
Pada akhirnya Alvin hanya menyaksikan raid tanpa melakukan apa pun, sama seperti Cyntia yang juga hanya menjaga dirinya dan Erfhina.
Kekuatan ketiga pengawal Cyntia yang baik dalam melakukan serangan ditambah aggro dan taunt skill Robert yang tidak pernah meloloskan satu monster pun, membuat Dungeon peringkat C itu hanyalah seperti sebuah mainan saja bagi mereka berempat.
Karena tidak ada yang harus dilakukannya, Erfhina juga hanya berbicara banyak pada Alvin, menjelaskan apa saja yang seharusnya seorang Healer lakukan di dalam tim walaupun ia tidak bisa mempraktekkannya sama sekali karena tidak ada yang cidera, juga tidak adanya situasi berbahaya yang terjadi.
Alvin sebenarnya sudah mengerti semua yang Erfhina jelaskan, karena ia masih ingat semua yang instrukturnya ajarkan di Akademi.
Tapi, Alvin tetap mendengarkan semua penjelasan Erfhina dengan serius karena Cyntia terlalu sering melirik ke arahnya untuk mengawasi dan entah kenapa, wanita itu terlihat tampak sedikit kesal.
'Kenapa tatapannya begitu? Apa dia menganggap Hunter peringkat F merepotkan? Tapi kenapa dia mengajakku?'
["Haaaaahhh... Diamlah. Kau berisik!"]
'...'
Tim raid itu akhirnya kembali ke benteng tepat sebelum jam makan malam.
......................
Selesai makan malam, Alvin hendak menyelinap pergi dari benteng untuk melakukan raid di Dungeon-dungeon peringkat B.
Tahu seberapa tinggi peringkat Cyntia, ia semakin termotivasi untuk mengejar bahkan melebihinya secepat mungkin. Dan lagi, dia tidak ingin Cyntia menganggapnya remeh seperti tadi, yang tampak terlihat kesal padanya sepanjang raid.
'Walaupun dia tidak menyukaiku, aku tetap harus membalas budi pada ayahnya yang sudah tulus menolong keluarga kami, kan? Lagian, setelah aku menghabisi keluarga Lewis, misi pengawalan ku padanya akan sedikit longgar.'
["Terserah. Ayo ke Dungeon."]
'...Ya.'
Tapi, saat Alvin baru saja keluar dari kastil tempatnya tinggal, ia langsung bertemu dengan George Maxwell dan seorang pengawalnya.
"Kau mau kemana? Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Aku baru saja mau menemuimu," ucap George, sambil berjalan mendekat untuk menghalangi jalan Alvin.
Alvin mendengus pelan sembari membalas tatapan mengancam George dengan tatapan dingin.
Mendapat tatapan seperti itu, tentu saja membuat George terkejut sekaligus marah. Sepanjang hidupnya, tidak pernah ada hunter muda yang berani menatapnya seperti itu di dalam benteng keluarga Maxwell ini.
"Kenapa kau menatapku seperti..."
"Aku mau mencari udara segar. Permisi," potong Alvin, sembari melangkahkan kakinya untuk menghindari George yang menghalanginya.
Tapi, pengawal George langsung menutup jalannya lagi.
"Berhenti," ucap pria itu sambil menahan tubuh Alvin dengan satu tangannya.
George menoleh ke kanan kirinya. Ia kemudian mengajak Alvin pergi ke tempat yang agak sepi, beralasan agar bisa berbicara dengan lebih leluasa, tapi Alvin menolak.
"Aku tidak sedang ingin bicara dengan siapapun."
Jawaban itu tentu saja membuat George, yang merasa sebagai salah satu tuan muda di wilayah benteng keluarga Maxwell, menjadi gusar.
"Apa?!"
George mendelik. Ia menoleh pada William, pengawalnya, yang langsung mengangguk lalu berbicara kasar dan menggertak Alvin.
"Hei..., kau pikir kau ini siapa? Jangan berpikir dirimu ini spesial karena kau putra paman Marco. Kau sama denganku. Tuan George ini secara tidak langsung juga atasanmu," ucap William dengan menggeram.
Baru saja William mengangkat tangannya untuk menangkap kerah baju Alvin, Alvin sudah lebih dulu memegang pundak pria itu lalu mencengkeramnya.
Melihat gerakan Alvin yang sangat cepat bahkan ia sendiri tak bisa melihatnya, kedua mata William melebar.
Tapi, rasa kagetnya kalah oleh rasa marah atas tindakan Alvin yang kini mencengkeram pundaknya dengan sangat kuat.
