Hunter System

Hunter System
Bab 117 - Kembali


__ADS_3

Di luar Dungeon.


Dua petinggi dari Asosiasi akhirnya tiba di depan gerbang 2 jam sebelum terjadinya Dungeon Break.


Mereka adalah dua hunter berusia pertengahan 40an yang singgah ke Kota T sehabis menjalankan misi di Kota U, setelah ketua Asosiasi Pusat meminta mereka untuk melihat keadaan di sekitar gerbang peringkat S itu.


Hunter pertama adalah seorang Warrior peringkat S, seorang pria dengan pembawaan karismatik. Sedangkan hunter lain adalah seorang Mage peringkat S dengan penampilan yang sangat nyentrik.


Walaupun kedua hunter itu datang bersama, namun semua orang yang berada di situ bisa melihat dengan sangat jelas ketidakharmonisan dari keduanya.


Mereka terlihat tampak malas berdekatan antara satu dan lainnya, juga terlihat saling menatap tidak suka saat kebetulan saling bertatapan.


.........


“Anda tuan Brown?” sapa pria berwajah karismatik itu pada Lex, setelah mereka tiba di hadapan Lex Brown.


“Benar. Apa anda dari Asosiasi Pusat?"


“Benar. Saya Lowe Frostman. Senang bertemu dengan Anda, tuan Brown,” sahut pria itu sembari tersenyum ramah.


"Senang juga bisa ber..."


“Apa hanya ini hunter yang tersedia?” tanya Roxel Wu, sembari menatap semua hunter Kota T, yang juga langsung menatapnya dengan tidak suka ketika melihat tatapan meremehkan Roxel, juga caranya memotong pembicaraan Lex dan Lowe.


Lex sudah terbiasa dengan sikap sombong dan acuh tak acuh seorang hunter peringkat tinggi, terutama hunter dari Asosiasi Pusat yang biasanya memang seperti itu.


Ia mengabaikan ketidaksopanan Roxel dan menjawab pertanyaannya dengan santai, “Benar. Mereka adalah hunter-hunter terbaik yang kami miliki,” sahut Lex pelan.


"Mereka terbaik? Astaga. Tamatlah kota ini," ucap Roxel sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


Roxel, masih dengan tidak menyapa bahkan menatap Lex, mendekati rekan kerjanya, Lowe.


“Jujur saja, tidak akan ada harapan untuk bertahan walaupun cuma 10 menit,” ucap Roxel setelah ia mengukur kekuatan semua hunter itu dari aura sihir yang dirasakannya.


Ia berbicara tanpa khawatir apa yang dikatakannya bisa di dengar oleh semua hunter yang berada di situ.


“Jika kau ingin pergi, pergi saja. Tidak usah memakai alasan dengan menyalahkan kemampuan orang lain."


“Tsk… jika bukan karena ketua, kau pikir aku mau datang?” Roxel langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan menghampiri gerbang setelah berbicara dengan nada sedikit kasar pada Lowe.


Roxel menghentikan langkah kakinya ketika ponsel di saku celananya bergetar.


Ia langsung menerima panggilan itu saat tahu siapa yang telah menghubunginya.


"Ketua...," ucap Roxel pelan.


Walaupun orang yang menghubungi tidak berada di hadapannya, namun sikap dan cara bicara Roxel langsung berubah 180° saat Ketua Asosiasi Pusat berbicara padanya di sisi lain panggilan telepon.


Lowe melirik ke arah Roxel dengan senyum sinis samar saat mendengar suara wanita yang sudah tidak asing di telinganya itu memberikan sebuah perintah pada Roxel.

__ADS_1


"Ya, ketua. Saya akan segera kembali."


Setelah sambungan terputus, Roxel kembali berbicara pada Lowe.


"Ketua menyuruh kita kembali sekarang," ucap Roxel pada Lowe. Tatapan angkuhnya telah kembali.


Lowe mendengus pelan. Sambil mengalihkan tatapannya pada gerbang, ia menolak perintah itu.


"Aku tetap di sini."


"Kau berani menentang ketua?"


Lowe tersenyum sinis. "Aku selalu menentangnya. Dan lagi, kita baru saja tiba, kan?"


Roxel diam selama beberapa detik, menahan diri untuk tidak langsung menyerang pesaingnya itu.


Lowe tahu sedang mendapat tatapan marah dari Roxel walaupun ia sedang tidak bertatapan dengannya.


ia akhirnya pergi meninggalkan Roxel. Mengambil koper besarnya lalu mengeluarkan set tempurnya dari sana.


Roxel berjalan menghampiri Lowe lagi lalu berbicara dengan menggeram padanya, sebelum akhirnya pergi meninggalkan lokasi gerbang Dungeon.


"Ku harap kau mati disini!"


"Aku lebih senang mati dari pada harus bertemu kalian setiap hari."


