
Alvin baru kembali di sore hari setelah ia melakukan solo raid di 2 bakal Dungeon peringkat C dan D.
Sangat kebetulan sekali, ia bertemu dengan Vina yang hendak bepergian saat baru saja membuka pintu rumah mereka.
"Kau kemana saja? Kenapa kau selalu menonaktifkan ponselmu?"
"Aku baru kembali dari Dungeon."
"Lagi?"
"Ya."
Vina mendengus kesal sambil menatap Alvin dengan marah.
"Alvin, bisakah kau beristirahat beberapa hari saja?"
Alvin tersenyum pahit. Vina tidak tahu bahwa mereka sedang dalam masalah besar. Ia harus menjadi lebih kuat. Bukan hanya untuk menjadi pembasmi Dungeon, tapi juga untuk menyingkirkan orang-orang yang ia anggap sebagai serangga-serangga pengganggu seperti keluarga Lewis dan orang-orang dari ZC group yang mungkin akan mengejarnya tak lama lagi.
Alvin mengabaikan ucapan Vina. Ia menatap pakaian yang kakaknya kenakan lalu mengalihkan pembicaraan.
"Kau mau pergi?"
"Ya. Ada banyak barang yang harus kubeli untuk kantor baru kita. Kau mau ikut?"
"Tidak. Aku hanya pulang sebentar. Aku mau pergi ke Dungeon lagi."
"Mandilah dulu. Aku akan menunggumu."
"Apa?"
"Mandi saja cepat. Aku akan menunggumu!" ucap Vina lagi dengan nada dan tatapan mengancam.
"Y-ya..."
......................
Walaupun tidak sebesar Kota S, Kota T adalah kota metropolitan yang sangat bagus, indah dan sangat maju.
Ada banyak lokasi wisata alam, pusat hiburan, pusat bisnis, pusat perkantoran dan pusat perbelanjaan yang berada di beberapa lokasi terpisah di pusat Kota T yang memiliki area sangat luas itu.
Kota T yang sudah maju sebelum adanya gerbang-gerbang Dungeon, jauh lebih maju lagi setelahnya.
Hasil raid yang dikelola dengan sangat baik atas kerjasama Asosiasi, Pemerintah dan para pengusaha, membuat Kota T menjadi salah satu kota tedepan dalam hal perekonomian di negara ini.
Vina yang akhirnya memiliki waktu untuk bersantai setelah disibukkan oleh perusahaan baru yang Alvin serahkan secara penuh padanya, melihat pemandangan di pusat kota dengan terkagum-kagum.
__ADS_1
Dia bukan hanya kagum dengan apa yang ada di sana saja, tapi juga dengan kemampuannya untuk bisa membeli apa saja yang ia lihat dan inginkan.
"Pusat perbelanjaan ini sangat luar biasa. Aku baru tahu ada tempat seperti ini di Kota T," ucap Vina, sambil menggandeng lengan Alvin di pelukan tangannya.
Melihat wajah berseri Vina, Alvin yang awalnya sangat malas untuk berjalan-jalan seperti ini, akhirnya merasa bahwa ini bukanlah keputusan yang salah.
Mengingat bagaimana kakaknya mengurus dirinya sejak mereka masih kecil menggantikan ibunya yang tiada dan ayah mereka yang sangat sibuk mencari nafkah, untuk pertama kalinya Alvin melihat ekspresi bahagia kakaknya itu.
Banyak hal yang sudah kakaknya korbankan untuk keluarga. Sayangnya, semua usahanya itu sia-sia. Setelah Vina menjadi salah satu lulusan terbaik jurusan manajemen bisnis di salah satu universitas Kota S, dia sangat kesulitan dalam mencari pekerjaan.
Kota S yang sangat korup itu menyingkirkan calon pekerja yang tidak bisa membayar uang pelancar agar mereka bisa diterima bekerja.
Vina akhirnya hanya bisa menjadi kasir di sebuah swalayan.
Karena itulah saat Alvin memintanya menjadi CEO di perusahaan yang ia dirikan, selain sangat terkejut, Vina juga sebenarnya sangat senang.
Bermodal pendidikan dan kecerdasannya, Vina dapat menjalankan perusahaan dengan sangat baik dengan bantuan Thomas.
......................
"Lihat! Bukankah sofa-sofa itu sangat cantik?" ucap Vina dengan kedua mata berbinar saat melihat sofa bulu putih yang berada di dalam salah satu toko. "Aku mau melihatnya!"
"Kau pergilah sendiri. Aku akan menunggumu disini," ucap Alvin sambil melepaskan rangkulan Vina dari lengannya.
.........
Ada berbagai jenis senjata di bagian depan toko yang dipamerkan di dalam sebuah etalase panjang berbentuk persegi dan mengelilingi seluruh bagian tengah toko luas itu.
Tiap dinding dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan set armor yang terdiri dari baju zirah, sepatu, sarung tangan, helm yang berbahan kulit monster dan campuran antara besi dan kristal sihir.
