Hunter System

Hunter System
Bab 91 - Gerombolan Bertopeng (2)


__ADS_3

"Apa kau menyembunyikan kekuatanmu?" tanya Cyntia pada Alvin. Ia mengabaikan pria bertopeng yang sedang berjalan dengan langkah percaya diri ke arah mereka.


"Saya tidak menyembunyikan apa-apa," sahut Alvin, sambil menatap takjub pada pisau kecil di genggaman Cyntia.


'Dia lebih cepat dariku.'


Cyntia tersenyum tipis sebelum akhirnya menatap pria bertopeng yang sudah berada beberapa meter di hadapan mereka.


'Kau hebat.'


.........


Alvin dan Cyntia sama-sama menatap pada pemimpin gerombolan bertopeng dan para anak buahnya dengan waspada dan sedikit bingung.


Mereka berdua sama-sama tidak bisa merasakan adanya pancaran aura energi Mana dari seluruh orang di dalam gerombolan itu.


Walaupun, seandainya, mereka berada di peringkat S atau mungkin lebih tinggi lagi, harusnya tidak ada orang yang bisa menghilangkan aura sihirnya sama sekali.


‘Mina, aku tidak bisa merasakan aura sihir mereka.’


[“Hati-hati pada yang bertopeng hitam itu. Dia berperingkat SS.”]


‘Bagaimana dengan puluhan orang lainnya?’


["Mereka semua peringkat A.”]


‘Terima kasih.’


["Aku belum selesai memberitahumu."]


'Ya?'


["Masih ada satu hunter lagi yang saat ini sedang menyembunyikan dirinya dengan stealth. Aku bisa merasakan auranya."]


''Diamana dia?'


["Karena aku terkurung di tubuhmu, aku tidak bisa merasakan pasti keberadaannya. Kecuali kau berada dekat dengannya,"]


["Sepertinya dia yang menyembunyikan aura keberadaan orang-orang itu hingga kita tadi tidak menyadari saat mereka mendekati aula."]


Alvin membuka peta pertemanan untuk melihat siapa tahu hunter yang menggunakan stealth bisa terlihat di dalam peta. Namun setelah diperhatikannya, ia agak bingung karena titik-titik hijau buram yang muncul di peta itu terlalu menumpuk karena banyaknya orang di dalam aula tersebut.


Rimi memberi informasi setelah ia menghitung jumlah titik buram di peta dan menyamakannya dengan jumlah orang di dalam aula.


'Begitu... Terima kasih Rimi.'


Setelah mendapatkan informasi tersebut, Alvin memberitahukannya juga pada Cyntia, tanpa memberitahukan adanya hunter yang menggunakan stealth.


“Nona Tia, yang di depan itu berperingkat SS,” ucap Alvin dengan suara pelan, hingga hanya Cyntia saja yang bisa mendengarnya, "Yang lain peringkat A," tambahnya.


Alvin bisa melihat Cyntia terkejut saat ia mengatakan informasi itu. Namun Cyntia juga mengangguk pelan setelahnya.


.........


Pria bertopeng kulit itu menatap Cyntia agak lama, mengagumi kecantikannya. Semakin lama menatap wanita muda itu, dia semakin mengaguminya.


"Sayang sekali jika aku menyerahkanmu padanya, kan?" ucap pria itu nyaring, lalu tertawa.


"Dimana Geroge?" tanya Cyntia, mengabaikan kata-katanya.


Pria bertopeng agak terkejut saat Cyntia langsung bertanya tentang kolega bos nya itu.

__ADS_1


"Kau sudah tahu?" pria bertopeng bertanya balik sambil memerhatikan orang-orang yang berdiri di belakang Cyntia.


"..."


"Yah, orang-orang dibelakangmu itu semuanya akan mati. Jadi ku rasa tidak apa-apa jika kau menyebut namanya."


"Kami semua sudah tahu. Kau tidak perlu memikirkannya."


Sambil mewaspadai pria bertopeng itu, Cyntia merobek bagian bawah gaunnya dari batas setengah pahanya lalu mengambil belati yang terselip di masing-masing selongsong bagian luar kedua pahanya.


Ia juga memberikan kode pada 3 pengawalnya untuk menyerang gerombolan hunter bertopeng yang berada di belakang pemimpin mereka itu.


Cyntia melirik Alvin lagi, "Hati-hati...," ucap Cyntia, sebelum ia akhirnya melesat cepat menyerang pria bertopeng.


Begitu ia bergerak maju, ketiga pengawalnya secara bersamaan juga ikut maju, menyerang puluhan hunter bertopeng yang berada agak jauh.


Namun, baru saja mereka berempat maju menyerang, seluruh gerombolan hunter bertopeng itu tiba-tiba menghilang.


Keempat hunter yang maju menyerang itu tentu saja terkejut saat kehilangan lawan mereka.


Semua orang yang berada di dalam ruangan juga kaget karena kejadian itu. Termasuk Alvin.


Cyntia yang tadinya sudah berada dekat pada lawan, menghentikan langkah kakinya dan berdiri diam di tempatnya.


"Tia awas...!" seru Alvin, saat melihat pemimpin gerombolan maju menyerang.


Alvin memang tidak bisa melihat wujud mereka lagi. Tapi, ia masih memiliki peta pertemanan yang bisa menunjukkan lokasi keberadaan musuh walaupun mereka menggunakan stealth.


Crankkk... Crankkk... Crankkk...!


Tanpa diberitahu Alvin pun, Cyntia bisa merasakan datangnya serangan dan menangkis semua serangan yang datang secara bertubi-tubi itu tanpa meleset sekalipun.


