
"Mereka sedang memperebutkan tanda tanganmu," ucap Cyntia sembari berjalan menghampiri Alvin.
"Jika mereka tahu wanita yang mereka ajak berbicara adalah hunter peringkat SSS, mereka pasti akan...," Alvin terdiam saat menyadari bahwa ia salah bicara.
Tapi, ia merasa lega karena Cyntia sepertinya tidak merasa terganggu akan hal itu. Ia tampak tidak peduli jika Alvin tahu apa peringkatnya.
"Ya?"
"Hah?"
"Apa yang ingin kau katakan?"
"T-tidak..."
Cyntia mengernyitkan alisnya sembari menyerahkan 4 kartu nama yang tadi diterimanya pada Alvin.
"Terima kasih," Alvin menatap keempat kartu nama itu sebentar sebelum mengantonginya, "Ini akan berguna. Aku akan memberikannya pada Thomas."
"Thomas? Siapa dia? Tapi, ku rasa mereka ingin merekrutmu."
"Thomas..., dia kepala marketing di perusahaan kami."
"Oh..." Cyntia tertawa setelah menyadari apa tujuan Alvin. "Kau jahat."
"Mereka justru akan mendapatkan hal yang lebih bermanfaat daripada merekrutku," sahut Alvin.
Bukannya tidak mau bergabung dalam sebuah guild. Alvin memang tidak bisa bergabung dengan guild manapun dan mengikuti raid dari guild manapun.
Dia akan menyebabkan kerugian bagi guild itu karena Rimi yang nakal pasti akan menyerap semua inti Mana monster yang telah tewas.
Cyntia hanya tersenyum untuk menyudahi pembahasan tentang hal itu. Ia tahu bahwa ia tidak berhak mencampuri, terutama mengatur, urusan bisnis Alvin.
"Kau habis berolahraga?" tanya Cyntia sambil menatap pakaian yang Alvin kenakan. Ia berjalan kembali ke meja makan untuk melanjutkan sarapannya.
"Ya. Aku biasa jogging di taman dekat sini," sahut Alvin yang juga ikut duduk di situ, di seberang Cyntia.
"Kau terbiasa bangun pagi?"
"Ya."
Tidak ada pembicaraan lagi yang terjadi setelah itu. Alvin duduk diam, menyaksikan bagaimana wanita itu menyantap roti isinya dengan lahap.
'Ku kira dia tidak akan menyukai sarapan rakyat jelata seperti ini.'
["Kau pikir orang kelas atas sarapan kristal sihir? Emas? Itu sarapan normal."]
'Benarkah?'
["Kau ini... agak polos-polos bodoh. Itu sarapan yang sangat normal dan bergizi."]
Alvin mengangguk-angguk pelan lalu teringat pada ayah dan kakaknya.
["Mereka sudah msrawatmu dengan sangat baik."]
'Ya.'
["Kalau kuperhatikan, wanitamu ini sepertinya ditempa dengan sangat keras di luar negri."]
'Bagaimana kau tahu itu?'
["Dari caranya bertarung. Aku memerhatikannya saat aku tidak bisa berbicara padamu."]
'Hah? Kapan itu terjadi?'
["Saat kau di dunia hayalanmu."]
'...'
["Caranya bertarung, juga teknik bertarungnya. Dia terlihat sudah melakukan latihan keras dan melewati banyak pertempuran."]
__ADS_1
'Dia lebih berpengalaman dariku, kan?'
["Ya. Kau harus mengakui itu."]
'Tentu saja.'
["Dia sudah berlatih dan bertarung selama bertahun-tahun. Kau baru 3 bulan."]
'Aku mengerti. Tidak perlu kau perjelas.'
["Kau tampak sangat frustasi."]
'Bagaimana aku tidak frustasi setelah dihajar habis-habisan oleh dua makhluk itu tanpa bisa mengangkat jariku sama sekali?'
["Tersenyumlah."]
'Cuma orang gila yang tersenyum setelah di hajar habis-habisan!'
["Maksudku tersenyum pada wanitamu. Dia sedang memergokimu sudah menatapnya terlalu lama."]
.........
"Apa menontonku makan sangat menghibur?"
"Ya," sahut Alvin pelan, sembari mengangguk.
Cyntia tersenyum simpul. Wajahnya merona. "Kau harusnya jangan mengatakan sejelas itu."
"Ya?"
'Apa yang tadi ditanyakannya?'
["Haaaahhh..."]
"Apa kau melamun?"
"Aku? Tidak. Aku cuma melihatmu saja."
"Ya?"
Cyntia akhirnya tertawa.
"Lain kali biar aku yang membuatkan sarapan," ucap Cyntia, sembari mengamati wajah Alvin untuk melihat reaksinya.
"Baiklah..."
"..."
Alvin menegakkan tubuhnya. "Lain kali?"
Cyntia mengangguk-angguk cepat sembari tersenyum. "Saat kita sudah menikah."
Alvin : "..."
Mina : ["..."]
Rimi : <...>
Melihat Alvin terdiam dengan mulut terbuka lebar, Cyntia tertawa riang sembari bertepuk tangan.
Jika Mina dan Rimi juga punya ekspresi wajah, wanita itu pasti akan melihat wajah tercengang dari kedua Sistem itu juga.
Alvin akhirnya ikut tertawa setelah tawa dan tepuk tangan Cyntia menyadarkannya dari rasa terkejut.
Keduanya masih mengobrol cukup lama di meja makan itu. Mereka membicarakan kehidupan yang masing-masing lalui setelah mereka berpisah di usia 7 tahun.
