
Alvin berada di ketinggian 500 kilometer dari permukaan tanah, tepat di bawah atmosfer.
Ia melakukan perjalanan melalui udara menggunakan airbender untuk kembali ke pulau Borneo, tempat di mana 5 kota yang dulunya menjadi wilayah dari 3 negara berbeda, kini telah menjadi satu di bawah naungan negara baru, Asia Tenggara.
Kota T dan Kota S yang menjadi tujuan Alvin berada di pulau tersebut.
Sejak fungsi Rimi telah kembali, Alvin kini sudah bisa membuka portal tempat pasukan serangganya berada.
Pada ketinggian itu, ia membagi 500 serangganya untuk menyisir kota di pulau tersebut dari bagian terluar untuk membersihkan pasukan lich yang sudah menguasai kota-kota sementara ia sendiri pergi ke Kota T untuk menyelamatkan Vina yang menjadi prioritas utamanya.
Untuk Kota S yang berada di tengah pulau, Alvin mengutus 3 serangga terkuatnya yaitu dua laba-laba beracun raksasa dan satu-satunya belalang sembah yang ia miliki untuk langsung menuju tempat di mana necromancer berada.
......................
Pusat Kota T sudah sangat sunyi dari aktifitas warga selama 8 bulan belakangan. Hanya ada satu tempat di pinggiran kota yang tampak sibuk.
Tempat itu adalah lokasi di mana bunker raksasa milik militer berada, yang menjadi wadah bagi penduduk Kota T yang masih hidup untuk bersembunyi dan mendapat perlindungan dari pihak militer, juga para hunter Kota T.
Sayangnya, tempat teraman terakhir itu pada akhirnya dapat ditemukan pasukan lich.
Tiga pintu menuju bunker bawah tanah kini telah terkepung oleh pasukan lich. Tempat persembunyian itu terendus pasukan lich setelah para hunter yang sudah terluka parah pergi kesana.
Para hunter yang awalnya melakukan perang gerilya dengan bersembunyi di bunker-bunker kecil di pinggiran Kota T memilih mencari perlindungan ke sana setelah mereka yakin tidak akan bisa menangani para monster lagi.
Itulah yang menjadi kecerobohan mereka di tengah rasa panik yang melanda.
Justru karena mereka melarikan diri ke bunker itulah persembunyian teraman tersebut dapat diketahui lokasinya karena pasukan lich dapat merasakan energi Mana mereka.
.........
"Sepertinya tidak ada harapan lagi bagi kita untuk bisa bertahan hidup," keluh Hendrik Tan, komandan dari pasukan militer Kota T.
Jika lich berhasil menembus pintu bunker, ia yakin bahwa kehidupan manusia di Kota T akan langsung tamat.
Seluruh prajuritnya memang masih utuh dan sedang bersiaga di lapisan bagian kedua bunker yang berada di balik pintu di belakang mereka.
Namun, seluruh personil militer itu hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki energi Mana. Senjata modern tanpa sihir yang mereka miliki tidak akan terlalu berguna dalam mencegah serangan lich.
Karena itulah, Hendrik yakin, jika lich sudah menjebol pintu di hadapan mereka dan berhasil menghabisi sisa hunter yang berada di lapisan pertahanan terluar bunker, pasukannya juga tidak akan bisa mencegah lich untuk menerobos pintu ketiga dimana sisa penduduk Kota T bersembunyi.
.........
Revi McCoy dan Robbie Cale yang masih sedikit lebih segar bugar dibandingkan hunter lain menghela nafas panjang, seakan membenarkan apa yang Hendrik katakan.
__ADS_1
Di dekat mereka, di masing-masing tempat tidur darurat, Lex Brown, Jack Paul dan Ivory Cruz sudah terbaring tak berdaya setelah dengan susah payah keluar dari kepungan pasukan lich di area dekat bunker raksasa ini.
Area itu adalah area pertahanan terakhir mereka untuk mencegah pasukan lich mendekati bunker raksasa.
Sementara ketiga ketua kelompok pertahanan itu sedang memikirkan nasib mereka, suara bising terdengar pada pintu baja berlapis energi sihir yang berada di dekat mereka.
Dibalik pintu itu, pasukan lich sedang berusaha untuk bisa menjebol pintu tebal tersebut.
.........
Robbie berpaling, menatap Vina yang sedang merawat Jack dan Ivory, membersihkan luka-luka mereka yang masih menganga diakibatkan tidak adanya Healer lagi yang tersisa di sana.
