Hunter System

Hunter System
Bab 88 - Pertemuan Di Depan Kastil


__ADS_3

George menganggap rencananya akan berjalan baik dan ia sangat bahagia selama dua hari belakangan ini. Ia bahlan sudah mengeruk seluruh tabungan masa depannya untuk membayar orang yang Duncan katakan akan membantu mereka.


Karena itulah, George tak sabar menunggu rencananya berjalan dan melihat paman-pamannya dan dua sepupu sombongnya itu hancur.


Tapi, dia tidak tahu bahwa Cyntia tentu saja tidak sebodoh itu untuk tidak mengamati pergerakkannya, yang Cyntia tahu sangat liar.


Cyntia dan Sam tahu bagaimana kelakuan George saat masih tinggal di Amerika. Dia adalah pria yang sangat liar, licik dan banyak membuat masalah kejahatan yang selama ini selalu ditutupi ayahnya.


......................


"Apa Anda akan tetap pergi ke pesta itu, nona?" tanya Sarah, saat melihat Cyntia tampak tidak terganggu dengan informasi yang sudah Sarah sebarkan ke seluruh orang kepercayaan Arthur itu.


"Aku akan tetap pergi. Yang penting paman Alan sudah menyiapkan perlindungan untuk ayah."


"Tuan Alan dan tuan Sam sudah menyiapkan perlindungan terbaik untuk tuan besar."


"Baguslah."


"Ngomong-ngomong, kalau Anda jadi pergi, kenapa Anda menyimpan kembali gaun untuk pestanya, nona?"


Cyntia tiba-tiba cemberut. Ia menatap pintu ruangan yang merupakan kamar ganti dan tempat semua pakaiannya berada dengan perasaan kesal.


"Aku memesan gaun itu karena ingin mengenakannya saat dia ada," sahut Cyntia. Ia kemudian menghela nafas panjang untuk meredakan kekesalannya sebelum akhirnya menoleh lagi pada Sarah, "Ingat, jangan sampai Alvin datang ke pesta itu, ok?"


"Ya, nona. Saya sudah memberitahunya untuk tidak ikut datang."


"Terima kasih," sahut Cyntia dengan tanpa semangat.


......................


Alvin yang diminta untuk tetap berada di kamarnya saja selama 3 hari, tentu saja langsung menggunakan waktu tersebut untuk menyelinap keluar tembok dengan stealth skill, lalu melakukan raid di banyak bakal Dungeon.


Mengira Cyntia dan tim raid barunya itu mengistirahatkannya karena tidak kompeten, Alvin sebenarnya merasa sedikit kecewa.


Tapi ia juga merasa sedikit bersyukur karena dengan begitu dia bisa menaikkan experience point nya dengan tenang.


Selama dua hari ini, setelah menyelesaikan quest harian, Alvin langsung pergi ke bakal gerbang Dungeon. Beruntungnya, dia menemukan 4 bakal Dungeon peringkat A dan belasan bakal Dungeon peringkat B. Hal itu mungkin tidak akan bisa didapatkannya di Kota T yang memiliki luas wilayah hanya seperempat dari luas wilayah Kota S.


.........


Alvin tersenyum riang saat melihat banyak barang yang memenuhi jendela inventory nya. Rimi akhirnya memberikan perluasan pada jendela inventory itu yang kini sanggup untuk menampung 30 jenis barang berbeda dan tiap jenis barang bisa disimpan tanpa batas.


["Kau benar-benar menumpuk sampah!"] keluh Mina, saat Alvin baru saja memasukkan mayat bos Dungeon yang baru berhasil ia bunuh.


"Sabar, ok? Besok kita akan pergi ke Kota T untuk menyerahkan setengah dari isi inventory ke perusahaan," ucap Alvin dengan nada ceria sambil memerhatikan produk hasil tempa yang sudah Mina hasilkan selama mereka berada di Kota S.


Alvin baru saja mengaktifkan ponselnya lagi saat panggilan masuk dari Vina diterimanya.


《"Kau sibuk?"》


"Tidak. Aku baru saja keluar dari gerbang. Kau merindukanku?"


《"Tidak. Aku cuma ingin menanyakan tentang persediaan produk kita. Apa kau sudah memilikinya?"》


'Apa semua orang tidak memerdulikanku lagi?'


["Tsk... Anak yang malang."]


《"Alvin?"》


"Ya. Penempa kita sudah membuatkan 80 set lengkap."


《"Bagus. Siapkan itu di rumah kita. Aku dan Thomas akan membawanya besok."》

__ADS_1


"Membawanya? Dimana kau sekarang?" tanya Alvin sambil membuka peta pertemanannya untuk mengecek lokasi Vina.


《"Aku masih di Kota T. Sore ini aku, Thomas dan orang-orang dari ZC group akan terbang ke Kota S."》


"Apa?! Apa yang kau lakukan dengan mereka?"


《"Kita mendapatkan kontrak kerjasama dengan ZC group dan mereka akan membantu kita untuk mendapatkan kontrak kerjasama lagi dengan Maximus group juga."》


"Bagaimana kau bisa berhubungan dengan mereka?"


《"Billy Cruz menemuiku untuk meminta maaf atas perlakuan kasarnya padamu dan yah... dia secara tidak sengaja melihat sampel produk kita dan sangat berminat untuk memasarkannya di luar kota dan luar negri."》


"Begitu... Tapi, dia tidak mengancammu, kan?"


《"Huh? Apa maksudmu? Dia sangat ramah."》


"..."


《"Sudahlah. Sekarang kau akan pergi ke Royal Hotel untuk pesta penyambutan Tia, kan?"》


"Dari mana kau tahu akan ada pesta penyambutan itu?"


