
Alvin berbalik menatap gerbang saat merasakan monster-monster itu sudah berjarak beberapa belas meter lagi dari dinding pembatas antara Dungeon dan Bumi.
"Pergilah sejauh yang Anda bisa, tuan Frostman."
"Tapi, tuan Rufino."
"Bukan saya menolak atau ingin meremehkan Anda dan hunter-hunter Asosiasi. Kekuatan mereka di luar kemampuan Anda semua."
Tanpa menunggu tanggapan Lowe, Alvin mengangkat salah satu tangannya.
Bersamaan dengan itu, tubuh Lowe Frostman tiba-tiba melayang dan terbang menjauh saat Alvin melakukan gerakan mendorong dengan lembut untuk menjauhkan tubuh pria itu dan 'meletakkannya' di depan hunter-hunter Asosiasi.
......................
Lowe, sebagai ketua Asosiasi baru, merasa tidak pantas membiarkan salah seorang hunter di kotanya berjuang seorang diri walau ia tahu sekuat apa hunter tersebut.
Namun, ia akhirnya menyadari mengapa Alvin meminta mereka agar tidak mencampuri pertarungannya dengan para monster.
Kekuatan monster yang pada akhirnya keluar dari gerbang, benar-benar berada di luar nalar. Ia bahkan tidak tahu apakah ada hunter di Bumi ini yang bisa menyamai kekuatan salah satu monster.
"Energi Mananya..."
Lowe gemetar. Pengaruh dari energi sihir ratusan monster raksasa itu bahkan membuatnya kesulitan untuk bernafas.
Aura sihirnya saja bisa langsung meledakan puluhan gedung yang berada dalam radius belasan kilometer dari gerbang.
Aura sihir itu juga terasa mengekang dan menekan tubuh hingga serasa akan meledakkan tubuh mereka andai saja gelembung asap berwarna biru yang tiba-tiba bermunculan di setiap tubuh para hunter, tidak melindungi mereka.
"A-asap apa ini...?" ucap salah seorang hunter dengan suara bergetar. Ia sudah merasa takut dengan kemunculan pasukan monster raksasa dan mengira asap biru yang mengelilingi tubuhnya itu adalah sihir mereka.
Lowe memerhatikan asap kebiruan itu sebentar sebelum menatap pada Alvin yang juga dilindungi asap tipis kebiruan yang sama.
"Dia...," Lowe akhirnya menyadari jika kedatangan mereka ke tempat ini adalah sebuah kesalahan. Pria itu menoleh pada para hunter yang masih terheran-heran dengan gelembung asap tipis yang menyelimuti mereka, lalu berbicara, "Ayo kita menjauh dari tempat ini."
Hunter-hunter saling bertatapan. Mereka sebenarnya senang jika tidak harus ikut bertarung. Tapi mereka merasa tidak enak jika harus membiarkan hunter swasta bertarung seorang diri melawan para monster.
"Jika kita berada di sini, kita justru akan mengganggu tuan Rufino," ucap Lowe lagi, mengerti apa yang sedang para hunter Asosiasi pikirkan.
"Apa itu tidak masalah, ketua?"
Lowe mengangguk. "Pelindung ini dari tuan Rufino. Jika kita berada di sini, kita akan membuatnya membuang lebih banyak energi Mana hanya untuk melindungi kita."
Hunter-hunter itu juga akhirnya menyadari jika mereka akan menjadi beban. Tapi, saat mereka hendak pergi, Alvin justru mencegahnya.
"Tolong tetap di situ saja, tuan-tuan. Tolong turuti permintaan saya. Sudah terlambat untuk pergi."
"Tapi...," Lowe terdiam saat melihat monster-monster raksasa terbang menjauh dari gerbang, "Gawat..., para warga...," untuk kedua kalinya Lowe terdiam saat melihat monster-monster yang memiliki energi sihir mengerikan itu tiba-tiba terbelah, jatuh ke daratan dan tewas. "A-apa yang terjadi?!"
