
Sebelum masuk ke dalam portal yang akan membawanya kembali ke kediaman keluarga dewa Arnix, dewi Ann menatap lekat-lekat kediaman keluarga Bazlar yang berada di puncak bukit.
Dia sebenarnya datang ke wilayah keluarga Bazlar untuk mencari jejak adiknya, Lyn Arnix, yang sudah menghilang selama beberapa waktu.
Dewi Lyn adalah dewa tertinggi penguasa pusaran putih, yang umat manusia di Bumi kenal dengan nama galaksi Milky Way.
Dewi Lyn terpisah darinya dan menghilang saat sedang berada di portal sihir, dalam perjalanannya menuju ke Bumi untuk meringkus 31 malaikat keluarga Arnix yang telah berkhianat.
Setelah dewi Lyn menghilang, dewi Ann berusaha mencarinya ke seluruh planet yang berada di pusaran putih namun ia tidak bisa menemukannya.
Karena itulah dewi Ann pergi ke beberapa dewa penguasa pusaran lain untuk meminta bantuan mereka mencari lokasi keberadaan dewi Lyn secara diam-diam sebelum hilangnya dewi Lyn diketahui dewan pengawas agung.
Jika dewan pengawas agung sampai mengetahui hal itu, keluarga dewa Arnix tentu saja akan dianggap lalai karena telah terperdaya oleh malaikat kasta terendah. Kelalaian itu sudah pasti akan menyebabkan keluarga dewa Arnix menerima hukuman tingkat tinggi yaitu pemusnahan seluruh keluarga mereka.
.........
Sebelum mencari keberadaan dewi Lyn, dewi Ann sebenarnya sudah berusaha untuk mengejar 31 malaikat pengkhianat itu. Namun, dia hanya berhasil menyergap dan menghabisi 13 saja di antara mereka, sebelum mereka akhirnya lari dan bersembunyi di celah dimensi.
Karena sisa-sisa malaikat tersesat itu bersembunyi disana, maka tidak ada cara untuk menemukan mereka selain melalui dewi Lyn karena sebagai pimpinan tertinggi dari keluarga Arnix, hanya dewi Lyn lah yang terkoneksi pada seluruh inti Mana para malaikat.
Sebab itulah, dewi Ann tidak bisa menghapus Dungeon-dungeon yang berada di Bumi, kecuali dia bisa menemukan dewi Lyn terlebih dahulu.
Merasa misinya untuk meminta bantuan pada keluarga dewa Bazlar gagal, dewi Ann hanya bisa menghela nafas panjang sebelum akhirnya berniat untuk masuk ke dalam portal, namun terhenti saat salah satu malaikat dari keluarga Arnix muncul dari portal itu.
"Dewi Ann... Kami menemukan jejak Yang Mulia dewi Lyn," ucap malaikat itu dengan tergesa-gesa.
"Apa?! Di mana?"
"Ada sisa sihir samar di bintik biru. Kami tidak tahu ke arah mana portal itu dibelokkan. Jika Anda yang memeriksanya..."
"Ayo kita ke sana sekarang."
...****************...
Alvin berdiri dengan sangat gagah di atas tumpukan mayat ular naga dan wyvern.
Setelah berhasil menghabisi ribuan makhluk raksasa tersebut, jutaan monster kecil yang sebelumnya terus-terusan datang dan mengeroyoknya tampak enggan untuk melanjutkan pertempuran lagi.
Jika ular naga dan wyvern saja bisa dikalahkannya, apalagi mereka yang memiliki kekuatan tak sampai 5% nya kedua makhluk tersebut.
Begitulah isi pikiran monster-monster itu, yang kini hanya berdiri mengelilingi gunungan mayat para monster raksasa di mana Alvin sedang berdiri di puncaknya.
__ADS_1
Padahal, Alvin yang tampak gagah perkasa berdiri dengan tatapan menantang itu, sudah terlalu banyak terkontaminasi racun dari planet monster, terutama dari inti Mana monster yang terserap ke tubuhnya.
Sejak Rimi kehilangan fungsi teknis, Alvin sama sekali tidak bisa mencegah inti Mana nya untuk menyerap inti Mana monster-monster yang sudah berhasil dihabisinya.
.........
"Rimi, sudah berapa lama kita berada di sini?" tanya Alvin setelah ia memerhatikan sekelilingnya dan tidak bisa melihat daratan lagi disana.
Akibat pertempuran yang ia lakukan selama berbulan-bulan, daratan kini tertutupi oleh mayat-mayat monster sampai dalam radius ratusan kilometer.
sahut Rimi yang selama ini Alvin berikan tugas untuk memperhatikan perubahan waktu secara manual melalui pergantian siang dan malam di planet monster.
"Sudah cukup lama."
["Kau bahkan sudah memiliki kumis dan jenggot yang tidak tercukur."]
