
"Lihat... Kalau kau tidak mau mengatakannya, kau pikir apa yang akan kami lakukan padanya? Lihat, ada berapa pria di sini?" ucap Duncan sembari menyeringai jahat.
Dengan susah payah, Jack mengangkat kepalanya untuk menoleh ke arah dimana Vina yang sedang diikat berada.
Ancaman serupa telah membuat dirinya, Raymond dan juga Thomas akhirnya mengatakan dimana Alvin berada. Jika tidak, sampai matipun mereka tidak akan mengatakan jika Alvin sedang berada di Kota T.
"Brengsek! Apa hunter peringkat S memang sepengecut dirimu?!" umpat Jack.
Duncan tertawa lebar, namun ia segera menghentikan suara tawanya saat melihat Norman Lewis menuruni tangga.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Norman setelah ia berada di dekat Duncan. Ia kemudian menatap Vina yang tertunduk lemah dengan rambut acak-acakan.
Pria paruh baya itu merapikan rambut Vina, mengangkat dagunya lalu memerhatikan wajahnya dengan seksama.
"Sayang sekali jika aku membunuh wanita secantik ini," pikir Norman. Ia kemudian berdehem pelan saat melihat Duncan menatap tajam padanya.
"Jangan apa-apakan dia," ucap Norman sembari membalas tatapan tajam putra sulungnya itu dengan tatapan mengancam.
Pria paruh baya bertubuh ramping itu kemudian menatap ketiga hunter dengan wajah babak belur yang tergeletak di lantai tanpa daya.
"Cukup buat mereka bicara saja."
"Tapi ayah, mereka tidak akan mau bicara jika kita tidak melakukan apa-apa pada wanita ini."
Norman mengernyitkan kedua alisnya lalu tertawa terkekeh.
"Kalau begitu, biar aku saja yang membawanya," ucap Norman, sembari menatap Vina dengan penuh nafsu.
"Kau brengsek!" seru Jack.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Jack bsrusaha bangkit berdiri, hendak menerjang Norman. Hal serupa juga dilakukan Raymond dan Thomas.
Walaupun mereka hanya bisa merangkak, namun mereka berusaha untuk merayap sekuat tenaga mendatangi Norman.
Norman mengangkat kedua tangan dan mengarahkannya pada Jack. Ia ingin membakarnya dengan bola api, namun suara ledakan samar yang berasal dari luar kastil, menghentikan niatnya.
"Apa itu?" tanya Norman sembari menoleh pada asisten pribadinya.
Pria itu dengan sigap menghubungi ketua tim keamanan benteng untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di luar, namun panggilannya tidak dijawab.
Ia melakukan panggilan lagi sampai berkali-kali, barulah orang yang ia hubungi mengangkat teleponnya.
Wajah asisten itu tampak terkejut saat mendengar laporan yang ia terima, lalu menutup telepon dengan terburu-buru.
"Tuan..., dia sudah datang..."
"Siapa?"
"Alvin Rufino."
"Kau sedang bercanda?" tanya Duncan sembari membuka ponselnya dan melihat baru 18 menit yang lalu Alvin membalas pesannya. "Kau bodoh! Mana mungkin dia sudah tiba dalam waktu 18 menit?"
Duncan terdiam beberapa saat, lalu menatap ke arah Jack. "Yah, kecuali dia sebenarnya memang sudah berada di Kota S sejak awal, kan?" ucapnya pada Jack, lalu tertawa terkekeh.
Ia kemudian menghampiri Jack dan menendang wajah pria itu lagi dengan sangat keras, hingga Jack terpental dan mendarat di kaki salah satu hunter peringkat SS yang langsung menginjak wajahnya sambil tertawa mengejek.
__ADS_1
......................
Hanya ada satu jalan yang akan membawa seseorang menuju benteng keluarga Lewis dan Alvin sedang berjalan perlahan di jalanan itu sesaat setelah ia tiba di sana.
Ia telah berlari dengan kecepatan penuh, setelah mengambil ponselnya kembali dari Cyntia dan meninggalkan wanita itu di bungalownya.
Sambil memulihkan energi Mana nya kembali, Alvin memerhatikan berapa banyak hunter yang berada di dalam benteng itu melalui peta pertemanan.
Setelah ia berjalan hampir 500 meter, ia melihat ada sebuah SUV yang datang dari arah belakangnya. SUV itu kemudian berhenti beberapa meter di depannya dan beberapa hunter turun lalu mendatanginya.
Salah seorang hunter hendak tertawa saat melihat orang yang mereka cari-cari selama ini akhirnya datang sendiri menemui mereka.
Namun, ia tidak sempat tertawa, bahkan tidak akan pernah tertawa lagi, saat kilauan cahaya petir menyambar kepalanya, juga kepala semua rekannya, setelah Alvin menggunakan thunderbolt untuk menghabisi mereka.
Alvin menghentikan langkah kakinya tepat di samping SUV lalu menatap hunter yang bertugas sebagai supir dari 5 hunter yang baru saja dihanguskannya.
"T-tuan... S-saya tidak..."
Kata-katanya terhenti saat Alvin tiba-tiba memegang bagian atas kepalanya.
"Tidak. Kau bersalah."
Zlaaaaarrrrr...!