Robbie kemudian pergi menghampiri Vina.
"Nona Rufino...," sapa Robbie dengan suara pelan, khawatir mengejutkan wanita itu yang sedang membelakanginya.
Vina menoleh padanya lalu tersenyum pahit. Ia sudah bisa menebak apa yang ingin Robbie bicarakan padanya.
Melihat senyuman Vina dan kedua matanya yang berkaca-kaca membuat Robbie diam membeku dan menelan lagi kalimat yang hampir saja keluar dari mulutnya.
'Dia tentu tidak tahu. Jika dia tahu keberadaan adiknya, sudah pasti kami tidak akan dapat masalah seperti ini.'
Robbie menunduk, lalu meminta maaf pada Vina sebelum akhirnya kembali lagi ke tempat keberadaannya semula.
Robbie, Revi dan Hendrik saling bertatapan dalam diam sebelum mereka kaget saat pintu bunker tiba-tiba tercabut ke arah luar.
Revi dan Robbie bergerak bersamaan mengambil senjata mereka lalu berlari ke arah pintu, bermaksud untuk mencegah pasukan lich yang mereka kira telah berhasil mencabut pintu baja itu.
Namun, setelah mereka diam selama lebih dari 30 detik di depan pintu, tidak ada satupun dari lich yang masuk melewati pintu.
Kedua hunter itu akhirnya keluar dan terkejut melihat tumpukan mayat lich yang berserakan di luar bunker.
Revi menghampiri daun pintu baja yang diletakkan di dekat lubang pintu dan membaca tulisan tangan jelek yang tertera di sana.
^^^Terima kasih karena sudah menjaga saudariku.^^^
^^^Alvin Rufino.^^^
Revi dan Robbie saling bertatapan lagi lalu berlari kembali ke dalam bunker.
"Tuan Brown?!" seru Robbie ketika melihat Lex yang sebelumnya cidera parah sudah pulih dan duduk di atas ranjangnya. Begitu juga dengan Ivory.
"Di mana Jack dan nona Rufino?" tanya Robbie pada Hendrik saat ia tidak melihat Jack dan Vina lagi di sana.
__ADS_1
Hendrik menggelengkan kepalanya. Ia bahkan baru tahu jika Lex dan Ivory telah sadar. Rasa tegang akibat tercabutnya pintu bunker itu membuatnya tidak memerhatikan apa yang terjadi di belakangnya.
"Dia menyelamatkan kita lagi...," ucap Revi pelan sembari menepuk pelan pundak Robbie lalu pergi menuju salah satu ranjang darurat.
Ia kemudian duduk di ranjang darurat yang sebelumnya ditiduri Jack dan duduk termenung di sana sebelum akhirnya menangis menysukuri keselamatan yang untuk ketiga kalinya datang menghampiri mereka, juga Kota T, karena pertolongan dari hunter yang sama.
......................
Jack tidak berani bergerak sama sekali, takut jika ia akan jatuh dari tubuh belalang yang telah menjadi tunggangannya.
"Kau benar-benar pria brengsek!" umpat Alvin pada Jack.
Ia terbang dengan airbender sembari menggendong Vina yang memiliki perut besar. Dia telah mengandung anak dari Jack.
Jack tertawa canggung.
"Darimana kau tahu?"
Alvin tidak menjawabnya. Ia masih menatap Jack dengan marah.
Saat Alvin melihat posisi keberadaan Vina ketika masih berada di Kepulauan Seribu, ia melihat tanda hati di titik hijau tempat keberadaan Vina.
Rimi kemudian memberitahu bahwa tanda hati itu ada karena Vina telah menikah dan pasangannya adalah titik hijau yang juga memiliki tanda hati di dalamnya. Alvin menyadari bahwa itu titik milik Jack.
"Kota T lagi kacau balau dan kalian membuat anak? Kau f**k!"
"Hei! Kenapa kau kasar sekali? Anak ini keponakanmu!" umpat Vina.
"Bro... Saat itu kota T belum kacau seperti ini," ucap Jack membela diri.
"Kau lihat laba-laba raksasa di bawah sana?"
Jack menurunkan tatapannya, memerhatikan laba-laba yang sedang mengamuk di antara ribuan lich. Ia kemudian mengangguk.
"Kalau kau berani menyia-nyiakan kakakku, aku akan menyuruhnya mencincang dan memakan jasadmu!"
Glup...
"Alvin! Apa yang kau katakan? Dia kakak iparmu!"
"Aku cuma memberi bajingan ini peringatan!"
......................
__ADS_1