
"Ada apa denganmu, bro? Kau tampak sangat tidak bersemangat," tanya Jack yang sejak awal bertemu Alvin di depan tempat tinggalnya tadi sudah melihat awan mendung di wajah pria itu.
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Ya. Sangat. Kalau itu karena pertemuan ini, kuharap kau lebih bisa bersabar. Percayalah padaku, kali ini sebaiknya kau agak mengalah."
Alvin mendengus pelan, mengalihkan tatapannya ke kelap-kelip lampu kota yang terlihat indah dari jendela mobil yang terbuka disampingnya.
Sebenarnya, Alvin malah tidak memikirkan tentang pertemuan yang akan dilakukannya tidak lama lagi. Ia hanya merasa tidak nyaman sejak tadi pagi setelah melihat raut wajah kecewa Ivory saat ia menolak ajakannya untuk pergi bersama.
["Itu sudah pasti karena pertemuan ini. Jika tidak ada pertemuan ini, kau tidak akan melihat wajah kecewa wanita manis itu."]
'Diam!'
["Sebenarnya aku agak kecewa. Aku mungkin akan meneteskan sedikit racun pada makanan dan minuman CEO itu nanti."]
'...'
......................
Setelah berkendara selama 1 jam, mereka akhirnya tiba di kawasan restoran yang sangat mewah dengan tulisan besar ZC group dibagian atasnya.
Itu adalah restoran bintang 5 paling terkenal di Kota T, salah satu usaha milik ZC group.
Saat mereka tiba di depan pintu utama gedung restoran itu, seorang pelayan pria langsung menyambut dan mencarikan tempat parkir untuk mobil yang mereka kendarai.
Alvin melihat wajah Jack yang tampak kecewa begitu mereka sampai di depan gedung restoran.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Alvin.
Jack menggeleng pelan namun Alvin menduga bahwa benar-benar ada yang mengganggu pikirannya. Itu dapat terlihat dari senyuman getirnya sebelum Jack akhirnya pergi menghampiri resepsionis.
Setelah berbicara beberapa saat pada resepsionis itu, Jack akhirnya kembali dan mengajak Alvin untuk pergi mengikutinya.
"Sepertinya pembicaraannya tidak akan berjalan dengan baik," ucap Jack saat mereka sedang berjalan menuju lift."
"Apa resepsionis itu mengatakan sesuatu padamu?"
"Tidak. Hanya saja, seharusnya ada yang sudah menunggu kita di depan tadi dan ada seseorang yang akan mengantarkan kita ke ruang pertemuan."
"Ah, begitu..." Alvin mengangguk pelan. Ia kini tahu apa yang membuat Jack merasa tidak nyaman.
"Ku harap kau bisa lebih bersabar." Ucap Jack, sambil menekan tombol lift.
Mereka naik sampai ke lantai 9 gedung, yang merupakan lantai teratas di restoran mewah itu.
Saat mereka baru saja keluar dari lift, Alvin langsung bisa melihat kemewahan klasik yang berada di koridor lantai 9 itu.
__ADS_1
Tidak seperti tampak luar yang sepertinya seluruh bangunannya berbahan beton, tiap dinding dan lantai di koridor itu semuanya dilapisi kayu tua dengan aroma khas yang sangat lembut.
Jack membawa Alvin berjalan terus sampai mereka akhirnya tiba di depan sebuah pintu ruangan.
"Sial. Ini buruk," ucap Jack pelan.
"Ada apa? Apa kita pulang saja?"
"Tidak. Hanya saja, tidak ada seorangpun yang menyambut kita di depan pintu. Ini lucu, kan?"
Alvin hampir tertawa mendengarnya.
"Kau terlalu berlebihan."
"Tidak. Seorang penting sepertinya tidak mungkin tidak menerima tamunya dengan baik. Kecuali dia memang ingin menghina tamu itu."
"Sudahlah. Buka saja. Apa perlu aku yang membukanya?"
Sebelum Alvin menyentuh gagang pintu, Jack terlebih dahulu meraih gagang pintu dan membukakan pintu itu untuk Alvin.
Tapi, Jack bahkan langsung tertawa saat melihat kemana pintu itu membawa mereka.
Mereka kini berada di atap gedung.
Alvin mendengus pelan. Menatap kelap-kelip lampu kota yang nampak sangat jelas dari tempat mereka kini berada.
.........
"Sialan. Dia benar-benar ingin menghina kita." Umpat Jack.
Alvin yang sejak dijemput tadi tampak muram, justru malah tertawa saat melihat Jack marah.
"Hei, bukankah kau yang memintaku bersabar sejak tadi? Kenapa malah kau marah?"
