Hunter System

Hunter System
Bab 193 - Serangan Balik


__ADS_3

'Ku rasa energi Mananya sudah cukup terkuras.'


Walaupun tidak bisa merasakan energi Mana dewa Zei, Alvin bisa menebak jika lawan sudah banyak menggunakan energi Mana.


Indra pengelihatannya yang sudah berada di luar batas kemampuan para hunter, bahkan jauh lebih baik dari segelintir malaikat dan dewa, bisa melihat getaran pada tangan dewa Zei yang bergetar dengan samar.


Tanda itu sudah cukup baginya untuk tahu jika dewa Zei sudah sangat banyak menguras energi Mana dan mulai kelelahan.


"Aku memiliki sebuah kejutan untukmu, dewa rendahan!" seru Alvin sembari memenggal tubuh asap monster-monster raksasa yang terus bermunculan tiap kali berhasil dihabisinya.


Dewa Zei yang sedang berkonsentrasi dalam melakukan sihir pemanggilan sekaligus memperkuat mereka, tidak menanggapi hinaan itu.


Hal tersebut menambah keyakinan Alvin jika energi Mana lawan sudah mulai terkuras habis.


Dewa itu tampak sangat jelas sedang berkonsentrasi penuh untuk memanggil roh para monster, sekaligus berusaha memulihkan energi Mana.


"Yah, terserah...," gumam Alvin pelan.


Alvin melakukan gerakan berputar, membelah tubuh makhluk-makhluk raksasa yang baru saja dibangkitkan lagi sebelum terbang turun dan menarik Rimi dan Cyntia untuk berada di sisinya.


"Ada apa?" tanya Cyntia, merasa sedikit bingung karena Alvin tiba-tiba menangkap pinggangnya dan membawanya keluar dari kepungan pasukan bayangan.


"Bersembunyilah dulu bersama Rimi."


"Energi Mana mu sudah pulih?"


"...Ya," sahut Alvin dengan sedikit terlambat.


Cyntia tidak tahu jika Alvin bisa memulihkan energi Mananya dengan sangat cepat.


Recovery system yang sudah menyatu dengan inti Mananya melakukan pemulihan dengan cepat tiap kali Alvin menggunakan energi Mana.


"Rimi, tarik kembali pasukan serangga dan pergilah ke inventory bersama Tia."


"Baik, tuan."


Walaupun tidak yakin dengan rencana apa yang Alvin miliki, Rimi langsung mematuhi perintah tersebut.


Dengan satu jentikan jari, Rimi memerintahkan semua pasukan serangga untuk masuk kembali ke sarang mereka yang sudah Rimi buka.


......................


Alvin bisa melihat sedikit senyuman di mulut lebar dewa Zei yang mengira jika dia dan pasukannya mungkin sudah kelelahan menghadapi pasukan bayangan miliknya.


Tapi, apa yang Alvin lakukan setelah Rimi dan Cyntia pergi ke inventory benar-benar membuat dewa Zei terkejut bukan main.

__ADS_1


"The Art Of Killing, part 4... Afterlife!"


Setelah seruan mantra sihir menggema, kegelapan hadir menelan seluruh wilayah keberadaan pasukan bayangan, bersama keheningan yang menelan suara raungan para monster.


Diantara kegelapan tersebut, Alvin bisa melihat dua titik merah, yang merupakan dua bola mata dari dewa Zei, terbelalak melihat keadaan di sekelilingnya yang menjadi gelap gulita dan hening secara bersamaan.


Keadaan hening dan gelap gulita itu hanya berlangsung sekitar beberapa detik sebelum akhirnya menghilang, menampakan sinar mentari di sore hari.


Bersamaan dengan itu juga, seluruh roh monster yang sebelumnya membanjiri tempat itu pun lenyap.


......................


Dewa Zei memandang sekelilingnya.


Bukan hanya tidak bisa melihat pasukan bayangannya lagi, ia juga tidak bisa merasakan aura Mana mereka sama sekali.


Dengan hilangnya aura Mana yang menghubungkan antara dunia kematian dan sihirnya, dewa Zei tahu jika ia tidak akan bisa memanggil roh dari para monster itu lagi.


'Dia bisa membuka gerbang menuju alam ketiadaan?!'


"Kehilangan pasukanmu?" ucap Alvin sambil menyeringai.


Dewa Zei akhirnya mengalihkan fokusnya pada Alvin.


Sorot matanya bisa mengirimkan sinyal kemarahan besar yang dapat Alvin rasakan.


Sembari mencoba mengingat-ingat wajah sosok yang mirip dengan Alvin di dunia para dewa, dewa Zei merapalkan salah satu sihirnya.


Bersamaan dengan itu, 6 awan hitam sebesar sebuah mobil sedan muncul di sekeliling Alvin.


