Hunter System

Hunter System
Bab 223 - Dewa Penguasa


__ADS_3

Jangankan berkhianat, masih berpikir untuk melakukan pengkhianatan saja, para malaikat akan langsung dikirim ke alam ketiadaan. Tempat yang jauh lebih mengerikan dibandingkan sebuah neraka yang merupakan tempat akhir bagi para dewa dan malaikat yang telah mati.


"Ada yang salah di sini," pikir malaikat itu.


Ia menatap Mina dan Alvin bergantian sebelum berbicara lagi,


"Apa kalian sebelumnya sudah pernah bertemu malaikat dan dewa?" tanya sang malaikat.


"Dia sudah menghabisi banyak malaikat dan satu dewa," sahut Mina, bertujuan untuk menggertak sang malaikat.


Malaikat itu mengikuti arah tatapan Mina dan tatapannya berakhir pada Alvin yang masih berekspresi tenang walaupun sedang kebingungan karena tidak mengerti apa yang sedang Mina dan malaikat itu bahas.


"Sepertinya ada sosok tak bertanggung jawab yang dengan sengaja menariknya masuk ke dunia ini," ucap sang malaikat sambil masih menatap Alvin lekat-lekat.


Saat sudah berhadapan seperti ini, ia bisa merasakan energi Mana yang sangat besar terpancar dari dalam tubuh pria itu. Ia bahkan tidak yakin apa bisa mengalahkannya dalam sebuah pertarungan satu lawan satu atau tidak.


'Wanita ini saja sudah terlalu kuat untuk bisa kuhadapi. Apalagi pria ini. Harusnya aku membawa puluhan rekan bersamaku. Tidak, puluhan saja mungkin tidak cukup.'


Malaikat itu akhirnya berbicara lagi pada Mina, "Hentikan saja questmu. Jangan membuat kekacauan lagi di sini. Cukup dengan 3 desa yang sudah kau musnahkan dan penjaga benua yang sudah kau habisi."


"Kalau begitu, apa kau memiliki solusi untuk memulangkannya?" tanya Mina.


Malaikat itu menggeleng.


"Kami tidak diizinkan untuk membuka gerbang dengan tujuan apa pun."


"Lalu, bagaimana dia bisa kembali ke dunianya?"


"Dia tidak akan bisa kembali kecuali ada makhluk dari dunianya yang bisa membukakan gerbang untuk memulangkannya."


Mina melirik Alvin sekilas sembari menelan ludah.


'Kalau begitu, rencanaku membuat malaikat ini datang sepertinya sia-sia.'


Awalnya Mina merasa sedikit putus asa. Tapi ia tiba-tiba mengingat sosok yang mungkin bisa membantu. Ia pun berbicara lagi dengan nada yang lebih bersemangat pada sang malaikat.


"Kalau begitu..., apa kau bisa menghubungi dewa untuk membukakan gerbang kembali?"


Dahi sang malaikat mengernyit. Mereka juga tidak diperkenankan untuk berhubungan dengan dewa mana pun dengan alasan apa pun. Tapi, karena rasa penasaran, ia akhirnya bertanya balik, "Dewa mana yang ingin kau hubungi?"


"Penguasa pusaran putih. Dewi Lyn atau dewi Ann."


"Apa?!"


Kedua mata sang malaikat melebar. Nama terakhir benar-benar bukanlah nama yang ia harapkan.


Malaikat itu akhirnya sadar jika wujud kedua makhluk itu sangat mirip dengannya. Bedanya hanya mereka tidak memiliki sayap.


'Benar juga, wujud mereka serupa dengan kami. Makhluk mana lagi yang memiliki rupa sama dengan para dewa selain makhluk dari pusaran putih?'

__ADS_1


"Kau bisa menghubungi mereka?" tanya Mina lagi.


Walaupun malaikat itu tampak terkejut namun ia tidak menjawab permintaannya. Karena itulah Mina menjadi gusar.


"Kami tidak diizinkan untuk menghubungi dewa mana pun."


"Huh?! Lalu, untuk apa kau bertanya?!"


"Aku hanya ingin mengetahui...nya..."


Glup...


Malaikat yang bahkan jauh lebih kuat dibandingkan 10 kekuatan gabungan dari malaikat pusaran putih itu menelan ludahnya saat tanto sihir Mina sudah melekat di lehernya.


'Aku kalah cepat dengan makhluk ciptaan kasta terbawah?'


"Panggilkan dewi Ann atau dewi Lyn. Atau aku akan menghabisimu!" umpat Mina, mengancam.


Bersamaan dengan itu, Mina memasukkan mata tanto sihirnya lebih dalam menembus pelindung sihir dan kulit tubuh sang malaikat.


