
Argh...
Balutan cahaya keperakan menangkap leher Alvin tepat sebelum tubuhnya terpental jauh.
Dewan Re menarik cahaya agar mendekat kembali padanya.
"Kau bisa melepaskan sihir pembelenggu? Lumayan."
Wushhh...
Bammmmmmmmmmm...!
Alvin tertanam jauh di dalam tanah setelah dewan Re menghempaskan tubuhnya sekali lagi.
......................
Sebelum Alvin berusaha keluar dari dalam lubang yang tercipta oleh hempasan tubuhnya, dewan Re sudah menariknya keluar dari dalam lubang itu.
Tubuhnya yang terkena sihir pembelenggu melayang-layang lagi ke udara, pergi menuju tempat dewan Re berada.
"Di mana sihir-sihir itu? Jaring laba-laba, racun, petir... Tunjukkan padaku," ucap dewan Re yang kemudian tertawa mengejek.
'Dia tahu semua skill itu?'
Walaupun tidak memiliki wajah, namun Alvin bisa membayangkan ekspresi mengejek dewan Re yang ia tebak sedang ingin menghancurkan mentalnya secara perlahan.
Alvin tidak menanggapi hinaan itu, ia justru memberikan senyuman sinis dengan tatapan menghina pada bola kristal di hadapannya.
'Cara seperti itu tidak akan mempan padaku.'
["Sangat miris memang karena kau sudah dilatih Brondy selama bertahun-tahun."]
'F**k!'
Wushhh...
Baaaaaaaaaammmmmm...!
Tidak senang dengan ekspresi wajah Alvin, dewan Re membantingnya lagi.
Makhluk itu kemudian terbang rendah tepat di atas lubang dalam tempat keberadaan Alvin.
Baru saja dewan Re berhenti di sana, kilatan sinar putih tiba-tiba menjerat tepat pada bola kristal abu-abu yang merupakan bagian kepala dari tubuh bercahaya silver dewan Re.
Setelah benang-benang sutra itu melilit bola kristal, kilatan-kilatan petir hitam dan ribuan shuriken melesat keluar dari dalam lubang.
Wush... Wush... Wush...
Zlaaaarrr... Zlaaaaarrr... Zlaaarrrrr...
Menyusul sambaran petir dan shuriken, Alvin muncul di hadapan tubuh cahaya keperakan dewan Re dan menghujamkan pasak besinya pada 'kepala' makhluk itu.
Wushhhh...
Crank... Crank... Crank...!
Tiga tusukan berhasil menghujam bola kristal.
Tidak sampai di situ, Alvin menghujaninya lagi dengan puluhan tusukan yang kesemuanya ia lakukan selama kurang dari 0.1 detik.
Crank... Crank... Crank... Crank...
__ADS_1
Bunga api bertebaran dari beradunya ujung pasak besi dan bola kristal.
Alvin terus menyerang bola kristal yang berada di bagian atas tubuh cahaya solid tanpa jeda.
Semua serangan dilakukannya dengan sangat cepat, sebelum tangan besar keperakan bergerak hendak menghantam tubuhnya dengan sangat keras.
Wushhh...
Saking kerasnya tinju yang dewan Re arahkan pada rusuk Alvin, tubuh cahaya keperakannya sampai terputar beberapa kali saat Alvin dengan gesit menghindari serangan tersebut.
Alvin 'menyimpan' kedua pasak besi. Ia menyambar bola kristal abu-abu, menariknya dengan kuat, hingga bola itu terlepas dari tubuh yang terbentuk dari cahaya keperakan.
Alvin kemudian melempar bola kristal itu, lalu menembakkan black thunderbolt dari kedua tangannya, lalu menyerap bola itu kembali dengan gates of the death dan menyerangnya lagi dengan pasak besi sebanyak puluhan kali.
Crank... Crank... Crank... Crank...!
Prannnnnng!!!
Setelah mendapat serangan bertubi-tubi yang dilakukan tanpa jeda dan sangat cepat, bola kristal akhirnya pecah berkeping-keping.
Mendapatkan serangan yang Alvin lakukan, sejak awal mulai menyerang, dalam waktu kurang dari 3 detik, tentu saja dewan Re tidak sempat menghindari atau menangkis semua serangan tersebut.
.........
Alvin mendarat di dekat kepingan bola kristal yang telah hancur, meludahinya dengan memberikan tatapan mengejek.
"Kau pikir aku bisa dibelenggu dengan mudah?"
Alvin sebenarnya bisa melepaskan sihir pembelenggu sejak awal jika ia mau, namun sengaja tidak dilakukannya untuk membuat lawan lengah hingga tidak memperkuat pertahanannya sama sekali.
