
Beberapa hari setelah Alvin menyelesaikan quest level 101, setelah ia selesai mogok bicara pada Mina, Mina pernah berkata padanya tentang mengulangi ujian yang kurang lebih sama seperti saat ia menghadapi penguji pada quest level 101.
Kini, Alvin mengingat hal itu lagi setelah melihat gerakan menyerang yang Miyuki lakukan padanya.
Ketika Miyuki mundur menjauh, Alvin menggunakan kesempatan itu untuk bertanya pada Mina.
'Apa maksudmu dulu itu saat aku harus melawan dirimu di masa kini?'
["Ya. Tapi aku tidak berharap kalian akan bertemu secepat ini. Untung saja kau pernah tersesat ke planet monster."]
'Gerakannya benar-benar sangat lincah. Bahkan lebih gesit dibandingkan penguji.'
["Jika kau tidak memiliki banyak pengalaman bertarung akhir-akhir ini, kau pasti sudah terkena banyak serangan."]
.........
"Bisakah kau menyingkir?" ucap Miyuki sembari menatap Cyntia.
Alvin juga ikut menoleh pada Cyntia dan menganggukkan kepalanya saat tatapan mereka bertemu.
Cyntia pun melompat tinggi ke sebuah bangunan rusak untuk menjauhi area pertarungan dan menyaksikan pertarungan mereka dari tempat itu.
"Apa kau hunter yang pernah datang ke Kota C untuk membatu teman-temanku?"
Alvin mengernyitkan kening dan mengangguk beberapa saat kemudian.
'Ternyata dia menyadarinya saat aku tidak sengaja mengaktifkan wujud Hunter Equipment.'
["Dia pasti menyadarinya jika saat itu berada di Kota C juga. Karena itu aku memintamu untuk tidak mengaktifkan wujud Hunter Equipment."]
Melihat anggukan itu, Miyuki menelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa merasakan energi Mana itu lagi. Bagaimana caramu menyembunyikannya?"
"Kurasa kau tidak perlu mengetahuinya."
"Haruskah aku memaksa mu mengatakannya?"
Alvin tersenyum sinis.
"...Mungkin."
"Jangan menyesalinya," ucap Miyuki sembari mengambil tanto dari pinggang, lalu lenyap setelahnya.
Crank... Crank... Buakkk...!
Serangan yang Miyuki lakukan setelah Cyntia tidak berada di tempat itu jauh kuat, juga dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Alvin sama sekali tidak bisa melihat wujud gadis itu hingga ia harus rela menerima dua serangan beruntun di perutnya, juga menerima tendangan keras di kedua lengannya yang untungnya sempat menangkis tendangan tersebut setelah ia bisa merasakan energi sihir kuat menghampiri dadanya.
Serangan tidak sampai di situ, Alvin sudah mendapat beberapa serangan membokong lagi sebelum ia menapakkan kedua kakinya ke tanah dan harus terdorong menjauh lagi setelahnya.
Ia sadar, jika bukan karena pertahanan berlapis dan pertahanan dari Hunter Equipment, ia tentu akan terluka sedari tadi.
'Apakah sopan jika aku menggunakan sihir padanya?'
["Jangan khawatir. Gunakan saja seluruh kemampuan terbaikmu."]
__ADS_1
Alvin menggunakan return gate setelah mendapatkan jawaban dari Mina. Saat itu, Miyuki kebetulan sudah mulai menyerangnya lagi.
Alvin menaruh gerbang itu tepat di dapan dan belakangnya, berharap gadis itu akan terperangkap di sana. Namun, Miyuki dengan cepat berkelit dan menyerang dari sisi kiri Alvin.
Alvin membuat return gate juga di sisi itu dan sisi sebaliknya, namun Miyuki sudah muncul dari atas kepalanya.
Wushhh...
Merasakan energi sihir besar datang dengan sangat cepat dari atas, secara refleks Alvin pun melompat masuk ke dalam gerbangnya sendiri.
Ia menghilang dan masuk ke salah satu gerbang sebelum akhirnya keluar dari salah satu gerbang di sisi luar. Tapi, gadis itu sudah berada lagi di hadapannya dan sudah mengayunkan salah satu senjatanya ke leher Alvin.
Wushhh...
Alvin melengkungkan tubuhnya untuk menghindari serangan. Namun sayang, perutnya yang terbuka lebar menjadi sasaran tendangan keras gadis itu.
Buakkkkk...
Tendangan itu membuatnya terdorong mundur sampai beberapa meter dan sudah harus menerima serangan lagi sebelum sempat memposisikan kuda-kuda kedua kakinya dengan benar.
Crang...!
Pisau kecil itu menghantam leher Alvin dengan sangat keras dan membuat pria itu oleng hingga harus menerima tendangan keras lagi yang kini membuatnya benar-benar terpental dan jatuh bergulingan hingga menabrak sebuah puing bangunan.