Diperlakukan seperti itu tentu saja membuat William, yang merasa lebih kuat dibandingkan Alvin, murka.
Dia adalah seorang Warrior peringkat D. Baginya, Healer peringkat F itu benar-benar ingin mencari mati karena dengan berani mencengkeram pundaknya sambil memberikan tatapan mengancam seperti itu.
William ingin menangkap lengan Alvin dan berniat untuk membantingnya. Tapi, ia sama sekali tidak bisa melakukan niatnya itu.
Cengkraman itu sangat kuat. Tenaga Alvin juga sangat kuat. Saat William berusaha menariknya, Alvin sama sekali tak bergeming dan berdiri dengan sangat kokoh seolah ia adalah tembok besar yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kekuatan lemah William.
"Apa-apaan?!"
__ADS_1
Melihat William sepertinya tak berkutik, George ingin turun tangan sendiri, namun Alvin langsung mendorong George dengan sangat mudah, hingga George jatuh terjungkal.
Merasakan daya dorong yang begitu kuat dari Alvin, George tentu saja tercengang.
Ia terdiam agak lama menatap Alvin sebelum akhirnya bangkit berdiri dan mencabut pedangnya, hendak menyerang.
"Apa yang kau lakukan?!"
Bentak seseorang.
Mengenali suara itu, George buru-buru menyarungkan pedangnya kembali.
Sam, datang dengan langkah lebar menghampiri mereka, lalu berbicara dengan kasar pada George.
"Apa yang ingin kau lakukan?! Kau tadi mencabut pedangmu, kan?!"
"S-sam... dia...," George menatap Alvin, yang juga sedang menatap penuh arti padanya.
'Dia bermaksud mengancamku dengan tatapan itu?!'
.........
Sam pergi menghampiri Alvin dan William, lalu meminta mereka pergi meninggalkan tempat itu. Ia juga berpesan pada Alvin untuk menunggunya di tepi sungai, sementara William dimintanya untuk pergi ke barak di dekat benteng.
Setelah keduanya pergi, Sam akhirnya berbicara pada George, sepupunya.
"George. Kau masih seorang kapten uji coba. Jaga sikapmu itu atau aku akan meminta paman Felix menyerahkan kepemimpinan tim junior pada hunter lain!"
"Tapi Sam..., dia duluan yang mendorongku."
Sam mengalihkan tatapannya menuju Alvin yang sudah berjalan menjauh. Ia kemudian tersenyum sinis, lalu menatap George kembali.
"Kau akhirnya tahu, kan?" ucap Sam, pada George.
"A-apa maksudmu?"
"Kau lupa dia hunter peringkat apa?"
"...?"
"Aku tidak mengancamnya."
"Jangan berbohong! Kau pikir aku tidak tahu niatmu?"
George tertunduk. Ia memang memiliki niat menjauhkan Alvin dari Cyntia, pewaris keluarga Maxwell.
"George, sekarang coba jawab ini. Apa kau berani bermusuhan dengan Brondy selama bertahun-tahun?"
"A-apa?"
Sam tersenyum sinis, lalu melanjutkan, "Alvin telah melakukannya selama bertahun-tahun. Kau sendiri? Kau hanya berani bermusuhan dengan keluarga Lewis karena kau adalah seorang dari keluarga Maxwell, kan?"
"George, aku akan memberimu sebuah petunjuk. Alvin, berani melakukannya seorang diri melawan keluarga Lewis tanpa adanya dukungan. Dia bahkan tidak datang berlari ke keluarga Maxwell untuk berlindung,"
Sam kemudian menusuk-nusuk dada George dengan telunjuknya, "Kau..., jangan coba-coba mencari masalah dengan orang seperti itu, yang akan segera paman Arthur jadikan seorang hunter peringkat S atau kau akan menyesalinya nanti,"
"Lihat sekarang. Dengan tubuhnya yang lemah dan energi sihirnya yang tidak seberapa itu saja dia sudah berani menentangmu. Kau pikir kau akan selamat saat dia sudah berperingkat S nanti?"
George terdiam. Tapi ia akhirnya ingat bahwa Alvin memiliki tenaga kuat yang bahkan bisa membuat hunter peringkat A sepertinya terpental.
"Sam. Ku beritahu. Dia sangat kuat. Tenaganya itu... Mungkin dia menyembunyikan sesuatu."
Sam tertawa.