......................
Monster-monster raksasa bertubuh sehitam aspal yang kesemuanya memiliki sayap itu terbang keluar dari gerbang dan langsung pergi menyebar ke seluruh penjuru kota.
Tapi, baru beberapa puluh sampai beberapa ratus meter meninggalkan gerbang, tubuh monster-monster raksasa itu tiba-tiba saja terbelah tanpa terlihat siapa yang baru saja menyerang mereka selain adanya kilatan biru yang melintasi tubuh besar mereka.
Di darat, Alvin yang baru saja menghilang dari tempatnya berdiri, muncul kembali di tempat itu setelah dua detik berselang.
Dialah yang baru saja menghabisi ratusan monster itu dengan berlompatan kesana kemari di atas tubuh mereka, sembari menebaskan pasak besi di kedua tangannya pada tubuh-tubuh monster.
"Rimi, tolong tandai tempat di mana gerbang lain berada."
<...Baik, tuan>
__ADS_1
Sementara Rimi melaksanakan apa yang diperintahkannya, ia sendiri berkali-kali lenyap dan muncul kembali di tempatnya semula.
Tiap kali monster-monster raksasa itu bermunculan, tubuh mereka langsung terbelah bahkan sebelum mereka sempat terbang menjauh dari gerbang.
.........
"Apa yang terjadi? Kenapa semua monster itu langsung terbelah?"
"Sepertinya dia yang melakukannya."
"Ya?"
"Lihat yang benar."
Hunter-hunter Asosiasi fokus menatap Alvin. Walaupun hampir tak terlihat, mereka menyadari jika tubuh pria itu berkali-kali berbayang samar yang artinya dia berkali-kali bergerak pergi dari tempatnya dengan kecepatan yang berada di luar akal sehat.
"G-gila... Secepat apa dia sebenarnya?"
"A-apa itu kecepatan cahaya?"
.........
"Terima kasih. Tapi..., bisakah kau tidak berbicara formal? Aku agak tidak nyaman. Bukankah kau lebih tua dariku?"
<...Saya harusnya masih berusia 19 tahun saat ini>
"...Baiklah."
Alvin memfokuskan indranya dan dapat merasakan keempat tempat sejauh ratusan kilometer di mana Rimi meninggalkan tanda.
Begitu Alvin mengucapkan mantra sihir, lima gerbang muncul di lima lokasi berbeda.
Masing-masing gerbang muncul di depan gerbang raksasa yang berada di 5 kota.
"The Art Of Killing, part 2... Dagger Rain!"
Cahaya kebiruan memendar dari tubuh Alvin setelah ia mengucapkan mantra sihir.
Cahaya itu kemudian berubah wujud menjadi ribuan belati yang kemudian masuk ke dalam gerbang skill di hadapannya, yang sebelumnya ia buat, lalu belati-belati itu keluar di 4 gerbang yang berada di 4 kota berbeda.
Belati-belati itu kemudian terbang mengejar semua monster yang keluar dari gerbang raksasa dan sedang menghancurkan kota dan mengejar para penduduk, lalu menghabisi semua monster berkekuatan sihir mengerikan itu hanya dalam sekejap.
Setelah belati-belati itu menyelesaikan tugas, belati-belati pergi menuju gerbang sihir raksasa dan berdiam di depannya, menantikan monster yang akan keluar lagi dari sana.
......................
Setelah ribuan belatinya masuk ke dalam return gate, Alvin menghilang sekali lagi dan baru muncul dua detik setelahnya di tempatnya berdiri semula.
Di saat yang bersamaan dengan kemunculannya, ratusan monster yang baru keluar lagi dan terbang menjauh dari gerbang, berjatuhan dengan tubuh terbelah.
"Berapa lama kau bisa menyaring inti Mana mereka sebelum bisa dikosumsi inti Mana ku?"
