Hunter System

Hunter System
Bab 213 - Tempat Semua Makhluk Ciptaan Berakhir (2)


__ADS_3

Alvin menghela napas panjang sebelum berbicara lagi, "Ku rasa orang yang membawa kita ke sini mungkin tinggal di kastil yang berada di puncak gunung besar yang kulihat saat kita baru tiba di sini,"


"Aku yakin ada dewa atau malaikat yang tinggal di sana karena aku tidak bisa merasakan pancaran energi Mana dari dalam kastil itu."


"Jangan kesana."


"..."


"Tidak, bukan itu maksudku. Tidak apa-apa kalau kau menemukan makhluk yang membawamu ke sini dan menemukan cara untuk kembali. Tapi..., tolong bersabar dulu sampai aku menemukan cara agar kau bisa kembali tanpa membuat masalah di tempat ini."


Alvin diam lama sembari terus memperhatikan Mina, seakan sedang mempelajari apa yang Mina rencanakan, dari ekspresi gadis itu.


"Wanitamu mungkin akan marah jika kau menatap wanita lain terlalu lama."


"...Aku sedang tidak ingin bercanda."


"Maaf."


"Aku tahu kau ini nyata dan ini bukanlah dunia ilusi."


"Jadi?"


"Begini... Aku bisa menebak kita sedang berada di mana. Tapi, bisakah kau beritahu aku apa yang sudah kau ketahui dan apa yang mereka bicarakan di sana? Kau tampak sangat menyimak pembicaraan mereka."


"Akan ada pertempuran nanti malam."


"...Baiklah. Lalu..., apa pertempuran itu ada hubungannya dengan cara untuk kembali ke Bumi?"


Mina menggelengkan kepala.


"Begitu..."


Mina mengalihkan tatapannya dari kedua mata Alvin. Namun, tak lama kemudian, ia kembali menatap Alvin yang masih memerhatikannya.


"Aku... Sepertinya..."


"Tidak usah kau teruskan. Aku bisa menebaknya."


"Y-ya..."


Mina tidak lagi menahan perasaan cemas yang sejak tadi telah berusaha disembunyikannya sebaik mungkin, setelah yakin jika Alvin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya setelah mendengar apa yang Alvin katakan.


.........


Walaupun baru kali ini mereka berbicara dengan saling bertatap muka, Alvin tahu jika Mina bukanlah sosok yang bisa memberikan tatapan putus asa seperti yang saat ini dilihatnya.


Senyumnya pun terlihat hambar seperti senyuman seseorang yang sedang meratapi nasib buruk.


.........


Alvin berbalik lagi, menatap ke luar jendela, memerhatikan makhluk-makhluk yang sedang berlalu lalang di luar sana.


"Sial...," gumamnya, sembari memukul pelan dinding kayu di samping jendela.


......................


"Kau sudah tahu jika malaikat dan dewa tidak akan mau membukakan gerbang walau kau memaksa mereka dengan ancaman, kan?" ucap Mina.


"Ya," sahut Alvin tanpa membalikkan tubuhnya.


"Karena itu aku memintamu untuk menunggu sampai aku menemukan..."


"Aku mengerti. Tidak apa-apa."

__ADS_1


"...Tolong bersabar."


Alvin akhirnya berjalan kembali menghampiri Mina dan duduk tepat disampingnya.


Ia melirik Mina yang tampak larut dalam kesedihan, seperti sedang berusaha untuk tidak meledakkan tangisnya.


"Apa kau ingin kutinggal sendiri?"


Mina menggeleng dengan cepat.


"Kalau kau sudah tahu dimana kita berada, harusnya kau juga sudah tahu kalau kau tidak boleh pergi seorang diri, kan? Kau harus tetap bersamaku."


"Ya... Tapi, aku tidak mengkhawatirkan hal itu."


"Jangan kemana-mana. Tetap bersamaku sampai aku menemukan jalan untukmu kembali."


Alvin menghela napas panjang.


'Jalan untukku kembali, ya...'


"Kalau begitu, kau bisa menangis jika menginginkannya. Aku tidak akan menertawakanmu."


Mina mengangkat wajahnya, menatap Alvin.


"Terakhir kali hidup, usiaku sudah 78 tahun."


"Lalu?"


"Jangan meremehkan mentalku."


Alvin mengangguk pelan sembari memaksakan untuk tersenyum.


"Ngomong-ngomong, kenapa wujudmu tidak seperti saat usia kematianmu?"


Ia juga sempat melihat wajahnya yang terpantul di sungai saat sedang menangkap rusa. Seingatnya, wujudnya saat ini adalah wujud saat ia masih berusia 19 tahun.


