
Sudah hampir jam 5 pagi saat Alvin kembali ke dunia manusia dari dalam ruang hologram.
Setelah mengambil hadiah extra experience yang membuatnya langsung naik ke level 95, barulah ia membuka hidden reward.
...°•°•°•°•°•°•°...
...Item Name : Hunter Armor...
...Rarity : Infinite...
...Item Level : 1/5...
...Function : Defence Booster...
...(Increases physical and magical defence power by 5 times base attack)...
...•°•°•°•°•°•°•...
Saat Alvin mengenakan armor tersebut, ia bisa merasakan kekuatannya bertambah berkali lipat lebih dari saat ia memadukan sepatu dan sarung tangan.
Selain mendapatkan kenaikan level Hunter Equipment menjadi 3/5, ia juga mendapat status tersembunyi dari set itu. Dia mendapatkan critical speed dan resist critical hits setelah berhasil menyatukan 3 item.
"Menolak pukulan kritis? Apakah ini untuk menahan serangan berkekuatan besar?"
["Fungsi status itu untuk menghilangkan dampak serangan kritis lawanmu."]
"Aku tidak terlalu menyadarinya. Tapi, apakah para monster-monster yang selama ini kulawan memilikinya?"
["Untuk monster dari Dungeon peringkat A, mereka belum memilikinya. Ini hanya persiapan untuk lawanmu di masa depan."]
"Jadi, lich-lich itu belum memiliki skill yang menghasilkan serangan kritis?"
["Tidak sama sekali."]
"..."
["Ada yang kau khawatirkan?"] tanya Mina, saat mendengar debaran jantung Alvin tidak normal.
"Jadi..., sekuat apa monster-monster yang harus kulawan nanti?"
["Mereka sangatlah kuat. Karena itu kami mempersiapkanmu untuk bisa melawan mereka."]
"Apakah tidak ada hunter lain selain diriku yang bisa membantu untuk melawan mereka?"
Mina diam agak lama sebelum menjawabnya. Alvin merasa Mina sedang memikirkan suatu hal sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
["Aku tidak tahu."]
"A-apa?! Bagaimana kau bisa tidak tahu? Bukankah kau datang dari masa depan?"
["..."]
"Mina?"
["Kerjakan saja quest harian dan mingguanmu yang sudah menumpuk. Kau harus menyelesaikan semuanya hari ini atau kau akan menjalani hukuman Rimi. Kau ingin menjadikan kamarmu toilet lagi?"]
"..."
......................
Alvin akhirnya pergi untuk melakukan quest jogging ke taman di dekat unit bungalownya.
Saat matahari sudah mulai nampak, secara kebetulan ia bertemu dengan Erfina di taman itu, yang juga sedang melakukan jogging.
"Alvin? Kapan kau kembali?"
"Ya? Bukankah saya sudah mengatakan bahwa saya tidak akan kembali?"
"Maksud ku, kapan kau kembali dari luar kota? Vina mengatakan bahwa kau sedang ada bisnis di luar kota."
"Oh..., y-ya... Saya baru saja kembali tadi pagi."
Erfhina mengangguk pelan.
"Bisakah kau tidak berbicara formal padaku? Kita sudah mengenal lama, kan? Lagian kau juga lebih tua 1 tahun dariku."
Alvin tersenyum. Ia sebenarnya menyukai ide itu. Hanya karena Erfhina adalah orang kepercayaan Arthur Maxwell yang sudah sangat banyak membantu keluarganya, maka ia berusaha berbicara formal pada kedua bersaudara itu.
Selain itu, Alvin juga memiliki rasa hormat pada mereka karena Xavier bersaudara bukan jenis hunter yang memandangnya rendah. Walaupun mereka berasal dari keluarga hunter kelas atas, mereka selalu memandang Alvin setara dengan mereka.
__ADS_1
Karena penasaran, Alvin mencoba skill penerawangan yang baru ia dapat dari Rimi, pada Erfhina.
["Tsk... Kau beruntung."]