......................


Mina pernah mengatakan bahwa kostum yang ia kenakan itu sangat kuat dan tahan dari panasnya api membara ataupun es yang membekukan. Bahkan racun saja tidak akan bisa masuk menembus kostumnya.


Tapi anehnya, ia kini bisa merasakan panas yang sangat luar biasa menyengat dari magma yang menenggelamkannya, padahal itu adalah magma biasa yang tidak mengandung sihir sama sekali.


Dan lagi, setelah diingatnya, sangat tidak wajar ia merasa takut jatuh terjerumus ke dalam magma saat tahu harusnya bisa bertahan di dalamnya


Tapi hal teraneh, dari semua yang telah dialaminya sejauh ini, adalah kata-kata menyerah yang Mina ucapkan sesaat sebelum ia tenggelam.


Ia tahu, Mina tidak mengucapkan kata-kata pesimis seperti itu.


‘Dia juga menyuruhku menunggu saja? Itu aneh, kan? Ini bukan ruang hologram jadi dia tidak mungkin menyuruhku menunggu dalam keadaan terdesak.’


Alvin diam selama beberapa detik, menunggu Mina menanggapi apa yang baru ia pikirkan namun ia tidak mendapatkannya.


‘Sial. Ini seperti dunia ilusi saja.’


Ia mengingat kembali apa yang sudah dilaluinya setelah bertemu pasukan monster pertama sampai sebelum ia tenggelam.


Ia juga menyadari sebagian yang terjadi itu adalah apa yang sangat ingin ia alami dalam sebuah Dungeon bersama Cyntia.


‘Sialan. Apa ini benar-benar ilusi ciptaanku sendiri? Apa ada yang menggunakan sihir ilusi padaku?'

__ADS_1


Alvin kemudian memfokuskan pikirannya.


Ia berusaha memanggil-manggil Mina, agar Mina bisa menyadarkannya kembali. Ia yakin bahwa pikirannya kini sedang dalam pengaruh hipnotis monster-monster itu.


‘Mina! Keluarkan aku!’


‘Mina! Kau mendengarku?!'


'Mina!'


‘Min…’


Buaakkkkk!


......................


Alvin jatuh tertelungkup dengan sangat keras saat Cyntia menendang tengkuknya dengan tendangan berputar yang lumayan keras.


"Alvin! Sadarlah!" seru Cyntia sembari melompat mundur, menghindari terkaman satu monster hitam legam yang menjadi salah satu pengeroyoknya.


Ia mundur semakin jauh untuk memancing monster-monster menjauhi Alvin, saat ia melihat Alvin mendongak dan menatapnya bukan dengan tatapan kosong seperti sebelumnya.


'Dia sudah sadar, kan?'


Sudah lebih dari 10 jam Cyntia bertarung seorang diri melawan ribuan monster hitam legam yang menyerangnya dengan brutal.


Dia memang tidak kesulitan menghadapi monster-monster peringkat S itu, bahkan ia juga sudah membunuh ratusan dari mereka. Tapi, Cyntia cukup mengalami kesulitan saat harus menghadapi Alvin yang juga menjadi salah satu dari pengeroyoknya.


.........


["Kau sudah kembali. Ambil belatimu dulu dan bunuh penghipnotismu atau kau akan kembali masuk ke dalam dunia ilusi."]


"Yang mana dia?!" tanya Alvin dengan nada marah sembari bangkit dari tanah dengan cepat.


["Di sebelah kirimu. Monster bertubuh bungkuk bertanduk dua yang berdiri seorang diri itu."]


Alvin langsung menatap ke arah yang Mina katakan. Ia mengganti job ke Assassin, mengambil belati, lalu berlari secepat yang ia bisa untuk langsung menyerang monster peringkat SS itu.


"Kau brengsek...!!!" umpat Alvin, sembari mengarahkan kedua belatinya ke tubuh monster yang kaget dengan kecepatan Alvin dalam menerjangnya.


Wush...


Crakk... Crakk... Crakkk...!


Tidak hanya dua tusukan saja. Alvin terus menyerang dan menusuk-nusuk monster bertubuh bungkuk itu dengan sangat cepat dan berkali-kali, menggunakan puncture skill yang ia padukan dengan lightning strike effect, dua skill dari job Assassinnya.


Gerakannya sangat sederhana, namun kecepatan yang ia gunakan berada di luar kemampuan monster untuk bisa menghindari bahkan hanya untuk melihat gerakan tangannya.


["Hei, sudah. Tubuhnya sudah hancur. Dia sudah mati."]

__ADS_1


Alvin tidak memerdulikan ucapan Mina. Ia terus menusukkan belati di kedua tangannya pada tubuh dan kepala monster yang sudah cukup menyiksanya dalam dunia ilusi.


__ADS_2