"Apa karena Miyuki di kehidupan kita masih berusia 19 tahun?"


Mina mengangguk pelan. "Sepertinya begitu."


Suasana hening beberapa saat.


"Wang Zhu Ming dan Ronald Stewart yang kita lihat, tampak berusia seperti saat kematian mereka."


"Ya."


"Berarti, jika seseorang hidup sampai usia tua, mereka akan memulai kehidupan di sini dari usia tua, kan?"


Mina mengangguk pelan lalu menundukkan kepalanya lagi.


Walaupun keduanya tidak mengatakan secara langsung tentang tempat apa planet ini, keduanya memiliki pemikiran yang sama tentang planet apa sebenarnya tempat mereka kini berada.


Terlebih lagi Mina, yang sejak tadi sebenarnya sedang menerima visi yang datang secara bertahap dari penguasa planet yang mengirimkan pengetahuan tentang planet itu, juga hukum yang berlaku di sana.


...****************...


Malam pun tiba.


Di kejauhan, Alvin mendengar suara siulan panjang seperti sebuah sinyal yang dibunyikan dari meniupkan tanduk hewan.


"Apa itu tanda untuk berkumpul?"


"Ya. Ayo kita pergi."

__ADS_1


Mina mengajak Alvin pergi ke tempat yang sudah ditentukan dari hasil pembicaraan di menara.


Keduanya pergi menuju ke atas benteng yang dibangun dengan menggunakan kayu hutan, untuk bergabung dengan pasukan yang seluruhnya berasal dari ras manusia.


Untungnya, semua orang yang berkumpul di tempat itu berbicara dalam bahasa manusia yang sebagiannya bisa Alvin mengerti.


.........


"Miyu?!" seru seorang pria paruh baya.


Alvin dan Mina sama-sama berpaling untuk melihat siapa yang baru saja memanggil dengan nada suara terkejut seakan baru melihat hantu.


"K-kau...," pria itu menoleh pada Alvin sebentar sebelum menatap Mina lagi. "Apa yang terjadi padamu?"


Mina memberikan tatapan malas pada Ronald Stewart, ayah dari hunter ternama, Gina Stewart.


"Tentu saja saya mati. Apa lagi yang membuat saya bisa berada di sini?" ucap Mina.


Pemilihan kalimatnya memang tidak ramah, namun Mina tidak serta-merta mengucapkannya dengan nada ketus.


"Y-ya... Tentu saja..."


Dengan sedikit kikuk, Ronald memerhatikan sekeliling seperti sedang mencari-cari seseorang.


"Dia masih hidup," ucap Mina.


Ronald tertawa canggung, merasa tidak nyaman karena mengkhawatirkan putrinya yang ia tahu telah berteman baik dengan Miyuki.


Mina akhirnya memaksakan untuk tersenyum pada pria paruh baya itu.


Walaupun dia belum berteman dengan Gina di kehidupan ketujuh, dan sebenarnya belum pernah bertemu dengan Ronald di kehidupannya sendiri, bagaimana pun, pria paruh baya itu adalah ayah sahabat baiknya di kehidupan yang telah ia jalani sebelumnya.


"Anda tuan Stewart, kan?"


Ronald menoleh, menatap Alvin sekali lagi, lalu mengangguk pelan. "Ya."


"Apa Anda pernah melihat orang yang telah membunuh Anda?"


Ronald terdiam. Ia menatap Alvin dengan dahi mengerut.


"Tidak apa-apa jika aku bertanya langsung seperti itu, kan?" pikir Alvin, setelah melihat ekspresi Ronald yang tampak tidak terlalu senang dengan apa yang baru saja ditanyakannya.


"Chris Meyers?"


"Ya."


"Tidak. Saya belum pernah bertemu dengannya."


Sigh...


"Berarti dia masih hidup."


"Ya?"


"Kami sudah mencarinya kemana-mana dan tidak menemukannya. Dia menghilang seperti ditelan Bumi."


"Mungkin saja dia sudah mati," sahut seorang pria jangkung berwajah tampan dari belakang Ronald.


Alvin mengalihkan tatapannya pada Wang Zhu Ming yang baru saja berbicara.


"Anda pernah bertemu dengannya?"


Zhu Ming menggeleng.

__ADS_1


"Anda belum pernah melihatnya disini? Bukankah...," Alvin menghentikan kalimatnya saat Mina tiba-tiba meraih tangannya dan membawanya pergi menjauh dari kelompok Ronald.


__ADS_2