Seandainya mereka hanya menyerang manusia biasa, mereka tidak memerlukan energi sihir untuk dapat melukai, tapi tidak dengan menyerang seorang hunter, apalagi hunter dengan peringkat tinggi seperti Cyntia yang memiliki pelindung pasif kuat dari serangan-serangan berkekuatan lemah.


Karena kepekaan indranya sebagai seorang Assassin, Cyntia bisa merasakan serangan-serangan yang datang dari lawan dengan mudah.


Tapi, kemampuan itu tidak dimiliki ketiga pengawalnya.


Brooklyn, Vernon dan Sarah kebingungan saat musuh-musuh tak terlihat itu mulai menyerang.


Mereka hanya bisa mengamuk secara asal-asalan tanpa berani menggunakan energi Mana berlebih, khawatir akan mengenai para tamu undangan yang berdiri ketakutan di dekat dinding aula.


.........


Cyntia sudah mulai terbiasa dengan keadaan itu. Dari arah datangnya serangan, ia bisa memperkirakan posisi tubuh lawannya dan ia pun akhirnya mulai menyerang pria bertopeng hitam yang tak terlihat.


Tiap kali wanita itu mengayunkan belatinya, api biru tampak menyambar-nyambar dari sisi tajam kedua belati di tangannya.


Semua serangannya itu membuat lawan yang tak terlihat itu terdesak dengan sangat cepat, hingga akhirnya harus menggunakan kekuatan yang lebih besar untuk bisa mengimbangi kecepatan lawan.


Saat kedua hunter tipe Assassin peringkat tinggi itu sudah bertarung sungguh-sungguh, bukan hanya wujud pria bertopeng hitam yang tak terlihat, saking cepatnya gerakan Cyntia dalam menyerang, tubuhnya juga mulai terlihat secara samar, bahkan hampir menghilang.


Ledakan-ledakan terjadi di sekitar tempat pertarungan mereka tiap kali belati kedua Assassin itu saling beradu.


Aula itu juga akhirnya mulai bergetar saat Cyntia menggunakan energi Mana yang lebih besar, bermaksud untuk segera menghabisi lawan yang hanya satu peringkat lebih rendah darinya.


.........


'Dia bahkan tidak memikirkan bagaimana jika gedung ini runtuh?'


__ADS_1


'Apa?!'


["Dia masih menggunakan serangan fisik tahap pertama yang hanya akan mengosumsi 10% energi Mana setiap 5 menit. Saat kau sudah berada di peringkat SSS, kau akan tahu itu."]


'B-baiklah...'


Alvin akhirnya mengalihkan perhatiannya pada 3 pengawal Cyntia yang mulai terdesak.


Ia pun hendak pergi membantu mereka, namun Sam menarik tangannya dengan cepat.


"Kemana kau pergi?"


"Ya?"


"Jangan lari. Tetap disini, kami akan melindungimu."


"Hah?"


Sam menatapnya dengan tajam, saat Alvin sepertinya tidak mengerti maksud ucapannya.


.........


Sementara belasan hunter bertopeng tipe Warrior mengeroyok 3 pengawal Cyntia, hunter bertopeng tipe Assassin akhirnya maju mendatangi keluarga Maxwell secara diam-diam.


Melalui peta pertemanannya, Alvin bisa melihat 5 hunter tak terlihat itu sedang mendatangi mereka.


Tahu kalau orang-orang di sekitarnya ini dalam bahaya, Alvin menyentakkan tangannya untuk melepas genggaman Sam, namun Sam yang terkejut itu segera memarahinya.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Mereka datang."


"Apa?!"


"Tolong percaya padanya," ucap Ivory tiba-tiba, sambil menghalangi Sam yang hendak menangkap Alvin lagi.


Sam segera menggeser Ivory untuk mengejar Alvin yang sudah berlari maju. Tapi, saat ia hampir meraih pergelangan tangan Alvin, Alvin tiba-tiba berbalik lalu menyerangnya dengan spider webs.


"Jangan ganggu aku!" bentak Alvin, setelah ia melihat Sam ingin menghancurkan jaring yang melilit tubuhnya.


Alvin akhirnya mengabaikan Sam saat melihat para Assassin itu sudah melewati mereka untuk menyerang Arthur Maxwell terlebih dahulu.


Srattt... Srattt... Srattt...


Assassin-assassin itu terkejut saat tubuh mereka tiba-tiba terjerat jaring yang Alvin tembakkan pada mereka.


Alvin juga menembakkan spider webs berbentuk jala, agar bisa memerangkap semua Assassin. Ia juga menambahkan kekuatan pada jaring itu, lalu meremukkan tubuh mereka.


Walaupun semua orang tidak bisa melihat wujud para penyerang yang kini telah terperangkap jaring berbentuk jala, namun mereka bisa menebak ada orang yang berada di dalam ruang kosong jala tersebut.


Mata semua orang yang melihat itu melebar. Terutama saat mereka mendengar suara tulang-tulang remuk yang berasal dari ruang kosong di tengah jala.


Kraaakkkk... Kraaaakkk... Kraaakkk...!!!


"Aaaarrrggghhhh...!!!"


Suara-suara teriakan pilu menahan rasa sakit juga terdengar nyaring dari arah ruang kosong tersebut.


Alvin mengabaikan mata melotot semua orang yang menatap secara bergantian antara dirinya dan ruang kosong di tengah jala saat ia merasakan datangnya serangan jarak jauh.


......................

__ADS_1


__ADS_2