"Tinggu disini." Ucap Jack. Ia kemudian berjalan dengan langkah lebar menghampiri segerombolan pria berjas hitam yang berdiri mematung sambil menatap ke arah mereka sejak awal kedatangan kedua pria itu.
"Dimana bos kalian?" tanya Jack pada salah satu pria.
Pria itu menundukkan kepalanya dan menjawab Jack dengan sangat sopan.
"Beliau akan datang setengah jam lagi, tuan Paul."
"Apa?! Brengsek itu!" umpat Jack. Ia kini benar-benar marah.
Walaupun Jack mengata-ngatai bos mereka dengan kasar, namun 10 pria itu sama sekali tidak berani marah padanya.
Mereka memang hunter-hunter sewaan yang bertugas sebagai pengawal dari ZC group yang ditugaskan di restoran ini. Tapi mereka hanyalah hunter-hunter peringkat F yang tahu siapa Jack, tangan kanan ketua Asosiasi Hunter Kota T. Jadi, mereka tidak memiliki nyali untuk menegurnya. Bahkan, mereka langsung menunduk takut saat mendengar Jack mengumpat barusan.
__ADS_1
"Kalau begitu katakan pada bos mu kami akan kembali. Jika dia..."
"Tidak apa-apa. Kita tunggu saja," ucap Alvin, memotong umpatan Jack.
"Apa? Tapi dia sudah mempermalukan kita, bro! Lihat, dia menyuruh kita menunggunya di helipad. Dia menganggap kita sama dengan para pengawal ini?"
"Tidak apa-apa," sahut Alvin.
Jack ingin berbicara lagi, namun ia melihat ada kilatan kemarahan di mata Alvin. Jadi, dia mengurungkan niatnya. Jack akhirnya hanya berdehem sambil menatap 10 pria yang memelototi Alvin dengan berani.
Mereka memang takut pada Jack. Selain karena posisinya yang tinggi di Kota T, Jack juga seorang hunter peringkat A. Tapi mereka tidak takut dan langsung merasa marah pada Alvin, saat Alvin menatap mereka dengan tatapan mengerikannya itu.
"Brengsek ini berani-beraninya menatap kami seperti itu? Dia cuma hunter peringkat F, kan?!" umpat beberapa dari mereka, dalam hatinya.
Jack akhirnya bersabar menunggu karena Alvin memintanya, juga karena ia melihat sekilas kemarahan pada ekspresi Alvin walau pria itu berusaha untuk menyembunyikannya sebaik mungkin.
.........
Tepat 30 menit kemudian, sebuah helikopter hitam turun di helipad.
Ada 4 pria dengan stelan jas hitam turun terlebih dahulu sebelum akhirnya dua pria dengan pakaian kasual berwajah angkuh turun belakangan.
Kesepuluh hunter yang sejak tadi menunggu langung membungkuk hormat pada mereka dan memberikan mereka jalan ditengah-tengahnya.
Enam pria yang baru saja datang itu akhirnya berjalan terus melewati Alvin dan Jack tanpa memerdulikan mereka sama sekali.
Saat keenam pria itu sudah masuk ke dalam gedung, salah seorang dari sepuluh hunter itu menghampiri Jack dan berbicara dengan sopan padanya.
"Tuan Paul, tolong ikuti saya."
Alvin mengerutkan keningnya, namun ia tetap berjalan bersama Jack mengikuti pria itu.
"Apa salah satu diantara mereka tadi CEO ZC group?" tanya Alvin pada Jack.
"Ya."
Alvin langsung tertawa setelah Jack menjawabnya.
"Astaga. Dia bahkan tidak menoleh ke arah kita sekalipun kita sudah menunggunya?" ucap Alvin dengan suara nyaring, tanpa memerdulikan 9 hunter yang mendengarnya saat mengikuti mereka berdua dari belakang.
......................
Hunter itu membawa mereka ke sebuah ruangan dengan dekorasi yang sangat indah.
Alvin cukup terkejut dengan keindahan dekorasi ruangan tersebut, sampai ia hampir saja melupakan kekesalannya pada dua pria berwajah angkuh tadi. Namun, rasa kagumnya langsung menghilang saat ia melihat dua pria itu yang sudah duduk dengan gaya seenaknya di sofa kulit, di ujung ruangan.
Mereka sama sekali tidak menatap ke arah tamu yang sudah lama menunggu, bahkan tidak repot-repot menyapa sama sekali sampai Jack yang sudah tidak sabar menyapa mereka terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kami sudah disini, Billy," ucap Jack pada pria yang tampak seumuran dengannya, namun memiliki derajat yang jauh lebih tinggi darinya.
"Apa dia orangnya?" tanya Billy pada Jack. Ia bertanya demikian, namun sama sekali tidak menatap pada Alvin bahkan melirikpun tidak.