"Aku tidak memiliki hak. Aku bukan dewa penguasa."


"Kalau begitu panggil dewa penguasamu!"


"Kau terlalu lancang!"


Belum sempat Mina menyelesaikan kalimatnya, tubuh malaikat itu tiba-tiba lenyap dari hadapannya.


Sedetik setelahnya baik Alvin dan Mina tiba-tiba merasakan berat di sekujur tubuh mereka.


Keduanya kemudian terjatuh dalam posisi berlutut.


......................


Alvin merasakan sebuah tekanan kuat yang memaksanya untuk tetap berlutut.


Ia pernah merasakan hal yang sama saat bertemu dewan pengawas Re, namun kali ini kekuatan pembelenggu itu sangatlah kuat hingga ia yakin tidak akan bisa melepaskan diri walaupun berusaha melawan sihirnya.


'Apa-apaan kekuatan sihir ini?'


Alvin berusaha mendongak, namun ia tidak bisa menggerakkan lehernya sama sekali.


'Harus melawan kekuatan seperti ini lagi? Aku benar-benar sial! Apa yang sebenarnya mereka bicarakan hingga kami diserang dengan cara ini lagi?'


Alvin kemudian menyadari kemunculan sosok lain di tempat itu dari melihat kaki seseorang yang berjalan menghampiri Mina yang juga sedang dipaksa berlutut disampingnya.


"Kau ingin bertemu denganku?"


Suaranya terdengar seperti suara anak kecil dan Alvin bisa mengonfirmasinya juga dari melihat ukuran telapak kakinya yang tanpa menggunakan alas apa pun.

__ADS_1


Untungnya, anak itu berbicara dalam bahasa manusia yang Alvin mengerti. Selain itu, nada bicaranya juga terdengar tanpa ancaman. Dia berbicara seperti benar-benar sedang bertanya saja.


Anak itu kemudian meletakkan masing-masing tangannya di atas kepala Alvin dan Mina.


Pada saat yang bersamaan, Alvin bisa merasakan inti Mana yang berada di dalam tubuhnya bergejolak.


'Apa ini? Kenapa...'


Tapi, inti Mananya bergejolak tidak ke arah negatif. Inti Mana di dalam tubuhnya seakan bersukacita dengan sentuhan sihir yang anak itu lakukan pada dirinya.


"Untung kau tidak membawa semua pasukan bersamamu," ucap anak itu.


Walau pun Alvin tidak bisa melihat wajahnya, namun ia tahu jika anak itu sedang berbicara pada malaikat yang kini berada jauh dan tidak terlihat lagi dari sudut pandangnya.


"Masing-masing dari mereka memiliki bagian dari inti Mana Lorelei," sambung anak itu.


Alvin bisa mendengar pekikan tertahan dari sang malaikat, seolah informasi itu sangat mengejutkannya.


'Nenek guru seterkenal ini? Malaikat itu sepertinya sedang ketakutan, kan?'


Alvin hendak bertanya, namun ia tidak bisa membuka mulutnya sama sekali. Kekuatan sihir pengekang itu mengunci semua otot di tubuhnya.


Ia hanya bisa merasakan berat pada sekujur tubuhnya tanpa bisa melakukan perlawanan sama sekali.


"Kenapa kau tidak mengabari hal ini padaku?" tanya anak itu pada sang malaikat. "Untung saja aku menyadari jika ada penyusup. Jika tidak kau mungkin sudah mati."


"Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba mengira akan bisa mengatasinya seorang diri," sahut sang malaikat dengan suara bergetar.


Terdengar suara helaan napas panjang dari anak kecil itu. Helaan napas berat yang biasanya dilakukan seseorang ketika mendapatkan masalah pelik dalam hidup.


"Alvin Rufino dan Miyuki Nakano, aku tahu masalah yang sedang menimpa kalian berdua."


Alvin tersentak saat mendengar namanya, juga nama Mina disebut secara lengkap oleh sang anak.


'Dia tahu nama kami?'


Alvin mungkin tidak terlalu kaget jika anak itu mengetahui nama Mina mengingat daftar nama Mina pasti ada dalam buku kehidupan warga desa Korda.


'Tapi namaku tidak tercantum, kan? Jangan-jangan sebenarnya aku sudah...'


"Tidak. Kau belum mati. Aku cuma membaca pikiran dan ingatanmu, nak," sahut sang anak.


Glup...


'Siapa Anda sebenarnya?'


"Aku penguasa dunia makhluk terasing dan Serafim yang menurunkan sebagian inti Manaku pada Lorelei."


...****************...

__ADS_1


__ADS_2