
Dalam perjalanan, tidak terlalu banyak pembicaraan yang terjadi.
Mereka memang sudah sangat akrab sebelumnya. Namun, setelah mereka bertemu dalam wujud manusia seperti ini, keduanya merasa agak sedikit canggung.
Karena kebetulan berjalan di belakang Mina, Alvin akhirnya memerhatikan jika Mina berjalan dengan tidak menjejakkan kaki di tanah yang tertutup rerumputan, lumut dan dedaunan gugur yang lembab.
"Kau bukan hantu, kan?"
Tahu kenapa Alvin mengajukan pertanyaan itu, Mina menjawabnya dengan nada ketus, "Aku tidak ingin kakiku kotor."
"Begitu..."
Dalam perjalanan, mereka bertemu seekor rusa bertubuh besar yang sedang minum di tepi sungai dan Mina meminta Alvin untuk menghentikan perjalanan mereka sejenak sementara ia menangkap rusa tersebut, membunuh, lalu mengulitinya.
.........
'Caranya menguliti hewan sama seperti saat sedang menguliti monster.'
Alvin mengagumi pekerjaan Mina yang sangat rapi.
Gadis itu menguliti hewan malang itu menggunakan belati sihir dan membersihkan seluruh darahnya juga menggunakan sihir hingga kulit hewan itu mengering dengan sangat cepat.
Setelah itu, Mina membuat pakaian, sepatu dan tas selempang dari kulit rusa tersebut yang kemudian dikenakannya.
Sisa-sisa dari potongan kulit rusa, ia lipat dengan rapi dan dimasukkannya ke dalam tas selempang.
"Pakaianmu," ucap Mina sembari mengembalikan piyama Alvin.
Alvin menerima pakaiannya kembali sembari mengagumi stelan yang kini Mina kenakan.
"Kau berbakat jadi seorang desainer."
"Benarkah? Bukankah kau tidak menyukai Hunter Equipment yang kubuat?"
"Kapan aku bilang tidak menyukainya? Aku mengatakan tentang warnanya, bukan desainnya."
"Tsk... Sudahlah. Ayo kita lanjutkan perjalanan," sahut Mina yang langsung berbalik dan berjalan mendahului Alvin.
'Apa dia menghindari pertengkaran?'
......................
Alvin dan Mina akhirnya tiba di tepi hutan, di dekat desa yang mereka tuju.
Mina kemudian mencari pohon tertinggi di sekitar pinggir hutan, lalu naik ke atasnya untuk memantau keadaan di dalam desa tersebut.
"Kau tidak memiliki skill untuk memanipulasi udara?" tanya Alvin heran.
Ia berpikir, Mina tentu tidak perlu repot-repot memanjat pohon jika memiliki airbender seperti dirinya.
'Apa karena dia tidak memiliki airbender makanya dia lebih memilih untuk berjalan kaki?'
"Aku tidak memilikinya. Itu skill istimewa. Di kehidupan kami, cuma Rimi yang memilikinya."
"Begitu..."
__ADS_1
......................
Alvin dan Mina akhirnya memantau keadaan di dalam desa dari kejauhan.
Alvin cukup terkejut saat melihat ada berbagai jenis ras makhluk hidup yang berada di dalam sana.
Di antara mereka, ada makhluk yang di Bumi dikenal dengan nama centaur, cyclop, orc, elf, lizardman, goblin, minotaur dan beberapa makhluk lain yang belum pernah diihat atau ditemuinya di dalam sebuah Dungeon.
"Mereka hidup bersama? Planet apa ini sebenarnya?" pikir Alvin.
Sementara Alvin memerhatikan warga desa, Mina fokus memerhatikan menara besar dan tinggi yang berdiri tepat di tengah-tengah desa.
"Banyak makhluk kuat di sana," ucap Mina pelan.
Alvin menatap menara itu juga lalu mengangguk pelan.
"Ayo ke sana. Mungkin di sana ada malaikat yang bisa membukakan gerbang untuk kembali ke Bumi."
"Ya, ayo kita cari tahu," sahut Mina sembari menaikkan tudung kepala untuk menutupi daun telinganya.
Mina berpikir, jika para warga desa itu bisa hidup berdampingan dengan elf, mereka mungkin akan mengenali dia dan Alvin sebagai elf asalkan mereka tidak menunjukkan daun telinga.
Paras dan rupa elf sangatlah mirip dengan manusia, kecuali ujung daun telinganya yang sedikit lebih panjang dan berbentuk runcing.
Mina kemudian membuka tas selempangnya, mengeluarkan kulit rusa yang tersisa.
Lalu, dengan kecepatan yang sangat mengagumkan, ia menghasilkan sebuah topi dari kulit rusa tersebut.
"Pakai ini dan tutupi telingamu."