'Apa maksudnya angka satu sampai lima ini?'
["Itu adalah skor. Patokannya adalah angka 3. Jika di atas kepalanya terlihat angka 3, dia bisa dijadikan teman. Angka 3 artinya tingkat kesukaannya padamu, sama seperti orang itu menyukai dirinya sendiri,"]
["Jika angka 2, itu berarti ada kemungkinan bagimu untuk membuatnya menyukaimu. Kau tinggal pintar-pintar mencuri hati orang tersebut agar nilai kesukaannya naik ke angka 3. Normalnya, seseorang akan memiliki skor 2. Itu hal yang wajar."]
'Bagaimana jika angka 1?'
["Abaikan saja. Susah untuk membuat orang dengan skor 1 untuk menyukaimu."]
'Begitu...'
["Terkadang akan muncul angka 0. Orang-orang seperti itu racuni saja. Mereka membencimu."]
'... Kenapa kau selalu membahas tentang meracuni seseorang?'
["Karena itu sangat simpel. Racuni pembenci, temani penyuka."]
'... Itu suka-suka ku. Berarti gadis ini menyukaiku sama seperti dia menyukai dirinya sendiri?'
["Ya. Mudah bagimu mendekatinya untuk kau jadikan pasangan hidup karena tingkat kesukaannya 3."]
'Aku menanyakannya bukan bermaksud begitu.'
"Tuan Rufino?"
"Ah... Y-ya...," Alvin langsung memasang sebuah senyuman aneh saat Erfhina memotong pembicaraannya dengan Mina.
"Ya?" Erfhina yang sedang sibuk dengan ponselnya agak bingung saat Alvin tiba-tiba berbicara sendiri.
"Hah?"
["Dibelakangmu. Tsk... Ternyata instingmu kurang baik jika ada wanita."]
Alvin menoleh kebelakangnya dan agak kaget saat melihat Ivory ada disitu.
'Pantas saja suara dan cara memanggilnya berbeda.'
Skor di atas kepala Ivory menunjukkan angka 4.
'Empat?!'
["Ya. Sudah kubilang, kan? Dia sangat menyukaimu. Ajaklah dia menikah hari ini, maka dia akan langsung menerimamu."]
'...'
"Anda melamun lagi?"
"T-tidak..."
Alvin bisa melihat Ivory tersenyum geli setelah ia menyahuti pertanyaannya.
Ivory kemudian menyapa Erfhina yang langsung menyimpan ponselnya saat ia juga melihat Ivory ada disitu.
Alvin agak kaget saat melihat kedua wanita itu tampaknya sudah saling mengenal satu dengan yang lain.
"Anda berdua sudah saling mengenal?"
"Ya. Kami pernah dua kali melakukan raid gabungan saat nona Xavier baru lulus dari Akademi tahun lalu," sahut Ivory.
"Bagaimana Anda berdua bisa saling mengenal?" kali ini giliran Erfhina, yang juga penasaran, bertanya.
"Tuan Rufino banyak membantu Kota T," sahut Ivory dengan senyum merekah di wajahnya.
"Membantu?"
"Y-ya... Saya menyediakan banyak perlengkapan raid yang sangat baik untuk banyak guild di kota ini," sahut Alvin cepat.
Ivory dan Erfhina sama-sama terdiam.
Ivory baru menyadari bahwa apa yang ia katakan sepertinya salah dan baru ingat bahwa Erfina berasal dari Kota S.
Sementara Erfhina terdiam karena merasa takjub pada perusahaan tempat Alvin bekerja. Ia berpikir, perusahaan itu pastinya memiliki banyak produk berkualitas tinggi hingga bisa menarik minat banyak guild.
Erfhina tahu kekuatan keluarga Cruz. Keluarga terkaya di Kota T itu tidak mungkin tidak memiliki link penempa yang baik. Jika mereka sampai memesan produk raid dari Alvin, berarti Alvin kini bekerja di perusahaan yang baik pula.