Alvin mengangguk pelan. Dia bisa merasakan masing-masing monster itu setidaknya berada pada peringkat SSS jika diukur dengan peringkat hunter Bumi.
......................
__ADS_1
"Darimana kau mendapatkan sihir Serafim itu?" tanya salah satu makhluk hitam legam bersayap yang entah sejak kapan sudah berada di atas gerbang raksasa.
Suaranya menggelegar bagai suara petir saat ia berbicara.
Alvin mendongak, menatap 3 malaikat dari pusaran ungu yang sedang menatap padanya dengan tatapan heran.
Walaupun tidak bisa merasakan energi Mana mereka, Alvin sudah bisa menebak bahwa malaikat yang berada di sebelah kanan adalah pemimpin mereka dan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dua malaikat lain.
Dua malaikat itu memang sangat-sangat kuat. Namun aura berbahaya mereka hanya sebatas 3 malaikat yang pernah ia temui di dalam Dungeon terakhir sebelum kembali ke Bumi.
.........
"Bukan urusanmu," sahut Alvin.
Marah dengan jawaban itu, salah satu malaikat mulai merapalkan mantra sihir, namun Alvin tiba-tiba lenyap lagi dari tempatnya sebelum malaikat itu sempat menyelesaikan mantranya.
Detik berikutnya, Alvin sudah muncul kembali dengan mencengkram dua kepala malaikat di masing-masing tangannya.
Alvin menanamkan ujung jemarinya lebih dalam pada tengkorak kedua malaikat itu saat merasakan ada kekuatan tak terlihat yang hendak merebut kedua kepala itu dari tangannya.
Ia kemudian mengangkat kedua kepala itu dan menatap mata mereka bergantian.
"Ingin menyatukan kepala dengan tubuh kalian lagi?" ucap Alvin yang kemudian menyeringai lebar. "Inventory."
Sebuah portal tak terlihat muncul disebelahnya dan Alvin melemparkan kepala itu ke dalam sana.
Itu adalah hal yang terpikirkan olehnya saat ingat bahwa menghancur leburkan kepala mereka akan sia-sia saja karena mereka akan bisa menyatukan lagi bagian-bagian tubuhnya.
"Mina, kuserahkan mereka padamu."
Baru saja selesai berbicara, Alvin mendengar suara mengunyah dari Mina.
"Apa yang kau lakukan?"
["Glup... Aku memakannya."]
"...Kau gila."
["Lihat saja hasilnya."]
Alvin mengernyitkan kedua alisnya, memerhatikan tubuh kedua malaikat yang tadi dipenggalnya terkoyak-koyak dan berubah menjadi gumpalan asap ungu sebelum akhirnya menguap tak bersisa.
"Apa menghancurkan kepala mereka adalah kelemahannya?"
["Sepertinya malaikat dari pusaran ungu bisa dihabisi jika kita menghancurkan otaknya. Berbeda dengan kawanan Beelzebub yang akan mati jika kita menghancurkan jantungnya."]
"Jadi begitu... Baiklah, aku akan mengingatnya."
......................
Malaikat yang tersisa, yang sebelumnya menyadari jika Alvin hendak menyerang mereka saat melihat tubuhnya sedikit berbayang dan berhasil menghindar, sudah merapalkan mantranya dengan sangat cepat.
Tak lama setelah itu, asap keunguan tebal menyelimuti area tempat mereka berada.
Alvin merasakan tubuhnya terasa berat sejak kemunculan asap tersebut. Ia ingin melompat dan menerjang malaikat itu lagi, namun kedua kakinya justru terasa makin terkekang dan terhisap ke dalam asap ketika ia menggrakkannya.
Malaikat itu tertawa. Sama seperti sebelumnya, saat ia bersuara, gelombang sihir yang memekakan terasa tidak nyaman di telinga.
"Entah darimana kau dapat kekuatan Lorelei, tapi inilah kelemahanmu!" seru malaikat hitam legam yang kemudian tertawa lagi.
.........
__ADS_1