Sebagai seorang hunter yang memiliki Main Job sebagai seorang Assassin, menyerang lawan di saat lengah atau belum bersiap untuk bertarung adalah hal terbaik.
......................
"Apa sudah berakhir?"
Keadaan hening cukup lama.
Sebagai dewan pengawas para dewa yang memiliki tingkatan jauh di atas manusia, Alvin sebenarnya tidak yakin jika dewan Re akan mati semudah itu, walaupun sudah menerima ratusan serangan mematikan darinya.
Tapi, setelah lebih dari 1 menit lagi berlalu dan tidak terjadi apa-apa, ia akhirnya menghela nafas lega.
Fyuh...
"Baguslah jika sudah berakhir."
Ia juga sudah tidak bisa merasakan adanya energi sihir lagi selain milik dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, dewa Voxa muncul di dekatnya, bersama dengan ratusan hunter yang baru saja dijemputnya dari salah satu Bulan planet monster.
"Tuan Ruffino!"
Seru Lex Brown dan Ivory Cruz bersamaan setelah melihat Alvin ada di tempat itu juga.
Terlihat rasa bahagia bercampur lega dari ekspresi wajah kedua hunter itu, walaupun keduanya tampak pucat akibat sudah terlalu banyak menghirup udara beracun dari Bulan planet monster.
.........
Alvin mengangguk pelan sebagai balasan atas sapaan mereka.
"Kembalilah dulu ke Bumi," pinta Alvin pada mereka, juga pada semua hunter yang memang sudah tidak sabar untuk kembali ke Bumi setelah melihat ada sebuah gerbang kecil di sana.
__ADS_1
Mereka sangat ingin melompat masuk ke dalam gerbang itu, namun takut jika gerbang itu mungkin saja akan membawa mereka ke planet lain lagi.
Setelah Alvin memberitahu jika gerbang itu akan membawa mereka kembali ke Bumi, dengan berdesak-desakan, semua hunter pun melompat masuk ke dalam gerbang.
"Anda tidak ikut?" tanya Ivory.
"Saya akan pergi belakangan. Pergilah terlebih dahulu bersama tuan Brown," sahut Alvin yang kemudian mengangguk pelan pada Lex.
Alvin meninggalkan hunter-hunter itu lalu pergi menghampiri dewa Voxa yang sedang berjongkok di depan kepingan bola kristal.
"Di mana pembuat gerbangnya?" tanya Alvin. Ia tidak melihat Reno Paul di antara para hunter itu.
"Pembuat gerbang?"
"Ya. Gerbang cincin itu. Orang yang sudah mengundang semua makhluk dari planet ini ke planet kami."
Dewa Voxa mengernyitkan alis lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada makhluk lain yang datang ke sini selain kau dan mereka."
"Ya?"
"Mereka tadi adalah semua makhluk yang dipindahkan dewa Zei ke sini. Tidak ada yang lain."
'Lalu, dipindahkan kemana dia? Apa mungkin...'
Dewa Voxa berdiri, lalu menatap ke arah gerbang buatannya.
"Mungkin dia masih ada di planetmu."
"Saya permisi dulu. Terima kasih atas bantuan Anda."
Alvin juga menebak sama seperti yang dewa Voxa katakan.
'Dia pasti masih berada di Bumi.'
Ia pun pergi menuju gerbang untuk kembali ke Bumi.
Tapi, tepat sebelum Alvin melangkahkan kakinya masuk melewati gerbang, seseorang tiba-tiba saja mengalungkan lengan di sekitar pundak dan lehernya.
"Kau terlalu terburu-buru, kan?"
Kedua mata Alvin melebar. Ia tidak bisa merasakan adanya aura keberadaan makhluk itu yang tiba-tiba saja sudah muncul di sebelahnya dan merangkul lehernya.
Tapi, walaupun wujud makhluk itu sudah berubah, Alvin bisa mengenali suaranya. Dia dewan Re, yang sudah menunjukkan wujud aslinya.
'Sial, aku lupa kalau manusia tidak bisa merasakan energi Mana dewa dan dewan pengawas.'
Alvin menyesali keteledorannya karena tadi sudah tidak bisa merasakan aura energi Mana dewan Re dan mengiranya sudah mati. Padahal, dia memang tidak bisa merasakan aura energi Mananya sejak awal.
Kretakkkk...
Dewan Re mengencangkan cekikan lengannya pada leher Alvin.
Ia juga terbang dan menyeret tubuh Alvin, pergi menjauhi gerbang.
"Kau pikir aku bisa mati semudah itu?"
...****************...
__ADS_1