__ADS_1
"Pantas mereka bisa menyewa bungalow yang harganya lumayan itu. Syukurlah kalau begitu," pikir Erfhina.
Mereka bertiga berbicara beberapa menit lagi sampai Erfhina akhirnya pamit undur diri.
"Ku harap kau akan ikut kembali besok. Kami akan kembali besok." Ucap Erfhina, sebelum akhirnya pergi meninggalkan mereka.
.........
"Kembali? Anda ingin kembali ke Kota S, tuan Rufino?" tanya Ivory, setelah Erfhina menjauh.
"Saya tidak yakin."
"Apa ada masalah yang terjadi?" tanya Ivory. Ia langsung khawatir, mengingat keluarga Lewis yang sedang mencari Alvin.
Ia tahu Alvin kuat. Tapi Norman Lewis juga punya beberapa hunter kuat disekelilingnya.
Untungnya, Ivory belum tahu bahwa Duncan Lewis saat ini sudah mencapai peringkat S. Jika tidak, dia tentu akan lebih khawatir lagi.
"Tidak ada. Itu hanya sedikit urusan keluarga."
"B-begitu... Oh... Saya hampir lupa. Apa Anda mengganti nomor ponsel?"
"Tidak. Saya hanya menonaktifkannya karena sedang melakukan raid."
"Apa Anda memiliki tim raid?"
"Tidak juga. Saya hanya membantu beberapa kenalan."
"Begitu..."
"Apa ada yang ingin Anda bahas, nona Cruz?"
"Sebenarnya ayah saya ingin menanyakan apakah Anda ingin menggunakan Dungeon yang ada di halaman kediaman keluarga kami."
"Bukankah hal itu sudah saya bahas dengan Jack?"
"Benarkah? Tapi..., tuan Paul bilang Anda belum menjawabnya saat dia bertanya."
Alvin akhirnya mengingat-ingat kembali apakah dia benar-benar sudah memberikan jawabannya saat Jack membahas hal itu dalam perjalanan pulang 16 hari lalu.
Dia akhirnya ingat bahwa dia belum memberikan jawaban mengenai gerbang karena arah pembicaraan mereka berubah sesaat setelah Jack bertanya.
"M-maaf. Ternyata saya belum memberikan jawabannya. Saya tidak akan menggunakan gerbang itu. Anda bisa menutupnya."
"Kalau begitu saya akan meminta orang-orang keluarga Cruz untuk menghancurkan pilar sihir nya."
"Ya..."
Mereka diam agak lama sebelum Ivory akhirnya membuka percakapan lagi setelah mengumpulkan keberanian.
"Apakah Anda memiliki waktu luang malam ini, tuan Rufino?"
Alvin masih diam agak lama setelah Ivory mengajukan pertanyaan itu.
"Maaf, tapi saya ada janji untuk melakukan raid," sahut Alvin, tanpa berani menatap wajah Ivory.
Ivory tersenyum pahit. Ia tahu bahwa dia telah ditolak mentah-mentah.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, tuan Rufino," ucap Ivory pelan dan langsung berbalik pergi sebelum Alvin menanggapinya.
"Ya..."
Alvin masih berdiri diam ditempatnya sembari menatap kepergian Ivory.
["Tsk... Sayang sekali. Kau mungkin tidak akan menemukan wanita yang akan menyukaimu melebihi dirinya sendiri seperti dia."]
Kali ini Alvin tidak menanggapi apa yang Mina katakan. Tapi, saat Mina mengatakan itu, ia tiba-tiba mengingat kembali wajah seorang gadis kecil yang berasal dari masa kanak-kanaknya.
["Hei. Kenapa ada wajah seorang anak kecil di dalam benakmu?"]
Alvin terkejut.
"Jangan bilang kau juga bisa melihat apa yang kubayangkan!"
["Tentu saja bisa. Aku menyatu dengan pikiranmu. Apa kau ini pedofil?"]
"Kau sembarangan bicara!"
...****************...
__ADS_1