"...Kuharap poin kesukaan Tia tidak berkurang setelah melihatnya."
["Kau mulai gila."]
"Jika aku harus melalui semua ini sedikit lebih lama lagi, ku rasa aku akan benar-benar gila."
["Anggap saja kau sedang melatih ketabahanmu."]
["Setidaknya kau kini sudah sangat mahir dalam bertarung, kan?"]
"Apa gunanya jika aku tidak bisa kembali ke Bumi dan menghabisi semua Dungeon di sana?"
["Kau tinggal habisi saja semua monster yang berada di sini. Jika gerbang Dungeon Bumi kebetulan terhubung dengan planet ini, paling tidak hunter-hunter Bumi tidak akan menemui monster-monster mematikan seperti mereka."]
Setidaknya itulah temuan yang Alvin dan Mina dapatkan setelah merenungkan tentang bagaimana monster-monster bisa berada di dalam sebuah Dungeon.
Dugaan mereka memang tepat. Dungeon sebenarnya bukanlah tempat yang tiba-tiba saja ada dan dibuat oleh para pembuat Dungeon.
Para pembuat Dungeon sebenarnya hanya menghubungkan Bumi dengan planet asing, dimana mereka membatasi suatu wilayah dari planet tersebut dengan sihir pemisah yang berasal dari pilar sihir.
Zona yang para pembuat Dungeon batasi akan terisolasi dari planetnya sampai pilar sihir berhasil di hancurkan para hunter dari Bumi.
Saat pilar sihir hancur dan gerbang di Bumi tertutup, pada saat itulah zona yang terisolasi akan terbuka kembali dan wilayah yang tadinya menjadi sebuah Dungeon akan menyatu kembali dengan planetnya.
Karena itu, jika seorang hunter terjebak di dalam sebuah Dungeon saat gerbang sudah tertutup, hunter tersebut akan terjebak selamanya di sebuah planet asing.
__ADS_1
Mereka tidak akan bisa kembali kecuali ada malaikat dari planet tersebut atau dari planet lain yang secara sengaja atau tidak, membukakan gerbang bagi mereka menuju Bumi.
Walaupun Alvin dan Mina masih belum mengetahui hal terakhir, namun mereka berharap ada pembuat Dungeon yang tanpa sengaja bisa membukakan gerbang bagi Alvin agar ia bisa kembali lagi ke Bumi.
Beruntungnya, setidaknya itulah yang Alvin pikirkan saat ini, sebuah gerbang tiba-tiba muncul di tempat yang tidak terlalu jauh darinya.
Melihat gerbang yang tiba-tiba saja ada di antara mayat-mayat monster itu, tanpa berpikir lagi, Alvin langsung melesat ke sana dan masuk ke dalamnya.
Jika gerbang itu bukan jalan kembali ke Bumi, toh tidak akan ada yang berubah juga. Dia hanya berpindah dari satu planet ke planet lain. Sebelum gerbang itu tertutup lagi, Alvin mencoba peruntungannya.
......................
Hampir tidak ada yang berubah setelah Alvin melewati gerbang.
Ia tiba di planet gersang yang hanya memiliki padang pasir dan bukit-bukit batu yang mirip dengan planet di mana ia berada sebelumnya.
Lingkungan di planet itu juga sama gelapnya, juga memiliki banyak monster, yang entah bagaimana terlihat seakan sedang menanti kehadirannya.
Tapi, Alvin justru sedikit senang saat melihat rupa ratusan ribu monster yang berada dihadapannya itu. Mereka adalah monster hitam legam yang sama dengan monster-monster yang berada di Dungeon peringkat S di Kota T dulu.
Artinya, dia sekarang berada di planet makhluk yang telah membuatnya tersesat ke planet monster, yang ia tahu bisa berbicara dalam bahasa manusia Bumi.
Jika ia bisa menangkap monster level tinggi itu, dia mungkin akan bisa meminta di bukakan gerbang kembali menuju Bumi.
.........
Alvin mendongak, menatap 3 makhluk berwujud manusia yang terbang di atas ratusan ribu monster.
Walaupun ia tidak dapat merasakan adanya energi Mana dari mereka, namun dari sikap mereka saja, ia tahu bahwa makhluk-makhluk itu berlevel tinggi dan mungkin sangat kuat.
"Mereka pasti tahu cara membukakan gerbang untuk kita kembali ke Bumi, kan?"
["Tapi firasatku kurang baik."]
"Kau juga tidak bisa merasakan energi Mana mereka?"
["Ya."]
"Tidak ada cara lain selain menangkap mereka. Keracunanku juga mulai parah."
["Kau benar. Ayo serang mereka. Abaikan saja berandalan-berandalan kecilnya."]
__ADS_1
Dengan menggunakan airbender, Alvin melompat tinggi lalu terbang dan melesat menghampiri 3 makhluk bersayap itu.