
Alvin tidak langsung bangkit dari rumput kering yang menjadi alas tubuhnya, ingin mengambil waktu untuk beristirahat sebentar sementara healing skill menyingkirkan sisa sihir Beelzebub dari dalam darah dan ototnya.
Rimi yang berada dalam wujud avatar hunter tiba di dekatnya tak lama kemudian dengan membawa kepala Beelzebub yang telah terpisah dari tubuhnya, sementara belalang sembah membawa tubuh Beelzebub dan melemparkannya di dekat Alvin.
Alvin menoleh, melihat tubuh tanpa kepala Beelzebub yang bergerak naik turun dengan cepat, menandakan jika jantungnya masih berdetak.
“Kau ingin menghabisinya, Rimi?” ucap Alvin sambil tersenyum tipis.
“Bolehkah saya melakukannya, tuan?” Rimi yang memiliki banyak dendam pada makhluk itu, bertanya balik.
Alvin tertawa.
“Tentu saja. Bukankah itu adalah misimu dan Mina?”
“Kalau begitu akan saya lakukan, tuan,” sahut Rimi yang kemudian berjongkok di samping tubuh Beelzebub.
Crakkkk…!
Jemari avatar menembus tulang dada Beelzebub sebelum Rimi akhirnya mencengkram kuat jantung yang masih berdetak itu, lalu menghancurkannya.
Beberapa saat kemudian, Rimi menarik kembali tangan avatarnya yang berlumuran darah dan mengangkatnya ke udara, menunjukkan sebuah bongkahan kristal seukuran bola tenis meja yang diapitnya di antara ujung jari telunjuk dan ibu jarinya.
Crash…!
Kristal semerah darah itu pecah saat Rimi menekannya dengan kuat.
Asap merah yang berasal dari kristal beterbangan di sekitar tubuh avatar Rimi, sebelum terserap ke dalam dadanya.
“Kau menyalin skillnya?” tanya Alvin dengan kedua mata terbelalak.
“Ya, tuan.”
“…Gila.”
“Mina sudah memprogram imitator skill pada saya dan saya bisa menyalin skill apa pun saat sedang berada dalam avatar hunter.”
Alvin akhirnya duduk.
“Jadi, selama ini kalian benar-benar menipuku?"
"...S-saya tidak mengerti maksud Anda, tuan."
"Semua skill yang kudapatkan. Apakah sebenarnya skill itu sudah ada di dalam tubuhku dengan adanya kau juga di dalam tubuhku?"
"..."
"Tolong jawab itu."
["Tapi tidak dengan inti Mana mu."]
"Begitu. Artinya apa yang ku katakan tadi benar, kan?"
Rimi menatap Alvin dari balik mata avatar yang bulat, memindai emosi pria itu dengan teliti.
"Anda tidak marah, tuan?" tanya Rimi pelan, dengan hati-hati.
"Hah? Tidak. Aku memiliki kebijaksanaan yang berkembang pesat setelah bergaul bersama Mina dalam satu tahun belakangan."
["Huh? Apa maksudmu?"]
"Jangan dipikirkan."
["..."]
"Jadi kalian mengeluarkan skill itu sedikit demi sedikit? Padahal skill nya sudah ada di dalam program yang ada pada Rimi, kan?"
["Skill itu tidak ada. Rimi benar-benar membuatnya saat kau menemukan monster. Hanya saja, skill yang masuk ke dalam inti Mana sebenarnya tersaring dan tersimpan di dalam inti Mana Sistem Rimi,"]
["Saat kau menggunakannya, Rimi mengaktifkan skill dan kau menggunakan skill itu dengan energi Mana mu."]
__ADS_1
Alvin mengangguk pelan.
"Jadi saat Rimi pergi dari tubuhku, semua skill itu ikut dengannya."
["Tidak semua. Rimi meninggalkan ghost skill, airbender, healing dan regeneration skill padamu."]
"Aku tahu itu. Jadi, inti Mana ku sebenarnya memang di khususkan untuk The Art Of Killing?"
["Ya. Kau tidak bisa menggunakan skill itu tanpa latihan dari quest harian, mingguan, bulanan dan quest level yang selama ini kau lakukan,"]
["Dan lagi, kau memerlukan energi Mana yang sangat besar untuk dapat menggunakannya. Karena itulah kau diperkenankan menggunakan skill dari Sistem untuk sementara waktu."]
"Pantas saja..."
["Huh?"]
"Kau selalu mengatakan jika aku akan tahu suatu saat nanti setiap aku menanyakan hal penting."
["...Begitulah."]
"Tapi, tuan... Kami sebenarnya tidak bermaksud untuk menipu Anda. Dan..."
Rimi menghentikan kalimatnya, menoleh sebentar ke arah gerbang raksasa merah yang tiba-tiba saja bergemuruh saat mulai runtuh setelah pembuat gerbangnya, Beelzebub, telah binasa.
Gerbang kristal itu terkoyak dan kepingan-kepingannya jatuh ke Bumi bagaikan hujan kristal yang berkelap-kelip terkena pantulan cahaya Matahari di siang hari.
"Dan?"
"Dan Anda saat ini sudah mulai terkenal di seluruh dunia."
"Hah? Apa hubungannya?"
"Mina dari masa ini sudah membuka saluran satelit yang Mina kita kunci. Satelit Asosiasi Dunia sudah mengambil siaran langsung yang terjadi di sini."
"F**k! Untuk apa dia melakukannya?"
["Supaya semua orang tahu jika kau juga ada untuk mereka."]
["Kau akan mudah membangun bisnis saat kau punya nama."]