Alvin dan Cyntia bisa merasakan suasana nyaman setelah mereka akhirnya berbicara dengan santai seperti ini sejak mereka kembali bertemu.
Tapi, suasana menyenangkan itu sirna saat Alvin menerima pesan di ponselnya dan melihat foto 3 pria berwajah babak belur dan foto seorang wanita yang terikat pada sebuah kursi.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Cyntia heran setelah melihat perubahan pada ekspresi wajah Alvin yang mengeras.
"Duncan Lewis...," Alvin tidak melanjutkan kalimatnya. Rasa marahnya membuatnya ingin meledak seketika itu juga.
Ia akhirnya menunjukkan foto itu pada Cyntia, sebelum berdiri dan pergi dari hadapannya.
"Tunggu, ayo kita pergi... bersama...," Cyntia terdiam, menoleh ke sekitarnya dan tidak melihat Alvin lagi di ruangan itu.
...****************...
Duncan Lewis tertawa nyaring saat menerima balasan pesan dari Alvin.
Ia kemudian berdiri dari kursinya lalu menghampiri Jack yang sudah babak belur dan terkapar di lantai marmer dingin di dalam kastil utama keluarga Lewis.
Duncan berjongkok lalu menepuk-nepukkan ponselnya pada wajah Jack.
"Lihat, dia sudah membalas pesanku," ucap Duncan dengan kedua mata melotot.
"Tunggulah di bentengmu. Aku akan datang segera," ucap Duncan, membacakan pesan yang ia terima dari Alvin.
"Jika dia berani datang, kenapa dia tidak datang sejak awal? Orang yang cuma bersembunyi berani mengirimiku pesan seperti ini?!" umpat Duncan tiba-tiba. Ia kemudian memukul wajah Jack dengan sangat keras.
Bukkk...!
Dia tidak percaya bahwa Alvin akan benar-benar datang. Ia tahu, pria itu pasti hanya membual untuk memberinya waktu melarikan diri sementara mereka menunggunya di sini.
"Dimana sebenarnya dia bersembunyi?!"
Bukkkk...!
Duncan kembali memukul wajah Jack saat melihat pria itu tampak tidak berniat menjawab pertanyaannya.
Sudah hampir 12 jam ia dan para anak buahnya menyiksa Jack, Raymond dan Thomas untuk mengetahui dimana tempat persembunyian Alvin, namun ketiganya selalu mengatakan bahwa Alvin ada di Kota T untuk membantu kota tersebut keluar dari ancaman Dungeon Break.
Duncan tentu saja tidak memercayainya.
Ia dan ayahnya yakin, orang seperti Alvin tidak mungkin memiliki kekuatan yang cukup untuk mengatasi sebuah Dungeon peringkat S. Ia dan ayahnya menebak, teman-temanya pasti hanya ingin menggertak mereka saja, seolah-olah ingin memberitahunya bahwa Alvin kini sudah jauh lebih kuat.
"Kami sudah bilang, kan? Dia sedang menolong warga Kota T untuk menutup Dungeon peringkat S. Tunggulah, dia pasti akan datang untuk menghajarmu," sahut Jack dengan suara pelan. Ia sudah hampir pingsan setelah disiksa cukup lama.
Wajahnya sudah hampir tak berbentuk. Kedua matanya yang bengkak juga hampir tidak bisa melihat apa pun lagi.
"Kau pikir aku percaya?!" Duncan mengumpat.
"Kau pikir dia bisa mengatasi Dungeon peringkat S seorang diri?" ucap seorang hunter peringkat SS yang duduk dengan santai di sofa kulit di dekat mereka.
Dia adalah satu dari 6 hunter peringkat SS yang sudah terlanjur datang saat Norman meminta mereka untuk membantu mengatasi Dungeon Break di Kota S.
Namun, karena Dungeon Break itu sudah berhasil diatasi dan bayaran juga sudah mereka terima, mereka akhirnya setuju membantu Norman dan Duncan untuk menyingkirkan Alvin, juga keluarga Maxwell, sebagai gantinya.
"Memerlukan 12 hunter seperti kami untuk menutup Dungeon itu," tambah hunter tersebut.
"Dungeonnya sudah tertutup kemarin. Kau pikir siapa yang melakukannya?" sahut Jack.
Hunter peringkat SS itu tertawa. Lima rekannya yang kesemuanya berperingkat SS juga ikut tertawa.
Mereka berenam adalah bagian dari 12 hunter peringkat SS yang sudah sangat terkenal di seluruh dunia.
"Kau pikir kami bodoh untuk kau gertak? Informasinya sudah menyebar. Ada dua hunter Asosiasi Kota T yang dengan sukarela menyelinap masuk hanya untuk menghancurkan pilar sihirnya," sahut Duncan.
"Tsk... Sudahlah. Aku mau tidur," sahut Jack, merasa sudah lelah dengan pembicaraan bodoh itu.
Baaaaaakkk!
Satu tendangan keras Duncan menghantam rusuk Jack.
"Cepat katakan padaku dimana dia berada!"
"K-kau... Keparat! Aku sudah mengatakan berulang kali!" umpat Jack, memaksakan mulutnya yang sudah sangat sakit untuk terbuka dan berteriak melampiaskan kemarahannya.
__ADS_1
Merasa muak dengan kata-kata yang ia anggap sebagai sebuah kebohongan, Duncan akhirnya berdiri lalu menghampiri Vina, satu-satunya orang yang tidak berbicara apa pun sejak ia dibawa ke benteng keluarga Lewis.