari puluhan bola api yang datang menghujaninya.
Alvin mundur menjauh untuk menghindari serangan-serangan yang terus berdatangan hingga membuatnya harus menggunakan stealth lagi untuk menyembunyikan diri.
Karena ia kini tidak terlihat, Alvin pergi untuk menyerang monster-monster yang menyerangnya dari jauh. Tapi, fokusnya tiba-tiba teralihkan.
Ia tiba-tiba melupakan para penyerang itu dan berbelok arah untuk mendatangi monster-monster yang masih terjerat jaring.
"Mina, bukankah ini aggro dan taunt skill?"
["Ya. Mereka lich hunter."]
"Apa?!"
["Kau dalam masalah. Mereka party lich hunter peringkat S."]
"Sial! Tapi kenapa hunter bisa menjadi monster Dunge..."
Alvin menghentikan kalimatnya saat melihat ada dua makhluk yang mengapitnya dari arah kanan dan kiri sambil mengarahkan belati mereka ke leher dan perutnya.
Wushhhhh...
Alvin melompat dan bergulingan ditanah untuk menghindari serangan dua lich itu.
"Mereka bisa melihatku?!"
Lich mengejarnya. Mengarahkan belati mereka lagi ke leher dan dada Alvin.
Sratttt... Slash...
Alvin bergulingan lagi saat spider webs yang baru ia tembakan salah sasaran karena kedua tangannya malah berbelok arah menyerang lich tipe Tank.
Karena tahu ia terkena aggro dan taunt, Alvin memilih untuk sekalian saja mendatangi 5 lich Tank dan menembakkan poison skill pada mereka.
__ADS_1
Ia kemudian buru-buru berbalik untuk menyerang dua lich Assassin yang menguntitnya dan menembakkan poison skill juga pada...
Tentu saja pada kelima lich Tank itu lagi.
"Sialan!"
Wushhhh...
Alvin melompat dan berputaran di udara untuk menghindari ancaman serangan dua lich Assassin.
Tahu stealth nya tidak berguna karena lawan bisa melihatnya, Alvin berganti job ke Warrior dan memilih untuk bertarung langsung dengan kedua lich Assassin.
Tapi, itu yang diinginkannya.
Pada kenyataannya, Alvin kembali mengarahkan serangan pada kelima lich Tank.
"Sial! Ternyata terkena aggro dan taunt semenyebalkan ini! Tapi, kenapa mereka belum keracunan juga?"
["Mereka tidak memiliki darah dan jaringan otot"]
"F...k!"
Sebelum ia tiba di tempat kelima lich Tank, Alvin mengganti lagi job nya dan menyerang kelima lich itu dengan puncture skill, bertujuan untuk menghabisi mereka langsung.
Tapi, gelembung asap yang melindungi kelima makhluk itu tiba-tiba mengembang menjadi lebih besar dan gelembung itu berhasil memantulkan serangan-serangannya.
Crankkk...Crankkk...!
"Ini gila!"
Alvin melompat lagi dan berputaran di udara saat serangan dari dua lich Assassin membokonginya.
Saat ia masih berada di udara, ia menembakkan shuriken sihir yang dilakukannya dengan menggunakan lebih banyak energi Mana dari seharusnya.
"Matilah...!"
Puluhan shuriken itu terbang menghujani kelima lich Tank dan berhasil menghancurkan gelembung pelindung mereka.
"Hah? Hanya pelindungnya saja?"
Alvin dengan cepat memgganti job nya lagi. Bahkan, sebelum ia mendarat di tanah, ia sudah melancarkan serangan lagi ke arah kelima Tank itu.
"Thunderbolt!"
Zlaaarrr... Zlaaaarrr... Zlaaarrrr...!!!
Petir menyambar-nyambar dari kedua telapak tangannya, menghujani kelima lich Tank dengan kilatan sihir yang menyilaukan mata.
Asap tebal yang dihasilkan oleh ledakan thunderbolt menyelimuti area bekas keberadaan 5 lich yang telah meledak.
.........
Alvin langsung mengganti job nya lagi saat ia baru mendarat di tanah. Ia langsung menggunakan self defence untuk memperkuat tubuhnya yang sudah mendapatkan serangan lain dari arah belakang.
Crankkk... Crankkk... Crankkk... Crankkkk...!!!
Hujan anak panah itu terus berdatangan ke tubuhnya dari arah belakang, sementara dua lich Assassin datang menyerang dari depan.
Alvin membuat pelindung yang lebih kuat lagi karena ia tahu tidak akan sempat menghindari serangan kedua lich Assassin itu.
Crankkk... Crankkk...!!!
"Ini sangat merepotkan..." gumam Alvin, sambil berusaha merebut belati dari tangan salah satu lich yang berhasil ditangkapnya.
Saat ia masih berusaha merebut belati itu, kedua matanya melebar, saat melihat hal mustahil yang berada tak jauh darinya.
Setelah asap dari ledakan thunderbolt tadi menghilang, Alvin melihat 5 lich Tank yang sebelumnya tertutup kabut asap dari serangan sihirnya, masih berdiri tegak di tempat mereka. Tak berselang lama, kelima lich Tank itu bahkan datang dan ikut menyerangnya.
"Astaga! Sekuat apa mereka ini?!"
......................
__ADS_1