Energi sihir berwujud serupa kilat hitam menyambar-nyambar keluar dari awan dan menyerang Alvin hampir tanpa henti.


Sementara Alvin bergerak kesana kemari untuk menghindari sambaran petir, dewa Zei merapalkan mantra sihirnya lagi, lalu menembakkan petir yang sangat besar dari ujung pedangnya ke tengah-tengah awan hitam yang selalu mengikuti Alvin kemanapun ia pergi.


Zlaaaaaaarrrr...!!!


Sebuah ledakan besar menggema nyaring di udara.


Hanya beberapa detik setelahnya, Alvin tampak jatuh dalam posisi berlutut di antara 6 awan hitam yang masih mengeluarkan petir kecil yang terus-terusan menghujam tubuhnya.


Zlarrr... Zlarrr... Zlarrr...!


......................


["Awan ini mirip dengan skillmu. Mereka penanda yang akan mengikutimu kemanapun kau pergi."]

__ADS_1


"Ya," sahut Alvin pelan, sambil berusaha untuk melawan tekanan energi dari petir kecil yang menyambar-nyambar tubuhnya tanpa henti, bahkan hampir tanpa jeda, untuk dapat bangkit berdiri.


Serangan itu memang terlihat sangat sederhana tapi Alvin bisa merasakan petir-petir itu menyerap energi Mana dari Hunter Equipment yang wujudnya telah aktif dan telah melindunginya dari ledakan sihir tadi.


.........


Dewa Zei yang sebenarnya masih menyimpan rasa penasaran dengan latar belakang dari lawan yang ia hadapi, fokus untuk menyalurkan energi Mananya pada tiap sambaran petir di sekeliling Alvin.


Ia terus menambahkan kekuatan sihirnya pada 6 awan yang sedang mengunci lawan untuk bisa menembus pertahanan lawan yang sangat kuat, sekaligus menyerap energi Mana dari armor hitam keemasan yang melindungi tubuhnya.


'Pertahanannya benar-benar sangat kuat.'


Dewa Zei merapalkan mantra lagi. Bersamaan dengan itu, 6 awan hitam yang berada di sekeliling Alvin mengembang menjadi sedikit lebih besar.


Dewa Zei kemudian menggunakan seluruh energi Mana yang diserapnya dari Hunter Equipment Alvin yang sudah menumpuk di dalam awan untuk membantunya melakukan serangan yang akan segera dilakukannya.


Ia mengarahkan pedangnya lagi pada Alvin. Kemudian, dengan sebuah seruan nyaring, kilat hitam yang mengandung energi penghancur jauh lebih kuat dan besar dari sebelumnya, memendar keluar dari ujung pedang dewa Zei, melesat cepat ke arah Alvin yang masih berjongkok di tanah.


Zraaatttt...


Tahu jika lawan sudah menyerangnya dengan kekuatan penuh, Alvin memfokuskan indra pengelihatannya, menatap lurus ke arah kilat hitam yang sedang bergerak dengan sangat cepat menghampiri dirinya.


Saat merasa jika waktu untuk menggunakan sihirnya sudah sangat tepat, dengan sekuat tenaga Alvin melompat mundur untuk masuk ke dalam portal inventory yang sudah Rimi buka beberapa saat lalu tepat di belakangnya.


Sambil melompat masuk ke dalam portal inventory, Alvin berseru nyaring merapalkan mantra sihirnya,


"Gates of the Death!"


BOOOOOOOOOOMMMMMM!!!


......................


Sebuah kawah raksasa muncul menggantikan kabut tebal dari debu yang perlahan mulai menghilang.


Tepat di tengah kawah tersebut, sosok tubuh hitam yang bekerlap-kerlip terkapar sekarat tanpa daya.


Dewa Zei, sebagai satu-satunya sosok yang berada di tengah-tengah kawah raksasa yang tercipta dari ledakan sihir tadi, sekarat dan hampir kehilangan kesadarannya akibat terkena sambaran dari serangan sihirnya sendiri.


.........


Beberapa saat yang lalu, tepat sebelum kilat hitam dewa Zei mengenai Alvin, Alvin tiba-tiba lenyap dari tempatnya berjongkok.


Sebagai gantinya, dewa Zei yang sudah mendapatkan tanda kutukan dari banyaknya pasak besi yang Alvin hujamkan ke tubuhnya dari pertarungan mereka, terserap ke dalam sebuah gerbang yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.


Dewa Zei kemudian terlontar lagi dari gerbang lain yang berada di tengah-tengah kepungan 6 awan hitam dan tersambar petir hitam yang sebelumnya ia tujukan pada Alvin.

__ADS_1


......................


__ADS_2