Alvin terdiam. Apa yang Mina katakan memang benar. Jika Dungeon sudah tidak ada lagi, dia akan jadi pengangguran yang tidak bisa menghasilkan apa-apa.
Tidak mungkin dia akan menjadi perampok setelah ini, kan?
'Memiliki nama baik sebagai pahlawan tidak buruk juga. Aku bisa memulai bisnis dengan nama baik di awal.'
Sudut bibir Alvin melengkung ke atas.
"...Kalau begitu, kenapa kau selama ini menyembunyikan diriku? Harusnya dari dulu saja aku terkenal seperti Anna dan timnya."
["Aku khawatir jika aku yang berada di zaman ini akan menangkapmu jika hal itu tidak dilakukan. Kau pasti akan mati jika dia menemukanmu sebelum kau sekuat kemarin."]
Alvin mengernyitkan dahi.
"Tapi... Aku tidak melihatnya seperti akan melakukan itu. Dia memang terlalu sadis, sih... Tapi dia sedang mengajariku."
Alvin bisa mendengar suara helaan nafas panjang dari Mina di dalam kepalanya.
["Aku juga tidak menyangkanya."]
"Tidak menyangkanya?"
"Mina dulu adalah orang yang sangat dingin, tuan. Sebelum bertemu dengan kami, dia adalah orang tanpa kompromi," Rimi menyela, menjelaskan arti kekhawatiran Mina tadi.
"Begitu..."
......................
Bersamaan dengan kematian Beelzebub, sang fallen angel terakhir yang berasal dari pusaran putih, gerbang-gerbang Dungeon kecil yang tersisa di muka Bumi juga ikut menghilang bersamaan dengan hilangnya gerbang cincin raksasa.
__ADS_1
Seluruh masyarakat dunia kini juga tahu jika ada hunter lain, selain Anna yang mereka puja, yang juga memiliki kekuatan di luar batas hunter peringkat tinggi normal.
Seluruh masyarakat yang sebelumnya bersembunyi di dalam bunker berlarian keluar.
Mereka merayakan kemenangan itu di jalan-jalan, di pegunungan, di hutan, di padang gurun, dan dimanapun dekat area bunker berada, setelah Asosiasi Dunia mengonfirmasi jika miliaran monster merah yang sudah menyebar di muka Bumi telah berhasil diatasi oleh Anna dan timnya, juga oleh Alvin dan pasukan serangganya.
Cyntia juga akhirnya tiba di tempat Alvin berada setelah sebelumnya melakukan panggilan pada Sam yang sedang berada di persembunyian.
Ia langsung berlari, melompat dan memeluk Alvin, setelah melihat pria jangkung itu berdiri di hadapannya.
"Kau berhasil," ucap Cyntia pelan.
Ia memiliki emosi yang bercampur aduk antara senang dan terharu di hatinya.
Wanita itu ingat jika ia sudah bertekad untuk melindungi Alvin sekembalinya ke Kota S, namun nyatanya Alvin adalah seorang hunter kuat yang bahkan bisa melindungi dunia.
Alvin terdiam membeku selama beberapa saat. Ia merasa sedikit heran dengan maksud dari kata 'berhasil' itu.
"Kau juga," sahut Alvin setelah agak lama, setelah ia melihat kondisi Cyntia yang tampak baik-baik saja.
Setelah peningkatan kapasitas energi Mana yang Miyuki berikan pada wanita itu, Cyntia tampak sangat kuat. Ia juga tidak terlihat kelelahan walaupun sudah bertempur selama hampir 36 jam.
Cyntia berpaling, menatap avatar hunter yang tadi sedang berjalan bersama Alvin.
"Jadi dia Rimi..."
"Hallo, nona Maxwell."
Cyntia tersentak kaget, mendengar suara mekanik gadis muda yang mengejutkannya.
"Kau bisa berbicara?"
"Ya, nona Maxwell. Saya Rimi. Senang bisa berjuang bersama Anda."
"Saya juga," sahut Cyntia.
Ia ingat bagaimana Rimi dan pasukan serangga bertempur beberapa ratus meter di dekatnya dan selalu berada tak jauh darinya.
Cyntia melirik pada Alvin dan sebuah senyuman terbentuk di bibirnya.
'Jadi dia meminta Rimi untuk menjagaku?'
"Kau bisa pergi ke bunker dulu sekarang," ucap Alvin saat tatapan mereka bertemu secara kebetulan.
"Kau tidak ikut?"
"Aku? Aku masih menunggu seseorang."
Cyntia mengernyitkan alis.
"Menunggu seseorang? Anna?"
"Ya?"
Bibir wanita itu tiba-tiba saja mengerut. Ia memang tidak melihat ketertarikan 'khusus' Anna pada Alvin. Tapi ia tidak tahu jika sebaliknya.
"Untuk apa aku menunggunya?"
"Ya?"
'Aku lupa. Dia tidak ada saat Anna memberitahuku tentang gerbang hitam.'
Saat Alvin sedang mengingat pesan dewi Ann yang Anna sampaikan padanya, kekuatan sihir besar muncul secara tiba-tiba.
Bersama dengan kekuatan sihir itu, gerbang cincin kristal berwarna hitam mengkilap muncul menggantikan gerbang kristal merah yang sudah runtuh, di jalur yang sama dengan tempat keberadaan gerbang merah sebelumnya.
Ukuran gerbang itu juga sama dengan gerbang cincin sebelumnya. Energi sihirnya pun sama mengerikan. Bahkan, Alvin bisa merasa jika gerbang kali ini memiliki aura sihir yang jauh lebih mencekam dibandingkan gerbang merah.
"Astaga, ku kira aku masih memiliki sedikit waktu untuk bersantai selama beberapa jam."
__ADS_1
...****************...