
Alvin baru berhenti saat belatinya secara tidak sengaja memenggal leher monster itu.
["Sudahlah, dia sudah mati sejak tadi."]
Alvin akhirnya berdiri. Ia menatap kepala monster yang sudah tidak berbentuk itu dengan nafas naik turun akibat kemarahan yang meledak-ledak di dadanya.
"Kau brengsek...!"
Craaaakkkk...!
Alvin menendang kepala monster yang sudah terpisah dari tubuhnya hingga kepala itu pecah seketika. Padahal dia hanya ingin menyepak kepala itu agar terbang menjauh terpisah dari tubuhnya. Tapi karena begitu keras sepakkannya, kepala tersebut langsung pecah saat bertemu dengan kakinya.
Masih belum puas, ia berbalik menatap ratusan monster yang jumlahnya sudah menurun drastis semenjak ia terbangun tadi.
Setelah Alvin sudah tidak berada di antara pengeroyoknya, Cyntia dengan leluasa menggunakan skill untuk menghabisi para pengeroyok itu dengan sangat cepat.
Alvin membentangkan kedua tangannya ke atas pasukan monster itu lalu menciptalan jala raksasa ke atas mereka.
"Tia, menjauh dari situ!"
Setelah Cyntia melompat mundur, barulah Alvin melepaskan jala raksasa dan memerangkap semua monster lalu meremukkan ratusan monster itu dengan sekali tarikan kuat.
Suara retakan-retakan dari tulang patah dan remuk menggema bersahutan dari dalam jala. Tak satupun dari ratusan monster peringkat S itu yang bisa meloloskan diri hingga tubuh mereka remuk menyatu di dalam jala.
Zlaaarrrr... Zlaaaarrr... Zlaaaarrrr...!
Belum puas dengan apa yang baru ia lakukan, Alvin juga menyerang monster-monster yang sudah sekarat itu dengan thunderbolt sebelum ia membakar mereka lagi dengan flame.
["Kau sangat pendendam."]
'Kau tidak tahu apa yang mereka lakukan padaku. Tsk... Lihat, mereka bahkan bisa mati!'
["Aku bisa melihatnya. Hanya saja aku tidak bisa menyadarkanmu sebelum kau menyadari sendiri bahwa kau berada di dunia ilusi."]
'Apa?'
["Sihir itu sangat kuat. Sihir yang menyerang otak bawah sadar memang tidak membunuh secara langsung tapi kau akan mati dengan sangat menyedihkan jika tidak bisa lolos darinya."]
'...Mari kita bicarakan nanti.'
["...Aku setuju."]
Setelah menghabisi ratusan monster itu, Alvin membuka peta Dungeon untuk melihat lokasi keberadaan bos Dungeon dan sisa monster di dalam Dungeon.
Masih ada dua pasukan yang berada di dua lokasi terpisah, juga ada satu lokasi lagi tempat dimana bos Dungeon berada.
Dari situ ia juga melihat waktu yang tersisa sebelum sihir pengunci gerbang terbuka hanya tersisa 1 jam lagi.
__ADS_1
Setelah memastikan semuanya, Alvin pergi menghampiri Cyntia.
Ia meberikan buff pemulih energi Mana terlebih dahulu saat sudah berada di dekat Cyntia sebelum akhirnya berbicara padanya.
"Bisakah kau mengurus ribuan pasukan monster seorang diri di salah satu lokasi seperti yang kau lakukan pada mereka tadi? Waktu yang tersisa cuma 1 jam lagi."
Cyntia tersenyum. "Tentu saja."
"Baiklah. Aku akan pergi ke lokasi bos nya."
"Ya. Dan... Tolong jaga emosimu, ok?"
Mendengar itu, Alvin terdiam. Ia menatap wajah cantik Cyntia yang dipenuhi keringat itu sambil berusaha menstabilkan emosinya. Ia kemudian teringat juga pada tubuh wanita itu saat...
["Astaga."]
Glup...
"Aku mengerti," sahut Alvin dengan wajah merona.
Alvin agak salah tingkah saat Cyntia masih menatapnya sembari tersenyum penuh arti.
"Apa ada yang ingin kau katakan lagi?"
'Apa jangan-jangan aku mengigau telah melihat tubuhnya?'
"Ya."
"..."
"Y-ya?! A-apa maksudmu?"
"Aku tadi mendengarmu berbicara tapi dengan menggunakan suara seorang gadis kecil."
Kedua mata Alvin melebar, menatap Cyntia dengan kebingungan. Ia tahu, Mina pasti bericara pada wanita itu.