"Kita akan menyamar menjadi elf?"
"Ya. Ayo."
Keduanya turun dari pohon itu lalu pergi ke jalan setapak yang akan membawa mereka menuju pintu gerbang desa, yang dikelilingi oleh tembok tinggi berbahan kayu hutan.
Saat tiba di depan gerbang, dua goblin yang tampak seperti penjaga gerbang menghentikan mereka dan berbicara dengan bahasa yang sudah pernah Alvin dengar namun tidak dimengertinya karena Sistem Rimi sedang tidak bekerja.
Alvin dan Mina saling bertatapan.
Tidak satu pun dari mereka yang mengerti apa yang goblin ucapkan.
Tapi, tak lama kemudian, Mina membuka mulutnya dan berbicara pada kedua goblin dengan bahasa yang Alvin rasa mirip dengan yang kedua goblin tadi gunakan.
Mina dan kedua goblin bertukar beberapa kalimat lagi sebelum mereka menepi dan memberikan jalan pada Alvin dan Mina untuk bisa memasuki desa.
"Kau mengerti bahasa mereka?" tanya Alvin penasaran.
Mina mendongak dan menatap sebentar padanya sembari tersenyum kaku. Tapi, Mina tidak menjawab apa yang Alvin tanyakan.
.........
Keduanya berpapasan dengan makhluk dari berbagai jenis ras seperti yang sudah mereka lihat dari kejauhan tadi.
Tidak seperti yang Alvin khawatirkan, makhluk-makhluk itu tampak tidak memerdulikan mereka sama sekali.
__ADS_1
Selain tidak memerhatikan mereka, semua makhluk yang kebetulan berpapasan juga tidak melirik pada mereka berdua sama sekali.
"Apa penyamaran kami berhasil?" pikir Alvin.
Setelah keduanya tiba di tempat yang agak jauh dari keramaian, Mina menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?"
"Aku cuma mau mengingatkan. Tolong jangan berbicara apa pun selama ada orang lain di sekitar kita. Mengerti?"
"Apa mereka akan curiga karena aku tidak bisa berbicara dengan bahasa mereka?"
Mina mengangguk.
"Baiklah. Tapi, bukannya kita kesini cuma untuk menyelidiki menara di tengah desa?"
"Ya. Ayo kita ke sana."
Mina berjalan lagi mendahului Alvin dan seperti sebelumnya, Alvin lebih memilih berjalan di belakang Mina dibandingkan harus berjalan berdampingan dengannya.
Setelah berjalan beberapa saat, Alvin merasa agak heran ketika Mina memilih berbelok dan pergi menjauhi jalan utama yang harusnya akan langsung membawa mereka ke menara yang mereka tuju.
Saat ia hendak menyusul untuk bertanya, Mina tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.
Ia mengikuti arah Mina memandang dan menemukan sebuah bangunan sederhana berdiri di sana dengan sebuah plat nama di depan pintunya.
"Ada apa dengannya?" pikir Alvin. Ia hendak bertanya namun mengurungkan niatnya karena ada banyak penduduk desa yang berjalan di sekitar mereka.
Mina diam memerhatikan rumah sederhana itu agak lama sebelum akhirnya kembali melanjutkan perjalanan.
Setelah menghabiskan waktu sekitar 20 menit berjalan kaki, keduanya akhirnya tiba di depan menara tinggi yang memiliki lebar badan bangunan yang sangat besar.
Mina berbicara pada lizardman yang berjaga di depan gerbang menara agak lama sebelum akhirnya mengajak Alvin masuk ke dalam menara.
'Dia bisa bicara menggunakan bahasa lizardman juga?'
.........
Saat sudah tiba di dalam menara, Alvin melihat ada banyak makhluk dari ras berbeda yang sedang berkumpul dan tampak sedang berbicara dengan sangat serius.
Dari masing-masing makhluk tersebut, ia bisa merasakan aura energi Mana yang cukup melimpah.
Masing-masing dari mereka bahkan memiliki energi Mana yang hampir menyamai energi Mana Cyntia sebelum mendapatkan kenaikan kapasitas energi Mana dari Anna dan Miyuki.
Kecuali makhluk-makhluk yang sedang duduk diam di pojok ruangan dan tampak sedang memerhatikan pembicaraan makhluk yang lebih kuat dengan wajah tatapan lesu dan tampak sangat tidak bersemangat.
'Hah?! Mereka, kan...'
Alvin menoleh pada Mina saat gadis itu tiba-tiba menyambar pergelangan tangannya.
"Mereka..."
Mina menggelengkan kepalanya pelan, mengerti tentang apa yang sedang Alvin pikirkan.
"Diam dulu...," ucap Mina dengan suara yang sangat pelan.
__ADS_1