"Aku memberitahumu lagi. Itu yang namanya tekad untuk tidak mau kalah. Dia sudah berjuang seperti itu selama bertahun-tahun, tidak membiarkan Brondy si perundung itu menginjak-injak harga dirinya dan itu juga yang sedang dilakukannya padamu."
George tertunduk diam. Ia tidak tahu ada orang tertindas yang bisa seperti itu. Tapi, bagaimanapun ia memikirkannya, kekuatan Alvin itu tidaklah normal.
Karena George tidak berusaha membantahnya lagi, Sam akhirnya mengusirnya, lalu pergi menemui Alvin di tepi sungai.
......................
"Aku tahu kau orang yang nekat. Tapi, keberuntunganmu juga ada batasnya, bro," ucap Sam, saat ia sudah duduk di sebuah batu besar di tepi sungai bersama Alvin. "Bagaimana jika aku tadi tidak datang? Dia mungkin akan menusukmu dan melaporkan itu sebagai sebuah kecelakaan."
__ADS_1
Alvin tersenyum canggung dan mengangguk pelan.
Sam menepuk pelan pundak Alvin.
"Aku beritahu padamu. Dia itu orang yang licik. Kau mungkin sudah bertahun-tahun bermusuhan dengan Brondy. Tapi, mereka berbeda. Brondy pengecut berotak dangkal. George itu pengecut yang licik."
Alvin mengernyitkan alis.
"Darimana kau tahu itu?"
"Keluarga Maxwell memiliki mata-mata."
"Apa kalian memata-mataiku dan Brondy?"
"Kami harus melakukannya untuk menjaga Tia tetap aman."
'Apa hubungannya?'
["Mereka mengawasimu untuk melihat apakah kau kompeten atau tidak sebagai seorang pengawal."]
'Entah kenapa kau sepertinya tahu banyak hal.'
["..."]
"Lusa akan ada pesta penyambutan Tia di pusat kota. Setelah itu, ikutlah bersamaku ke Berlin."
"Apa?!"
"Paman Arthur akan meningkatkan experience mu. Sebagai pengawal pribadi Tia, kau setidaknya harus berada di peringkat S."
"Tapi..., aku tidak memerlukan itu."
Setelah Alvin menolak, anehnya, tatapan Sam tiba-tiba berubah. Ia menatap Alvin tajam. Kilatan kemarahan tampak dari kedua matanya.
"Bro. Kau tidak tahu siapa yang kau lindungi? Kau tidak boleh berada pada kemampuanmu yang sekarang jika kau ingin benar-benar melindunginya."
"Tapi... dia..."
Alvin hendak mengatakan bahwa hunter peringkat SSS seperti Tia tidak memerlukan perlindungan berlebih, namun Mina keburu memotongnya.
["Jangan katakan itu. Berpura-puralah tidak tahu."]
'Ya?'
["Kuperhatikan, sepertinya tidak ada yang tahu jika dia berperingkat SSS kecuali orang ini, ayahnya, ayah gadis itu dan ketiga pengawalnya. Mereka akan mencurigaimu kalau mereka tahu kau sudah tahu."]
'Apa?!'
["Tsk... Aku tak akan mengulanginya."]
'Bukan. Kata-katamu terlalu memusingkan.'
["Pura-pura saja tidak tahu itu!"]
'Ya.'
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Sam, setelah lama menunggu Alvin yang tadi sepertinya ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba saja terdiam.
"Tidak apa-apa."
Sam mengangguk pelan. Ia kemudian menatap lengan Alvin yang kurus lalu teringat pada apa yang George katakan. Ia hampir tertawa memikirkan kebohongan konyol George itu.
'Bagaimana mungkin orang sekurus ini memiliki tenaga yang kuat? Energi Mana nya juga sangat rendah. Si pengecut itu ingin mengada-ada?'
Sam menatap kedua mata Alvin lagi.
"Kau juga sebaiknya lakukan pelatihan fisik dan bela diri. Kau terlalu kurus. Kau membutuhkan stamina, otot dan skill beladiri sebagai Healer peringkat S. Dungeon peringkat A sangat sulit untuk ditaklukkan."
Sam menepuk ringan pundak Alvin beberapa kali, sebelum akhirnya pamit pergi meninggalkan Alvin yang kini duduk termenung seorang diri.
Tanpa Alvin ketahui, dia sebenarnya tidak berada seorang diri di tempat itu.
Seorang wanita cantik yang duduk tak terlalu jauh darinya, di dahan pohon, sedang mengamati wajah Alvin dengan penuh minat.
__ADS_1
...****************...