Belum sempat beranjak berdiri, Alvin menerima banyak serangan lagi, padahal tubuhnya baru saja terhenti di depan puing bangunan.
Tendangan-tendangan yang sangat keras itu bahkan membuat puing yang menjadi sandaran di punggungnya hancur dan ia harus terpental jauh lagi, dikejar lagi, di tangkap dan dibanting hingga pria itu harus rela menerima hujan serangan bertubi-tubi sampai sebuah kawah yang terbentuk di balik punggungnya.
'Sialan. Ini lebih gila dari ujian waktu itu.'
["Bagaimana menurutmu?"]
["Jangan bayangkan itu."]
'Aku cuma heran. Bagaimana bisa kau kalah dari malaikat-malaikat itu?'
["Karena Beelzebub jauh lebih kuat dibandingkan saat kau bertemu dengannya waktu itu."]
.........
Alvin melihat Miyuki menatapnya dari atas kawah dengan tatapan malas, juga dengan ekspresi datar.
Gadis itu terlihat mendengus kesal sebelum ia melompat turun dan mendarat di samping Alvin lalu menjulurkan tangannya untuk membantu Alvin berdiri.
"Sepertinya kau kekurangan pengalaman bertarung," ucap Miyuki.
Saat mereka berdiri berdekatan seperti itu, terlihat perbedaan tinggi badan yang sangat mencolok.
Walaupun gadis itu tidaklah tergolong sangat pendek untuk ukuran seorang wanita, namun ia terlihat pendek saat berdiri di depan Alvin.
"Kau mengatakan itu bukan tanpa sebab, kan?" tanya Alvin, setelah kerutan di keningnya lenyap.
Ia sempat merasa heran dengan pertanyaan yang tidak sepantasnya itu, namun rasa bingungnya menghilang setelah Mina memberikan jawaban, yang sama persis dengan apa yang Miyuki katakan setelahnya.
"Tentu saja. Aku tahu kau memiliki sebuah Sistem di dalam kepalamu."
Alvin mengangguk.
__ADS_1
"Dari tahun 2129?"
"Kau benar-benar bisa menebaknya."
Walaupun sangat tidak jelas terlihat, namun Alvin bisa melihat kilasan senyum gadis berparas manis itu.
"Aku sudah membuat rancangan Sistem sejak beberapa bulan lalu dan aku sudah mulai mengumpulkan semua data hunter yang berada di seluruh dunia. Tentu saja aku bisa menebaknya."
Alvin mundur beberapa langkah, untuk melihat ekspresi gadis itu dengan jelas.
'Apa kau selalu memiliki ekspresi datar seperti ini?'
Mina tidak menjawabnya, namun Rimi tertawa lagi.
"Bukankah kau sangat percaya diri? Bagaimana jika Sistem yang berada di tubuhku bukan buatanmu?"
Kali ini Miyuki akhirnya benar-benar terlihat sedang tersenyum, walaupun itu adalah sebuah senyum yang tampak angkuh.
"Aku yakin tidak akan ada yang bisa membuatnya selain diriku."
"..."
'Jawabannya benar-benar seperti dirimu.'
Giliran Miyuki yang kini bertanya, "Apa data teknik bertarung yang kutinggalkan tidak bagus? Atau kau memang kurang pengalaman?"
'F**k! Kau masih semuda ini dan sudah sangat sombong?!'
Rimi benar-benar tidak bisa lagi menahan tawa. Suara mekaniknya terdengar sangat nyaring di dalam kepala Alvin.
"Kenapa tidak kau coba saja?" ucap Alvin dengan nada dingin.
"Kau pikir bisa mengalahkanku?"
"...Tadi aku belum serius. Aku masih menghargaimu sebagai sosok yang sudah membantuku."
Miyuki tersenyum lagi ketika melihat kemarahan di mata Alvin. "Seranglah. Anggap ini ujian terakhir sebelum kau bertarung di dunia nyata."
'Bedebah ini!'
Walaupun kalimat itu membuat kemarahannya memuncak, namun Alvin berusaha menahan diri untuk tidak langsung menyerang.
"...Tidak sopan bagi laki-laki untuk menyerang terlebih dahulu."
"Ungkapan kuno. Kali ini kau bisa mati jika aku duluan yang menyerang."
Alvin menggeleng-gelengkan kepala sembari bertolak pinggang.
Dua pasak besi muncul secara perlahan di kedua genggaman tangan yang ia sembunyikan di balik mantel panjangnya.
"Jangan salahkan aku jika kau terluka parah."
Alvin menyerang dengan sangat cepat setelah itu.
Crang...!
Ia meningkatkan kecepatannya lagi sampai dengan kecepatan maksimal yang dimilikinya setelah serangan jarak dekatnya dapat ditangkis dengan sangat mudah oleh gadis itu.
__ADS_1
.........