Sama seperti kelima rekannya, tubuh hunter itu hangus dengan kepala meledak setelah kilauan cahaya petir keluar dari telapak tangan Alvin.
Alvin mendongak, menatap dua pos jaga yang berada di atas benteng yang masih berjarak sekitar 200 meter darinya.
Ia kemudian mengangkat SUV itu dengan kedua tangannya, lalu melemparkannya pada salah satu pos jaga.
"Rimi, kenapa ada warna kuning dan putih juga di peta pertemanan ini?" tanya Alvin heran. Kedua titik berwarna kuning dan putih itu biasanya tidak ada dalam peta pertemanan.
"Lalu, apa yang berwarna putih ini?"
["Mereka mungkin tawanan. Kau bisa memeriksanya nanti."]
"Tapi, kenapa kau tiba-tiba memberi warna-warna seperti ini?"
"...Itu tergantung sikap mereka nanti. Tapi aku akan membersihkan semua hunter yang ada di sini. Asosiasi kota ini harus berubah."
<...>
......................
Ada lebih dari 30 hunter berseragam Asosiasi yang berhamburan keluar dari gerbang benteng setelah terjadi ledakan di pos jaga gerbang.
Mereka keluar dari gerbang benteng dengan membawa senjata di tangan untuk mencari penyerang yang membuat kegaduhan.
Saat mereka melihat seorang pria berambut gondrong sedang berjalan dengan santainya ke arah gerbang, beberapa dari mereka langsung mengenali siapa pria itu dan saat itulah asisten Norman menghubungi kepala penjaga yang sedang berada di antara mereka.
__ADS_1
.........
Alvin memerhatikan hunter-hunter yang sedang berlari ke arahnya dengan menghela nafas panjang. Ia merasa sedikit senang saat beberapa dari mereka langsung menembakinya dengan bola api.
Ia tidak menangkis ataupun menghindari serangan itu. Ia membiarkan bola api itu untuk menghantam langsung ke tubuhnya, namun self defence yang sudah ia aktifkan membuyarkan bola api itu setelah hanya berjarak beberapa inchi dari tubuhnya.
"Padahal aku ingin melihat seberapa banyak health point ku berkurang karenanya."
["Dibutuhkan seorang hunter peringkat S dengan serangan berkekuatan penuh untuk mengurangi 2 poin dari health point mu."]
"Begitu..."
["Kekuatan pertahananmu berlapis-lapis karena banyaknya statusmu."]
"Tapi tidak berlaku untuk si botak dan si pirang itu."
["Berdamailah dengan kekalahan di awal. Jadikan motivasi."]
"..."
Saat hunter-hunter yang maju menyerang sudah berada di dekatnya, Alvin menjerat mereka dengan jala lalu meremukkan tubuh semua hunter itu menjadi satu.
Hunter-hunter yang masih berada di depan gerbang tentu saja terkejut dan merasa ngeri melihat apa yang Alvin lakukan pada rekan-rekan mereka.
Suara retakkan tulang, juga suara teriakan pilu dari rekan-rekan mereka, membuat semua hunter bimbang.
Mereka ingin lari namun pasti akan menjadi bahan olok-olok kedepannya. Mereka akhirnya memilih untuk menyerang.
Tapi, Alvin yang sudah selesai memulihkan seluruh energi Mana aslinya, sudah menjerat puluhan hunter itu dengan spider webs berbentuk jala, lalu meremukkan mereka semua hingga tewas.
Setelah sampai di gerbang, ia menyeret mayat hunter-hunter itu pergi bersamanya masuk ke dalam benteng.
Sama seperti keadaan di dalam benteng keluarga Maxwell, Alvin melihat ada banyak barak hunter muda di sekitar tepi benteng.
Dengan flame, ia kemudian membakar semua barak itu, hingga hangus tanpa sisa. Asap hitam tebal pun membumbung tinggi dari dalam benteng keluarga Lewis.
Melihat apa yang baru saja Alvin lakukan pada barak-barak hunter muda mereka, hunter-hunter senior yang baru berdatangan dari pos jaga di sisi lain benteng tentu saja marah dan langsung berlarian untuk menyerang Alvin.
Namun, mereka langsung menghentikan langkah kakinya saat melihat apa yang sedang Alvin seret di dalam jala.
"A-apa itu?"
Saat hunter-hunter itu masih memerhatikan gumpalan berdarah di dalam jala, Alvin sudah menebarkan jala raksasa di atas kepala mereka.
Mereka akhirnya menyadari apa yang yang berada di dalam jala itu setelah Alvin mulai meremukkan tubuh mereka menjadi satu dan merekapun tewas setelah baru saja menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang dalam ancaman maut.
Hunter-hunter yang datang belakangan melihat kejadian itu dan langsung berbalik arah untuk melarikan diri, namun tentu saja Alvin tidak membiarkan mereka.
Alvin menjerat semua hunter itu lalu meremukkan mereka juga menjadi satu.
Hunter-hunter muda yang berhasil meloloskan diri dari barak, jatuh terduduk di sekitar lokasi pembantaian.
Banyak dari mereka yang menangis ketakutan saat Alvin menyapu mereka semua dengan tatapan mengerikan.
...
__ADS_1