Saat Alvin masih melihat-lihat daftar harga di rak-rak yang menjual berbagai jenis senjata, yang dijual sedikit lebih murah dibandingkan yang berada di toko online, seorang pria muda menghampirinya.
"Apa ada perlengkapan yang Anda cari, tuan?"
"Oh, tidak. Saya cuma melihat-lihat saja." Sahut Alvin pelan, sambil terus membolak-balik harga senjata-senjata berjenis pedang dan belati.
Pemuda itu seorang hunter berperingkat F juga. Dia juga tahu bahwa Alvin adalah seorang hunter berperingkat sama sepertinya, hanya dari pancaran aura sihir Alvin yang dapat dirasakannya.
Pria itu memerhatikan penampilan Alvin dalam balutan kemeja yang agak usang dan celana jeansnya yang juga tampak usang.
Ia bisa menebak bahwa Alvin tentunya masih seorang hunter yang baru merintis karir dan belum memiliki penghasilan cukup untuk membeli perlengkapan raid yang berada di rak-rak itu. Jadi, dengan sangat sopan, ia mengarahkan Alvin untuk melihat perlengkapan raid yang berada disebuah kotak kayu besar, di pojok ruangan.
"Tuan, kami memiliki senjata-senjata berjenis pedang dan belati bagus dengan harga yang cukup terjangkau," ucap pria itu.
Ia kemudian menunjukkan beberapa pedang dan belati dengan kualitas bagus namun sepertinya agak gagal dalam hal desain.
__ADS_1
"Coba Anda lihat ini," ucap pria muda itu sambil menyerahkan sebuah pedang dengan sangat hati-hati pada Alvin. Ia kemudian meninggalkan Alvin untuk mengambil alat pengukur status perlengkapan raid untuk menunjukkan status pedang itu.
Tapi, Alvin sebenarnya tidak memerlukan alat pengukur status lagi karena status pedang itu langsung muncul dalam layar transparan dihadapannya.
"Lihat. Ini bagus, kan? Hanya saja, desainnya memang agak sedikit kurang enak dilihat," ucap pria itu.
Alvin tidak tertarik pada pedang tersebut. Ia malah tertarik dengan si pelayan yang ramah dan jujur dalam memperkenalkan produknya.
Jika itu orang lain, bisa saja dia memuji-muji barang dagangannya dengan berlebihan demi mendapatkan penjualan.
Saat pria muda itu masih mencari-cari pedang terbaik di dalam kotak kayu, seorang pria bertubuh kekar muncul dari tangga yang menghubungkan ruangan itu ke lantai dua.
Ia berjalan dengan sangat riang sambil memegang pedang dan perisai besi yang sepertinya baru saja dibelinya di lantai dua.
Saat tanpa sengaja bertabrakan dengan Alvin, pria itu bahkan seperti tidak keberatan. Biasanya, hunter peringkat D sepertinya akan langsung marah saat bertabrakan dengan seorang hunter peringkat rendah seperti Alvin.
"Oh, maaf kawan. Aku terlalu senang. Aku tidak melihatmu." Ucap pria itu dengan seringai lebar diwajahnya.
Alvin mengangguk pelan, lalu melihat pedang dan perisai ditangan pria itu dengan ekspresi sedikit terkejut.
'Lihat, dia sepertinya sangat bangga dengan produk buatanmu.'
["Tsk... Itu cuma sampah tak berguna yang kubuat untuk menghibur keuanganmu."]
'Kau sombong.'
["Dimana sisi sombongnya? Aku cuma mengatakan sebuah kenyataan."]
'Terserah.'
"Oh... Kau juga tertarik? Lihat. Ini benar-benar produk yang sangat bagus, kan?" ucap pria itu sambil menunjukkan perisai dan pedangnya lebih dekat pada Alvin dengan wajah bangga.
"Y-ya... I-ini sangat bagus...," sahut Alvin dengan sedikit terbata, merasa tidak nyaman memuji benda buatan Sistem di depan Sistem yang mungkin tersenyum bangga didalam kepalanya.
"Tentu saja! Ini produk yang sangat bagus yang dijual sangat terbatas. Beruntung aku bisa mendapatkannya." Ucap pria itu.
Setelah puas memamerkannya pada Alvin, ia kemudian pergi meninggalkan toko sambil bersiul dengan nada ceria.
"Apa kalian masih memiliki produk seperti itu?" tanya Alvin pada pria muda pelayan toko setelah hunter yang tampak sangat bahagia tadi keluar dari toko tersebut.
"Itu produk dari perusahaan pembuat perlengkapan yang baru berdiri, tuan. Tapi, produk itu agak sedikit langka."
"Itu produk unggulan. Harganya agak sedikit mahal," ucap seseorang yang baru turun juga dari lantai dua.
Alvin langsung menoleh pada pria itu yang kini sedang menatapnya dengan tatapan mengejek sambil memerhatikan penampilannya yang ia sendiri akui memang agak berantakan dan kampungan.
__ADS_1
.........