......................
Jika perbedaan waktu sebuah Dungeon dan waktu di Bumi biasanya 4:1, 4 jam di dalam Dungeon sama dengan 1 jam di Bumi, hal serupa tidak berlaku dengan Dungeon peringkat S dan Bumi. Perbandingan waktu antara Dungeon peringkat S dan Bumi biasanya selalu 1:1.
Mungkin ada Dungeon peringkat S yang waktunya berjalan lebih lambat dibandingkan Bumi, tapi hal itu jarang ditemukan.
Karena itulah, saat waktu sudah tersisa 1 jam lagi sebelum sihir pengunci gerbang terbuka, semua hunter mulai merasakan gugup.
Hampir tidak ada diantara mereka yang berbicara. Semua orang mulai larut dalam pikirannya masing-masing, membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya juga keluarganya di hari esok, setelah monster-monster itu menginvasi Bumi.
Di antara mereka, Lex Brown adalah orang yang paling tampak cemas. Bukan mencemaskan dirinya sendiri, namun mencemaskan kondisi Alvin dan Cyntia yang sudah berada di dalam sana lebih dari 11 jam.
__ADS_1
.........
"Bukan maksud saya untuk membuat Anda bersedih. Tapi Anda harusnya sudah mengikhlaskan dua hunter Anda itu, tuan Brown," ucap Lowe Frostman pelan, berusaha menghibur Lex.
Lex tersenyum pahit sebelum menanggapi kata-kata Lowe, yang ia tahu ingin menghiburnya. "Saya tentu selalu berharap agar mereka dapat bertahan."
Lowe menggelengkan kepalanya, lalu berbicara kembali, "Saya bukannya pesimis. Tapi tidak mungkin dua hunter peringkat A bisa bertahan dari sebuah Dungeon peringkat A. Apalagi ini adalah Dungeon peringkat S. Anda sendiri juga tahu itu, kan?" ucap Lowe.
Lex belum memberitahunya bahwa dua hunter yang masuk ke dalam Dungeon itu bukanlah hunter dari Asosiasi Kota T seperti yang Lowe kira.
Lex tersenyum kecut lalu mengangguk pelan. Ia sebenarnya hanya memberitahu Lowe jika ada dua hunter yang sudah masuk untuk memastikan kekuatan monster. Hanya sebatas itu.
Lowe mengira kedua hunter hanya diutus untuk menyelidiki. Hal itu memang sudah umum terjadi.
Karena sudah 11 jam berlalu sejak kedua hunter itu masuk ke dalam Dungeon, maka Lowe menebak jika mereka sudah di sergap para monster dan mati.
Ia kini hanya ingin menghibur Lex yang mungkin sangat menyayangkan kepergian dua hunternya itu.
......................
"Apa kau bisa berbicara padanya menggunakan mulutku?" tanya Alvin pada Mina sembari menatap Cyntia yang sudah pergi menjauh menuju lokasi pasukan monster.
["Muntah saja aku bisa. Bagaimana mungkin aku tidak bisa berbicara menggunakan mulutmu?"]
"Tapi... Bukankah pita suaraku milik laki-laki?"
["Jika Rimi bisa merubah suara yang kau hasilkan menjadi suara robot, kenapa dia tidak bisa merubahnya menjadi suaraku?"]
"...Kalian malah membuat masalah. Kenapa tidak gunakan suaraku saja?"
["Kami memang ingin membuat masalah."]
"Kau benar-benar..."
["Kau pikir dia mau menendangmu jika aku memintanya dengan menggunakan suaramu? Ingat. Skornya 7!"]
["Jika aku menggunakan suara robot, dia mungkin akan kebingungan. Jika aku menggunakan suara Ivory, dia mungkin akan langsung membunuhmu. Jadi...,"] Mina terdiam. Ia merasa kalau telah salah bicara.
"Yah... Suaramu memang seperti suara anak kecil jadi dia tidak akan menendang dengan niat membunuh. Maksudmu begitu, kan?"
["Kau f**k!"]
"...Aku akan pergi ke lokasi bos Dungeon sekarang."
Alvin membuka portal pasukan serangga dan memanggil mereka keluar.
Ia juga mengaktifkan wujud Hunter Equipment pada dirinya dan pasukan serangga, lalu memerintahkan pasukannya pergi ke lokasi lain untuk membasmi monster-monster di sana, sementara ia sendiri pergi ke lokasi keberadaan bos Dungeon.
__ADS_1
......................