《"Tsk... Perusahaan kita juga mendapatkan undangan resminya melalui ZC group. Billy akan mengenalkan ku pada paman Alan,"》Vina tertawa setelah mengucapkan itu. Setelah puas tertawa, ia melanjutkan, 《"Kurasa mereka akan sama-sama terkejut saat tahu bahwa perusahaan Rufino adalah perusahaan milik kedua anak ayah."》


Alvin tersenyum pahit, "Paman Alan bahkan tidak curiga jika itu perusahaan milik anak-anak ayah?"


《"Tidak sama sekali. Sudah ku bilang, kan?"》Anehnya, nada bicara bersemangat Vina juga tiba-tiba lenyap.


Mereka berdua sadar bahwa keluarga mereka benar-benar tidak diperhitungkan sampai keluarga Maxwell pun tidak mencurigai nama perusahaan itu. Padahal sangat jarang orang menggunakan nama Rufino.


《"Jadi, bisakah kau membawa beberapa sampel ke Royal Hotel malam ini?"》


"Apa? Kenapa harus aku?"


《"Kau tinggal membawanya saja, kan?"》


《"Kenapa?"》


"Aku diminta untuk tetap tinggal di dalam benteng."


《"Huh? Bukankah ayah mengatakan bahwa kau sekarang resmi sebagai pengawal pribadi Tia? Kenapa kau tidak pergi bersamanya?"》


"...Itu agak sulit kujelaskan. Tapi, aku akan mengirimkannya saja, ok?"


《"Baiklah."》


"Ok. Kalau begitu aku akan menutup..."


《"Tunggu."》


"Ya?"


《"Bagaimana kabar Tia?"》


"..."


《"Alvin?"》


"Sudahlah."


Alvin langsung memutuskan panggilan itu karena ia tidak mau membahas tentang Cyntia yang tampak sangat jelas tidak menyukainya, juga mengabaikannya.


......................

__ADS_1


Sore hari, setelah Alvin mandi dan mengenakan pakaian rapi yang baru dibelinya, ia keluar dari kastil untuk pergi ke Royal Hotel, mengantarkan sampel produk yang Vina minta.


Setelah ia pikirkan lagi, Cyntia boleh saja melarangnya pergi tapi dia juga masih memiliki hak untuk pergi karena belum menandatangani kontrak resmi untuk bekerja di bawah Cyntia.


Dan lagi, dia pergi bukannya sebagai pengawal Cyntia, namun sebagai seorang pebisnis yang juga mendapatkan undangan resmi dari keluarga Maxwell melalui perusahaannya.


.........


Saat Alvin berjalan melewati kastil utama, secara kebetulan ia bertemu dengan Cyntia.


Sama seperti Alvin yang kaget saat melihat Cyntia berada di hadapannya, Cyntia juga mengalami kekagetan yang sama.


Wanita itu langsung memalingkan wajahnya yang merona, saat ia sama sekali belum siap bertemu Alvin. Ia bahkan langsung berlari pergi meninggalkannya.


Cyntia mengangkat ujung gaunnya sambil berlari pergi menuju mobil sedan yang sudah menunggunya di depan kastil utama dan langsung masuk mobil itu dengan terburu-buru sambil meminta Brooklyn yang mengendarai mobil untuk segera pergi.


"Nona Tia? Apa yang terjadi?" tanya Sarah, bingung meliat wajah Cyntia yang merah merona.


Tapi ketiga pengawal itu langsung menyadari apa yang sudah terjadi.


Cyntia langsung memalingkan wajah ke luar jendela, menghindari tatapan aneh ketiga pengawalnya itu.


"Nona Tia... Anda sangat cantik," puji Vernon.


Dipuji seperti itu, Cyntia akhirnya menoleh kembali dan menatap Vernon yang duduk di kursi depan melalaui kaca spion, lalu menatap Sarah yang duduk disebelahnya.


"Benarkah?" tanya Cyntia pada sarah.


"Anda sangat cantik!" puji Sarah dengan wajah serius. "Apa dia sudah melihat Anda mengenakan gaun ini? Bagaimana reaksinya?"


Cyntia berusaha untuk menahan senyumnya, lalu memalingkan wajah lagi keluar jendela. Ia membayangkan lagi bagaimana wajah kaget Alvin saat melihatnya mengenakan gaun itu.


'Dia kaget karena terpesona padaku atau kaget karena tiba-tiba bertemu denganku di depan kastil, ya? Tapi..., kenapa dia rapi sekali? Apa dia mau jalan-jalan di sekitar benteng?'


......................


Alvin masih berdiri mematung di tempatnya semula, tempat saat ia terdiam ketika bertemu Cyntia.


Jantungnya juga masih berdetak dengan sangat cepat, juga masih seperti saat ia terpesona melihat kecantikan sempurna Cyntia yang hanya menggunakan riasan tipis itu.


Sebenarnya, Alvin bahkan tidak terlalu memerhatikan gaun yang Cyntia kenakan.


Tatapannya hanya terfokus pada wajah cantik wanita itu.


"Bagaimana bisa ada manusia yang secantik bidadari?"


Hoekkkk...!


Alvin tiba-tiba muntah setelah selesai mengucapkan kalimat itu.


Rasa kagumnya pada Cyntia tiba-tiba lenyap saat ia tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba saja muntah.


"A-apa yang terjadi? Mina, apa kau meracuniku?"


["Maaf, aku tiba-tiba mual saat mendengar ucapanmu. Aku tidak punya mulut jadi aku muntah melalui mulutmu."]


"..."


["..."]


"Kau f**k!"


__ADS_1


["Yah..., cantiknya bahkan terlalu berlebihan."]


...****************...


__ADS_2